Berbagi Suami

Berbagi Suami
Balasan yang setimpal


__ADS_3

"Jelasin apa lagi sih Livia, kamu udah lihat kan rekaman cctv ini, kalau kamu memang bersalah, kamu sudah merencanakan pembunuhan Inara, kamu udah aku kasih kesempatan satu kali lagi dan kamu hari ini udah kecewain aku, dan kamu Cio lihat kan Lihat kelakuan temen kamu masih aja kaya gini , mana yang katanya udah berubah, masih kaya gini aja kan gak ada perubahannya sama sekali. Malahan makin menjadi jadi"


"Bukan begitu Bi, aku nggak sengaja, buat apa aku nyelakain Inara aku kan mau perbaiki semuanya itu cuman kecelakaan, aku gak lakuin itu dengan sengaja"


" Kalau cuman kecelakaan, seharusnya kamu minta tolong sama kita berdua kalau nggak sama Cio deh, kalau kamu takut sama aku, tapi gak kan kamu asik asik aja makan dan gak kasih tahu kita berdua, dan seolah-olah kamu tuh gak tahu, bisa ya kamu setenang itu "


"Aku takut nanti kamu malah nyalahin aku, aku takut nanti kamu marah besar dan Inara mengada-ngada dan dia malah nuduh aku yang engga engga "


"Malahan Inara gak sama sekali kasih tau aku siapa yang udah nyelakuin ini, dia yang ada lindungin kamu loh, dia gak mau ngasih tahu aku yang sebenarnya dia malah nutup-nutupin dengan dia bilang kalau dia terpeleset. Kamu malah fitnah dia dengan opini opini yang sebenernya gak akan mungkin Inara lakuin, aku capek tau Liv denger omong kosong kamu"


"Bi Bi jangan tinggalin aku, semua ini cuman salah sangka, kami harus dengerin aku dulu "


"Udahlah kamu nanti jelasin aja di kantor polisi, Aku juga udah suruh polisi kok ke sini. Jadi kamu jelasin aja di sana ya itu udah termasuk dalam pembunuhan berencana kan "


"Gak gak mau apa-apa nih, jangan tangkap saya, saya gak salah pak. Saya nggak salah "


"Sudah nanti Ibu jelaskan saja di kantor, nanti Ibu jelaskan semuanya di sana ya "


"Engga Bi tolong aku Cio tolong aku Please tolong aku "


Namun Cio dan Bian hanya diam saja melihat Livia dibawa oleh dua polisi sekaligus.


"Tuan kan dia juga nggak sengaja. Kenapa harus dilaporin ke polisi juga, semua ini bisa dibicarain dengan baik-baik gak usah bawa bawa polisi"


"Baik-baik, kamu ini gimana sih jelas-jelas dia tuh mau celakain kamu mau bunuh kamu. Kamu masih bisa ngebela dia ? biarin dia Jera udah nggak usah belain orang yang salah"


Biar segera menggusur tangan Inara untuk segera pulang, kesal pada Inara yang masih saja percaya dengan Livia dan tak marah dengan apa yang dilakukannya. Kalau saja dirinya yang ada dalam posisi itu mungkin saja dia sudah marah-marah dan melakukan apa saja pada Livia, di penjara itu hal yang sangat biasa.


Cio yang khawatir dengan keadaan Livia segera menyusul Livia dan dirinya akan menghubungi ayahnya nanti.


Sedangkan Bian dan juga Inara selama di perjalanan hanya diam saja, Inara juga takut tak ingin bertanya pada Biar nanti kalau tiba-tiba marah gimana.


**


" Halo Om "ucap Cio yang sekarang sedang menelpon ayahnya Livia.


