
"Maaf Pak apa aku bisa mendengarnya sekali lagi, apa maksudmu. Sungguh aku tak mengerti dengan jalan pikiran Bapak apa bisa Bapak Jelaskan lagi pada saya "tanya Nara dengan sedikit jutek
" Begini saya meminta calon suami kamu untuk Livia, saya akan membayar kamu .Apapun yang kamu mau saya akan berikannya asalkan kamu putuskan hubungan dengan Abian dan berikan Abian pada anak saya. Saya akan membayar kamu dengan uang yang sangat banyak. Dan saya akan memberikan setengah saham saya pada kamu bagaimana"
"Begini ya Pak, Bapak emang dulu beli cinta pakai uang ya, apa dulu bapak juga ngelakuin kayak gini sama ibunya Livia maksud saya membeli Ibu Livia dari laki-laki lain gitu "
"Kamu kalau bicara dijaga, istri saya emang perempuan apaaan "
"Nah itu bapak marah kan istrinya digituin sama saya, lalu Bapak mikirin nggak perasaan saya saat anda bilang mau beli calon suami saya. Emang saya perempuan apaan sampai-sampai bisa dibeli dan memberikan calon suami saya begitu saja. Saya bukan perempuan yang haus akan uang dan kekuasaan. Saya dan Abian saling mencintai dan anak bapak itu hanya perusak saja. Sampai kapan pun saya tak akan memberikan Abian pada Livia sampai saya mati pun saya tidak akan memberikannya "
"Kamu apa tidak kasihan dengan anak saya, dia dari dulu sudah menderita. Berilah sedikit kebahagiaan untuknya. Saya tidak memintanya dengan cuma-cuma saya juga membayar. Saya juga tidak merendahkan anda cuma saya ingin kebaikan hati anda saja memberikan Abian kepada anak saya"
"Kalau begitu Bapak cari perempuan lain saja, yang rela calon suaminya dibeli oleh orang lain. Saya tidak akan melepaskan Abian, maupun Bapak memberikan semua harta Bapak saya takkan pernah memberikan Abian pada siapapun itu . Lalu apakah Abian nanti setelah bersama Livia dia akan menerima Livia ? belum tentu kan Pak, jadi sudah saya tak mau ada lagi pembicaraan dengan bapak tentang jual beli calon suami saya."
" Bapak pikir-pikir dulu deh kata-kata bapak yang ini apakah pantas bapak berkata seperti ini pada saya. Seharusnya Bapak Sadarkan anak bapak itu supaya tidak mau dengan calon suami orang dia itu sudah keterlaluan, jika saja keadaan dibalik anak bapak menjadi saya pasti dia akan menolak "sambung Inara panjang lebar, saat Inara akan masuk tangannya dipegang oleh ayah Livia.
"Dasar kamu perempuan tak punya hati, dasar kamu tidak punya pendirian. Kamu ini dasar perempuan egois. Seharusnya kamu memberikan Abian pada anak saya bukannya marah marah pada saya, ketika saya meminta Abian dengan baik-baik. Kenapa kau malah marah-marah pada saya, saya pastikan akan menuntut anda "
"Sebenarnya Anda yang tak punya hati, saya ini juga manusia saya punya hati Jadi silakan anda ingin melaporkan saya, saya juga bisa menuntut anak anda karena sudah mencelakakan saya dua kali. Oh tidak tiga kali dia menyiram saya dengan air panas di kantor dan kemarin dia hampir saja membuat nyawa saya melayang dua kali. Saya akan memperkarakan ini jika anda sekali lagi meminta calon suami saya dan saya pastikan calon suami saya tidak akan pernah menemui Livia kembali sampai kapanpun itu "
Inara segera menghempaskan tangan Ayah Livia lalu masuk ke dalam ruangan, Bian disana sedang duduk diam mendengarkan celotehan dari Livia.
