Berbagi Suami

Berbagi Suami
Siapa dia Ana atau Ara


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa, Bian berangkat agak siang, dirinya santai saja saat masuk kedalam ruangan namun saat akan masuk kedalam ruantannya dirinya aneh kenapa pintunya terbuka.


"Lah kan kemarin dikunci, kenapa bisa kebuka kaya gini sih "


Dengan was was Bian masuk dan dirinya langsung menghembuskan nafas dengan kasar.


"Kenapa kau ada diruanganku dan kenapa pintunya terbuka seperti ini "


"Apa sih Abi, masa sih seorang Livia tak bisa melakukan ini, ini tuh gampang banget tau, buat buka pintu ruagan mau itu sangat ngampang "


"Kamu ini ya, aku ini punya privasi, kenapa kamu enak enak melakukan hal konyol seperti ini, sebenarnya ada apa denganmu ini "


"Aku konyol, aku wajar melakukan ini karena kau kabur dari pestaku


"Dengar ya, aku tak peduli karena aku bukan siapa siapamu, kau kasar pada karyawanku, "


"Hah karyawan, karyawan atau gebetan "


"Tak perlu tau kau "


Bian langsung saja keluar dan turun kebawah "Satpam satpam " sambil berteriak marah.


Inara yang baru datang hanya diam acuh dan naik kelantai atas, tak peduli dengan Bian yang marah marah dibawah..


"Ada apa pak " ucap pak satpam sambil menghampiri Bian


"Kenapa ruanganku bisa terbuka dan kenapa perempuam itu bisa masuk, kenapa kau tak menghubungiku dulu "


"Maaf pak non Livia datang kesini pagi pagi sekali dan meminta kunci kepada saya katanya mau buat kejutan untuk bapak dan dia bilang, dia pacarnya bapak jadi saya memberikannya pak "


"Harusnya bapak telfon saja dulu, pokoknya jangan sampai kejadian kaya gini lagi, dia bukan pacar saya atau siapa siapa saya, kalau perlu ada perempuan itu bapak usir saya gak mau dia keluar masuk kedalam kantor saya mengerti "


"Ya saya mengerti pak "


Bian segera pergi lagi untuk mengusir perempuan itu dari ruangannya. Sudah muak dirinya ini


"Heh Inara kemari " teriak Livia saat melihat Inara melewati ruangan Abi.


Namun Inara sama sekali tak melihat kearahnya malah lurus saja berjalan, Livia yang kesal segera menghampiri Inara dan mencekal tangannya.


"Kamu kalau saya panggil itu nyaut bukannya jalan aja, punya sopan santun gak kamu hah "


"Kamu manggil saya. "


"Iyalah siapa lagi disini yang namannya Inara selain kamu "


"Hemm ada apa "


"Belum kapok ya. Kemarin udah berenang dimalam hari, apa belum puas atau mau aku dorong kamu dari lantai atas ke bawah "


"Cukup menantang "


"Kamu ya "


"Apa cepetan bilang saya mau kerja, kamu ini jangan ganggu saya "


"Saya saya, kamu jangan angkuh ya di hadapan aku "


"Lah ini mulut mulut saya kenapa kamu yang keberatan, dengerin ya saya semalam sudah memberikan kamu pelajaran ya "


"Apa yang kamu beri saya gak takut"


"Udah ngomongnya, udah beres atau masih ada yang perlu kamu sampaikan pada saya, pegal nih dari tadi berdiri "


"Kurang ajar kamu " Livia akan melayangkan tamparan namun tangannya malah dipelintir Inara sampai sampai Livia kesakitan.