" Halo Cio ya kenapa, ada masalah apa "


" Om maafin Cio ya Livia ditangkap sama polisi om"


"Kenapa bisa dia lakuin apa Cio, kenapa dia bisa ditangkap polisi, apa dia bunuh orang "


"Dia udah dorong Inara dari tebing Om temennya Cio, dan semua kejadiannya itu terekam sama cctv cafe yang kita datangin dan Abian melaporkan semuanya om "


"Ya ampun anak itu kenapa coba bikin masalah, sudah biarkan saja dia biar Jera dengan apa yang dia lakukan, kita lihat apa dia akan menyesali perbuatannya, om sudah lelah dengan dia Cio "


"Apa om tidak akan melihatnya atau sekedar menengok nya saja gitu"

__ADS_1


"Tidak Biarkan saja dulu dia di penjara disana, biar dia rasakan Bagaimana rasanya di penjara. Kalau perlu om tidak akan menebusnya. Biarkan saja dia di sana udah capek om dengan kelakuan dia yang selalu saja melakukan hal yang seenaknya"


"Baiklah om terima kasih "


Sambungan pun terputus, Cio menggelengkan kepalanya kearah Livia yang sedang menatapnya dengan wajah memelas.


"Beneran ayah aku gak mau, terus aku gimana Cio "


"Iya dia gak mau, katanya biar kamu jera aja di sini. Kenapa sih kamu lakuin itu Livia. Katanya kamu mau berubah katanya kamu mau dapetin hati Abi dengan cara aku yang udah aku bilang, tapi kamu lakuin hal nekat kan tanpa sepengetahuan aku "


"Iya aku tahu kok, tapi aku greget aja gitu waktu lihatin Inara lagi ada di tebing, kan enak kalau langsung dorong dia, semua masalah akan bereskan, dan aku juga bakal dapetin Abi"


"Hah beres kata kamu, kamu malah bikin tambah masalah, terus Abi juga gak akan mungkin mau deket lagi sama kamu, kamu ini udah lakuin hal yang paling fatal di dunia ini dengan mencoba membunuh Inara"


"Ya udahlah nanti kamu bantu lagi aku. Buat bisa bikin Abi mau deket lagi sama aku, susah banget sih"


"Gak bisa, aku gak bisa lagi bantu kamu. Karena kamu udah ingkar janji, kamu juga udah gak lakuin apa kata-kata aku, jadi sampai sini aja aku bantu kamu. Dan aku nggak akan pernah bantu kamu lagi. Gak akan bantu kamu buat minta-minta atau mohon mohon sama ayah kamu buat kamu dilepasin dari sini, udah sampai sini pertemanan kita, aku udah gak mau lagi berteman dengan kamu yang egois dan gak mau dengerin kata-kata aku. aku mundur jadi teman kamu"


"Terus gimana rencana-rencana kita Cio, Kamu mau gitu aja pergi dari aku, kamu mau lihat aku mebusuk di sini Cio "


"Gak ada lagi rencana-rencana ABCD, aku udah mundur aku nggak mau lagi berurusan sama cewek kayak kamu, cewek gak tau diri Pokoknya aku nggak mau lagi berurusan dengan yang namanya Livia, Aku mundur dan aku nggak akan pernah mau lagi bekerja sama dengan kamu apalagi untuk berteman"


Cio segera pergi meninggalkan Liviaa, sedangkan Livia dia sedang berteriak berteriak memanggil-manggil nama Cio, namun ia sama sekali tak menggubrisnya bahkan menengok ke belakang pun tak sudi.


Livia segera dibawa ke dalam sel oleh sipir dan dijebloskan kembali ke penjara.


**


"Apa yang tuan lakukan, Kenapa tuan membawa selimut dan juga bantal "


"Mulai sekarang aku yang akan tidur di sini, kau tidur lah di kamarku, ayo cepat "


"Kenapa ini kan apartemen punya tuan. Masa saya tidur di kamar sedangkan tuan tidur di kursi, tidak enak tidak apa saya di kursi saja "


"Kamu kan masih sakit, jadi lebih baik tidur di kamar biar saya yang tidur di kursi tenang saja aku tak akan marah"


"Gak bisa . Saya nggak bisa tidur di sana sedangkan tuan tidur di kursi, ya udah tuan aja deh yang di kamar "


"Ya udah kalau itu mau kamu, kita tidur aja di sana bareng-bareng gimana mau, itu yang kamu mau "


"Gak deh saya di kamar tuan di sini aja, saya nggak mau tidur sama tuan "


Inara segera pergi meninggalkan Bian, sedangkan Bian melongo mendengar apa kata kata Inara. Inara tak mau tidur dengannyam. kurang ajar awas aja kalau nanti sudah menjadi istrinya.


