
Bian segera turun dari dalam mobil dan masuk kedalam rumahnya namun sepi tak ada siapa siapa, namun itu bukan hal yang baru, karena mamih dan papihnya pasti akan pergi jalan jalan disore hari seperti ini.
Masuk kedalam kamar dan langsung saja menguncinya, pergi membersihkan diri yang sudah lengket dan leleh oleh pekerjaannya dan drama drama yang ada dikantor.
Livia yang memang mengikuti Bian segera turun dari taksi dan akan membuka gerbang rumah Bian namun.
"Eh ibu mau kemana, ibu siapa " tanya penjaga rumah Bian.
"Ibu ibu saya panggil saya nona, saya pacarnya orang yang ada didalam rumah ini saya pacarnya Abian Yogaswara, jadi kamu jangan macam macam cepat buka pintunya "
"Baik nona maaf, apa sudah buat janji dengan tuan Abi, atau dengan tuan besar dan nyonya besar "
"Hey hey, apa perlu menantu rumah ini membuat janji dulu, cepat buka atau nanti kamu saya pecat, mau kamu mau saya pecat hah "
"Tidak tidak nona, silahkan masuk nona "
"Dari tadi kek, lama banget sih "
Livia dengan angkuh segera masuk dan saat ada pelayan yang lewat dia melihat sampai atas sampai bawah bahkan seperti jijik.
Tanpa tau sopan santun, Livia langsung masuk kedalam rumah dan langsung duduk diruang tamu.
Mamih Bian yang baru saja masuk kedalam rumah langsung menyenggol suaminya.
"Pih itu saha, jol ojol duduk diruang tamu (pih itu siapa, tiba tiba duduk diruang tamu )"
"Teu terang papih ge, sahanya mih tos lah urang samperkeun ( gak tau papih juga, siapa yah mih udahlah kita samperin aja ) "
Dengan secepat kilat mereka menghampiri orang itu, Livia yang sedang asyik memainkan ponselnya segera mengalihkan pandangannya dan menatap kedua orang tua Bian dan bawah sampai atas.
"Siapa ya " tanya Livia dengan angkuh
"Lah lah, anjeun saha, aya dibumi batur (lah lah, kamu siapa. Ada dirumah orang )" jawab mamih Bian
"Ngomong apa sih saya gak ngerti, bisa gak sih pake bahasa indonesia bicarannya, kamu tuh bicara bahasa apa "
"Kamu siapa ada dirumah saya, makannya belajar bahasa sunda jadi ngerti "
"Lah anda siapa tiba tiba masuk, mana mungkin sih kalian berdua pemilik rumah ini, ngapain belajar nyuruh nyuruh lagi. Saya ini pacarnya Abian jadi tolong panggilkan dia, pasti kalian berdua pelayannya ya "
Mamih Bian yang akan menjawab, segera dihentikan oleh suaminya untuk sabar, dan menyuruhnya untuk segera memanggil Bian.
Dengan patuh mamihnya Bian segera naik dan berjalan kearah kamar anaknya, lalu mengetuk pintunya tok tok tok "Abi Abi buka pintunya "
"Iya mih kenapa sih kok teriak teriak gitu "
"Itu dihandap saha, teu boga sopan santun, maenya kak mamih ninitah (itu dibawah siapa, gak punya sopan santun, masak kek mamih nyuruh nyuruh) "
"Siapa sih mih, Bian gak bawa siapa siapa "
"Teras saha nu dihandap eta jurig (terus siapa yang dibawah hantu) "
"Yaudah yaudah yo sama Bian kebawah "
Bian mendahului mamihnya turun dan alangkah kagetnya saat melihat Livia ada dibawah dan duduk dengan angkuh.
__ADS_1
"Livia, ngapain kamu disini "
"Abi, ih aku kesel sama dua pelayan kamu ini mereka itu gak sopan masa iya sama aku sikapnya kaya gitu, pecat ajalah mereka ngapain sih mertahanin pelayan yang udah tua kaya gini, cari yang fress jangan yang loyo kaya gini, mereka tuh nantinya malah nyusahin " cerocos Livia
"Maksud kamu mereka berdua ini " sambil menunjuh mamih dan papihnya.
"Iya mereka ini siapa lagi "
"Denger ya Livia, mereka ini mamih dan papih aku, pemilik rumah ini kamu seharusnya yang sopan "
"Hah emm ya ampun tante om maaf, Livia gak tau maaf maaf bukannya Livia gak sopan Livia cuman refleks aja " sambil menyatukan tangannya dan muka yang memelas.
"Ges lah, mamih teu resep, nembe ge pendak tos kie teu sopan (udahlah, mamih gak suka, baru juga ketemu udah gak sopan ) "
"Ya ampun mamih Livia ga ngerti, maafin Livia, Livia janji gak akan kaya tadi lagi maaf "
Mamihnya Bian yang sudah kesal segera pergi di ikuti oleh sang suami yang juga sama kesalnya dengan anak muda yang ada dihadapannya.