"Lepasin kamu gila, tolong tolong tolong " teriak Livia


Bian dan Jo saling pandang lalu segera pergi keasal suara dan melihat Livia yang sedang dipelintir oleh Inara


"Itu beneran Inara bos "


"Iya siapa lagi "


"Terus apa perlu gita tolong Livia "


"Ahh udah biarin kita liat gimana perempuan berantem, aku juga belum liat Inara lawan Livia seperti itu, kita lihat saja "


"Bener juga bos, Inarakan pendiem banget dan selalu mengalah "


"Lepasin Inara bodoh "


"Apa kamu bilang " sambil menambah pelintirannya lagi


"Bodoh kamu bodoh "

__ADS_1


Inara segera melepaskannya namun dengan cepat memepetkan Inara ketembok dan mencekik Livia.


"Dengarkan saya baik baik, jangan ganggu saya atau nyawa kamu taruhannya. Saya tau kamu siapa dan saya tau masa lalu kamu yang cukup menyedihkan dan membuat kamu masuk kerumah sakit jiwa, jadi jika ingin rahasimu aman ditanganku dan tak bocor pada Abian, laki laki yang kamu sayang itu maka baik baiklah pada saya, atau semuanya akan terbongkar "


"Saya tau kamu baru keluarkan dari rumah sakit jiwa, sekarang kamu pergi dari sini atau saya sekarang bilang pada Abian semuanya"


Inara melepaskan cekikannya dan melenggang pergi masuk kedalam ruangannya.


Uhuk uhuk uhuk Livia segera menghirup cepat cepat udara yang bisa dia hirup, kalau saja terlambat bisa mati, ini pasti kelakuannnya Cio pasti Cio yang membongkar semuanya awas saja.


Livia segera pergi melewati Abian bahkan tak menyapanya atau melakukan hal yang seperti biasannya.


"Waw waw waw hebat banget Inara bisa usir tu cewe, hebat bos hebat nanti bos pake jasa Inara aja buat usir cewe itu "


"Hemm tapi ada beda sama Inara hari ini"


"Engga kok bos, sama pokoknya sama, "


Bian melengos pergi keruangannya dengan masih memikirkan sikap Inara yang aneh hari ini, sungguh beda sekali apa gara gara kemarin. Tapi masa sih cuman kejebur aja bisa merubah sikap secepat itu.


***


Inara yang melihat jam tangannya, ternyata sudah waktunya istirahat bergegas Inara keluar dan mengikuti seseorang pula yang sepertinya akan pergi kekantin.


"Ternyata ini benar kantinnya, hemm cukup besar "


Mengambil nampan dan langsung berbaris dengan yang lain, menunggu gilirannya, memang dikantor Abian untuk makanan sudah disediakan, jadi tak usah jajan keluar.


Inara setelah mendapatkan jatahnya duduk dan membuka buka yang dia bawa, membawan dengan fokus dan tangannya menyuapi makanan pada mulutnya.


Shinta yang memang tak mau melihat Inara tenang sedikit pun menyenggol Sara.


"Sara apakah kau kesal tidak pada Inara yang di spesialkan dikantor ini "


"Ya tentu aku gak suka, enak banget dia kerja disini jadi ratu karena deket sama atasan "


"Bener mending kita gangguin yu, aku liat sih ya sekarang dia udah gak deket lagi sama pak Abi, mending kita gangguin yu dia gak akan ngelawan ayo kali kalilah "


"Ayolah aku juga muak sama dia yang sok baik, sok anggun didepan pak Abi, padahal aslinya mah busuk dia "


"Bener bener juga yo ah "


Mereka berdua menghampiri Inara berdiri dihadapan Inara "Serius amat baca bukunya Nar " tanya Sara.


Namun Inara diam saja masih fokus membaca buku "hey kalau orang ajak bicara itu ngomong jangan diem aja "Sambung Shinta sambil merebut buku itu dari tangan Inara.


"Emm bicaranya kaya bukan Inara aja nih "


"Emang masalah buat kamu kalau saya bukan Inara "


Sara yang kesal mengambil air minum dan menyiramkannya kewajah Inara.


Inara yang kesal mengambil nampan dan membuat itu menjadi senjatanya, memukul wajah Sara lalu beralih kepada Shinta, mendendang perutnya.


Dan untuk yang terakhir dirinya menginjak perut Shinta dengan satu kakinya dan jongkok menatap Shinta.


