Berbagi Suami

Berbagi Suami
Cara agar dia tak marah lagi


__ADS_3

"Kau tidak apa-apa Inara, apa aku perlu menemanimu disini kita tidur bersama ya aku akan menemanimu. Aku takut nanti Livia bisa melakukan hal yang lebih nekat lagi. Bisa saja kan dia pergi ke sini dan melukaimu aku tidur bersamamu saja ya"


"Tidak usah tuan, saya tidur sendiri saja, aku baik-baik saja ini kan di dalam rumah mana mungkin Livia bisa masuk tanpa punya kunci. Kan yang punya kunci dan Sandi Hanya tuan dan aku saja,jadi nggak usah khawatir. Tuan Lebih Baik istirahat saja aku pun sama akan istirahat ya, aku baik-baik saja tuan aku tadi hanya sedikit syok saja untung saja tuan menarik ku terima kasih"


"Baiklah jika ada apa-apa atau ada sesuatu hal yang janggal kau harus secepatnya menghubungiku ya, kalau kau merindukanku boleh juga kau menghubungiku aku akan dengan senang hati langsung pergi ke sini selamat beristirahat Inara "


Inara hanya mengangguk lantas menutup pintunya dan membaringkan tubuhnya yang lelah atas kejadian yang terjadi hari ini.


Sedangkan Bian, dia sedang duduk dikursi ruang tamu, seperti biasa tempat tidur barunya, dia hanya fokus memegang ponselnya menunggu Inara menghubunginya namun tidak ada satu pun panggilan.


"Kenapa dia tak ada menghubungiku, apakah dia baik-baik saja. Apakah aku harus mengeceknya ke sana dan membuat sebuah alasan, tapi apakah itu tidak akan membuatnya terganggu. Aku harus mencari alasan untuk bisa melihatnya Ya benar seperti itu"


Bian segera mengetuk pintu kamar Inara " Nara buka pintunya ini aku Bian, Ayo cepat buka pintunya di luar sini sangat ingin Inara Ayo buka pintunya buka buka buka"


"Ada apa tuan "


"Ini sepatu untuk kau besok kerja agar kau tak lupa"


"Tuan sepertinya aku tak memakai sepatu itu untuk besok, aku akan memakai heels saja, bukannya besok juga kita ada meeting kan kan jadi mana mungkin aku memakai sepatu kets"


"Ya aku hanya memberikan nya saja takutnya tiba-tiba kakimu sakit jadinya aku berikan padamu"


Inara segera mengambilnya dan kembali menutup pintunya, baru juga 5 menit pintunya sudah diketuk lagi.


"Ada apa lagi tuan baru juga 5 menit aku masuk, apa ada perlu lagi tuan"


"Ini aku membawakan masker untukmu, kan biasanya kalau malam-malam seperti ini kau memakai masker wajah"


"Ini baru saja aku mau pakai tuan, bukannya tuan sudah menyimpan banyak di kamarku, bahkan berbagai macam masker wajah dan badan lalu untuk apa memberikannya lagi padaku"


" Oh masih ada ya, Kukira masker mu sudah habis makanya aku mau memberikan yang baru, ya sudahlah kau pakai saja masker itu dulu ya, wajahmu sudah sedikit kusam dan pori pori mu juga sudah melambai lambai untuk dibersihkan aku permisi dulu"


Inara segera memegang wajahnya, lalu mengangguk dan selali lagi menutup pintunya, memakai maskernya, lalu membuka buku novelnya.


"Sebenarnya ada apa sih sama tuan nggak biasanya deh dia kayak gini bikin pusing aja deh"


Kembali pintu diketuk, Inara segera melempar maskernya dan membuka kembali pintunya.


"Sekarang ada apa lagi tuan "

__ADS_1


"Apakah kau lapar aku bisa membuatkan mu mie yang enak bahkan sangat enak sekali"


"Tidak tuan terimakasih "


"Kenapa "


"Nanti wajahku rusak karena makan mie "


"Apa urusannya coba Nara buka "


Dengan kesal Inara menutup pintunya dan dengan lesunya Bian duduk kembali dikursi dan merenung,


"Susah sekali mendapatkan hati Inara, apakah ini karma dari tuhan karena dulu aku sudah bermain main dengan banyak perempuan dan sekarang akibatnya. Mungkin saja ya,"


Bian terus saja menatap ponselnya lalu ada telfon dengan cepat Bian mengangkatnya.


"Hallo tuan ada laporan dari apartemen 08 kalau anda berbuat gaduh disana, bukan kah itu punya anda, jadi lebih tenang ya "


Bian langsung saja mematikannya "dasar Inara kau jahat sekali "


Sedangkan dikamar Inara masih belum bisa tidur, mengatur posisi yang pas, tapi tidak ada. Ingin sekali menghubungi tuanya tapi tidak mungkin nanti tuannya itu malah so lagi.