Saat Livia melihat Inara segera memberhentikan ucapannya "Kenapa kau masuk Inara sana pergi "
"Aku masuk karena aku ingin menjemput calon suamiku, kita akan pulang . Dan aku ingin pulang bersama calon suamiku jadi apa salahnya siapa kau ? " Inara segera menarik tangan Abi dan itu membuat Abian kaget.
"Tiidak Abi itu bukan calon suamimu, kalian tidak punya hubungan apa-apa jadi lepaskan Abi"
"Kamu tidak tahu tentang kami jadi jangan sok tahu. Ayo cepet Bian kita pulang ngapain sih kamu masih pelanga pelongo dari tadi aku udah capek tahu bicara terus dari tadi "marahin Inara pada Abian.
"Eh iya sayang aku sampai lupa gitu lihat kamu yang marah-marah kayak gini. Ayo sayangku cintaku kita pulang ke rumah ya ayo ayo kita bobok aku peluk ya "
" Ya udah ayo dari tadi, udah ya sampai sini aja kamu Livia merepotkan calon suami saya "
Inara segera menarik Abian, membiarkan Livia berteriak histeris memanggil Abian, namun Inara tak menghiraukan sama sekali.
Saat di pintu keluar tiba-tiba saja tangan Abi dipegang oleh Ayah nya Livia dengan cepat Inara segera melepaskan tangan itu dan menarik kembali Abian, tanpa menghiraukan caci-maki dari ayah Livia padanya.
Saat di lobby pun mereka berpapasan dengan Cio namun Inara hanya lurus menatap ke arah parkiran, ingin segera pulang sungguh hatinya sudah tidak bisa dimainkan seperti ini.
Enak saja ayah Livia mau membeli Abian darinya, tapi tunggu kenapa dia jadi semarah ini saat Abian akan dibeli oleh ayahnya Livia ?
Bian segera membantu Inara untuk segera masuk ke dalam mobil lalu menutupnya, dan saat di mobil Inara hanya melamun saja tak berkata apa-apa. Bian segera membantu Inara memasangkan sabuk pengamannya.
Dengan jahil Bian segera mengecup bibir Inara dan saat itu barulah Inara sadar " apa yang tuan lakukan kai sudah melecehkan ku "
__ADS_1
"Makanya jangan ngelamun terus, ada apa sih sampai-sampai kamu kayak gitu tadi dihadapan ayahnya Livia dan kamu juga berani tuh sama Livia ada apa sih sebenarnya ayo cerita "
"Tidak ada tuan"
"Ayo cepat ceritakan, atau akan aku cium lagi kau dan aku takkan melepaskannya sampai kau berbicara ayo cepat katakan"
"Ayah Livia ingin membeli mu dariku, dia percaya bahwa aku adalah calon istrimu"
"What memangnya aku barang "
"Ya makanya dari itu, saya memarahi ayahnya Livia tuan, mana mungkin saya memberikan tuan begitu saja pada ayah Livia dan menerima uang dari ayah Livia, saya tidak mungkin rela kalau tuan sampai bersama dia ataupun dibeli oleh ayahnya Livia. Saya tidak mungkin menerimanya saya menolaknya mentah-mentah dan saya juga tidak mau tuan kembali bertemu dengan Livia lagi "
" Wah apakah kau benar pertahan kan ku, sepertinya ada yang cemburu "
"Ih tuan jangan berpikir kesana. Saya tidak cemburu beneran deh saya itu cuman melakoni sebagai calon istri bohongan tuan, kalau saya tiba-tiba saja memberikan tuan pada ayahnya Livia dia bisa curiga dong kalau saya ini calon istrinya tuan bohong-bohongan "panik Inara
" Beneran tuh tapi kok mukanya panik banget sih bilang aja kalau sekarang kamu yang cinta sama saya "
"Engga tuan saya nggak cinta sama tuan, tuh liat muka saya biasa-biasa aja tuh lihat-lihat biasa kan "
"Udah nggak usah bohong sama suya, aku tau kok kamu cemburu, ya udahlah kamu harus bantu saya sampai Livia jauh dari saya, kamu harus selalu jadi calon istri saya tenang aja bohong-bohongan kok "dengan senyum tengilnya.
