
Abian setelah dari rumah sakit menengok sang kekasih dia sekarang ada lagi dimakan sang anak, entahlah dirinya masih belum bisa merelakan kalau anaknya meninggalkan dirinya secepat ini, bahkan dirinya belum bisa bertemu dengan anaknya, namun malah seperti ini.
"Sayang kemarin malam apakah kau menemui ibumu, kenapa kau tidak menemui ayahmu pula bagaimana apakah ibumu cantik pasti cantik kan, ayah tak salah memilihkan, rasannya ayah belum siap ditinggalkan oleh mu, kenapa kamu harus pergi secepat ini, kenapa nak kenapa "
"Apa salah ayah sampai kehilangan dirimu, kenapa bisa seperti itu apa karena ayah dulu selalu menyakiti perempuan, apa karena masa lalu ayah yang hancur makannya tuhan tidak percaya kalau ayah bisa menjagamu dengan baik"
"Ayah sangat senang saat mendengar bahwa ibumu mengandunyvtapi setelahi mendengar kau tak ada lagi di perut ibumu sungguh ayah hancur sehancur hancurnya, sampai-sampai Ayah tidak bisa berkata apa-apa lagi, harus bagaimana ayah nak "
"Ayah sangat ingin bertemu dengan anak ayah, ayah sangat ingin bertemu dengan mu tapi Tuhan malah memanggilmu terlebih dahulu, kamu di sana harus baik-baik ya jangan nakal ingat di sana tidak ada ayah dan ibu kamu harus baik disana "
Abian mengusap tanah kuburan sang anak, Abian menangis kembali, tak henti hentinya dirinya menangis, tiba tiba ada yang penepuk bahunya.
Abian segera mengusap air matanya dan mengalihkan pandangannya kearah laki kaki tua yang menatapnya.
"Iya pak ada apa "
"Tidak Bapak kenapa di sini terus-menerus. Apakah tidak panas ini hari sedang terik sekali lebih baik bapak duduk di sana dulu, jangan terus-terusan di sini bapak sufah beberapa jam berjongkok di sini, bukannya saya melarang tapi saya kasian dengan bapak "
Abian segera bangkit dan berjalan mengikuti bapak bapak itu, lalu duduk disebuah pos tak jauh dari kuburan sang anak. Abian mengusap rambutnya yang manas terkena matahari.
"Anak bapak itu "
"Iyaa itu anak saya yang pertama "
"Saya turut berduka pak, meninggal saat berapa bulan Pak atau meninggal dalam kandungan"
"Terima kasih Pak , meninggal saat di kandungan dan mungkin baru beberapa minggu, anak saya ada didalam kandungan ibunya, ada sebuah kecelakaan yang membuat anak saya harus pergi dengan cepat"
Bapak bapak itu mengangguk angguk lalu memberikan air mineral pada Abian, Abian langsung mengambilnya "terimakasih pak "
"Iya pak sama sama "
Abian hanya diam saja dan bapak bapak itu pun sama diam, mereka malah melamun, awas nanti malah kesambet lagi.
