
"Beneran kamu mau kerja sekarang, atau mau aku lagi yang gantiin kamu kerja, aku gak apa apa kok. Aku siap buat gantiin lagi kamu dan mengerjakan semua pekerjaan kamu "
"Gak deh Ana, aku kerja aja. Nanti kamu malah bikin ulah lagi, aku gak apa apa kok kerja sekarang karena ya lihat aku udah sehat kembali, kan aku di urus sama ahlinya yaitu oleh kakaku tersayang " sambil memeluk bahu kakaknya.
"Hemm kamu bisa aja, tapi beneran ya. Kalau ada apa apa kamu bilang sama aku ya, nanti aku dateng kesana "
"Iya iya Ana pasti, aku udah selesai makannya aku pergi ya, takut telat nanti"
"Iya aku juga mau pergi kekantor yu bareng aja sekalian "
Mereka berdua segera pergi keluar berjalan bersama sama saling bergandengan tangan, namun tiba tiba ada yang turun dari sebuah mobil dan tersenyum kearah mereka berdua.
"Hai Ana, Ara, emm Ana aku ingin minta izin padamu, apa boleh aku sekarang mengantar Ara mu bekerja aku janji tak akan melakukan apa apa "
"Hemm boleh tapi awas ya jangan macem macem kamu Cio, kalau gak nyawa kamu taruhannya "
"Iya iya yu Ara"
Sambil menarik tangan Inara dan membantunya masuk kedalam mobil setelah Inara masuk Cio mengedipkan sebelah matanya pada Ana yang di balas dengan jari tengahnya.
Cio hanya tersenyum dan masuk kedalam kemudi lalu melajukannya meninggalkan rumah Inara.
"Ara aku sungguh minta maaf padamu, karena masalah saat dipesta Livia, maaf bukan aku yang mengantarmu tapi malah Bian, sungguh aku tak bermaksud untuk tak bertanggung jawab untuk mengantarkanmu lagi pulang, karena ya situasinya Livia menganmuk dan aku harus bisa menenangkannya dahulu, agar tak melakukan hal gegabah padamu "
"Baiklah tak apa Cio, aku pun baik baik saja jadi kau tak usah minta maaf padaku, aku mengerti posisi mu, oh ya apa aku bertanya padamu "
"Tetap saja aku minta maaf padamu, aku yang membawamu, bertanya apa Ara, aku akan menjawabnnya dengan sejujur jujurnya "
"Kau dan Livia punya hubungan apa, apa kalian pacar atau adik kakak, atau kalian bersahabat "
"Hemm aku dan Livia, kami hanya teman, teman lama dia juga sama temannya Abian, Livia sudah lama menyimpan rasa sayangnya pada Abi, dan sekarang dia mulai kembali malahan menurut ku bukan seperti cinta namun malah seperti obsesi saja, itu sih menurutku sepenglihatanku"
"Oh pantesan, Livia begitu menjaga Bian "
"Ya begitulah, apakah kau mencintai Bian "
"Aku "
"Ya kau Ara, apakah kau mencintai Bian aku tau kalian dulu cukup dekat apa tak ada sedikit pun rasa yang tertinggal di hatimu untuk Abian atasanmu "
"Emm aku aku " Inara menundukan kepalanya sambil memilin milin tangannya.
"Sudah tak usah dijawab, mungkim ini terlalu sulit ya untuk mu , aku mengerti "
Inara hanya mengangguk ngangguk saja dan mengalihkan pandangannya keluar jendela, dan tanpa Inara sadari sudah sampai kantor, bahkan Cio sudah membukan pintu mobil untuk Inara keluar.
"Ara apa kau ingin diam terus didalam mobil seperti ini "
Inara segera sadar dari lamunannya dan segera turun dari dalam mobil Cio.
