
Ana kembali lagi kerungan itu, masih berantakan dan sama sekali tak dibereskan oleh Livia "aku tadi berkata apa padamu"
Namun Livia tak menjawab dia hanya menatap sekilas Ana dan kembali menagis, Ana segera menutup pintu dan mengunci pintunya.
Ana menghampiri Livia dan berjongkok "kau sudah tak mau mendengarkan apa kata kataku, baiklah jika itu mau mu, jangan menangis ya karena aku akan melakukan sesuatu padamu, "
"Aku tak akan pernah takut " bentak Livia.
Tiba tiba saja Ana menusukan sebuah jarum suntik keleher Livia dan langsung saja Livia tak sadarkan diri "ini kemauan mu sendiri, jangan salahkan aku bila kau nanti kehilangannya"
Ana mengeluarkan pisau daging dan memasukan sebuah besi kedalam perapian , dan tanpa aba aba Ana memotong tangan Livia, lalu mengambil besi yang sudah panas itu dan menempelkannya ketangan Livia agar tak mengeluarkan darah sedikit pun..
Namun wajah Ana sudah banyak darah karena terciprat dari darah Livia "hemm cukup bagus potongan ku ternyata, selamat Livia mulai sekarang kau tak punya tangan hanya satu saja, aku akan disini menunggu sadar, rasannya aku tak sabar melihat wajah kagum mu dengan apa yang aku lakukan pada tangan mu "
Ana langsung duduk sambil memainkan ponslenya tanpa menghiraukam wajahnya yang banyak darah. Selama menunggu Livia Ana melihan foto dan Fidio yang anak buahnya kirim tentang perkembangan Inara sang adik.
**
Sedangkan dikantor Cio , Nana sedang menatap atasannya itu, bahkan tak ada bosan bosan nya dia menatap wajah Cio, sedangkan Cio yang risih segera mengebrak meja.
__ADS_1
"Kenapa pak " tanya Nana
"Kamu yang kenapa, dari tadi kamu menatap wajah saya saja. Apakah kamu sekarang mulai ketagihan dengan saya dengan wajah saya kamu baru mengakui kalau saya ini tampan, dari tadi tidak berhenti menatap saya sampai 1 jam kamu menatap saya"
"Tidak wajah Bapak sama saja tidak ada perubahan ya standar lah, tidak tampan tidak jelek. Saya hanya aneh saja kemarin kan hidung Bapak tuh berdarah dan bengkak, tapi kok sekarang udah baik-baik aja ya Pak, diobatin pakai apa sih Pak saya penasaran nanti kan kalau ada teman saya yang kayak gitu karena di tonjok sama saya, saya bisa kasih info sama dia .Gimana cara obatinnya gimana sih pak saya penasaran "
"Apa kamu bilang wajah saya ini tidak menari, wajah saya ini standar kamu sepertinya harus memakai kacamata deh mau saya belikan kacamata baru, buat kamu biar kamu lebih jelas melihat saya, kalau wajah saya tidak standar seperti apa yang kamu katakan "
"Saya tidak mengatakan kalau wajah Bapak tidak menarik dan saya juga tidak butuh kacamata, karena mata saya tidak buram Pak, mata saya masih baik-baik saja memang menurut saya wajah Bapak standar kan beda-beda pendapat orang lain , tidak semua orang bisa menganggap bapak itu tampan buktinya saya, saya menganggap bapak biasa-biasa saja tidak tampan tidak jelek, biasanya lah Pak kenapa sih Pak harus dibilang tampan terus emang ngaruh ya buat kerjaan"
"Tau ah saya bisa gila bicara sama kamu " Cio langsung saja pergi meninggalkan Nana
Namun Cio terus saja berjalan meninggalkan Nana "kenapa coba pak Cio, aku berkata bener kan, aku gak bohong kok emang wajahnya biasa biasa aja, gak tampan banget kok, standar aja kok wajahnya, aneh deh "
Nana langsung saja pergi ketempat duduknya dan kembali mengerjakan tugasnya.