**
Ibu Adam segera mengobati tangan anaknya, sebelumnya dirinya sudah mengobati datangannya sendiri "sepertinya kita tak akan aman lagi disini, pasti anak akan kembali lagi dan membuat ulah nak, kita harus pergi dari rumah sakit ini, kita tak bisa disini terus menerus, kita harus pergi "
"Ibu udah denger sendiri kan kalau kita maksudnya kalau Adam itu belum bisa pulang dari sini, ya masa kita mau kabur gitu bu ya gak mungkin lah. yang ada kita malah jadi buronan kayak Livia"
"Terus kita harus lakuin apa dan masa kita harus diam aja di sini dan diancam-ancam terus sama Ana. Bagaimana kalau dia tahu semua rencana Livia adalah dari ibu idenya dari ibu ibu harus bagaimana"
"Seharusnya ibu tadi itu jangan kayak yang ketakutan banget. Ibu tuh seharusnya kayak yang gak terjadi apa-apa . Ini malah ngemeteran kayak gitu, ibu salah sih "
"Ya gimana Ibu gak gemeteran orang dia bawa pisau nusuk kamu gimana sih kamu ini. Ibu tuh takut tau gak sih sama Ana. Ibu udah berapa kali ketemu sama dia dan dia lakuin kekerasan kayak gitu apa lagi saat lihat kamu waktu itu berdarah-darah, terus Livia yang mukanya kayak gitu gimana Ibu gak takut, ibu takut lah makanya gemetaran ibu ini udah tua "
__ADS_1
"Ya seharusnya ibu gak kayak gitu jadi kan dia curiga, terus kita harus bilang apa sedangkan kita di sini cuman beberapa hari lagi gimana kalau tiba-tiba dia malam datang lagi tengah malam gitu Bu, bayangin tiba-tiba dia datang gimana bu ngelakuin yang kayak tadi "
"Gak mungkin kan kita kabur loncat gitu dari lantai 4 ke bawah, Adam masih mau hidup bu, Adam masih mau menata karir Adam lagi dari awal lagi, Adam pengen kaya dulu lagi pengen hidup bahagia dan enggak ada beban sama sekali "
"Nama Adam tuh udah jelek di mana-mana bu bahkan Adam udah enggak bisa kerja di mana-mana lagi, selain kita mengambil harta Livia semuanya meskipun nanti dia sudah ditangkap, tapi dia tidak akan kembali lagi karena Ana yang pasti akan membunuh dia bu "
"Ibu juga mau kamu kayak dulu lagi gak kayak gini, ibu juga mau emangnya ibu gak mau lihat kamu sukses kayak dulu, banyak harta, kamu suka memberi ibu uang, sekarang kita malah rebut harta orang lain tapi gimana lagi namanya juga hidup kita harus berjalan dan enggak mungkin kita di sini-sini aja .Ibu juga gak mau balik lagi kayak dulu miskin "
"Iya makanya ibu harus dukung Adam harus selalu dukung Adam, karena kalau gak kayak gini kita gak akan mungkin bisa kaya bu, udahlah biarin aja sebentar lagi juga Livia akan mati kita ambil aja hartanya buat apa pikirin dia gak ada gunanya, udah lah bu "
"Hemm iya nak, udah kamu istirahat biar cepet sembuh ibu mau beli makan dulu "
"Emang ibu gak takut kalau misalnya kentemu Ana, "
"Aduh ibu lupa, udah ah ibu gak jadi deh makan, ibu takut kalau kayak gini, "
"Emang ibu ga lapar "
"Ya lapar juga sih tapi gimana Adam ibu takut gimana dong "
"Yaudah makan aja bu "
"Gak ah takut ibu takut lebih baik diam saja disini "
Akhirnya ibu Adam diam disini, diruangan sang anak dan tak mau kemana mana, masih trauma dengan apa yang Ana lakukan ,itu sangat menakutkan sekali sungguh menakutkan sekali.
