
Happy reading
"Mbak, toilet sebelah mana ya?" tanya Aisyah pada salah satu pelayan disana.
"Mari Nyonya, saya antarkan takutnya Nyonya malah tersesat. Soalnya banyak yang tersesat saat kekamar mandi tadi," jawab pelayan itu dengan ramah.
"Terima kasih Mbak."
"Mari nyonya."
Akhirnya Aisyah di antarkan oleh pelayan itu menuju kamar mandi yang jalannya memang berbelok. Jika saja tidak tahu rute di restoran ini mungkin mereka banyak yang hilang.
"Nah sudah sampai Nyonya. Ini kamar mandinya, mbak ingat kan jalannya?"
"In syaa Allah ingat Mbak. Terima kasih ya sudah mau antar saya."
"Sama sama Nyonya, saya pamit mau ke tempat saya takut ada yang nyariin," ucap pelayan itu dengan senyum manisnya.
Aisyah mengangguk dengan senyum manisnya, sejenak pelayan itu terpana dengan senyum Aisyah. Bukan apa apa tapi sebagai wanita saja ia terpana dengan senyum manis Aisyah bagaimana laki laki normal di luar sana.
Aisyah masuk ke dalam kamar mandi, dan yah lagi lagi ia mengagumi interior dan desain kamar mandi disini. Sama seperti Zahra memang ia suka dengan apa yang ada disana. Bahkan untuk laki laki dan perempuan juga beda tidak menjadi satu.
Karena sudah tak tahan, Aisyah memutuskan untuk masuk ke salah satu toilet yang ada di sana.
Setelah selesai dengan urusannya Aisyah langsung keluar dari toilet. Wanita 25 tahun itu tak langsung keluar dari kamar mandi. Ia terlebih dahulu ke arah washtafel yang ada disana dan menatap pantulan dirinya dari cermin yang ada disana.
"Kenapa mataku sampai hitam gini ya?" tanyanya menatap matanya sendiri yang sebenarnya tak hitam tapi kantung matanya terlihat dengan jelas dan sedikit berwarna cokelat.
Tiba tiba ada tangan kekar yang memeluk perutnya dari belakang. Kemudian mengecup mata Aisyah.
Aisyah yang ingin memberontak itu langsung berhenti saat ia tahu yang memeluknya adalah orang yang ia kenal.
"Mas ngagetin aja sih," kesal Aisyah membalikkan badannya dan menatap suaminya yang tersenyum tanpa dosa di hadapannya.
"Habisnya kamu lama banget di toilet, ngapain?" tanya Abi pada sang istri.
__ADS_1
"Buang air doang kok. Masa lama sih Mas?" tanya Aisyah dengan polos. Masa iya hanya buang air kecil saja lama bagi Abi.
"Enggak, cuma aku aja yang mau berduaan sama kamu."
"Di kamar mandi? Gak modal banget sih mas. Kayak anak ABG tahu gak, mojoknya di kamar mandi kalau enggak di semak semak."
"Emang kamu mau mas harap di depan Zahra?" tanya Abi yang mulai melepaskan pelukannya dan mencuci tangan sang istri.
"Enggak mau lah. Kasihan Mbak Zahra," jawabnya dengan tangan yang di cuci Abi.
"Kalau kamu mau aku bisa aja langsung bawa kamu ke hotel." Sontak saja Aisyah langsung menggeleng, mana mau ia di bawa ke hotel begitu saja oleh Abi.
"Udah bersih kok."
"Gak apa apa, biar aku pegang tangan lembut kamu lagi," jawabnya dengan santai.
"Mbak Zahra kamu tinggal sendiri Mas?" tanya Aisyah pada Abi yang sudah selesai mencuci tangannya.
"Enggak tadi ada cowok yang nyamperin dia. Kayaknya teman dia deh sayang. Soalnya mereka akrab banget ngobrolnya. Ya sudah aku yang gak tahu arah pembicaraan mereka akhirnya ikut kamu ke kamar mandi."
