
"Bian itu gimana sama Adam, dia kayanya parah banget deh, kamu kenapa mukul dia " Inara terus saja menoleh kebelakang, melihat Adam yang dikerubungi oleh banyak orang.
Bian sama sekali tak menghiraukan apa yang dikatakan Inara, terus saja menarik Inara untuk segera masuk kedalam mobil.
Bian segera membuka pintu mobil dan memasukan Inara kedalamnya. Lalu segera menyusul Inara.
"Apakah kau sangat khawatir dengan dia, " tanya Bian dengan wajah menahan amarah.
"Ya aku khawatir tapi"
Bian langsung menyela Nara, untuk menanyakan sekali lagi"Apakah kau masih menghawatirkan laki-laki brengsek kasar seperti dia, wajar aku memukul dia, itu pantas didapatkan oleh Adam. Laki-laki kasar seperti dia itu harus dibalas jangan di diamkan apa lagi kasar sama kamu. Aku ini peduli sama kamu Nara. Please jangan mikirin laki-laki lain selain aku "
"Aku khawatir karena dia masih suamiku Bian "
"Tak usah khawatir ada Shintakan. Kau jangan terlalu baik pada laki-laki itu, semakin kau baik padanya semakin dia akan semena-mena padamu, kau sadarlah jangan seperti ini terus. Ada aku disini"
Setelah mengatakan itu Bian segera melajukan mobilnya, didalam mobil hanya ada keheningan, Inara pun jadi binggung harus melakukan apa, takutnya saat dirinya bertanya Bian akan marah.
Dirinya ini menjadi serba salah begini, pusing harus melakukan apa. Lebih baik diam saja lah dari pada buat masalah.
Dirinya tak menyangka tadi Adam akan sampai memekulnya didepan banyak orang, benar-benar Adam ya, harus dirinya percepat gugatan percerainnya pada Adam biar dirinya tak mati muda.
***
Ambulans tiba, segera Adam dimasukan dan Shinta juga ikut masuk. Menemani Adam, terpaksa itu juga. Karena tak mau di cap dengan perempuan tak tau diri dan takut juga nanti bos marah.
"Sial kenapa harus aku yang bertanggung jawab. Mau belanja malah gini akhirnya " rutuk Shinta yang sudah sangat kesal.
"Tadi seharusnya aku langsung ajak Adam belanja saja, kenapa sih aku harus menyetujui tentang perjanjian dengan bos yang membuat aku rugi sendiri. Terus nasibku bagaimana ini mau dipenjara segala lagi, Nara sungguh tak punya hati padaku"
"Nara Nara " gumam Adam yang masih sedikit sadar.
"Disini tak ada Inara, istrimu pergi dengan laki-laki lain, diamlah aku sedang pusing" jawab Shinta.
"Tolong hubungi Nara tolong " ucap Adam kembali.
__ADS_1
"Aku gak punya nomor dia, udahlah kamu diam ada aku kan, sebentar lagi kamu di obati sabar yah jangan banyak bicara suaramu mengangguku" kesal Shinta.
Namum Adam terus menerus mengumamkan nama Inara, Shinta yang kesal segera membuka ponselnya memainkannya tanpa menghiraukan Adam.
***
Bian segera membuka pintu Inara, segera Inara keluar. Bian membawa Nara kerumahnya. Segera Bian kembali mengandeng Inara masuk kedalam rumah. Tanpa banyak bicara sama sekali.
"Nara " teriak mamih Bian yang kebutulan akan keluar rumah.
Segera mamih Bian memeluk Inara dengan erat saking senangnya kembali bertemu dengan Inara. Sedangkan Bian dia pergi tanpa mengatakan apa-apa. Membiarkan mamihnya bersama Nara bedua.
"Kenapa tuh anak kok gak kaya biasanya " binggung mamihnya.
