Berbagi Suami

Berbagi Suami
Berebut


__ADS_3

Inara sudah bangun dan dihadapannya sudah ada Bian yang duduk menunggunya, lalu Inara beralih menatap kakaknya Ana, sekarang ingatan masa kecilnya sudah kembali, dia ingat bahwa dirinya mempunyai kembaran dan itu Ana.


Inara segera bangkit dan berjalan kearah Ana, Bian dengan cepat membatu Inara takut jatuh. Inara duduk dihadapan Ana yang hanya tersenyum saja padanya.


"Jadi bagaimana" tanya Ana.


"Maafkan aku Ana, aku sekarang ingat, ingat semuanya kalau aku punya soudara kembar, kamu adalah kakaku, maafkan aku sudah melupakan kamu serta mon dan daddy "


Inara segera memeluk Ana dan menumpahkan semua tangisnya dibahu Ana, dan Bian hanya bisa tersenyum senang, berarti wanitanya masih mempunyai keluarga dan dia juga senang mendengarnya dan melihat langsung, mereka berdua bisa bertemu kembali.


"Ta usah minta maaf itu semua bukan salahmu. yang terpenting kita berdua sekarang sudah bersama sama lagi, pasti mon dan Daddy sangat senang, kamu sudah ada dipelukan ku dan tak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi "


Ana segera melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Inara "mulai sekarang jangan ada tangis lagi, kita harus bahagia " sambung Ana


Inara menganggukan kepalanya, Bian segera menoel pundak Inara "Nara aku ingin berbicara dengan mu"


"Ada apa Bian, ingin bicara apa "

__ADS_1


"Iva menitipkan uang padaku "


"Hah uang apa, buat apa Iva nitipin uang "


"Katanya itu uang penjualan rumah, dia udah hubungin kamu tapi kamu tak angkat angat katanya "


"Sebentar "


Inara segera mengambil ponselnya dan menghubungi Iva. Dan untungnya langsung diangkat oleh Iva.


"Hallo Nara Iya aku menjual rumah Adam, dan aku tau itu milikmu, jadi aku menjualnya sebelum Adam keluar dari penjara, aku hanya ingin memberikan hak mu saja. maafkan aku telah membuat rumah tangga mu berantakan hanya demi uang tolong maafkan aku Nara "


"Aku kan sudah bilang kau tak perlu minta maaf lagi padaku, aku sudah memaafkanmu, jadi jangan kau begitu lagi, sudah jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini sudah takdir dari tuhan kalau aku harus bercerai dengan Adam tuhan baik telah menampakkan sikap Adam yang sesungguhnya "


"Baiklah mungkin ini adalah yang terakhir Inara, aku akan pergi jauh, sampai jumpa, terimakasih untuk semua bantuan mu, dan terima uang itu karena itu adalah hak mu ya "


panggilan pun terputus belum juga dirinya beres. Sudah dimatikan. Bian segera memeluk bahu Inara dan menepuk nepuknya.

__ADS_1


Ana segera melepaskan pelukan tangan itu dari bahu adiknya "jangan kau sentuh adikku, "


"Biarin saja, kenapa sih aku kan cuman peluk bahunya saja, sewot banget ya kamu "


"Pokoknya gak boleh "


Bian kembali memeluk bahu Inara dan Ana kembali melepaskannya dan menarik Inara dan akhirnya malah saling tarik Inara.


"Stop stop lepaskan, aku pusing " teriak Inara.


Segera mereka berdua melepaskannya dan Inara segera bangkit dan duduk dikursi menatap Bian dan juga anak yang sedang saling pandang.


"Hayo nanti tumbuh benih benih cinta loh " ucap Nara sambil tertawa.


Bian segera memutuskan tatapannya dan beralih duduk bersama Inara kembali memeluk bahu Inara.


"Hey sudah ku bilang jangan sentuh adiku, " sambil melemparkan batal ke wajah Bian dan membuat dia perempuan kembar itu tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


__ADS_2