Berbagi Suami

Berbagi Suami
Tak pernah tenang


__ADS_3

Sandi dan kedua temannya mengendap-endap mendekati Adam yang sudah tertidur dengan pulas dan tanpa Adam sadari kedua teman Sandi mengikat semua badan Adam Adam yang sadar celingak celinguk bingung"Ada apa ini kenapa kenapa aku ditali seperti ini "


"Tidak ada tidak ada rangka apa-apa aku mengikatmu, hanya saja aku sudah lama tak bermain-main denganmu Adam, aku sudah membiarkanmu terlalu lama diam dan tenang di sini. Seharusnya aku tak membiarkan kau senang di sini seharusnya setiap hari aku harus mengerjaimu atau menyiksamu benarkan begitu "


"Kau sudah gila Sandi lepaskan aku lepaskan aku tak mau diperlakukan seperti ini , aku ini manusia, lepaskan tali ini"


"Yah aku tahu aku tahu kamu manusia emangnya siapa yang bilang kamu hewan kamu ini manusia sama sepertiku "


"Lalu kenapa kau selalu menyiksaku seperti hewan, jadi tolong lepaskan aku. Aku disini hanya ingin menyelesaikan tuntutan dari istriku, aku ingin semuanya berjalan dengan baik aku disini tak mencari masalah dengan siapa-siapa lalu kau kenapa dari awal aku datang kau selalu menggangguku"


"Sudahlah kau sudah tahu alasannya, kau tak perlu bertanya lagi padaku "


"Hajar dia kau Adam jangan berisik kalau sampai sipir tahu habis kau di tanganku "


Buk buk buk kedua teman Sandi memukul Adam dengan bertubi-tubi. Bahkan tak memberikan jeda sedikit pun dada Adam sudah sangat sakit dan wajahnya sudah lebam-lebam bahkan sudah keluar darah dari mulutnya.


Sandi yang sudah melihat Adam tak berdaya lagi segera mengangkat tangannya untuk memberhentikan teman-temannya itu, dan membuka talinya lalu meninggalkan ada begitu saja.


Adam terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah cukup banyak dari mulutnya, sebisa mungkin Adam menahan semua ini sungguh menyakitkan, namun ini semua harus dia alami ini semua gara-gara Inara, dalam hati Adam dia berjanji akan membalaskan semua kesakitan ini pada Inara semuanya semuanya akan dia balaskan tanpa ada sedikitpun yang Tertinggal.


**


Inara yang mendengar dering ponselnya yang menyala dari tadi segera mengambilnya dengan mata yang masih tertutup Inara mengangkatnya " Halo ini siapa, kenapa malam-malam seperti ini menelpon "


" Halo Ara kamu dimana, katanya tadi kamu pulang tapi aku ke rumah kamu nggak ada"


Inara segera membuka sedikit matanya dan melihat Siapa yang menelpon ternyata itu Cio" ya aku memang pulang tapi aku pulang bukan ke rumah"


" Kau pulang ke mana, Apakah kau sekarang sudah tak tinggal dengan Ana. Apakah kau sekarang sudah beda rumah"


"Tidak aku masih tinggal bersama Ana, aku sedang menginap di rumah teman ku, ada perlu apa kau menelponku"


"Aku ingin menagih janji mu, katanya kau mau makan malam denganku kapan aku sudah menunggunya sampai kapan aku harus menunggu"


"Oh ya aku lupa maafkan aku Cio , maaf aku terlalu banyak pekerjaan dan melupakan janji itu padamu , tapi aku janji aku akan menepatinya, tapi tidak bisa sekarang sekarang yaa tunggu dulu Ana sampai pulang, baru aku akan pergi denganmu tolong mengertilah"


"Kenapa harus menunggu Ana kenapa, kenapa tak sekarang saja atau besok mungkin, kenapa harus menunda nunda nya apa ada sesuatu yang terjadi


"Tidak ada yang terjadi semuanya baik-baik saja kok, apakah kita bisa sudahi pembicaraan ini, aku mengantuk dan aku ingin segera tidur lagi, "


"Baiklah maafkan aku, maaf kembali lah tidur "

__ADS_1


" Baiklah terima kasih atas pengertiannya"


Setelah sambungan terputus, inara taK kembali langsung tidur namun entah kenapa pikirannya sekarang tertuju pada Ana,sepertinya ada sesuatu yang Ana sembunyikan dan Ana tak mau sama sekali memberitahunya. Sudah beberapa kali dirinya melepon Ana namun tak ada satupun sambungan yang diangkat olehnya. Sebenarnya dia ke mana.


