Berbagi Suami

Berbagi Suami
Salah faham


__ADS_3

Bian yang sudah siap dengan pakainya santainya segera keluar dan menemui mamihnya dulu, untuk berpamitan. Dia akan pergi kesuatu tempat yang sudah lama tak dirunya datangi


"Mih "


"Iya Abi, kamu mau kemana udah rapih gini mau pergi sama Nara "


"Engga mih Abi mau tenangin diri dulu, Abi pengen rileks dulu tanpa memikirkan Inara "


"Dulu bukannya kamu bilang sama mamih. Akan menunggu luka Inara sampai kering, lalu sekarang kamu kenapa begini sama Nara "


"Iya mih, Bian udah bilang kaya gitu, udah bilang bakal nunggu Nara sampai kapan pun, tapi apakah gak boleh Abi ingin mengikatnya dulu, dengan sebuah cincin jadi jika nanti ada laki laki yang mendekatinya tak akan bisa karena sudah ada cincin dijarinya "


"Jadi kamu gak percaya sama Inara gitu"


"Bukan gitu mih, udahlah Abi pergi dulu Assalamualaikum " Bian langsung melengos tanpa mendengarkan kembali ucapan mamihnya yang pasti akan panjang.


"Walaikumsalam Abi, dasar anak remaja teh labih, jiga nuheeh bakal ngadagoan sampaika hati Inara pulih dei, ah kabuktianna mah gening kalakah kie ( kaya yang bener aja akan nungguin sampai hati Inara pulih lagi, ah kebutianya mah malah gitu)"


**


Inara sekarang ada ditaman depan rumahnya duduk sendirian karena Ana, entah kemana saat sudah menjelaskannya padannya tentang keadaannga dia pergi meninggalkannya sendirian.


Mungkin dia ingin merileks kan fikirannya, jangan sampai dia menghabisi orang, tapi kata dia, dia adalah pembunuh bayaran.


"Boleh saya duduk nona "


Nara yang kaget segera mendongak, ternyata itu Jack "ah iya ada apa Jack tentu saja kau boleh duduk disini, tak ada yang melarangnya, ayo duduklah " sambil tersenyum


Jack segera duduk dan menghadap kedepan, melihat apa yang Inara lihat.


"Kenapa nona menatap kegelapan itu, apa ada sesuatu disana sampai nona hanya fokus pada satu titik "


"Em tidak aku hanya sedang melamun saja "


"Tak baik nona, melamun sendirian "


"Lalu aku harus ajak orang kalau mau melamun gitu "


"Tidak juga sih nona, bagaimana setelah nona mendengar cerita nona Ana "


"Aku sedikit syok dan tak percaya itu semua bisa terjadi pada Ana, aku kira hidup Ana bahagia bersama mom dan dad, ternyata aku salah besar Jack, aku salah telah menilai begitu "


"Ya memang orang lain pun sama berfikir seperti itu, bahkan orang lain melihat keluargamu adalah keluarga bahagia namun kenyataannya tidak, nyonya selalu marah marah pada nona Ana dan tuan pun tak peduli pada nona Ana hanya bekerja bekerja saja yang dia fikirkan"


"Kenapa Ana tak menceritakan tentang hal itu "


"Mungkin dia hanya ingin menceritakan intinya saja secara bulat kenapa dirinya bisa seperti itu nona "


"Kenapa kau sangat tau tentang keluarga ku Jack "


"Karena aku dibesarkan bersama nona Ana, aku adalah anak supir disini dan tingg disini pula dengan ayahku, namun beliau sudah tak ada, jadi aku mengabdi pada nona Ana dan aku menjadi kepercayaannya, sangat sulit jika ingin dipercaya oleh nona Ana "


"Begitu aku turut berduka cita ya Jack, kenapa dia susah percaya pada orang kenapa "


"Nona Ana lebih suka sendirian dan mengabiskan waktu hanya dengan mainannya, sulit sekali untuk didekati jadi dia tak mudah untuk percaya pada orang lain nona Ara"


