
"Apakah kita harus berpisah sayang aku masih ingin memelukmu"
"Besok kan masih ada waktu Bi, nanti besok kita ketemu lagi kan, malahan setiap hari kita ketemu "
"Ya tetep aja sayang aku belum puas tahu, biasanya kita sama-sama di rumah, terus bangun pagi aku dibangunin kamu, sekarang engga karena Ana udah balik"
"Ya kan nanti juga kita nikah bakal sama-sama lagi"
"Ya juga ya, aku pulang ya kamu hati-hati di rumah kalau ada orang jangat lagi ke rumah kamu telefon aku"
"Ga mungkin bakal ada orang yang bisa masuk dengan mudah, kamu lihat dirumah ini penjagannya ada berapa, banyak banget disetiap sudut malahan"
"Iya juga ya aku baru inget kalau Ana itu berkuasa banget, aku pulang dulu ya, kamu nanti langsung tidur "
Inara hanya mengangguk saja dan abian mengecup keningnya, sebenarnya tidak rela tapi yang mau bagaimana lagi, Abian melambaikan tangannya dan inara masuk ke dalam rumah.
Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Inara melihat Ana sedang menonton tv sendirian, Inara segera menghampirinya dan duduk di samping kakaknya.
"Ana ada apa dengan mu tak biasannya, kau kan biasannya jam segini sudah tidur "
"Tidak aku hanya ingin nonton tv saja, rasannya aku ingin melihat melihat ada apa sih didalam tv besar ini, apa ada tontonan yang menyenangkan "
"Ada yang perlu aku tanyakan Ana padamu, seharusnya dari awal saat aku memutuskan untuk menikah dengan Abian, aku bertanya ini terlebih dahulu"
Ana mengalihkan pandangannya dan menatap Inara " apa yang ingin kau tanyakan pada aku Ara"
"Apakah kau tak marah bila aku menikah terlebih dahulu dan mendahului mu, apakah kau akan baik baik saja "
"Kenapa aku sudah merestui mu, aku tak masalah didahului oleh mu , karena jodoh tidak akan kemana mungkin dirimu lebih cepat menemukan jodohmu, aku tidak keberatan sama sekali, karena aku pun tidak berminat untuk menikah jadi aku tidak ada masalah "
"Jangan berbicara seperti itu kau harus menikah. Aku tak suka kau berkata seperti itu Ana kita berdua harus hidup bahagia sama sama kau harus mempunyai pasangan "
"Sekarang pun aku sudah bahagia Inara untuk apa aku menikah kalau pada akhirnya akan sakit hati saja, aku tak berminat menikah aku tidak mau rumah tanggaku seperti mom dan dad yang penuh pertengkaran dan tak ada kecocokan "
"Jika kamu mendapatkan laki-laki yang tepat semua itu tidak akan terjadi. Jangan terpaku karena mereka, kita berbeda "
"Iya kau doakan saja, Semoga aku mendapatkan laki-laki yang bisa membimbingku dan memang tepat untuk ku "
"Aku akan selalu mendoakanmu Ana, sekarang tidurlah aku pun akan masuk ke kamarku untuk segera tidur, ini sudah malam tak baik "
__ADS_1
"Baiklah kau tidur saja terlebih dahulu nanti aku akan menyusul, aku ingin melihat ini dulu "
Inara hanya tersenyum dan masuk ke dalam kamarnya, bukannya dirinya tidak mau menemani kakaknya tapi tubuhnya sudah tidak enak dan ingin segera diistirahatkan. Sudah lelah rutinitas hari ini.