"Gimana tuan saja, saya udah bilang kalau saya nggak cemburu. Baiklah saya akan bantu tuan sampai misi tuan itu berhasil cuma bohong-bohongan ya tuaan "
" Iya Sayang ku "sambil menonjol dagu Inara.
Dirinya yakin Inara pasti sudah mencintainya tapi dia tidak akan gegabah seperti dulu langsung mengungkapkan perasaannya.
Dia akan melihatnya dahulu sampai misi ini berakhir. Dia akan lihat Inara akan sampai kapan menyembunyikan perasaannya padanya, dari gerak gerik nya saja sudah terlihat kalau Inara mencintainya.
**
Cio segera masuk ke ruangan Livia, tadi dirinya diberitahu oleh Abi kalau Livia akan bunuh diri. Dan Abi meminta tolong pada dirinya untuk menggantikannya menjaga Livia karena Inara menunggunya.
Demi Inara dia melakukan ini, kalau tadi Inara tak ikut dengan Abian dirinya tak akan mau menjaga Livia. Tadinya dirinya sudah berkata pada Abian dirinya yang akan mengantar Inara pulang.
Tapi Abian tak mau, Abian ingin lepas dari Livia. Ya sudahlah membantu teman sendiri kenapa tidak. Dia kan akan bersaing dengan sehat dengan Bian untuk mendapatkan Inara tidak dengan cara licik.
Saat Cio masuk Livia sedang dipeluk oleh ayahny, sedang ditenangkan dengan perlahan-lahan ia segera menghampiri mereka berdua.
"Ada apa dengan Livia om, kenapa Livia seperti ini"
"Ini gara-gara Inara calon istrinya Abian"
"Inara calon istrinya Bian"
__ADS_1
"Iya dia sudah sangat jahat pada Livia dia tak mau memberikan Abian pada Livia sungguh wanita jahat, dia seharusnya tak ada di dunia ini karena dia jahat pada anak Om. "
"Sudah om, om segeralah istirahat biar saya yang menjaga Livia. "
"Baiklah tolong jaga Livia ya, om sangat ingin istirahat. Ingin mengistirahatkan kepala Om yang sudah Pusing ini. Tolong dijaga ya Cio "
"Baik om "
Ayah Livia segera pergi meninggalkan Livia dan juga Cio berdua saja.
"Sudahlah Livia kau tenangkan dirimu, Apakah kau akan menangis seperti ini terus menerus. Apakah kau tidak kasihan dengan ayahmu yang selalu menuruti apa kemauan mu. Lihat dia sampai mengatakan kalau Inara itu jahat. Dan yang sebenarnya jahat itu adalah dirimu anaknya sendiri. Jadi kau sudah jangan membuat drama lagi "
Livia segera mengusap air matanya lalu tersenyum pada Cio" kau tahu saja kalau aku sedang membuat drama agar Ayahku bisa menuruti apa yang aku mau, kamu memang teman terbaikku Cio kau tahu segalanya tentang diriku "
"Maka sudahi semua ini, kau jangan mengganggu hidup semua orang. Kau ini jangan mau bahagia sendiri karena orang lain pun sama ingin bahagia. kalau memang Inara dan juga Bian sudah menjadi calon suami istri kenapa kau tidak menjauhinya saja "
Sebenarnya berat mengatakan itu dia cemburu.Dia marah kalau memang benar-benar Inara dan juga Bian menjalin hubungan, apalagi sampai menjadi calon suami istri dan apalagi kalau sampai menikah.