Dengan cepat Inara menghubungi Jack menanyakan di mana mana sebenarnya Ana.


"Halo jack di mana Ana sebenarnya"


"Halo nona Ana pergi untuk melakukan sesuatu di luar kota dan mungkin akan beberapa bulan dia tak akan pulang"


"Apakah akan selamanya itu, bukannya Ana berbicara padaku hanya satu minggu saja kenapa sekarang menjadi beberapa bulan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia "


"Tidak ada yang terjadi Nona, hanya saja memang begitu nona Ana harus menyelesaikan beberapa proyek yang memang perusahaan kami lakukan di tempat itu, nona Ana tak bilang pada anda karena takut nanti ada khawatir dan mencarinya, jadi dia tak memberitahu anda kalau untuk Nona ana yang tidak bisa di hubungi dia sedang sibuk sekali dan ya anda juga dititipkan oleh nona Ana kepada tuan Abian, jadi lebih baik nona sekarang tinggal dahulu dengan tuan Abian nanti setelah nona aana kembali baru Nona boleh pulang, saya bukannya melarang anda untuk pulang tapi ini sudah perintah dari nona Ana "


"Oh ya seperti itu sejak kapan Ana bisa percaya pada Abian. Bukannya dia sangat membenci Abian ya lalu kenapa sekarang dia menitipkan kepadanya. Sebenarnya ada apa Jack. Katakan padaku jangan merahasiakan sesuatu dariku"


"Tidak nona saya tak merahasiakan apapun, karena memang begitu apa adanya yang dikatakan oleh nona Ana. Jadi sekarang nona jangan khawatir nona Ana baik-baik saja. Dengarkan saja perintahnya Nona. Jangan membantah tenang saja saya akan selalu mengawasi nona, jadi tak usah takut akan terjadi sesuatu pada nona "


Inara segera mematikan sambungan secara sepihak. Pasti ada yang disembunyikan, pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Kenapa Ana merahasiakan sesuatu itu.


Inara yang tiba-tiba lapar karena memang ya dari siang belum makan apa-apa, pergi ke dapur dan mengecek ada apa di sana ternyata ada mie instan dan telur saja, ya sudahlah tak apa itu saja dengan cekatan Inara segera menyeduhnya dan duduk merenung menunggu mie itu sampai matang, 3 menit kemudian sudah siap namun saat akan makannya mie itu tiba tiba direbut oleh seseorang.


"Apa yang tuan lakukan Kenapa tuan mengambil makanan saya"


Inara segera menggebrak meja dan itu membuat Abi tersedap tanpa rasa bersalah, pergi lagi ke arah dapur dan menyeduh kembali mih yang baru.


"Uhuk uhuk sialan kau Nara, kenapa kau tiba-tiba saja menggebrak meja ambilkan aku minum"


Namun Inara pura-pura tak mendengar hanya fokus saja menyeduh mie diam mematung di sana.


Bian yang kesal dan tiba-tiba saja ingin melakuan balas dendan yang Inara lakukan, maksudnya kata-kata yang diucapkan Inara yang ditulis di kertas itu. Bian mendekati Inara lalu memeluknya dengan erat sekali menciumi tengkuk Inara.


"Tuan ada apa dengan mu lepaskan aku. Apakah sudah gila kau sekarang"


Namun Abian sama sekali tidak mendengarkan ucapan Inara, dengan emosi yang mengebu gebu Inara menyiku perut Abian dan tanpa rasa bersalah Inara menuangkan mienya ke dalam mangkok dan pergi kembali ke meja makan tanpa menghiraukan teriakan Abian yang marah padanya.


Bian dengan kesal duduk di samping Inara memakan kembali mienya. Tak lama kemudian habis dia langsung masuk ke dalam kamar, dengan membanting pintu cukup keras namun Inara hanya tertawa saja melihat tingkah Abian yang sekarang menjadi baperan.


