Berbagi Suami

Berbagi Suami
Rencana kembali


__ADS_3

"Dimana s Livia itu mamih udah cape cari kemana mana tapi gak ada, tadi ditanya ke pak satpam belum pulang tuh anak, oh iya kamar Bian, iya yang belum di cek kan kamar Bian."


Mamih Bian segera kembali lagi baik keatas dan saat pintu dibuka benar saja kan, Livia ada disana sedang berbaring dengan nyaman.


"Apa yang kamu lakukan dikamar anak saya "


"Eh ada tante, apa kabar tante lagi tiduran lah tante, sebentar lagi juga kan ini akan menjadi kamar saya, menjadi milik saya jadi tante gak usah kaget kaya gitu deh"


"Kamu ini kenapa apa sudah gila, atau memang tak punya sopan santun masuk kedalam kamar anak saya tanpa izin, ini tuh rumah saya bukan rumah kamu jadi jangan seenaknya "


"Iya saya tau ini bukan rumah saya tapi rumah tante, perlu tante ingat sebentar lagi akan jadi rumah saya juga, gak apa apa kali keliling keliling dulu saya cape jadinya tiduran dulu aja dikamar Bian calon suami saya"


"Saya sudah sangat muak ya dengan kamu, ayo sekarang kamu pulang pergi dari rumah ini ayo cepat "


Mamihnya Bian segera mengusur Livia untuk turun kebawah.


"Lepasin tante saya bisa turun sendiri " sambil menghentakan tangannya.


Livia dengan angun turun kebawah di ikuti mamihnya Bian, saat akan duduk, mamihnya Bian sudah mengkode pada pelayannya untuk memegang tangan Livia.


"Eh apa apaan ini kalian pegang tangan saya, kalian itu bau tau jangan pegang pegang pasti banyak kuman lepaskan"


"Cepat keluarkan dia mamih sudah muak dengab perempuan gila ini "


"Siap nyonya"


Mereka dengan patuh menyeret Livia sampai tersungkur dibawah "jangan kamu berani lagi kembali kerumah saya, saya gak akan pernah sudi menjadikan kamu menantu dirumah ini " blugg.


Livia segera bangkit dan membersihkan pakainnya saat akan berteriak tiba tiba melayang sebuah kue kewajahnya.


"Bawa lagi kue mu. Aku tak suka dan tak akan suka apapun yang kamu bawa untuk saya atau pun keluarga saya " kembali pintu di tutup


"akhhhhhhh kenapa sih seperti ini, semuanya sia sia sial sial bedebah dasar kau nenek tua tak tau diri, saat aku menjadi menantumu aku akan mengusirmu nenek tua lihat saja apa yang akan aku lakukan "


Livia segera pergi dengan penampilan acak acakannya, tak menghiraukan ada bekas kue yang masih menempel diwajahnya.


**


Ana yang akan pulang dari proyek yang sedang dirinya kerjakan malah bertemu dengan seorang nenek nenek yang menundukan kepalanya lalu memegang kaki Ana.


"Tolong tolong tolong saya, saya di usir sama menantu saya rumah saya bahkan diambil oleh beliau tolong " ucap nenek nenek itu.


"Apa yang kau katakan nenek tua aku saja belum menikah masa sudah mempunyai seorang mertua lepaskan kakiku "


"Jahat banget sih mba, jahat kasian tuh ibunya jangan di usir , meskipun dia bukan ibu mba tapi setidaknya hargai dia"


"Iya bener mba bener "


"Jangan gitu dong mba ih "


"Sudah berisik kalian, pergi dari sini saya tak mempunyai mertua pergi sana pergi " teriak Ana.


Mereka yang sedang berkerumun saat melihat mata Ana yang tajam dan mengancam akhirnya pergi dan tak berani lagi menolong nenek nenek itu.


