Berbagi Suami

Berbagi Suami
Membiarkannya saja


__ADS_3

Inara yang sudah siap dengan pakain santainya segera mengendap endap keluar, dirinya akan pulang kerumah dan menanyakan kepada Jack kemana Ana sebenarnya, dirinya tak bisa diam saja seperti ini. Harus segera bertidak sebelum kehilangan orang yang dia sayangi lagi.


Inara segera menyetop taxi dan bernafas lega "untung saja. Kalau tidak aku akan sulit keluar, oh ya tak biasannya Abian bangun siang, mungkin dia kecapean kali ya "


Inara tanpa memikirkan lagi Abian hanya fokus kejalan sudah lama dirinya tak pulang kerumah dan sekarang sudah waktunya dirinya pulang.


Inara segera turun saat mobil sudah berhenti didepan rumahnya, tak lupa membayarnya dulu dong.


"Terimakasih pak "


Saat Inara masuk, anak buah Ana sudah menunduk hormat padanya, dan Inara hanya bisa tersenyum kikuk dan masuk kedalam rumah.


"Nona Ara " ucapa Jack dengan kaget


"Ya Jack ada apa dengan wajahmu, kenapa kau seperti kaget melihat ku "


"Tidak Nona, aku hanya saja seperti melihat nona Ana begitu"


"Ya baiklah, dimana Ana "


"Duduklah dulu Nona "


"Tidak Jack kenapa aku tak boleh pulang serta dimana Ana, ini sudah berbulan bulan dia tidak pulang, kenapa dia meninggalkan ku begitu saja "


"Begini nona, saya sudah berjanji pada nona Ana agar tak membicarakan tentang hal ini pada nona Ara, ini memang keinginannya dan nanti nona Ana sendiri yang akan berbicara langsung pada nona "


"Kenapa harus begitu, lalu kenapa aku tak boleh pulang dan kenapa aku harus tinggak bersama Abian bos ku sendiri "


"Itu yang terbaik untuk nona, dan itu memang keinginan nona Ana ini untuk kebaikan mu "


"Kebaikan apa coba, aku hanya ingin Ana ada disampingku itu saja ayo katakan dimana Ana, biar aku mendatanginya "


"Tidak bisa nona "


"Baiklah "dengan lesu Inara segera pergi tanpa banyak tanya lagi, sulit memang berbicara dengan orang kepercayaan Ana.


**


Sedangkan di apartemen saat Bian bangun dia langsung pergi kekamar Inara dan tak ada siapa siapa, kamar itu kosong.

__ADS_1


"Inara kau dimana "


Bian mencari kesegala arah namun nihil tak ada Inara dimana pun, entah kemana Inara pergi.


Abian bergegas menganti pakainnya dan mencuci wajahnya, lalu pergi untuj mencari Inara


"Kemana kau ini Nara, Ana menitipkan mu padaku, jangan sampai aku mengecewakan Ana dan membuat dia tak merestui hubungan kita "


Bian menjalankan mobil dengan pelan bahkan mobil dibelakang sudah mengkelakson jengah dengan mobil Abian yang melaju lambat, namun Abian sama sekali tak menghiraukannya, hanya fokus mencari Inara.


Dan ketemu, Inara dari kejauhan sedang mengobrol dengan seseorang. Abian segera turun dan akan menghampiri Inara.


"Kau tau Inara kau bukanlah tandingan ku, dan kau bukan saingan terberatku, aku akan membuat Abian jatuh kepelukan ku, meskipun nanti dia sudah menikah denganmu, kau akan merasakan kembali diduakan oleh laki laki yang kau cintai, untuk kedua kalinya lihat saja "


"Itu takan terjadi, dan kau nona Livia jangan terlalu berharap banyak, lihat saja sekarang kau sudah dapat penolakan dari Abian, bagaimana kau akan merebutnya dariku, sedangkan Abian dia sama sekali tak menyukaimu dan sudah tak ada simpati sendikit pun padamu "


"Lihat saja aku akan melakukan apa yang sudah aku bicarakan, kau jangan bangga dulu karena sekarang memeliki Abian "


Livia mendorong Inara dan untungnya saja Abian datang tepat waktu, dia menangkap tubuh Inara yang akan jatuh, Livia yang melihat kedatangan Abian segera pergi tanpa mau menyapa Abian terlebih dahulu.


"Kau tak apa "


"Tentu aku baik baik saja "


"Aku mengecek rumah, dan siapa tau Ana sudah pulang ternyata belum "


Inara segera melengos pergi dan masuk kedalam mobil Abian di susul pula oleh Abian dibelakangnya.