"Dia pemilik restoran ini sayang. Dan sepertinya juga teman lama Zahra. Mas gak mau ikut campur."
"Astaga Mas, Mbak Zahra itu istri kamu loh. Mas kamu cuek aja ada laki laki yang deketin Mbak Zahra? Kalau Mbak Zahra diambil orang gimana?" tanya Aisyah yang tak habis pikir dengan suaminya ini.
Ada ya seorang suami yang membiarkan istrinya berduaan dengan laki laki lain.
Iya, Aisyah tahu jika Abi belum mencintai Zahra tapi ia tak mau jika Zahra berpaling ke laki laki lain hanya karena suaminya belum mencintai Zahra.
"Kita balik ke sana."
"Buat apa kalau kita bisa berduaan disini?" tanya Abi yang tak mau kebersamaannya dengan Aisyah terganggu.
"Haiss, Mas coba deh bayangin kalau Aisyah yang ada diposisi Mbak Zahra. Ada cowok lain yang deketin Aisya, bagaimana reaksi mas?" tanya Aisyah menangkup pipi suaminya karena Abi ini tak tahu apa yang ia pikirkan.
"Aku bunuh itu laki laki kalau sampai benar terjadi, aku gak mau kamu berduaan dengan laki laki lain. Kamu istri aku bukan milik laki laki lain," jawab Abi dengan ambisi yang menggelora.
__ADS_1
"Nah karena Mbak Zahra juga istri Mas Abi harusnya Mas juga gitu sama Mbak Zahra. Tapi mas apa kenapa bisa bisanya Mas malah tinggalin Mbak Zahra dengan laki laki lain."
Aisyah menarik suaminya keluar dari kamar mandi, dan mereka kembali ke meja mereka walau Abi hanya jalan dengan cemberut.
Sampainya mereka dimeja mereka tadi, Aisyah bisa melihat laki laki yang di katakan suaminya tadi duduk di samping Zahra.
"Udah selesai Ai."
"Udah mbak."
"Oh ya kenalin ini Andrian, pemilik restoran ini sekaligus teman Mbak waktu SMA," ucap Zahra memperkenalkan Andrian pada Aisyah.
"Andrian," ucap Andrian mengulurkan tangannya.
"Aisyah," balas Aisyah membalas uluran tangan Andrian.
EHEM
Aisyah yang mendengar itu langsung melepaskan tangannya dari tangan Andrian. Kemudian mereka duduk di kursi mereka masing masing.
Mereka mulai berbincang bincang dengan Andrian yang notabene adalah teman Zahra sewaktu SMA. Karena pembawaan Andrian yang humble membuat Aisyah langsung bisa berinteraksi.
Abi yang merasa terabaikan oleh kedua istrinya itu hanya sesekali menimpali ucapan Andrian.
"Hubungan kalian ini apa ya kok tadi aku lihat kalian jalan bareng ke sini?" tanya Andrian yang sedikit kepo dengan hubungan mereka ini.
"Aisyah ini, istri pertama Mas Abi sedangkan aku istri keduanya mas Abi. Kami baru menikah 4 hari lalu," jawab Zahra dengan santainya. Buat apa ia menutupi pernikahannya karena Abi juga pernah bilang jika pernikahan mereka bukan pernikahan rahasia.
Andrian yang mendengar itu kaget, kenapa bisa Zahra menikah dengan laki laki yang sudah memiliki istri?
"Jangan mikir yang bukan bukan, aku gak selingkuh sama Mas Abi kok."
Zahra tahu apa yang dipikirkan temannya ini, karena Zahra tipe orang yang langsung peka dengan sesuatu.
Andrian yang mendengar itu hanya mengangguk tanpa mau ikut campur lebih dalam. Ia hanya berharap Zahra selalu bahagia dengan pernikahannya.
__ADS_1
Bersambung