"Maksudnya mainan itu apa, mainan boneka bonekaan atau masak masakan "


"Tidak nona bukan itu mainannya adalah hewan yang sudah mati dia potong potong dan dimasukan kedalam toples lalu diawetkan begitu saja, aku waktu kecil melihatnya biasa biasa saja. Tapi lama kelamaan aku mulai aneh dengan tingkah nona yang makin hari makin menjadi Jadi, saat dia membunuh kelinci peliharaanku dan juga anjingnya "


"Hemm ternyata lebih tau kau ya dari pada aku Jack, aku sudah meninggalkan Ana lama sekali dan membiarkannya sendirian "


"Iya jadi sekarang nona gunakan sebaik baiknya waktu mu dengan nona Ana, siapa tau dengan adanya nona sedikit demi sedikit akan menghilang kebiasaan anehnya itu "


"Iya aku akan mencobannya Jack "


"Saya permisi dulu nona " Jack segera pergi meninggalkannya, kembali Inara sendirian dan akhirnya kembali hening dan sunyi lagi.


**

__ADS_1


Bian yang baru masuk segera nenghampiri temannya Cio yang pernah dirinya temui waktu itu.


Bian duduk dan mengerutkam keningnya saat ada perempuan yang sedang duduk dengan Cio dan dirinya seperti mengenalnya, apakah benar menegenalnya.


"Kenapa sih lo liatin Livia kaya gitu amat " tanya Cio


"Gak gue cuman kaya pernah liat aja gitu atau emang mirip gitu "


"Emang kita pernah ketemu kok, aku Livia mantan kamu waktu sma, kitakan pernah satu kelas dan kamu nyatain perasaan sama aku dikelas "potong Livia


"Oh ya kok aku gak inget ya Liv, tepatnya kapan ya itu "


Livia segera bangkit dan berpindah duduk di sisi Bian, memegang tangan Bian dan mengusap gusapnya.


"Nih minum dulu biar rileks "


Bian segera menganbil gelasnya dan meminumnya dengan sekali tegak "jadi kapan Liv "


"Itu loh waktu kita kelas 11 loh, kamu dengan sangat romantis membawa bunga sama aku terus disitu deh kita resmi pacaran "


Bian menengok kearah Cio dan Cio malah mengangkat bahunya, tanda dia tak tau dan tak ingat.


"Oh ok gitu ya " jawab Bian seadannya.


"Lo kesini kenapa lagi Bi, apakah karena Inara lagi "


"Iya karena dia lagi, gue ditolak sama dia "


"Kok gue jadi makin penasaran ya sama dia, pengen ketemu langsung gitu, gue kapan kapan akan datang deh kekantor lo dan liat langsung gimana Inara itu, secantik apa dia semenarik apa dia sampai lo tergila gila seperti ini "


"Serah lo ah "


"Abian, apakah boleh aku minta nomor kamu, aku pengen ketemu sama mamih kamu nanti biar kita janjian gitu "


Abian tanpa banyak berbicara memberikan nomor ponselnya dan berlanjut berbicara lebih akrab lagi dan Livia yang diberikan kesempatan malah memanfaatkan itu, meraba raba Bian.


Dengan sengaja Ana memotretnya dan mengirimkannya pada Inara adiknya. Dengan perlahan Ana berjalan ketempat itu dan duduk di sisi Cio yang langsung tersenyum melihat kedatangan Ana.


"Kapan kamu kesininya Ana " tanya Cio.


Bian yang mendengar nama Ana disebut segera mengalihkan pandangannya, dihadapannya ada kakaknya Inara berpenampilang tomboy, tak memakai dres atau pun pakaian terbuka, dia seperti memang bukan ingin ke club saja.