"Apakah kamu masih ingin macam macam dengan saya, bagaimana apa menyengkan menganggu saya "


Sara yang bangkit lagi akan memukul Inara memakai nampan itu namun ditangkap oleh Inara tanpa harus melihat kebelakang.


"Dengarkan saya baik baik Shinta, saya tak suka di isuk, jika kamu masih sayang dengan nyawa kamu maka diam duduk dengan cantik dan tak membuat ulah "


Inara bangkit sambil menendang perut Shinta dan beralih pada Sara yang sekarang mundur ingin menjauhi Inara, sampai dirinya berlari ketakutan.


Saat Inara akan mengejarnya tangannya dipegang oleh Bian "kenapa kamu kasar Inara, kenapa sekarang aku seperti tak mengenal dirimu lagi "


"Terus saya harus diam saat ada orang yang menyakiti saya, kamu sebagai atasannya harusnya menindak lanjut tentang karyawan kamu yang tak punya etika, saya selama ini diam bukan karena saya tak berani, tapi saya ingin lihat bagaimana Abian Yogaswara pemilik kantor ini bertindak"


"Ternyata apa. Hanya diam menonton dan tak bisa melakukan apa apa, apa perlu saya yang memberikan pelajaran pada karyawan karyawan anda ini, saya sudah cukup baik tak membuat mereka mati ditanggan saya, jika saya mau semua orang disini mati sekarang juga "


"Oh ya perlu saya bilang pada Anda, jika ada pembulian disebuah kantor besar seperti yang anda miliki ini, seharusnya anda memecat orang yang sudah membulinya dan tak memberikan pekerjaan lagi padanya, ow apa perlu saya yang lakukan ? Apa perlu saya yang bergerak melakukan tugas Anda "


Karena tak mendapatkan jawaban dari Bian, Inara menghentakan tangannya dan melegos pergi dari tempat ini. Malahan Inara sampai tak membawa tasnya langsung pergi keluar dan mengendarai mobilnya meninggalkan pekerjaannya.


"Jon panggil Shinta dan Sara untuk segera masuk keruangan saya "


"Baik boss "


***


"Cio Cio dimana kamu " teriak Livia sambil mengedor gedor pintu kamar Cio.


"Apa sih kamu ini ganggu orang tidur aja "


"Ini tuh udah siang Cio, bukan waktunya kamu tidur, ada yang perlu aku bicarain sama kamu "

__ADS_1


"Yaudah ngomong aja "


"Apa yang omongin sama Inara tentang aku tentang masa lalu aku "


"Hah maksudnya apa, gak pernah tuh bocorin masa lalu kamu sama siapa pun itu "


"Tapi kenapa tadi Inara tau, kenapa dia tau semuanya, yang aku baru keluar dari rumah sakit jiwa, yang tau masa lalu aku semuanya, dia tau dari mana kalau bukan dari kamu jujur sama Cio "


"Aku gak pernah bilang apapun tentang kamu pada Inara, ya mungkin saja dia demdam sama kamu yang sudah kasar pada Inara, aku sudah bilangkan hati hati dengan Inara, tapi apa kamu gak pernah mau denger semuanya, kamu malah lakuin apa yang menurut kamu bener, dan sekarang tanggung aja akibatnya sendirian "


"Gak bisa dibiarin, aku mau dia tutup mulut jangan sampai Abi tau aku gak mau kehilangan dia lagi, aku gak bisa kalau hidup tanpa Abi, "


"Ya makannya bae bae sama Inara, kalau mau rahasianya aman dan tentaram kaya di laut "


"Berisik kamu, bukannya bantuin malah ceramah "


"Lah itu aku udah kasih solusi loh sama kamu, kenapa kamu ngegas sama aku, aneh banget deh kamu Liv, udah ah jangan ganggu aku, aku masih mau tidur dan nikmati hari liburku "


"Terserah " sambil berlalu pergi meninggalkan kamar Cio.


