
"Udahkan Bian di pijit kepalanya, aku mau lanjut kerja nih " Nara segera melepaskan tangannya.
"Loh kok udah , kamu jangan fikirin kerjaan kan aku bosnya Nara "
"Ya tetep aja, aku kan karyawan kamu Bian, masa iya aku enak enak gini di ruangan kamu sedangkan yang lain kerja, makan gajih buta dong aku Bian "
Setelah berbicara panjang lebar Nara pergi, namun baru juga beberapa langkah tangannya sudah dipegang dan ditarik oleh Bian.
"Jangan pergi Nara, temani aku dulu, sebentar saja, jangan kemana mana aku kesepian "sambil memegang tangan Inara dan mendusel duselkan kepalanya kelengan Nara.
"Liam lepasin, aku harus kerja tau "
"Tapi aku mau minta satu permintaan sama kamu "
"Permintaan apa Bian "
"Nanti malem, kita makan malam ya sayangg, mau ya mau ya ya ya " sambil menonggakan kepalannya dan menampilkan wajah yang memelas.
"Tapi kamu minta izin dulu sama Ana, kamu kan sama Ana lagi berantem, kenapa sih kalian ini kaya anak kecil aja berantem terus"
"Iya aku nanti minta izin deh sama nenek sihir itu, ye dia kok yang mulai duluan bukan aku, aku tuh waktu dirumah sakit sama sekali gak mau berantem tapi dianya yang usik aku ,ya udah aku ladenin aya "
"Yaudah sekarang aku boleh pergikan, aku harus kerja Bian, sekarangkan Rani kan lagi cuti, "
"Ini boleh, tapi kiss dulu baru aku lepasin " sambil menunjuk pipinga.
"Yaudah kamu merem dulu ya, terus lepas dulu tangannya biar enak "
"Iya deh iya" Bian dengan cepat langsung memejamkan kedua matanya dengan bibir yang tersenyum lebar.
Inara membuka sepatunya, lalu mengendap endap untuk segera keluar dari ruangan Bian, langkahnya sangat pelan sekali sampai Bian pun tak menyadarinya.
Sekarang tinggal membuka pintu, dengan perlahan dibukannya pintunya tanpa Inara tutup dan malah bertemu dengan suami Rani
"Shutt kamu diem ya, jangan bilang aku pergi " bisik Nara pada Jon
"Siap Nara " dengan wajah tenggilnya.
Nara langsung ngacir keruangannya, sedangkan Bian masih anteng memejamkan kedua matanya, menunggu sebuah kecupan yang akan diberikan oleh Inara.
"Sayang kenapa lama sekali " protes Bian.
Jon yang memang mau menjahili sahabatnya sekaligus bosnya, segera mendekat dan menundukan kepalanya, menatap wajah bosnya yang sangat senang.
"Nara mana ciumannya " ptotes Bian kembali.
Jon segera mencium pipi Bian, sambil menahan tawanya. Setelah mendapatkan kecupan itu, Bian segera membuka matanya dan alangkah kagetnya saat dirinya berhadapan dengan Jon bukan Inara.
Dengan refleks Bian menendang Jon sampai terjatuh "awww apa apaan sih bos, tega banget ya lo nendang gue"
"Ya kenapa jadi lo yang cium gue, tadikan Nara, dimana Nara "
__ADS_1
"Tau dari tadi juga gak ada Nara kok, lo menghayal kali "
"Engga beneran, tadi ada Inara ada dihadapan gue, masa iya tiba tiba ngilang gitu aja, gak percaya ah "
"Lah gue kan dari tadi disini. Apa lo tadi bicara sama setan atau ada makluk halus yang menyerupai bentuk Inara gituh, ih takut banget " Jon segera berdiri dan memeluk bahu Liam.
"Ist apaan sih main peluk peluk aja nanti malah jadi fitnah lagi, lepasin lepasin "
"Gak mau takut " dengan suara yang dibuat buat
"Najis ya loh Jon" Bian bangkit dan meninggalkan sahabatnya sendirian diruangannya.
"hahahaha mau kemana lo bos. Hahahah ngakak banget "
Namun Bian sama sekali tak mengubrisnya dirinya akan pergi kekamar mandi, untuk menenangkan fikirannya dan rasa malunya karena sudah di cium oleh Jon.
Baru juga dirinya membuka pintu kamar mandi dan melangkah malah terpeleset karena lantai yang licin.
Dengan wajah yang sudah merah Bian menengok sana sini mencari pelaku, yang pasti ketiga wanita itu, kelakuan Shinta, Sara dan Santi.
"Shinta, Sara, Santi kemari " teriak Bian dengan suara mengema sampai Nara yang sedang ada diruangannya kaget dan cepat cepat pergi keluar untuk mengecek keadaan, sedangkan Jo hanya santai santai saja sambil membuka buka dokumen.