"Terimakasih Cio, sudah mau mengantarku "
"Sama sama ayo aku antar kau sampai ruanganmu "
"Tak usah, aku akan baik baik saja, kau segeralah pergi kekantor mu. Aku tau kamu pasti sibuk cepatlah sebelum kau terlambat "
"Tenang saja aku pemilik perusahaan itu, jadi tak usah takut tak akan ada yang memarahiku ini "
"Baiklah baiklah aku tau kau bos besar, jadi selamat bekerja aku pergi dulu ya keruangan ku "
Namun baru juga Inara melangkah tangannya sudah dipegang oleh Cio.
"Emm ya ada apa Cio, apa ada yang belum kau bicarakan denganku "
"Emm untuk permintamaafanku apa kau mau makan siang denganku hari ini, please agar aku tak merasa bersalah "
"Baiklah jika itu membuat hatimu tenang aku akan menurutinya, tapi apakah bisa kau lepaskan tanganku "
"Heheh maaf maaf aku terbawa suasana"
__ADS_1
"Kalau mau pacaran jangan disini carilah tempat lain, jangan mengumbar ngumbar kemesraan dikantorku " celetuk Bian yang baru datang.
"Yaelah Bi, tenang aja gue sama Ara gak punya hubungan apa apa kita teman dan mungkin sebentar lagi akan jadi teman hidup "
"Masa bodo, mau kalian jadi teman hidup mau jadi teman apapun aku tak peduli " Bian segera melengos meninggalkan mereka berdua.
"Cie ada yang cemburu nih " ledek Cio.
Inara yang tak mau berlama lama disini akhirnya pergi dari hadapan Cio, dan saat masuk kedalam lift sudah ada atasannya pak Bian, yang menatapnya dengan jutek.
Saat lift tertutup tiba tiba Bian membalikan badannya menatap Inara dengan lekat, mendekatinya dengan perlahan lahan dan Inara yang ketakutan memundurkan langkahnya sampai mentok kebelakang namun tiba tiba ting, lift terbuka dengan tergesa gesa Inara keluar dan pergi mendahului Bian yang masih ada didalam Lift.
Dengan detak jantung yang masih berdebar debar Inara masuk kedalam ruangannya dan duduk dikursinya.
"Ya ampun ada apa ini dengan jantungku yang tiba tiba berdetak tak karuan seperti ini, tenang tari nafas Nara buang, baik sekarang kita mulai bekerja "
Saat Inara membuka berkas yang akan dikerjakan alangkah kagetnya saat masih banyak yang belum dikerjakan, dengan cepat Inara menghubungi kakaknya.
"Hallo Ana, kemarin aku mengerjakan apa saja "
"Hallo aku mengerjakan itu Ara, ya bisa kau lihat dimeja mu apa saja yang aku kerjakan "
"Tapi hanya 1 dokumen yang selesai "
"Ya itu mungkin, sorry kemarin aku sibuk untuk memberi pelajaran pada orang yang sudah kurang ajar padamu, maafkan aku ya Ara "
"Kau bilang kemarin sudah beres semuanya, tapi tak apa la terimakasih atas semua bantuan mu padaku, aku sungguh beruntung memiliku mu yang membelaku, maafkan aku yang lemah tak bisa membalas semua orang itu "
"Aku seneng sekali, akhirnya ada yang menganggap ku dan mengatakan bahwa beruntung bisa mempunyaiku, selama ini aku tak pernah dianggap tapi sekarang aku mendapatkannya dari mu terimakasih Ara "
"Kenapa kau berkata seperti itu, kau sungguh berarti jadi kau jangan berkata seperti itu lagi ya, jangan sampai keluar lagi dari mulutmu, aku menyayangimu sampai kapan pun "
"Iya Ara iya, oh ya aku mau bilang kalau aku ada pekerjaan keluar kota tak apa aku meninggalkan mu, tenang hanya sebentar aku hanya pergi 1 minggu saja "
"Baiklah kau hati hati disana, segeralah pulang, aku akan bekerja sekarang kau pun segera bekerja ya "
"Ya Ana "
Panggilam sudah terputus kembali Inara fokus mengerjakan kembali tugasnnya yang begitu sangat menumpuk, padahal cuman satu hari tak bekerja tapi pekerjaan sudah banyak seperti ini.