***


"Jon ada apa dengan tuan "


"Bos sedang marah karena kalah tender dengan pak Cio, dia kesal dan ya begitulah marah marah, mending kau pulang dan hibur dia, kasian kan. Kau kalau jadi seorang kekasih harus perhatian dan selalu ada disamping tuan bukannya ada disampingku "


"Lah kan lagi ngobrol gimana sih, nih yah orang yang lagi marah itu butuh waktu banyak untuk menghilangkan amarahnya, kalau aku ganggu dia yang ada tuan makin marah Jon Jon "


"Ya tetap saja dia butuh teman, kau kan pacar yang baik jadi harus segera meredakan amarahnya, jangan diam saja dusini ayo cepat sana cepat, sebelum apartemennya runtuh di hancurkan oleh bos, cepat cepat "


"Tapi kerjaan ku sangat numpuk bagaimana "


"Sudah sudah sana " sambil mendorong punggung Inara agar cepat pergi.


Dengan terpaksa dan memang dirinya ingin menemui Bian akhirnya nurut dan pergi pulang untuk menemui bosnya.


Inra dengan perlahan-lahan masuk kedalam apartemen saat dirinya mencari Abian ternyata dia sedang tertidur di kursi

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan "dengan perlahan Inara segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan nanti akan memikirkan caranya bagaimana untuk membuat Abian tak sedih lagi.


Cara menghibur pacar yang sedang marah klik, keluar apa yang Inara cari di mbah google.


"Pertama jaangan lakukan apapun langsung peluk sambil membelai ?"


"Cara menghibur anak kecil dan juga kucing itu juga akan sama dengan cara menghiburnya, hah kok sama dengan hewan ya ? Lalu pegang wajahnya tatap dia dengan serius beritahu dia, Jika kau akan bilang aku akan mendengarkannya jika kau tidak bilang aku akan bicara, tambahkan satu kalimat lagi aku akan ada bersamamu aku tidak akan meninggalkanmu ya"


"Apa itu tak terdengar menjijikkan apakah Bian tidak akan marah padaku"


"Keduaa " tok tok tok


Inara segera bangkit untuk membuka pintu, sebelum membuka pintu Inara kembali membaca lagi suasana hati pacar sedang tidak baik maka belailah "sebentar aku datang"


Inara segera membuka pintu dan Abian hanya diam "sepertinya aku salah ketuk deh " Bian segera pergi meninggalkan Inara tapi Inara dengan cepat memojokan Bian kearah tembok.


"Sebentar tuan, ada yang ingin aku bicarakan "


Inara segera memegang kedua bahu Biian lalu bergumam "lalu membelainya"


Inara segera mendongakkan kepalanya dan mencari sesuatu yang entahlah hanya dia yang tahu, lalu memperhatikan Bian "Apa arti membelai"


Dengan asal Inara meniup-niup leher Abian "hu hu hu "


"Ha ha ha kau ini sedang apa, apa yang kau lakukan " ucap Abian yang binggung.


"Sebentar aku belum selesai jangan berbicara bisa kan tuan" Inara segera memindahkan tangannya ke kedua pipi Abian.


"Jika kau mau berbicara aku akan dengar, jika kau mau bilang aku tidak akan terus berbicara, tapi aku mau memberitahumu apapun yang terjadi aku akan ada disampingmu dan aku tidak akan meninggalkanmu" ucap Inara sambil mengigat ngigat kata kata tadi


Abian hanya diam tak menjawab apa pun "apa ini tak berguna "


Inara segera melepaskan tangannya dari kedua pipi Abian, lalu mrngigat ngigat kembali.


Namun sekarang Abian yang malah memegang pipi Inara dan membelainya dengan sangat lembutu "ini yang namannya membelai Inara "


Bian segera pergi meninggalkan Inara sendirian "selama aku menikah dengan Adam, aku tak pernah melakukan ini, pusih ah "


Inara segera masuk kedalam kamar lagi, memikirkan cara kembali, bagaimana membuat Abian kembali tersenyum dan tak murung seperti tadi.

__ADS_1


Tapi tak ada satupun cara yang terfikir dalam benaknya, akhirnya dengan pasrah Inara tak berfikir lagi, karena ya sudah tak tau harus melakukan apa lagi, untuk bisa menghibur Abian.


Sedangakan dikantor lain, Cio sedang meminum alkohol dengan senyum senangnya " akhirnya aku bisa mengalahkan abian, mungkin saja tentang Resort itu aku tak bisa memenangkannya tapi untuk yang satu ini aku bisa dan yang pasti Nara akan bangga padaku karena sudah bisa mengalahkan Abian"


__ADS_2