
Sedangkan dirumah Adam, Iva sedang menelfon ibu mertuanya mengadukan tentang suaminya yang kasar kepadanya. Adam harus mendapatkan balasannya karena sudah bermain tangan padanya.
"Iya bu, mas Adam menamparku. Dia memarahiku bagaimana kalau aku stres bu. Mas Adam juga sekarang pulangnya malam terus. Aku kan sedang hamil seharusnya mas Adam itu memanjakan ku bu bukannya malah membiarkan aku sendirian dirumah " adu Iva
"Sekarang Adam ada dimana Iva biar ibu marahi, ada apa dengan anak itu bisa-bisanya kasar padamu. Kamu itu kan istrinya ibu dari anak-anaknya, kenapa coba harus kasar begitu "
"Aku menyuruh mas Adam untuk tidur diluar saja bu, biarkan saja dia biar berfikir. Ibu kesini saja langsung marahi mas Adam kalau ditelfon pasti dia akan mengelak terus dan nantinya di matikan sambungannya bu "
"Benar kamu, sebaiknya ibu kerumah saja. Biar ibu marahi habis-habisan Adam itu, kamu jangan sedih ya. Tunggu ibu. Ibu akan selalu membelamu"
"Iya baik bu, Iva mau mandi dulu ya bu, sambil menunggu ibu"
Setelah itu sambungan diputuskan. Rencana berhasil membuat ibunya Adam membelanya, kalau ginikan bagus. Hemm akan dia saksikan pertengkaran antara ibu dan anak menyenangkan sekali.
Adam yang baru bangun, sangat penasaran sekali sebenarnya Nara ada tidak dikamarnya karena masa iya ga keluar-keluar.
Adam segera berjalan dengan sedikit sempoyongan kearah pintu kamarInara. Belum juga sampai tangannya sudah dicekal oleh Iva.
"Mau kemana kamu mas " tanya Iva
"Aku mau menemui Nara " jawab Adam dengan ketus.
"Sejak kapan kamu peduli sama Nara, biasanya kamu diemin dia. Biarin dia di kamar, kamu jangan nganggu dia. Kamu gamau minta maaf sama aku "
"Kenapa kalau aku sekarang peduli sama Inara dia istri aku juga, minta maaf untuk apa "
__ADS_1
"Ya aku tau, biarkan dia nanti juga keluar dari kamarnya. Atas sikap kamu yang kasar sama aku "
"Inara aja sering aku kasarin ga pernah tuh minta aku buat minta maaf sama dia. Udahlah kamu jangan lebay kenapa sih kamu ini" sambil sedikit mendorong bahu Iva.
Segera Adam pergi kekamarnya, tanpa menghiraukan Iva istrinya yang sedang menatapnya dengan tatapan kebencian.
Untung saja dirinya bisa menahan Adam untuk pergi kekamar Inara, kalau tidak habislah akan terbongkar semuanya.
**
"Ah Bian, jangan Bian tolong ah Bian stop"
Namun Bian bukannya menghentikan aksinya malah terus saja kebawah, mengecupi perut Inara. Gairahnya sudah sangat memuncak burungnya juga sudah tak kuat ingin segera masuk kedalam sarangnya.
Sedangkan diluar kamar Bian, mamihnya sedang membawa kunci cadangan kamar anaknya. Dia baru ingat bahwa Nara semalan tidur dikamar anaknya Abian. Bisa gawat ini.
"Astagfirullah, Bian kamu teh ngapain Inara " sambil sedikit berlari menghampiri anaknya.
Bian yang mendengar suara mamihnya segera bangkit dan menutup tubuh atas Inara yang sudah polos tak mengenakan apa-αpa.
Inara yang takut, dengan mamihnya Abian segera menundukan kepalanya sekaligus malu dengan kelakuannya bersama Abian.
"Kamu teh ngapain atuh Abi, kalian teh belum sah. Mau mamih nikahin sekarang juga "
"Kalau Bian sih mau mih. Tapi Naranya gimana mau ga Nara"
__ADS_1
"Bian aku udah punya suami " jawab Nara masih dengan menundukan kepalanya.