Ketiga perempuan itu datang dengan masih rambut berantakan, satu sama lain membawa lap pel yang mengucur dimana mana.
"Bapak lagi apa " tanya Sara dengan polos.
"Saya lagi berenang"
Bian segera bangkit saat mendengar jawaban dari karyawannya yang entah polos atau oon "Saya juga tau, kalian gak liat kalau saja jatuh gara gara kalian mengempel lantai dengan tidak benar, apa kalian benar benar ingin saya pecat "
"Jangan jangan " teriak mereka serentak.
"Ada apa ini " tanya Nara yang baru muncul.
Bian segera pergi kearah Inara dan memegang tangannya "Nara aku jatuh " sambil memegang pantatnya
"Hah jatuh, kenapa bisa "
"Mereka semua tak bejus bekerja, sudah kalian pergi "
Mereka bertiga pun segera pergi dengan menundukan kepalanya namun tidak dengan Shinta yang menatap sengit kearah Inara.
"Yaudah yu sekarang keruangan kamu aja "
"Ayo "
Dengan pura pura Bian mengusap ngusap pantatnya agar terlihat beneran kalau dirinya merasakan sakit yang amat sangat biar Inara perhatian gitu.
Jon yang melihat bosnya di papah oleh Inara, bangkit dan menemui bosnya. "kenapa bos,, kok jalannya gitu sih "
"Jatuh gue dikamar mandi "
__ADS_1
"Hah kok bisa jatuh,kan diruangan bos ada kamar mandi kenapa cari yang lain, pasti yang sakit pantatkan " dengan segeja Jo mengeplak pantat Bian.
"Cuco deh ah "sambung Jo sambil meninggalkan Bian dan Inara berdua.
"Nara sakit lihat pantat ku dipukul sama Jon " sambil merengek.
"Yaudah ayo sekarang kamu duduk ya "
Dengan perlan Bian duduk masih dengab wajah memelasnya, "sini duduk Nara " dengan patuh Nara duduk dan Bian dengan senang hati langsung menyenderkan kepalanya di bahu Inara.
Inara yang pasrah hanya diam saja, tak mau banyak protes sama sekali, percuma protes juga akan kalah dirinya ini.
**
Inara segera membuka pintu rumahnya sepi sekali, kemana Ana,Inara mengetuk pintu kamar Ana "Ana kamu apakah didalam" namun tak ada jawaban sama sekali.
"Sudahlah mungkin Ana sedang tidur " guman Inara.
Saat Inara berbalik sudah ada Ana dihadapannya dengan pakaiannya yang penuh dengan noda merah. Inara melihat dari bawah sampai atas penampilan Ana.
"Ada apa denganmu Ana, apa ini darah " sambil memegang pakain itu dan memegang noda itu.
"Tidak ini bukan darah Ara, ini tadi saos aku sungguh ceroboh sekali sampai menumpahkan saos ke pakaianku "
"Baiklah, aku kira kamu terluka "
"Tidak Ara aku baik, segeralah kau mandi dan ganti pakainmu "
"Baiklah Ana " Inara melengang pergi tanpa banyak bicara lagi dengan Ana.
"Untuk saja " gumam Ana sambil mengusap dadanya dan masuk kedalam kamarnya.
Namun saat sudah sampai kamar lagi, Inara mencium tangannya yang tadi sempat memegang noda merah itu.
"Loh kok bau anjir ya, masa iya saos bau anyir, apa ada yang di sembuyikan dariku, " monolog Nara.
"Tapi kalau jaitan Ana kebuka lagi masa iya darahnya nyiprat nyiprat gini, pasti ada sesuatu deh, tadi sepertinya Ana keluar dari ruangan yang ada didepan kamarnya, apa disana ada sesuatu"
Inara yang penasaran segera keluar kamar dan ingin mengecek kamar itu, saat ada didepan kamarnya Inara hanya mematung, saat akan membukannya tiba tiba tangannya ada yang memegang.
"Apa yang kau lakukan Ara disini, bukannya aku sudah menyuruhmu untuk membersihkan dirimu "
"Ahh iya Maaf aku kelupaan sesuatu "
"Lalu kenapa kau akan masuk keruangan ini "
"Maaf aku lupa Ana, sungguh rumah ini besar jadi aku masih belum hafal maaf ya "
"Baiklah jangan masuk kedalam ruangan ini, kembalilah kekamarmu "
"Hemm baik Ana "
__ADS_1
Inara yang tak mendapatkan apa apa, akhirnya kembali lagi kekamarnya dengan rasa penasaran yang besar. Disana sebenarnya ada apa, apakah ada seseorang didalamnya atau ada rahasia yang tak boleh dirinya tau.