
Inara dan Abian sekarang sedang bermain sepeda, tapi sendiri sendiri tak berdua, mereka mengayuh dengan semangat "ada yang ingin aku bicarakan pada mu Abi "
"Apa itu sayang, apa yang ingin kau bicarakan padaku "
"Aku sangat mencintai mu "
"Hah apa ucapkan sekali lagi "
"Tidak aku tidak mau, aku sudah berbicara dengan mu "
"Sayang ayo ucapkan sekali lagi "
Namun Inara mengelengkan kepalanya dan mengayuh sepedanya makin kencang meninggalkan Abian, namun Abian tak mau kalah dia menyusul Inara.
"Syaangg ayo katakan sekali lagi "
"Tidak Abi aku tidak mauuu"
**
"Dari mana kau Puja pagi pagi baru pulang "
"Kau peduli padaku Roger sejak kapan "
"Aku ini masih pacar mu, jadi aku berhak tau kau dimana dan bersama siapa, ada yang kau sembunyikannya dariku "
"Pacar apakah pantas kau disebut pacar tapi kau masih mengejar gejar perempuan lain apakah pantas, aku suka aneh dengan mu Roger, kau masih peduli dengan ku dan masih menganggapku sebagai pacarmu tapi kau masih saja seperti ini"
"Siapa yang mengejar ngejar perempuan lain, tak ada yang mengejar siapa siapa, kau kalau bicara dijaga "
"Bukannya kau sedang mengejar Ana kan, jujur saja pada ku tanpa kau bicara saja aku sudah tau kau sedang mengejar perempuan itu "
Roger tak menjawab dia diam saja, binggung harus menjawab apa "tuhkan kau diam, berarti iya kan kau sedang mengejar perempuan itu "
"Ada apa ini kenapa ribut dirumah ku " tiba tiba saja Ana ada dihadapan mereka.
"Tidak ada kau tak usah tau Ana, ini urusan ku dan pacarku "
"Baiklah tapi ini rumahku, aku sama sekali tak akan ikut campur bila kalian bertengar ditempat lain, apakah bisa kalian pergi dari sini dan bertengkar ditempat lain, saya sedang bekerja "
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Ana kembali masuk kedalam ruangan kerjannya dan puja pergi kekamarnya sedangkan Roger mengusap wajahnya dengan kasar
"Apakah aku harus menikahi kedua wanita itu, "
**
Inara dan Abian yang sedang berjalan jalan ditaman setelah bermain sepeda tadi dikagetkan dengan Livia yang tiba tiba saja memeluk Abian.
Inara langsung mendorong Livia dan menarik Abian "Inara kenapa kau begitu kasar "
"Aku tak suka kalau calon suamiku dipeluk oleh mu, kau kan cuman rekan kerjannya jadi apakah pantas melakukan itu dan lihat aku ada disamping Abian, apakah kau tak malu memeluk pacar orang didepan umum seperti ini "
"Aku hanya khawatir saja pada Abian karena dia tak masuk kekantor kemarin makannya saat melihatnya aku senang sekali"
"Tetap saja kau tak tau diri Livia jangan semena mena ya, aku tak suka, jangan sentuh pacar ku lagi, awas saja aku tak akan terima dan aku akan bersikap kasar padamu jika kau memeluk pacar ku lagi, atau memegangnya "
Inara langsung menarik Abian dengan kencang dan meninggalkab Livia sendirian.
"Ihh nyebelin banget sih, apa apaan sih si Inara itu sok sok an berani, awas aja Inara jangan kira aku gak berani sama kamu, aku kaya gini karna biar Abian simpati eh malah cuek "
Inara melepaskan peganggannnya, "kenapa syanag kamu cemburu "
Abian langsung menyimpan telunjuknya didekat bibir Inara "syaang dengarkan aku, aku tak akan berpaling dari mu, jadi tak usah marah ya, maafkan aku bukannya aku tak mau berbicara dengan Livia, tapi kan kau sudah mewakilinya jadi aku lebih baik diam, kalau semuanya berbicara yang ada pusing sayang "
"Hemm "
"Jangan marah dong sayang, ayo mau kemana lagi "
"Gak tau aku udah gak mood aku pengen pulang aja "
"Kenapa begitu sayang, jangan pulan ya kita jalan jalan kemana gitu "
"Hemm gimana kamu aja Bi "
"Yaudah ayo ayo sayang kita jalan jalan lagi "
Abian langsung mengandenng tangan Inara dan mengajaknya berlari.
**
__ADS_1
"Kakak kenapa dari tadi kakak diam saja apa ada masalah ,"
"Tidak ada sayang, semuanya baik baik saja tak ada masalah "
"Tapi kenapa kakak diam saja dari tadi, ada apa "
"Emm tidak sayang, ada apa "
"Tidak aku hanya melihat kakak saja murung makannya aku kemari untuk bertanya pada kakak "
"Kakak baik baik saja syanag, ayo kamu main lagi sama Arya kasian dia nunggu "
"Tapi kalau ada apa apa, kakak harus bilang ya sama aku, kakak gak boleh diem diem dan sembuyiin semuanya dari Sean "
"Iya anak bawel kakak nanti akan berbicara kalau ada apa apa "
"Baiklah aku main lagi kak "
Sean langsung berlari meninggalkan mereka Ana kembali sendiri, Ana kembali menonton tvnya namun tidak fokus dia hanya melamun saja.
"Huff kenapa aku jadi seperti ini ya, padahal aku tak pernah begini, ada apa dengan diri ku ini tak seperti biasannya sepertinya semenjak kedatangan Roger hidupku menjadi seperti ini, apakah aku salah dulu tak membunuhnya, tapi kalau aku sampai membunuhnya kasian Sean kan "
**
Roger yang sedanf ada dikamar dengan Puja menatap leher Puja, menajamkan kembali penglihatannya, lalu memegang leher itu.
"Ada apa sih sama aku, kenapa pegang leher aku "
"Ini leher kamu dicium sama siapa, siapa yang lakuin ini, setau ku kita gak pernah hubungan *** lagi semenjak disini, siapa yang lakuin ini apa temen masa kecil kaamu itu "
"Apaan sih kamu, kenapa sih kamu ini selalu saja nuduh nuduh aku, kamu tuh cuman bikin gara gara aja tau gak sih sama aku, kenapa harus kaya gitu, kenapa aku gak lakuin apa apa disini, kenapa sih kamu bisa nuduh aku tanpa bukti "
"Ini buktinya dileher kamu jelas, apa lagi yang perlu aku buktikan apa, ini sudah jelas "
"Ini bekas ciuman ini bekas semut aku mengaruknya terus menerus kamu gak akan tau apa yang aku lakukan selama disini makannya kamu nuduh aku kaya gitu tanpa tanya dulu sebenernya ini bekas apa, leher merah bukan berarti aku sudah melakukan *** dengan laki kaki lain, fikiran kamu ya *** *** dan *** dasar lagi lagi gak perhatian dan gak tau tentang pacar sendiri "
"Aku bisa bedaan ya Puja mana bekas ciuman mana bekas semut dan digaruk jadi jangan berbohong padaku, dasar kau pelacur tak tau diri, kau sudah beranu menghianati ku, aku akan mempetimbangkan hubungan kita" sambil mendorong Puja dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Puja dikamar.
:
__ADS_1