Baru juga jam 10 pagi namun Inara sudah mengantuk saja dengan cepat Inara pergi ke pantry menyeduh kopi dan saat Inara sedang fokus fokusnya mengaduk tiba tiba ada yang menepuk bahunya.
"Hai Nara kau sungguh hebat kemarin sudah membuat Shinta di keluarkan dari kantor ini dan ya kau juga hebat saat menghajarnya, sungguh aku tak menyangka kau bisa bela diri , kami semua suda muak dengan kelakuan Shinta yang semana mena, mentang mentang dia senior jadi semaunya pada kami semua, tapi kamu kemarin sudah menolong kami semua pokoknya kau hebat "
"Emm ya sama sama, aku pun tak menyangka aku bisa melakukan hal seperti itu "
"Baiklah Nara aku permisi, pertahankan terus ya sikap mu yang seperti itu agar tak ada yang ditindas kembali, semangat " sambil mengacungkan tangannya.
Inara hanya tersenyum sambil garuk garuk kepala padahal tak gatal sama sekali tapi entahlah kenapa dirinya melakukan itu, dengan tergesa gesa kembali Inara kedalam ruangannya dan mengerjakam tugas tugasnya yang sudah menumpuk.
**
Sedangkan Bian sekarang sedang diteror oleh Livia dari tadi Livia menelfonnya memberikan pesan yang banyak, bahkan memberikan email padanya, entahlah perempuan ini tak ada kerjaan sama sekali, sampai sampai dirinya tak bisa fokus mengerjakan pekerjaannya.
"Ngapain sih perempuan gila ini, please udah dong kapan mau kerjanya "
Tok tok "masuk "
Jon segera memberikan sebuah berkas kepada atasannya itu " bos ini proposalnya sudah jadi silahkan bos cek dulu, apa sudah benar "
Namun Bian taj mendengarkannya hanya terus saja memencet ponselnya.
"Ada apa sih bos sebenarnya, dari tadi ning nang ning nung ning nang ning nung aja tu ponsel "
"Aduh angkatin dong bilang gue gak ada ya, beneran nih cewe gila ganggu gue "
"Hah gila siapa bos "
"Livia dari pagi dia neror teros sampai sekarang sampai sampai ni ya kepala pengen pecah aja gara gara gak fokus, bukan ponsel gue aja yang diteror tapi semuanya bahkan email kantor pun dia teror "
__ADS_1
"Yaudah sini biar babang Jonathan yang bereskan "
Jon segera mengambil ponselnya dari tangan bosnya sebelum mengangkatnya Jon merapihkan rambutnya dan memencet tombol biru.
"Hallo ada yang bisa saya bantu "
"Hallo ini siapa dimana Abi saya mau bicara dengan nya "
"Saya pacarnya Abian Yogaswara, ada perlu apa anda menelfon pacar saya "
Bian yang mendengar penuturan Jon segera melemparnya dengan pulpen namun sama sekali tak mengoyahkan tekat Jon yang akan membual.