"Dasar Gila "


***


"Shinta saya sudah muak dengan kelakuan kamu kepada Inara, sebenarnya apa masalah kamu sama dia, "


"Gak ada pak "


"Terus kamu ngapain ganggu orang lagi makan, apa perlu kamu kaya gitu tiap hari sama Inara, saya diem karena saya ingin lihat sampai kapan kamu seperti itu dikantor saya "


"Maaf pak saya masih marah karena karyawan karyawan disini menganggap saya sebagia pelakor itu karena Inara, saya gak suka sama dia dari dulu "


"Kenapa pada Inara marahnya, kenapa tidak pada saya, saya yang salah lalu kamu malah menyalahkan orang lain, seharusnya kamu menerimanya karena saya sudah membayar kamu, jadi seharusnya tak ada dendam lagi kan karena sudah dibayar oleh uang "


"Iya pak maaf kan saya, "


"Lalu Sara kenapa kamu ikut ikutan biasannya kamu diam gak pernah seperti ini "


"Maaf pak saya hanya diajak saja "


"Lalu kenapa mau "


"Ya saya hanya ikut ikutan saja pak "


"Baiklah, mulai hari ini saya mengeluarkan kalian berdua dari perusahaan saya, tanpa ada bantahan sedikit pun, pergi dari sini sekarang, saya tak mau mendengar ucapan dari kalian berdua atau bantahan dari kalian berdua atau pun pembelaan sedikit pun "


"Pak "


"Sudah saya bilang keluar dari ruangan saya sekarang juga " teriak Abi.


Sara segera menarik tangan Shinta untuk segera keluar dari ruangan atasannya. Dan menutup pintu dengan perlahan.


Namum pintu tiba tiba terbuka kembali "mau apa lagi kalian sudah saya bilang, saya gak mau kasih toleransi sama kalian berdua " tanpa milihat terlebih dahulu siapa yang membuka pintu.


"Abi ini teh mamih, kamu ngusir mamih "


"Ehh mamih, maaf mih maaf Abi gak tau duduk duduk mih "


"Aya naon ambek ambekan wae ath (ada apa marah marah terus ) "


"Aku lagi pusing mih, karyawan aku gak punga etikaz mamih tau Inara berubah "


"Hah berubah jadi apa, jadi boneka barbie "


"Ist mamih, Abi bener bener ih, Nara berubah "


"Berubah gimana sih Bi "


"Inara berubah jadi galak, terus bisa berantem dan kasar Banget , terus sama Abi aja bilangnya saya saya terus gak kaya biasanya, beda banget mih beneran deh "


"Terus sekarang Inaranya mana "


"Gak tau mih, aku juga gak tau dia pergi gitu aja tanpa sepengetahuan Abi, dia malahan marah sama Abi, pokoknya beda banget deh, aku kenal banget gimana Inara mih, aku tau sikap dia dan sifat dia, aku kenal sama dia gak 1 sampai 2 hari aja "


"Apa itu Ana, apa Ana yang masuk kerja bukan Inara Abi, benar tidak ucapan mamih "


"Ya benar benar juga benar mamih benar itu bukan Inara tapi Ana, ya mamih benar pintar sekali "


"Ya iyalah mamih gitu, mamih tau mana menantu mamih dan mana yang bukan "


"Tapi masa sih mih itu Ana, mana mungkin Ana mau ngerjain tugas tugas Inara "


"Siapa yang tau kan Bi, kita gak bisa nebak seseorang "


"Tapi Abi selalu bisa mengenali yang mana Inara dan mana Ana, tapi ini kok sama banget tatapannnya, semuanya, Biasannya tatapan Ana akan lebih tajam "

__ADS_1


"Ana bukan orang biasa seperti Inara. Kamu jangan terkecoh dengan Ana "


Bian menganggukan kepalanya dan menatap mamihnya, lalu menatap keluar jendela ruangannya "apa ada yang terjadi pada Inara kalau itu benar benar Ana, Inara kemana " gumam Abi


__ADS_2