"Ayo sini masuk sayang, sini duduk duduk "
"Iya mih "
Segera mereka berdua duduk berhadapan, "nah gini dong sayang main kan mamih jadi ada temennya kalau gini. Oh iya kenapa tuh Bian "
"Marah kenapa syaang, apa kalian bertengkar, atau ada apa. Mamih jadi takit nih"
"Tadi kita berdua ketemu sama suamiku. Dia mau kasar sama aku tapi Bian malah ngehajar suami ku mih "
"Ya bagus dong Bian ngehajar laki-laki brengsek dan kasar itu, terus marah kekamunya apa "
"Ya karena aku khawatir mih sama Adam, aku khawatir karena dia masih suami aku hanya itu mih "
"Cemburu dia tuh sama kamu syaang, dia itu dulu ganti-ganti perempuan terus, tapi setelah bertemu dengan kamu mamih gak pernah lihat Bian membawa perempuan lagi selain kamu. Mamih sangat tau Bian mencintaimu lebih dari mencintai dirinya sendiri. Jadi gak akan susah untuk membujuk dia untuk tak marah lagi, tenang ya jangan khawatir kamunya"
Inara hanya bisa tersenyum, entah apa yang harus dirinya jawab. Binggung dirinya takut salah bicara dan membuat mamih kecewa.
"Sekarang mending buat makanan kesukaan Abi aja yu, biar gak marah lagi dianya, pasti kalau dibujuk sama makanan dia mau Nara"
"Apa mih makanan kesukaan Bian "
__ADS_1
"Dia itu suka soto, ayo kita buat biar kalian gak marah marahan lagi, pasti dia lebih suka deh masakan kamu "
"Ayo mih, aku udah gak sabar " Inara seketika ingat tentang pertemuan pertamannya bersama Bian sedang memakan soto. Sekarang dirinya yang akan membuatkannya langsung dengan mamihnya.
Tak terasa, ternyata dirinya bersama Bian sudah berteman cukup lama, mungkin kalau dirinya dulu tak celaka dan mobil tak mogok mungkin tak akan bertemu dengan Bian.
**
Bian yang sedang meredang amarahnya dikagetkan dengan dering ponselnya. Segera Bian mengangkatnya.
"Ada apa kau menelfon ku " langsung saja Bian pada intinya.
"Kenapa jadi saya yang bertanggung jawab pak, terus ini gimana sama Adam dia dirumah sakit. Inara bahkan sudah mengancam saya untuk menjebloskan saya ke kantor polisi. Kok jadi seperti ini ya pak"
"Kapan Inara bilang itu padamu "
"Tadilah pak, waktu dia marahin Adam dan juga saya, saya kebawa-bawa gini. Nara mau cerain Adam dan ngepindanain juga Adam dan saya juga-juga dibawa-bawa pak sama dia"
"Tenang saja, kamu ikuti permain saya, jaga dahulu Adam dan antarkan dia nanti kerumahnya. Untuk masalah kamu yang akan dipenjara saya menjamin kamu gak akan dipenjara tenang saja. Kerjakan saja perintah saya. Sampai kamu menghianati saya lihat saja saya akan menghancurkan hidup kamu sampai kamu tak ada didunia ini "
"Baiklah pak, saya akan mengikuti apa yang bapak inginkan, asal bayarannya sepadan dengan apa yang saya lakukan "
"Tenang kamu gak usah khawatir tentang uang, saya tak akan pernah mengingkari janji saya "
"Siap bos "
"Baiklah selamat bekerja kembali " Bian segera mematikan ponselnya.
Jadi Inara tadi berbicara dengan Shinta dan Adam lalu mengancamnya. Akhirnya berhasil juga membuat Inara sadar bahwa Adam bukan laki-laki baik dan tak pantas untuk dipertahankan.
Ya memang Shinta adalah anak buah Bian, yang diberi tugas untuk merayu Adam da membuat Adam kembali selingkung, karena Bian yakin Inara akan selalu bertahan kalau Adam tak membuat ulah lagi.
Hanya ingin membuat Inara sadar bahwa ada yang lebih mencintainya dari pada bertahan dengan Adam, lebih baik Inara dengan dirinya saja.
Dirinya melakukan ini hanya untuk kebaikan Inara, untuk kehidupan Inara yang lebih baik dan bahagia tak ada maksud apapun.
__ADS_1