"Kamu gila ya, masa Abi pacaran sama laki laki sih, waras dikit deh, cepatan mana Abinya saya mau bicara penting nih, jangan halang halangin saya buat bicara sana Abi"
"Heyy kamu belum mengemal Abi, jadi kamu gak tau ya tentang kelainan Abi jadi shutt diam dan dengarkan saya ya perempuan, benerkan kamu perempuan, bukan perempuan jadi jadian"
"Dasar gila kamu, gak mungkin Abi nyeleweng kaya gitu, kamu jangan asal bicara ya kalau sama saya, ya kali saya perempuan jadi jadian kamu kali perempuan jadi jadiannya"
"Hey hey sudah aku bilang dengarkan aku dulu, aku sudah menjalin kasih dengan Abi cukup lama, jadi kamu jangan macam macam ya jangan ganggu pacar saya ya, kalau tidak nanti aku cakar wajah kamu aumm mau "
"Dasar gila, dasar pasangan gila kalian, liat saja apa yang akan aku lakukan untuk menghancurkan mu laki laki yang telah merebut kekasihku"
Sambunganmu akhirnya terputus "Jon lo gila ya gue masih normal, dan gak suka sama cowo ya, kenapa harus itu alesannya sih gak masuk akal banget "
"Bos ini adalah cara terbaik untuk membuat wanita itu ilfil dengan bos, jadi tenang saja kalem bos kalem gak usah difikin santai aja lah"
"Tapi tetep aja kan saya malu gimana kalau perempuan itu menyebarkannya apa kamu akan bertanggung jawab"
"Tapi liat apa ada dia menghubungi bos kembali tidak kan berarti aku berhasil, hore berhasil berhasil hore wididit berhasil"
"Gak habis fikir saja Rani mau nikah sama kamu "
"Yaelah Rani tak akan menolak pesona saya bos, saya tampan berkarisma, pintar dan bijak jadi bos jangan remehkan saya, secara gitu saya perayu handal "
"Sudah sudah sana pergi, saya cek dulu dokumennya nanti kalau ada kesalah saya panggil kamu "
"Baiklah bos sayang bayy "sambil mengibaskan rambutnya.
Bian sampai di buat merinding dengan kelakuan Jon, yang seperti melakoni sandiwarannya itu.
"Ya alloh mit amit jangan sampai anak saya kaya Jon jauhkan ya Allah jauh " sambil mengetuk ngetuk mejanya.
Namun tiba tiba Bian tak bisa fokus lagi, dirinya malah memikirkan Inara sekarang, aduhh fikirannya ini bercabang cabang kesana kemari, sungguh menyebalkan.
Dna ponselnya kembali berdering segera Bian mengangkatnya.
"Hallo ngapain Jon nelfon, baru aja lo keluar dari ruangan gue, sekarang ada gerangan apa nelfon lagi "
"Tidak bos sayang, aku hanya ingin menanyakan bagaimana apa dokumennya sudah di cek dengan teliti karena kita harus segera metting "
"Sialan kau Jon, jangan panggil panggil aku sayang geli aku mendengarnya, biasa saja kau berbicaranya atau gajihmu ku potong sekarang juga "
"Yah bos mah pasti gitu aja, gajih gajih terus aja ancemannya gak ada yang alain gitu bos, yang lebih menantang gitu bos ancemannya"
"Maunya apa. Apa mau ***** kamu yang saya potong hah, sampau habis tak tersisa sedikit pun, apa itu yang kamu mau "
"Jangan dong bos kasihani Rani, pasti dia akan sangat sedih karena ***** saya hilang jangan tegalah bos ya, nanti saya gak bisa bikin anak dan *** *** lagi matilah saya bos"
"Hemm itu saja fikiranmu dasar kau mesum "
"Apalagi bos, itu adalah penghilang penat saja kalau cape, makannya cepet nikah bos enak tau, "
"Berisik sekarang saya kesana kita metting dan selesaikan semuanya, kamu siapkan dulu tempat mettingnya saya kesana harus bersih dan jangan ada noda sedikit pun"
Bian segera pergi dan membawa dokumen tadi dan beberapa yang dibutuhkannya, saat melewati ruangan Inara, Bian segaja membuka pintunya sedikit dan menengok apa yang sedang Inara lakukan ternyata sedang fokus menatap laptopnya, tanpa tau kalau ada yang sedang mengawasinya.
"Bian yang sudah puas menatap Inara segera pergi keruangan metting nanti akan dirinya coba mengajak Inara untuk makan siang, siapa tau kan mau, sungguh dirinya menyesal karena telah membuat Inara jauh darinya dan memberikan calah pada Cio untuk masuk kedalam hatinya Inara.
Gara gara kemarahannya yang tak berarti malah berakibat beginikan, benar kata mamihnya sabar.
__ADS_1