"Baru saja aku sampai Cio, ada apa kau mengundangku kemari, ada hal apa yang ingin kau bicarakan padaku "


"Minum dulu lah Ana, releks jangan tegang, oh ya kau kenalan dulu dong sama temen gue, Abian sama Livia "


"Gak usah, gue gak sudi, jadi gimana mau bicara sekarang atau engga, kalau engga gue pulang adik gue udah nungguin"


"Jutek amat neng, iya iya gue bicara tapi gak disini, sejak kapan lo punya adik "


"Sejak dulu " Ana segera melenggang pergi meninggalkan Cio berjalan terlebih dahulu kelantai dua, dan Bian hanya bisa menatapnya saja tanpa banyak bicara.


"Gue kesana dulu ya, mau nemuin Ana dulu, kalian seneng seneng aja ya, gue gak lama kok sama Ana "


"Ok Cio " jawab Livia dengan genit.


Ana masuk dan duduk dan disusul oleh Cio yang duduk berjauhan dengan Ana.


"Jadi ada apa Cio "


"Gue punya tugas buat lo, bantu gue buat bunuh orang yang udah berani ambil ayah gue dari ibu gue, gue gak bisa biarin ibu gue menderita dan ayah malah seneng seneng sama perempuan itu "


"Mana fotonya, gue pengen liat dulu "


Cio segera mengambilnya dan memberikannya pada Ana " ini bukannya temen ibu loh ya, gue juga udah pernah ketemu sama dia, apa lo yakin ini perempuannya Cio "


"Ya gue yakin Ana dan lo tau sekarang dia ada sama ayah gue disini, kalau bisa lo habisin sekarang deh perempuan itu gue udah muak liat dia bahagai diatas penderitaan ibu gue "


"Ok gue akan bantu lo, sesuai perjanjian bayaran segitu "

__ADS_1


"Siap kalau lo emang bisa matiin tuh perempuan gue bayar dua kali lipat "


"Ok deall "


Mereka segera bersalaman dan Cio sudah pamitan akan pergi lagi keteman temannya, Ana pun sama pergi mengintai targetnya yang duduk di pojokan dengan di kelilingi bodyguard .


Tanpa fikir panjang Ana membobol pelafon kamar mandi atas, naik kesana dan merangkak dengan perlahan lahan.


Saat merasa sudah pas, Ana membolonginya mengunakan laser kecil yang selalu dirinya bawa. Dengan pistolnya yang anti suara dia menargetkan kepala korbanya agar cepat mati, namun harus menunggu bodyguard itu sedikit mengeser.


Ana yang mendapat kesempatan segera menembakan satu peluru, dia yakin kalau targetnya mati hanya dengan satu peluru saja.


Tanpa melihat dahulu Ana segera menutup kembali lubang itu dan merapihkannya kembali, merangkak dengan perhanan dan meloncat turun kebawah membenahi semuanya dan selesai. Tak lupa menyimpan dahulu barang bukti di tempat yang aman.


Ana dengan santainya turun dan melihat kerubungan orang yang mengelilingi targetnya.


"Cepat panggil ambulans, cepat yang didalam sini jangan sampai ada yang keluar pasti salah satu dari kalian ada yang telah menembak pacarku, pergi kalian pergi dari sini, jangan mengerubungi pacarku, mundur mundur mundur "Teriak ayahnya Cio.


Ana yang melihanya hanya tersenyum, yang pasti perempuan itu tak akan selamat sama sekali, karena dirinya yakin kalau dia sudah mati, lihatlah darah mengucur dengan deras dari kepalanya dan perempuan itu melotor tak karuan.


Ana dengan berani segera menghampiri ayahnya Cio "tuan biar saja cek dulu denyut nadinya, tenang saya perawat jadi tau "


"Baiklah cepat kau cek cepat " teriak ayah Cio.