**
Ana saat masuk ruangan adiknya segera menghampirinya dan duduk disampingnya "ada apa dengan mu, kenapa kau melamun "
Inara segera mengalihkan pandangannya pada Ana " aku tadi sedang tidur tapi aku kembali bermimpi anak kecil itu, sebenarnya dia siapa Ana. Kenapa dia menganggapku sebagai ibunya dia menganggap aku ibunya, sebenarnya siapa dia. Apakah dia benar anakku, apakah ada sesuatu yang terjadi saat aku dioperasi atau saat aku belum bangun apa yang terjadi Ana sebenarnya, aku masih bingung dia hanya berkata kalau aku Ibunya dan aku ibunya dan wajah anak itu sangat mirip Abian ,aku sudah bilang kan kemarin malam seperti itu padamu"
"Iya aku tahu kamu udah bilang kalau ada anak kecil yang mirip Abian datang ke mimpi kamu, mungkin itu hanya bunga Tidur saja, mungkin saja anak kecil itu mendatangimu karena kau ingin sekali mempunyai anak dulu kan, kau sangat ingin sekali mempunyai anak makanya sekarang kau selalu bermimpi seperti itu"
"Kenapa tidak dari dulu Ana kenapa tidak saat aku masih dengan Adam, kenapa baru sekarang saat aku sudah tertusuk oleh Livia .Kenapa mimpi itu muncul terus-menerus muncul seorang anak yang mengatakan kalau aku ibunya. Sebenarnya apa yang terjadi kau jujur padaku apa yang terjadi Ana, jangan membuatku seperti ini selalu penasaran dengan apa yang aku mimpikan ini, untuk kedua kalinya aku menerima mimpi anak kecil ini lagi "
"Tidak ada yang terjadi sama sekali tidak ada yang terjadi. Kau hanya tertusuk dan kau dioperasi itu yang terjadi tidak ada yang terjadi lagi semuanya baik-baik saja untuk apa aku berbohong padamu, kenapa aku harus berbohong padamu coba"
"Tapi aku merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku Ana apa yang kau sembunyikan"
"Mungkin aku sedang menyembunyikan sesuatu, nanti kau akan tahu dan kau jangan pernah sedih jangan berlalu terlarut dalam kesedihan itu, aku tidak bisa berbicara sekarang mungkin saja itupun kalau memang aku menyembunyikan sesuatu, aku menyimpan rahasia darimu"
"Sudah lebih baik kau jangan memikirkan anak kecil itu, yang terpenting sekarang adalah kesehatanmu kau harus memikirkan kesehatanmu, kau harus pulih lagi seperti semula sebentar lagi Livia akan tertangkap jadi kau akan tenang hidupmu akan tenang" jawab Ana dengan berbelit belit
"Mungkin akan tenang, tapi aku tidak bisa tenang. Aku selalu memikirkan anak kecil itu yang datang dalam mimpiku. Meskipun aku bingung dia anak siapa, tapi entah kenapa aku menyayanginya Ana aku tahu aku tidak mempunyai anak, tapi rasanya aku sangat sayang sekali padanya, meskipun kami hanya baru bertemu dua kali wajahnya itu sangat lucu dan pertama melihatnya aku sudah jatuh cinta padany, dengan keluguannya dengan kelakuannya pokoknya yang ada dalam dirinya"
__ADS_1
"Sudah lebih baik sekarang kau tidur kembali. Jangan memikirkan apa-apa lagi pokoknya kau harus segera sembuh ya, karena ada Adam dia juga dirawat di sini, kau harus selalu hati-hati kemana-mana jangan sendirian, aku tidak mau sampai kau diapa-apakan lagi oleh Adam. Livia saja kan belum ditangkap masa kita harus berurusan lagi dengan penjahat satu lagi"
Inara akhrinya menyerah dirinya tak akan menanyakan lagi pada Ana, kalau memang Ana menyimpan rahasia seperti yang Ana katakan pasti akan ketahuan semuanya.
"Dia ada di sini, apakah dia jadi staf rumah sakit"
"Nara dia sedang dirawat mana ada di menjadi staf rumah sakit gak akan ada yang nerima dia, gak akan ada yang mau kerja sama dia, aku yakin gak akan ada yang mau kerja sama dia selain s Livia itu"
Ya kan aku kira dia jadi staf di sini atau kerja gitu, karena Livia juga kan udah gak ada masa dia mau kerja di kantornya Livia sendirian, gak mungkin kan bosnya aja gak ada makanya aku tanya apa dia ngelamar kerja gitu di sini. Kamu juga bilang aku harus selalu hati-hati jadi aku tanya itu, agar aku bisa lebih hati hati kalau ada yang masuk, takutnya dia menyamar "
"Tidak dia bukan staff dia mungkin sedang sakit atau bertengkar dengan Livia dan dia yang masuk rumah sakit. Sudahlah jangan memikirkan mantan suamimu yang brengsek itu"
"Ana aku tidak memikirkannya , kau saja yang tadi berbicara itu padaku makannya kita jadi membahasnya"
Tiba-tiba saja Inara baru ingat tentang penembakan yang dilakukan oleh sandi. Apakah dia di rumah sakit karena itu yah bisa saja kan dia di rumah sakit karena hal itu.