Ana segera menendang nenek nenek itu "ternyata kau mau apa kau nenek tua bekas ibu mertua adiiku "


Ibu Adam sangat kaget, jadi ini bukan Inara jadi yang dirinya ikuti bukan Inara dirinya salah sasaran.


Flashback saat ibu Adam mengikuti Ana.


Saat sudah keluar dari lapas tiba tiba terbesit dalam benaknya untuk mempermalukan Inara dan membuat Inara memberikan sejumlah uang padanya, kan Inara kaya jadi pasti uangnnya banyak.


"Aku harus mencari keberadaan Inara aku yakin pasti akan bertemu, aku akan mempermalukan mantan menantuku yang tak tau diri dan tak bermoral, aku akan merampas kembali hak anak ku "


Dengam tergesa gesa ibu Adam pergi untuk melakukan misinya, saat dirinya akan pulang terlebih dahulu karena sudah lelah mencari kemana mana tak ada, eh malah bertemu nengan Ana yang menurutnya adalah Inara.


"Nah kebetulan sekali itu ada Nara, huuh padahal mah tadi pulang dulu tau gini mah, kita pantau dulu pantau "


Dirinya segera mengumpat dibalik tembok dan saat Ana keluar dia langsung berlari dan terjadilah drama yang tadi.


Kembali lagi kecerita Ana.


"Ayo jawab apa maksud mu melakukan ini "


"Saya hanya ingin meminta keadilan, kembalikan rumah anak saya, kenapa Inara sangat jahat pada saya pada keluarga saya, kembalikan semuanya tolong jangan buat kami semua menjadi miskin "


"Kenapa harus di kembalikan itu sudah haknya, lalu apa yang perlu dikembalikan sudah lah kau ini hidup dengan tenang, jangan mengusik hidup adiku, apakah kau tak kapok dengan hadiah yang aku berikan padamu saat di perjara, hebat juga ya kau sudah bisa lolos dari penjara "


"Tidak dia tak punya hak tidak punyaaaa "

__ADS_1


"Berisik kau menggangguku saja awas kau "


Ana segera masuk kefam ruangan dan akan menjalankan mobilnya, namun ibunya Adam malah menghadangnya.


"Ingin menantangku ternyata ya "


Ana malah dengan sengaja menjalankan mobilnya dan untung saja dengan cepat ibu Adam mengindar kalau tidak sudah lah mati dirinya ini.


***


Cio sudah kembali sambil membawa pizza dan membukanya diatas meja ruangan Inara.


"Kemarilah Nara makan lah terlebih dahulu "


"Sebentar Cio sebentar lagi beres dan sudah semuanya beres"


Inara segera berjalan kearah Cio dan duduk disebelahnya, lalu memakannya dengan hati hati agar tak belepotan tapi tetap saja belepotan.


"Kamu ini Nara makan belepotan gini ya "


"Masa sih yang mana Cio "


"Sini biar aku bersihin ya " Cio dengan telaten membersihkannya dan lama kelamaan Cio malah mendekatkan bibirnya kepada Nara tapi tiba tiba


"Apa yang kalian dikantorku akan melakukn hal mesum, pergi sana kehotel " celetuk Bian yang tiba tiba saja muncul dan duduk di tengah tengah antara Nara dan juga Cio.


"Lo belum pulang Abi "


"Belum emang kenapa gak boleh "


"Ya bukan gitu cuman nanya aja "


"Ok " Bian mengambil satu pizza lalu mengambilnya untuk yang kedua kalinya terus saja mengambilnya sampai habis tak tersisa.


"Lo lapar ya Bi, kenapa gak bilang mungkin gue bisa beliin buat lo "


"Berisik ah gue laper siapa yang tau kan gue kapan laparnya, udahlah jangan banyak bicara udah habis ini makanannya "


Inara bangkit dan membereskan barangnya setelah selesai Inara pergi dan menghampiri kedua orang itu.