Dengan cepat Ana mengeceknya, namun Ana langsung mengelengkan kepalannya, ayah Cio langsung memeluknya "tidak mungkin tidak jangan tinggalkan aku sayang jangan "


Bian yang belum sadar akan kerumunan itu segera bangkit namun ditahan oleh Livia "mau kemana kamu Abi "


"Aku ingin melihat kerumunan itu "


"Untuk apa bro abis abisin waktu aja " jawab Cio


Namun bukannya Abi kalau mendengar ucapan orang lain dia pergi dan melihat banyak darah berceceran dengan seorang wanita yang di peluk oleh ayahnya Cio,


Ya abi mengenalnya dan Livia yang memang tak mau lebas dari abi terus saja memegang tangan Abi dan itu terlihat oleh Ana.


Dengan wajah yang marah dan dinginnya Ana berjalan kearah Bian berdiri disampingnya "dasar laki laki menjijikan untungnya adiku tak menerimamu sebagai calon suaminya kalau tidak dia akan menderita lagi " setelah mengatakan itu Ana melengos pergi.


Semua orang sudah berjajar, sesuai perintah dari ayah Cio untuk memeriksa semuanya, bahkan Cio tak luput dari pemeriksaan namun tak ada sama sekali yang membawa senjata, ayah Cio yang ada disana hanya bisa melamun.


Cio yang senang segera menghampiri ayahnya, menyulut rokok dan menyedotnya lalu melihat kearah ayahnya,


"Bagaimana apakah ayah sudah merasakan bagaimana penderitaan ibu, mungkin ibu lebih sakit karena ayah lebih memilih perempuan itu yang sekarang sudah mati dibandingkan dengan ibu yang sudah menemani ayah dari 0, mungkin ini karma yang pantas untuk ayah terima "


"Diam kau Cio pasti ini ulahmu, aku yakin kau pelakunya "


"Mana buktinya, bahkan aku tak tau ayah disini bersama wanita penghianat itu "


"Berisik kau, aku akan segera menemukannya, menemukan siapa pelakunya, awas saja lihat jika itu terbukti kau yang melakukannya, habis kau ditanganku tak akan aku ampuni dan hak waris akan aku coret untuk mu, lihat saja aku tak main main "


"Baik ayah akan aku tunggu semua tuduhan ayah itu menjadi kenyataan, karma ternyata sangat cepat datang pada ayah, aku sungguh seneng "


Cio kembali pergi meninggalkan ayahnya yang sedang berduka dan Ana, tanpa diketahui oleh siapa pun naik lagi kelantai atas, mengambil barang bukti dan tanpa mereka sadari Ana sudah pergi dari tempat itu.


**


Inara yang mendapati foto yang dikirim oleh Ana hanya bisa tersenyum dengan getir, ternyata Bian seperti ini dibelakangnya, tanpa terasa air matanya menetes..


Dengan segera Inara mengusap air mata itu dan masuk kedalam rumah, kedalam kamarnya dan berbaring sambil melihat langit langi kamarnya.


"Ku kira kau akan setia padaku Bi, kau akan bisa menungguku tapi kenyataannya kau sama sekali tak bisa menepati janjimu, untung saja aku belum minyimpan dan mempercayai hati ku untuk kau genggam, ucapan Ana semuanya benar, kau bukan laki laki baik dan kau sama seperti Adam, sama sama brengsek "


"Kau harus melupakannya Nara, harus mulai sekarang kau harus bisa hidup tanpa Abian, tanpa laki laki itu, kau harus menjadi wanita mandiri seperti Ana, yang melakukan apapun sendiri tanpa bantuan orang lain " Inara mencoba menyemangati hatinya.


Inara sama sekali tak menanyakan langsung pada orangnya pada Bian, dia malah langsung percaya dengan apa yang Ana kirim, tak ingin membenarkan dahulu pada Bian. Mungkin karena dia sudah tak percaya dengan yang namanya laki laki,


Entah akan seperti apa sekarang hubungan mereka berdua yang pasti akan banyak lika liku yang terjadi nantinya.


Apakah akan kembali bertengkar atau saling menjauh satu sama lain, kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2