"Kamu tuh mau apa kesini Livia, mau apa kamu tau dari siapa rumah aku "
"Aku tuh pengen kenalan sama mamih kamu sama papih kamu, aku beneran gak ada maksud buat hina orang tua kamu, aku kira maaf mereka pelayan ya karena aduhh ya ampun pakainnya biasa banget, gak mencerminkan seorang majikan "
"Emang mamih aku dirumah harus pake gaun terus papih aku harus pake jas yang lengkap seperti akan pergi kekantor, gak akan mungkin kan, mamih dan papih aku adalah orang yang sederhana jadi untuk apa mereka memakai pakaian yang mewah, mereka nyaman dengan pakaian yang mereka gunakan "
"Yaudah yaudah aku mau minta maaf lagi sama mamih dan papih kamu ya, aku sekarang kekamarnya "
"Udah gak perlu, kamu pulang aja, toh mamih aku sama papih aku udah marah mau diapain lagi mending kamu sekarang pulang aja "
"Gak gak bisa harus minta maaf aku sama mereka gak bisa dibirin kaya gitu aja, aku gak mau mereka benci aku "
"Kok gitu sih Abi, aku kesini datang baik baik, kamu kenapa usir aku, aku pengen jadi calon menantu yang baik "
"Pd banget kamu, emang aku mau sama kamu, udah ayo " Bian dengan cukup kasar mengusur Livia dan sedikir mendorongnya lalu menutup pintu untama.
"Ihh Abi buka " sambil mengedor ngedor pintu.
"Awas ya Abi, liat aja kamu akan jadi milik aku jangan harap kamu bisa lepas dari aku, aku yang akan menjadi istri kamu gak ada yang lain dan gak boleh " setelah puas mengeluarkan isi hatinya Livia pergi dari rumah Abi.
**
Inara yang baru saja selesai membereskan pakainnya tiba tiba ada yang menelfonya. "mamih ada apa ya nelfon "
"Hallo Assalamualaikum mih apa kabar mih "
"Hallo Wallaikumsalam sayang, baik mamih kamu gimana "
"Alhamdullilah Nara baik mih, ada apa ya mih,"
"Oh iya nak, mamih mau tanya sama kamu Livia siapanya Abi dia tadi kerumah dan gak sopan banget sama mamih dan papih "
"Nara juga kurang tau, tapi kayanya itu perempuan lagi deketin Abi deh mih "
"Masa sih, mamih gak mau ah, kamu gimana hubungannya sama Abi "
Inara yang binggung hanya diam saja sambil mengigit kukunya harus menjawab apa coba.
__ADS_1
"Emm Nara sama Bian baik kok mih, emm iya baik kita baik baik aja "
"Beneran nih baik baik aja"
"Iya mih bener kok, Nara sama Bian baik gak ada masalah apa apa, kita kaya dulu kok "
"Terus kamu kapan main lagi kerumah, mamih udah kangen banget "
"Insyaallah nanti Nara main kerumah ya mih, emm maaf ya mih Nara tutup dulu emm Ana udah tunggu aku tuh mih "
"Yaudah mamih matiin ya sayang "
"Iya mih "
Sambungan pun mati Inara bernafas dengan lega "untung saja mamih tak bertanya kembali, kalau tidak habis aku "
Inara segera pergi keluar kamar dan menemui Ana yang sedang menunggunya untuk makan.
"Duduklah Ara "
Dengan patuh Nara duduk dan mengambil nasi serta lauk pauknya, Ana dengan lahap memakan makanannya namun berbeda dengan Nara yang hanya mengaduk ngaduk makanannya saja. Sambil melamun.
"Apa yang kau lakukan Ara, makan makananmu bukannya dia aduk aduk seperti itu" namun masih saja Inara melamun dan mengaduk makananya.
Ana segera memegang tangan Nara dan itu membuat lamunan Inara tersadar "Iya Ana ada apa "
"Kamu yang ada apa, kenapa makananmu tak di makan ada masalah apa "
"Tidak aku tak ada masalah apa apa. Hanya saja aku sudah kenyang"
"Kapam kau makan "
"Tadi kantor sudah makan "
"Itu kan tadi, jadi sekarang makan, semua makanan yang sudah kamu ambil "
"Baiklah "
Dengan malas malasan Nara memakan makanan itu, tak mau membuat Ana sampai marah dan nantinya akan menjadi masalah besar.
**
"Ayah yang benar kita akan tinggal disini "protes ibunya Adam.
"Iya kita akan tinggal disini bu, rumah kita sudah aku jual untuk menebusmu dan juga aset asetku sudah dijual, aku kan sudah memberikannya pada Adam, tapi apa Adam menghabiskan semuanya tak ada yang tersisa sedikit pun "
"Ya tapi gak ditempat kaya gini juga, ibu gak akan bisa diam ditempat seperti ini, sungguh ibu bisa gatal gatal dan gak bisa tidur "
"Sudah lah bu, ini sudah tempat yang pas untuk kita, memangnya kenapa dengan rumah ini, sama saja cuman ukurannya lebih kecil, seharusnya ibu mensyukuri semuanya, bukannya mengeluh untung aja kita masih punya tempat tinggal, apa ibu mau kita tinggal dijalanan "
"Ya engalah ayah tuh suka ngada ngada aja, pokoknya ibu gak mau ya "
"Ya udah ibu tidur aja diluar "
Dengan cepat ayah Adam masuk dan meninggalkan istrinya diluar sendirian.
__ADS_1
"Ini gara gara Inara, awas saja aku akan membalaskan semua ini lihat saja, tak akan aku biarkan kau lolos dari ku Inara membawa siaal "