Mamihnya segera memberi kode pada Bian untuk segera keluar dari kamar ini, kalau tidak akan di pukul. Dengan pasrah Bian keluar dari kamarnya dengan wajahnya yang lesu. Lagi hot-hotnya malah diganggu.
Padahal sebentar lagi dirinya akan menghamili Inara dan Inara akan menjadi istrinya. Tapi semuanya gagal. Harus sampai kapan dirinya menunggu Inara, itu jalan satu-satunya untuk mendapatkan Inara.
Mamihnya Bian segera mengangkat dagu Nara untuk segera menatapnya dan tersenyum hangat pada Nara "mamih,mamihkan yang diundangan itu " tanya Nara dengan senang.
"Iya sayang, kenapa kamu gak ngrhubungin mamih "
"Maaf mih, nonya hilang. Aku kira Bian bukan anak mamih, maaf mih aku udah ngelakuan hal yang seharusnya gak boleh aku lakuin sama Bian "
"Yah kok bisa hilang sayang, beda banget ya sama mamih, Bian itu anak mamih satu-satunya. Mamih mau banget kamu itu jadi menantu mamih. Mamih ga marah kok soal yang tadi "
"Aku lupa mih, simpen dimana. Tapi aku udah nikah mih "
"Emang kamu mau pertahanin pernikan kamu sama suami mu, dia kasarkan sama kamu dan dia juga ngeduain kamu. Apa bisa memafkan suami kamu itu. Perlu kamu tau, ada saatnya kita gak bisa memafkan laki-laki itu karena selingkuh dan main tangan. Perselingkuhan itu hal yang paling sulit untuk dimaafkan dan jika sudah selingkuh pasti kedepannya akan seperti itu lagi karena kamu sudah memafkannya. Perselingkuhan itu bukan sebuah pilihan. Dia selingkuh karena ada peluang. Jika dia mengatasnamakan ikhlaf karena selingkuh kamu jangan percaya karena selingkuh ga ada yang khilaf dia 100% sadar. Dia menyakitimu karena dia tempramemtal sampai kapan kamu mau di injak-injak sama suami kamu. Dalam rumah tangga jika sudah main tangan dan selingkuh seharunya mundur dan meninggalkannya bukan bertahan dan menerima semua yang dia lakukan, bukan mamih ingin membuat kamu bercerai dengan suami mu, namun mamih sayang sama kamu dan mamih gamau anak mamih ini tersakiti sama laki-laki brengsek seperti suami mu "
"Iya mih aku binggung. Disatu sisi aku pengen cerai sama suamiku namun aku juga binggung gimana caranya, dia gamau cerai sama aku. Bahkan semua indentitas aku dibakar sama mas Adam mih " sambil menangis.
"Aku sakit, sakit banget mih raga serta jiwaku sakit karena perlakuan suamiku. Aku ga pernah menyangka rumah tanggaku akan hancur oleh orang ketiga dan sekarang aku harus berbagi suami sama orang ketiga itu. Hati aku udah remuk bahkan aku udah biasa sama sakit yang diberikan sama mas Adam. Aku sakit hati oleh perlakuannya yang kasar serta tak memikirkan bagaimana hatiku disakiti olehnya dengan cara selingkuh dan menikahinya juga. Serta orang tuanya tak sama sekali melarang mas Adam atau memarahinya tapi malah mendukungnya mih. Aku ini di hidup mas Adam sudah seperti sampah " lanjut Nara menatap kosong kedepan dengan air berderai air mata
"Kamu itu berharga, kamu bukan sampah Nara, kamu berharga sekali jangan menyerah jika kamu ingin bercerai mamih akan membantunya bagaimana "
"Mungkin akan sulit mih, sulit sekali namun aku sangat ingin pernikahin ini selesai. Aku ingin bahagia mih "
__ADS_1
"Baiklah mamih akan selalu mendukung kamu " sambil memelik Inara dengan erat. Saat itu juga air mata Nara kembali mengalir menunpahkan semua sakitnya di bahu mamihnya Bian.