***


"Livia apa yang kau lakukan, kenapa kau menarik uang dengan jumlah banyak " tegur Ayah Livia saat anaknya baru saja pulang dari luar.


"Ayah aku baru pulang "


"Ayah tanya kamu mau apa mengunakan uang sebanyak ini hah, apa untuk apa "


"Ayah tenang saja, ayah akan lihat hasilnya, pasti ayah akan bangga padaku karena aku akan menghancurkan Inara dan mendapatkan Abian "


"Sudah Livia lupakan Abian itu sangat mencintai Inara jadi tidak akan mungkin mencintaimu, "

__ADS_1


"Ayah ini bagaimana sih, bukannya mendukung aku malah menatahkan semangatku, kau tau ayah aku sudah menyewa pengecara untuk melepaskan mantan suami Inara yang sedang dipenjara aku tak akan melakukannya sendiri tapi berdua dengan mantan suami Inara, jadi ayah hanya perlu diam saja, jangan banyak bicara ya. Hanya ayah yang aku beritahu tak ada yang lain, jadi diamlah ayah "


"Dasar kau gila Livia, kau ingin menghancurkan hidup orang lain, ayah tak setuju, ayah tak akan memberikan mu uang lagi sepeserpun tak akan, jadi kau bekerja saja sendirian "


Livia yang murka dia membanting pas bunga kearah ayahnya dan mengenai kepalanya, Livia hanya tersenyum saat melihat ayahnya terkapar tak berdaya.


"Makannya jangan berani beraninya padaku ayah, kenapa sih apa susah nya kau mendukung anak mu ini, aku akan membiarkan mu seperti ini, semoga saja aku kehabisan darah dan mati ya ayah, agar ayah bisa bersatu dengan ibu pasti itu akan menyenangkan ya "


Livia tanpa belas kasih sedikit pun segera melengang pergi dan meninggalkan ayahnya yang tergeletak begitu saja.


***


Sekarang Inara dan juga Bian sudah ada dirumah, Inara hanya bisa menundukan kepalannya saja tanpa mau berbicara apa apa dengan Bian yang ada dihadapannya.


"Kemarilah "


Dengan malas malasan Inara segera menghampiri Abian dan duduk disebelahnya.


"Kau tau, kau lebih cantik tersenyum dari pada cemberut seperti ini, ayo tersenyum seperti ini "


Namun Inara hanya menatapnya saja tanpa ada reaksi apa apa.


"Ow ternyata tak berguna ya, apa ya yang harus aku lakukan, oh ya aku akan beat box aku dulu sungguh pintar melakukannya, kau dengarkan ya baik baik sengan seksama jangan sampai terlewat ya. buck buck buck "


"Akh sulit sudahlah kau juga tak tertawa, sebentar aku akan mengambik sesuatu pasti aku akan senang "


Abian kembali lagi sampil mengunakan bando yang lucu diatasnya ada telinga kelincinya. Inara yang melihatnya tersenyum.


"Aku adalah laki laki tampan, dan aku adalah laki laki kaya, aku adalah mataharimu dan aku adalah payungmu, aku adalah segalanya bagimu "


"Bagaimana apakah nyayianku bagus, tentu bagus kan tak mungkin jelek kau suka kan suka, sampai sampai kau tersenyum seperti ini, baguskan jujur saja Inara aku akan sangat tersanjung "


"Ya bagus lagumu, aku suka , kau dapatkan bando ini dari mana, aku tak pernah melihatnya "


"Tuhkan suka, kau tak perlu tau yang terpenting aku bisa membuatmu tersenyum dan bahagia "


Inara menganggukan kepalanya, Abian segera memegang tangan Inara "kau tak perlu risau tentang Ana dia wanita hebat, dia akan bisa menjaga dirinya dengan baik, pasti dia akan pulang dengan selamat, aku jangan khawatir ada aku disini ya "


"Ya tetap saja aku sangat khawatir padanya, aku tak bisa tenang tanpa ada dirinya "

__ADS_1


"Dia pasti akan kembali, tak akan mungkin dia meninggalkan mu begitu saja jadi, kau harus tenang dan bersabar menunggu Ana pulang dia pasti akan pulang membawa kabar bahagia "


Inara mengangguk dan memegang tangan Abian juga, tak lupa dengan senyum manisnya yang mengihiasi bibir cantiknya itu.


__ADS_2