"Aku pamit pulang ya pak "


"Baiklah saya pun akan pulang "


"Ayo aku antar ya " ucap Cio


"Apa tak merepotkan mu "


"Tentu tidak ayo kita pulang aku akan mengantarkanmu sampai rumah tenang saja "


"Baiklah terimakasih "


Cio membantu Nara naik dan pergi meninggalkan Bian dan juga Jon tanpa berpamitan sama sekali.


"Kasian banget ya bos ditinggalin gitu aja "


"Tau ah "


Bian masuk kedalam mobilnya meninggalkan Jon sendirian tanpa mengajaknya pulang.


"Nasib nasib ahh " Jon pun sama segera masuk dan pergi melaju meninggalkan kantor.


**


Adam masih duduk didalam kamar mandi, merenung bagaimana bisa membalas Sandi agar dirinya tak ditindas terus menerus seperti ini.


Belum juga berfikir dengan jernih, pintu kamar mandinya sudah di ketuk dari luar dengan sangat keras.


"Keluar kau keluar kau Adam jangan diam saja didalam jadilah laki laki yang berani bukan menjad laki laki pengecut seperti ini "


"Apalagi sih s Sandi, kenapa dia mencariku terus menerus apa lagi apa "


Adam segera membuka pintunya dan langsung berhadapan dengan Sandi yang juga menatapnya.


"Ada apa lagi Sandi, apakah kau tak bisa diam sehari saja sehari "


"Kenapa harus, aku tak mau dan aku sudah senang mengusik dirimu yang sangat pengecut ini, aku suka menganggumu. Yang kalah olehku berkali kali "


"Tak ada guna, dibayar berapa kau oleh orang itu sampai kau mau mengusik hidupku seperti ini "

__ADS_1


"Tak usah banyak bicara kau tak perlu tau aku mau dibayar atau pun tidak itu bukan urusanmu, sekarang mari kita bertarung jika aku kalah aku akan mundur dan jika aku menang kau akan habis oleh ku selama kau ada disini"


"Baiklah mari kesini maju kau " teriak Adam.


Perkelahian pun akhirnya terjadi disaksikan oleh orang orang yang masih ada diluar. Mereka mengsoraki mereka berdua yang tak ada henti hentinya berkelahi dan tak ada yang menyetah satu pun, meskipun mereka sudah babak belur.


Tiba datang para sipir menisahkan Adam dan juga Sandi.


"Kaliam berdua ini selalu saja membuat onar, apa yang kalian mau hah, mau adu kekuatan atau apa kalian ini "


Tak ada yang menjawab, mereka hanya saling tatap saja dan sipir segera membawa mereka. Membawa keruangan hukuman untuk yang membuat ulah seperti mereka ini.


**


Kembali pada Nara yang ternyata malah tertidur mungkin dirinya sudah sangat lelah dan cape sekali, sampai sampai tertidur didalam mobil Cio.


"Ternyata tak salah pilihan Bian. Kau cantik dan baik ku kira kau akan sama dengan Ana ternyata sangat berbeda sekali, kaliam berbeda jauh sekali "


Cio setelah mengungkapkan isi hatinya segera turun dan memangku Nara, namun tiba tiba dirinya dihadang oleh seorang pria.


"Berikan nona pada saya " ucap Jack dengan suara datarnya.


Dengan pasrah Cio memberikannya, kalau sampai tidak bisa habis dirinya ini dihajar oleh anak buah Ana yang sama saja seperti Ana sadisnya.


Jack segera masuk kedalam rumah, tanpa memperdilahkan Cio untuk masuk kedalam rumah, setelah masuk kedalam kamar Inara, Jack membaringkannya dan menyelimuti Nara yang sudah sangat terlelap tidur.


"Kenapa kau ada disini Cio " tanya Ana yang baru saja pulang.


"Aku mengantarkan adikmu yang lagi lembur bekerja, "


"Begitu ya, masuklah kedalam rumah, ada yang perlu aku bicarakan padamu "


"Baiklah ayo "


Cio segera mengikuti Ana masuk dan berpapasan dengan Jack yang baru saja keluar dari sebuah kamar dan Cio yakin itu kamar Inara.