Eh tapi kan dia sudah janji bakal melakukan ini dengan cara baik, mendapatkan hati Inara dengan cara baik, jadi kalau memang itu yang terbaik untuk mereka berdua Dan kalau memang Inara sudah memilih Abian sudahlah dirinya tidak akan mengejar lagi Ara.
" Abian Itu milikku, bukan milik Inara sampai kapanpun aku akan terus mengejar Abi. Meskipun mereka nanti sudah menikah. Aku akan rela jika nanti menjadi istri kedua dan menjadi madu Inara. Aku tidak akan keberatan kenapa tidak "
"Kau sudah gila Livia, kau gila seharusnya kau mencari lagi lelaki lain nggak usah Abi. Kasihan mereka ingin bahagia biarkanlah mereka bahagia"
"Aku nggak bisa Cio bukannya kamu juga cinta Inara kenapa kamu nggak kerja dia "
"Aku memang mencintai Ara, tapi aku akan bahagia bila dia hidup dengan orang yang dia cintai.Aku tidak akan memaksakan cintaku pada Inara. Jika dia memang mencintai Abian aku akan melepaskannya dan aku akan bahagia jika dia bahagia itu prinsipku, tidak harus memiliki yang penting aku bahagia melihat dia bahagia"
"Sungguh munafik Cio,kau mencintainya kenapa kau tak mengejarnya aku pun akan mengajar Abian sampai kapanpun karena aki mencintainya "
"Aku bukanlah dirimu yang harus memiliki orang itu, orang yang aku cintai. Untuk apa aku memiliki orang itu tapi aku tidak memiliki raganya, tubuhnya bersamaku tapi raganya dengan orang lain. Aku tidak mau, jadi lebih baik aku melepaskannya dan membiarkan dia bersama orang yang tepat dan orang yang dia cintai. Aku tidak akan egois seperti dirimu Livia karena aku ingin melihat orang yang aku cintai bahagia"
"Iya iya terserah kau saja, kau itu orang yang paling baik memberikan perempuan yang kau cintai pada orang lain, aku sangat bangga padamu. Tapi aku bukan dirimu sampai kapanpun aku takkan merelakan Abian dimiliki oleh siapapun meski nantinya aku harus membunuh Inara aku siap kenapa tidak"
"Dan saat kau melakukan itu, saat kau membunuh Inara aku akan menghalangimu dan aku akan menjadi orang pertama yang menggagalkan kemauan mu itu. Aku tidak akan membiarkan kau menyakiti Inara sampai kapanpun kau jangan jadi wanita egois, kalau kau seperti ini terus yang ada Abi akan ilfil dengan tingkahmu ini"
"Kalau aku tidak seperti itu mana mungkin aku bisa mendapatkan Abian, aku akan menjadi diriku sendiri dan aku akan mendapatkan Abian dengan caraku sendiri, kalau kau disini hanya ingin menasehatiku saja maka kau pergilah jangan menggangguku "
" Baiklah, tadinya pun aku tak sudi datang kesini, kalau bukan Abi yang memintanya aku takkan mau ke sini. Kalau bukan karena Inara ada di sini aku pun tak akan ke sini dan membantu Abian lepas dari perempuan seperti mu. Aku aku pasti kan Abi tak akan pernah lagi menemuimu dan aku akan bicara pada Abi semuanya tentang dirimu"
" Kau gila ingin merusak semua rencanaku Cio, sungguh jahat kau padaku"
"Ya sudah sama saja kan. Kau jahat dan aku jahat jadi sudah tak usah dipikirkan, mulai sekarang aku tak mau menjadi temanku aku sudah bilang kan, aku tak akan mau lagi menjadi temanmu sampai kapanpun, disini aku terpaksa datang ke sini Jadi sampai sini aku menemuimu lagi jika ada apa-apa jangan temui aku"
Cio segera pergi dari ruangan Lia.
__ADS_1
"Sialan semua gara gara Inara "teriak Livia