Namun tiba-tiba bel apartemen Bian berbunyi dengan kesal Bian segera membuka pintu dan ternyata itu Cio.


" Ada perlu apa Cio ini udah malem "

__ADS_1


"Gue mau ketemu sama Inara "


"Dia udah tidur. Ini udah malam bisa kan besok aja bicaranya nggak usah sekarang "


"Gak bisa harus ketemu sekarang"


"Gak ini udah malem gue bilang. Apa lo gak tau ini udah malem, mau ngomong apa sih sebenernya "


"Gue mau minta maaf sama Inara, mau minta maaf atas semua kejadian yang tadi terjadi "


"Emang lo dalangnya, lo yang nyuruh dia buat bunuh Inara, iya gitu Cio "


"Enak aja, mana mungkin gue dalangnya, gue itu sayang sama Inara, gak akan mungkin lah gue lakuin itu, lo kalau bicara gak pernah disaring ya, dari dulu gini mulu ya "


"Maksud loh ketemu sama dia cuman mau mau minta maaf buat apa? "


"Gue mau minta maaf karena gara-gara gue dia jadi celaka cuman gara-gara gue kenalin dia sama Livia, dan gue juga mau minta maaf deh sama lo. Gara-gara Livia hidup lo sama Inara jadi nggak tenang seharusnya dulu gue nggak kenalin loh sama Livia dan bikin kalian ketemu, bener gu salah banget udah bawa dia kekehidupan kalian berdua "


"Udahlah yang udah udah jangan dibahas lagi, gue juga bingung sih mau bilang apa sama lo, udah masuk aja lo jangan ngomong sama Inara sama gue aja, kita ngopi gitu di sini gue maafin kok atas kesalahan kesalahan lo yang udah bawa Livia dan hancurin gue"


"Lo gak cemburu gitu gue lagi ngejar ngejar Inara juga, apa lo gak takut gue rebut dia "


"Enggak kenapa enggak kita akan bersaing. Gue mau bersaing sehat bukan bersaing jahat jadi lo kalau mau bersaing dengan gue baik-baik jangan dengan cara licik, kita liat Inara akan pilih siapa, tapi gue yakin Inara akan pilih gue "


"Ok kita bersaing, pede banget ya lo Bi, "


Bian segera membawa Cio masuk dan menutup pintunya.


**


Sedangkan di dalam sel Livia sedang mondar-mandir, dia sudah tak betah di sini. Dirinya ingin segera pulang ke rumah ingin tidur di tempat tidur yang nyaman. Tapi tiba tiba.


"Heh lo tahanan baru bisa diem nggak dari tadi bolak-balik kayak setrikaan, gue yang lihatnya pusing tahu duduk kek "


"Apaan sih, berisik banget udah lah diem aja gue juga nggak ganggu kalian kok cuma mondar-mandir aja "


Dua orang itu segera bangkit dan mengambil Livia "bening juga ya " ucap salah satu tahanan.


"Apaan sih gak usah pegang pegang ya "


Orang itu segera memegang Livia dan yang satu lagi menatap dengan senyum liciknya, lalu nonjok perut Livia "sakit lepasin gila "teriak Livia.


Namun mereka berdua tak menggubrisnya, malag terus menerus menonjok Livia, sampai sampai Livia mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Rasain lo anak baru, makannya janyan berani berani sama kita, dasar gak berguna lo, "ucap salah satu dari orang itu sambil melepaskan pegangannya.


Livia segera tumbang tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2