**
"Adam Ada apa dengan wajahmu kenapa biru biru seperti ini"
"Ini gara-gara Inara Bu apakah ayah pulang kesini"
"Inara ? memangnya dia sekarang bisa beladiri sampai-sampai menghajarmu separah ini, tidak ada ayahmu ke sini. Biarkanlah dia hidup sendiri, dia tidak mau mendukungmu jadi biarkan saja dia menderita dikasih enak malah gak mau, ada ada saja ayah mu itu "
"Tidak bu dia mempunyai penjaga sekarang jadi kemana-mana Inara orang itu akan ada di sampingnya dan mengawasinya di manapun itu, bersama siapapun itu. Bu jangan seperti itu Ayah itu orang tua Adam jangan membiarkannya hidup sendirian, coba ibu yang ajak ayah lagi kemari, biar kita sama sama lagi "
"Pantesan dia kan sekarang orang kaya pasti ada yang jaga, lebih baik kamu jangan langsung bunuh dia, coba kamu baik baikin dia, kaya kamu dulu ngejar dia dan pada waktunya bahagiannya kamu hancurkan dia "
"Bagaimana aku mendekatinya, Sandi saja menjaganya dengan ketat bu, bagaimana sih bu "
"Kau ini bodoh sekali sini ibu bisiki, ibu punya rencana dan Livia pasti mau membantu mu"
Adam mendekatkan telinganya kearah ibunya dan mendengarkan apa yang ibunya katakan Adam menganguk anguk "ibu pintar sekali "
"Ibu gitu loh, udah sana tidur dan obati lukamu jangan fikirkan ayahmu nanti juga kalau udah cape pasti kesini "
**
Ana sudah ada didalam kamarnya bahkan sudah membaringakan badannya, namun sama sekali tak membuat dirinya tidur.
Bolak balik kiri dan kanan, tubuhnya tak diam, tak bisa tidur sama sekali.
"Ahh kenapa ini, kenapa bisa seperti ini, sial sial kenapa aku jadi tak bisa tidur kesal kesal kesal "
Ana mengambil ponselnya dan tiba tiba saja ada yang menelfonnya nomor asing "siapa ini, apakah harus aku angkat, tapi kalau tidak takut penting "
Ana langsung saja mengangkat telfonya "hallo ini siapa, apakah kau tak tau ini sudah malam ganggu orang tidur saja "
"Ana kenapa kau begitu galak, ini adalah Roger, jangan galak galak "
Tiba tiba jantungnya berdetak dengan kencang, Ana menarik nafasnya dan memegang dadanya "Ana apakah kau masih disana "
__ADS_1
"Ya aku masih disini ada apa "
"Aku dan Sean akan mengunjungi rumahmu "
"Secepat itu,"
"Apakah tidak boleh "
"Tentu boleh hanya saja aku tak menyangka kalian akan mengunjungiku dengan cepat, "
"Iya maaf Sean baru saja libur sekolahnya jadi dia ingin pergi kesana, liburan disana bersama mu "
"Baiklah antarkan dia padaku "
"Apakah boleh aku pun liburan disana "
"Haruskah "
"Kenapa memang "
"Lalu bagaimana dengan Puja, apakah dia tak akan marah kalian pergi "
"Tentu tidak dia baru pacarku bukan istriku jadi tak akan ada masalah "
" Baiklah tapi aku disini tidak akan bisa menemanimu untuk jalan-jalan atau sekedar berkeliling karena aku sibuk sedangkan Sean biar nanti ikut kerja denganku saja"
"Baiklah memangnya di sana pekerjaanmu apa"
"Aku kerja sebagai pengacara, Cio , pembunuh bayaran dan banyak lagi "
"Kenapa kau tak memberikan salah satu jabatan mu pada adik mu "
"Dia tak mau jadi aku tidak mau memaksannya, aku membebaskan nya untuk dia bekerja di manapun "
"Kakak yang baik "
"Jadi apakah ada yang perlu kau bicarakan lagi padaku ini sudah malam. Aku akan tidur karena besok hari ku sangat panjang dan banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan"
"Baiklah sudah tak ada lagi, selamat malam "
__ADS_1
"Hem "
Ana memutuskan sambungannya dan menyimpan ponselnya, "orang yang aku fikirkan akan datang, aku harus berdandan seperti apa nanti "