Biam sudah ada di kamar memegang tongkatnya yang sudah berdiri "kenapa malah burungku yang berdiri. Harusnya kan tak seperti ini. Kenapa ini menjadi bumerang bagi ku"


"Terpaksa deh tengah malam kayak gini harus mandi air dingin semoga saja aku tak sakit"

__ADS_1


Bian segera pergi ke kamar mandi untuk mendiamkan dan menidurkan kembali burung yang sudah tak karuan ini.


**


Pagi ini Adam pergi ke arah kamar mandi lebih awal, dia membersihkan dirinya yang sudah kacau dengan beberapa lebam di wajah dan juga di perutnya, dengan sekuat tenaga Adam mengambil peralatan bersih-bersih karena hari ini dia dijadwalkan untuk piket.


Awalnya saat Adam mengepel lantai dan menyapunya baik-baik saja, namun saat sekali lagi akan mengepel tiba-tiba saja ada tetesan air dari atas. Adam segera mendongakkan kepalanya.


Dan ternyata di atas sana ada Sandi dan juga beberapa temannya sedang meludahi dirinya dengan sabar Adam hanya diam saja, mengepel kembali membiar setiap ludah itu turun dari atas ke bawah.


Dia membiarkan itu meskipun ludah Itu mengenai tubuhnya karena ya dia sudah capek untuk melawan sandi yang terus-menerus mengganggunya saja, setelah kegiatan selesai Adam segera menyimpan kembali ke ruangan asalnya...


"Bos kayaknya tuh si Adam udah pasrah banget deh biasanya kan dia ngelawan kita nih, tapi dia kok diam aja ya "ucap salah satu teman Sandi


"Iya juga mungkin dia udah capek kali ya gue kerjain terus tapi bagus deh daripada dia ngelawan terus, gue hajar terus kan lebih baik dia diam aja"


"Iya juga sih Bos bagus dia diam aja lah kayak gitu, lebih enak aja gitu kelihatannya"


Sandi dan yang lainnya segera pergi ke kantin dan membantu seseorang untuk menyajikan makanan, ya memang kadang kadang dia juga membantu itu untuk sesekali menjahili tahanan yang lain.


Tiba waktunya Adam yang diberikan makanan oleh Sandi, dengan sengaja Sandi mengambil sebuah sup yang panas yang baru saja kompornya dimatikan, dia menumpahkan nya kepada tangan Adam.


Adam yang kepanasan langsung mengibas-ngibaskan tangannya "Maafkan aku maaf aku tak sengaja, apakah itu begitu panas sampai kau meringis begitu "


Namun Adam sama sekali tak menjawab dia pergi meninggalkan tempat itu tanpa mengambil makanan apapun.


Tiba-tiba saja sipir memanggilnya Adam dengan cepat menghampirinya "Ada yang ingin menemuimu cepat kau temui dia" sipir itu segera menemani Adam untuk menemui seseorang itu.


Saat melihat siapa orang itu Adam segera memeluknya dengan sangat erat "Ibu aku sangat merindukan Ibu "


"Ya nak ibu pun sama merindukanmu nak, lalu ini kenapa wajahmu lebam-lebam dan kenapa tubuh mu pun sama ada apa Adam kenapa di sana kau diapakan"


"Tidak bu aku baik-baik saja, di dalam rantang ini ibu membawa apa " Adam mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ibunya, karena dirinya tak mau membuat ibunya khawatir dengan keadaannya saat ini pasti kalau dia menceritakan semuanya ibunya akan khawatir.


" Iya nak ibu membawakan makan untuk mu. Ibu memasaknya, ini adalah makanan kesukaan mu "


" Benarkah ayo buka bu, Adam sudah merindukan masakan ibu yang sangat lezat ini"


"Baiklah na ibu akan membukannya, ibu sudah lama tak menyuapimu hanya sesekali saja ya, dan juga sudah lama tak makan bersama denganmu "


" Iya bu suapi Adam sekarang kita makan sama-sama ya"

__ADS_1


Dengan senang ibu adam mengangguk dan menyuapi anaknya dengan senang hati ini untuk pertama kalinya lagi dia bisa melihat anaknya makan dihadapannya.


__ADS_2