Karena tembakan itu sebenarnya cukup dalam karena Sandi juga menembaknya cukup dekat tapi hebatnya dia selamat laki-laki yang cukup hebat ternyata dia.
"Ana Kenapa kau bisa tahu kalau Adam ada di sini. Apakah kau menemuinya dan melakukan sesuatu padanya"
"Tadi aku tidak sengaja lewat ruangannya dan saat aku melongok kok seperti kenal ya, ternyata benar aku mengenalnya aku tidak melakukan apa-apa padanya aku hanya bertanya dimana Livia. Siapa tahu mereka kerja sama mereka kan sebelas duabelas sama saja hanyai itu yang aku tanyakan Ara tak ada yang lainnya "
"Begitu ya aku kira kau sengaja mencari Adam di mana, ternyata dia ada di sini kebetulan sekali ya dia bisa ada di sini"
"Untuk apa aku capek-capek mencarinya, orangnya sudah ada di hadapanku tidak usah mencari yang tidak ada dan tidak penting juga dia untuk apa aku mencarinya"
"Lalu apakah kamu mendapatkan jawaban darinya .Apakah kau mendapatkannya"
"Tidak sama sekali aku tidak mendapatkan jawabannya entahlah tapi sekarang aku sudah tahu jawabannya di mana Livia berada"
"Kau tau dari mana. Apakah kau yakin itu Livia siapa tahu orang yang mirip dengan Livia saja bagaimana "
"Tidak aku yakin itu adalah Livia karena yang memberitahunya adalah Sean yang sedang berkemah, katanya dia melihat orang yang mirip dengan Livia namun dia agak gelap dan Sandi dengan anak buah ku yang lain sekarang sedang mengecek lokasi itu apakah benar ada seseorang yang tinggal di sana, buronan seperti itu akan tinggal di mana saja Inara, dia akan mencari tempat aman supaya dirinya tidak tertangkap oleh siapa-siapa. Livia itu adalah orang berbahaya dia sakit mental kalau dibiarkan begitu saja dia akan makin menjadi-jadi "
"Sean mungkin saja itu hanya mirip saja, bagaimana kalau orang itu mirip saja. Iya aku tahu dia gangguan mental apa nanti kita masukkan saja ke rumah sakit jiwa, soalnya kalau misalnya di tes sama polisi dan dia memang mempunyai sakit mental pastinya hukumannya diringankan Ana"
"Tenang aja itu jadi urusanku, kalau memang polisi tidak mau menghukumnya aku pun bisa menghukumnya, jadi kau tenang saja dia tidak akan hidup dengan mudah lagi untuk sekarang, kau jangan melarangku apa-apa karena ini demi kebaikan hidup kita juga "
"Kalau dia dilepaskan dia akan makin seenaknya dan memanfaatkan tentang keadaannya yang sakit mental, jadi lebih baik kau jangan ikut campur apapun yang akan aku lakukan nanti pada Livia kau cukup diam dan jangan bicara pada siapapun l, termasuk Abian aku baru kali ini berbicara padamu tapi kau jangan sampai melepaskannya nanti "
"Jangan lakukan itu ya Ana lebih baik polisi saja yang mengerjakan semuanya yang memberi hukuman"
"Tidak bisa harus aku yang memberi pelajaran. Aku akan pergi dulu ya sebentar , Sean ingin aku jemput aku tak akan lama setelah menjemput Sean aku akan kembali lagi ke sini"
" Baiklah kau hati-hati di jalan"
__ADS_1
Ana hanya mengganggu dan segera pergi dari ruangan Inara Tenang saja di luar masih ada anak buahnya yang menjaga dengan ketat, jadi adiknya aman ,hanya sebentar dirinya pergi.