Cio segera duduk dan menyalakan rokoknya "Jadi gimana Ana "


"Kau sekarang sedang dekat dengan adiku "


"Ya seperti yang kau lihat, aku dekat dengan Inara "


"Baiklah bagus, kau teman baik ku kan "


"Ya tentu saja "


"Kau bantu aku menjauhkan Inara dari Abian, aku tak suka adiku didekati oleh orang itu, pokoknya kau jauhkan saja dengan cara apa pun "


"Tanpa kau suruh aku memang sudah mau memisahkan mereka, karena aku tak suka bila melihat Bian bahagai, aku tak suka dia selalu unggu dari ku, dari dulu dia unggul dariku dan aku juga sudah tertarik dengan adikmu, awal pertemuan yang membuatku tertarik dengan Inara yang mempunyai wajah yang mirip dengan Iriana yang ternyata kalian adalah soudara kembar "


"Baguslah kalau begitu, jangan sampai ada yang tau tentang pembicaraan kita ini, apalagi sampai Inara yang mengetahuinya aku tak mau sampai itu terjadi "


"Tenang saja, aku sudah bilangkan aku bisa mengaturnya dengan baik aku akan selalu ada disini adikmu, dimana Inara berada disitu ada aku, aku akan menurutimu hancurkan Bian dengan perlahan lahan namun pasti, bahkan aku sudah mengirim Livia untuk merayu Abi dan membuat Abi menjadi milik Livia seutuhnya"


"Baguslah, ternyata kau sudah satu langkah dariku, rencana mu bagus juga "


"Tentu jangan remehkan aku, Cio akan melakukan apa pun yang menurutnya benar dan pasti semua itu akan berhasil 100% tanpa ada kegagalan sedikit pun "


"OK aku mempercayakan semuanya padamu, pada rencana mu, tapi jika kau main main denganku apalagi dengan adiku, nyawamu taruhannya, kau ingat ingat itu ya dengan baik "


"Ya ya aku tau aku tak mungkin ingkar padamu jadi tenang saja, tak usah takut denganku ini "


Ana hanya mengangguk dan menyalakan rokoknya, mengusapnya lalu menghembuskannya keatas dengan senyum senangnya dan kemenangannya.


**


Bian yang baru pulang malah di jagat oleh mamihnya dan membawanya untuk segera masuk kedalam rumah.


"Ada apa nih "


"Aya naon aya naon weh, mamih lier ku eta awewe meni teu sopan pisan, timana eta awewe teh manggih dimana ath Bi (ada apa ada apa terus, mamih pusing sama tu perempuan gak sopan banget, dari mana itu perempuan nemu dimana Bi) "


"Itu temennya Cio yang katanya juga temennya aku, tapi beneran deh mih aku tuh gak inget dia terus kejar kejar aku, aku juga cape mih, cape banget dia tuh kaya orang gila banget mih "


"Kayanya emang orang gila deh Bi, kayanya baru keluar dari rumah sakit jiwa, liat aja kelakuannya emang penampilannya mencerminkan orang kaya, tapi kelakuannya mencerminkan orang gila, mamih sampai pengen cakar cakar mukannya tau Bi, karena dia melawan terus kalau mamih bicara gak pernah mau diem kekek bakal jadi istri kamu "


"Ihh gak mau deh mih, amit amit aku yang bisa aku ikutan gila lagi mih liatnya aja udah geli apalagi kalau jadi istri aku, bisa kejang kejang nih sebelum akad mih "


"Kamu ada ada saja, dia baru aja tidur dikamar kamu awas ketularan loh "

__ADS_1


"Beneran mih, harus aku buang kali ya kasurna dan beli yang baru bener iya beli yang baru ya mih "


"Kamu lebay Bi " sambil meninggalkan anaknya.


__ADS_2