**
Livia terbangun dan orang yang pertama dirinya lihat adalah Ana " udah bangun ya gimana tidurnya ya enak gak lihat deh aku punya kejutan buat kamu pasti kamu senang banget lihatnya "
__ADS_1
Livia yang tak mengerti mengecek tubuhnya namun tangannya sakit sekali saat melihat kearah tangannya Livia memelototkan matanya "Ana apa yang kau lakukan kenapa tangan ku tak ada, apa yang kau lakukan, apakah kau gila hah"
"Ya itulah kejutannya aku sudah menyuruhmu untuk membereskan ruangan ini menjadi seperti semula lagi, tapi kau tidak mendengarkannya. Maka itulah akibatnya karena kau tidak mendengarkan kata-kataku dan satu lagi itu kan tangan yang menusuk adikku, agar tangan itu tidak nakal lagi dan menusuk perut orang lain maka aku harus memusnahkannya bagaimana kau suka kan dengan kejutan yang aku berikan. Makanya jangan kau membantah apa kata-kata aku ya, dengarkan kalau aku berbicara dan patuhi apa yang aku katakan "
"Dasar kau gila Ana, kau sudah memotong tanganku, apakah kau tak pernah berfikir bagaimana nanti aku makan bagaimana aku akan menjalani hidup ku lagi "
"Kau masih mempunyai tangan satunya lagi, PD sekali kau akan lepas dariku sampai kapanpun kau tidak akan pernah lepas dari tanganku, sampai maut menjemputmu kau akan ada di sini dan bersamaku tak akan pergi kemana-mana kau jangan berharap lebih jika sudah ada di tanganku"
Livia memeluk tangannya dan menundukan kepalanya, kembali menangis dan menangis.
"Ternyata kau cengeng sekali ya apa-apa nangis apa-apa nangis, emang gak capek dari pagi nangis terus sampai sekarang. Nangis lagi nangis lagi aku aja yang lihatnya capek tahu gak sih , lihat kamu nangis mulu air mata masih ada kam masih banyak kan, kalau udah habis biar aku ganti jadi warna merah"
"Cukup Ana pergi pergi dari sini jangan ganggu aku. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi aku tidak mau, kau sungguh jahat telah melakukan ini semua kau pergi dari hadapanku. Aku muak melihat wajahmu . Aku tidak mau lagi melihatmu kau sangat jahat Ana, menghilangkan tanganku tanpa sebab hanya karena aku tidak membereskan semua tempat ini kau jahat"
"Nah itu kau tahu berarti aku melakukannya karena ada sebabnya kan, sudah jangan banyak bicara aku pun akan pergi dari sini aku tidak sedu tinggal di sini bersamamu, bisa-bisa aku ikut gila sepertimu, bereskan sekarang juga atau aku akan menghilangkan tanganmu yang satu lagi, aku tidak akan main-main lihat kan apa yang aku lakukan aku tidak akan pernah main-main dengan apa yang aku ucapkan. Jadi sebelum itu terjadi kau lakukan apa yang aku suruh tidak ada lagi kata bantahan atau tanganmu yang akan hilang"
Ana langsung berdiri dan menutup pintunya sedangkan Livia menatap Ana dengan kebencian "awas saja Ana aku akan membalaskan semuanya, aku akan membalaskan rasa sakit ini padamu, lihat saja aku tak akan lupa dengan apa yang kau lakukan, aku tak akan lupa dengan rasa sakit yang telah kau berikan padaku, aku akan membalas semuanya tanpa ampun sedikit pun lihat saja "
Livia segera bangkit dan mulai membereskan apa yang Ana suruh, untuk kali ini dirinya akan mengikuti apa kata kata Ana, namun nanti dirinya tak akan mau melakukan ini lagi, tak sudi dirinya.
__ADS_1