Berbagi Suami

Berbagi Suami
Akhinya bisa bersama


__ADS_3

Abian menuntun Inara, menutup kedua matanya dengan tangannya lalu membukannya.


Inara yang melihat dihadapannya penuh dengan bunga hijau dan ada satu boneka beruang serta ada kursi dan meja.


Abian segera menuntun Inara dan memegang tangan Inara "Inara "


"Ya tuan. Yang lain mana katanya kau akan mentraktir yang lembur kemarin malam, lalu kenapa hanya ada 2 kursi dan satu meja "


"Apa boleh aku berbicara dulu "


"Baiklah "


"Inara aku mencintaimu, kau tau aku sudah mencoba untuk melupakan mu tapi sulit, semakin aku mencoba melupakan mu, semakin aku sulit untuk jauh dari mu, aku tak bisa tanpa mu dan aku tak bisa mencari perempuan lain, hatiku sudah terkunci hanya untuk mu saja "


Bian was was menunggu jawaban Inaraz, dirinya takut, takut ditolak kembali namun semoga saja tak ditolak untuk kali ini. Bahkan peluk sudah bercucuran didahinya.


Inara dengan perlahan mengusap peluh itu, lalu mengengam tangan Abian yang satunya.


"Kau tau Bian, aku pun sama setelah menolakmu aku sadar aku gak bisa tanpa kamu, aku sadar saat melihat kamu sama perempuan lain aku gak bisa "


"Jadi Nara jawabannya apaa "


"Jawabannya aku pun mencintaimu Bian "


Dengan wajah leganya Bian membalikan badannya dan tersenyum lega. Lalu segera berbalik kearah Inara.


"Apakah aku tak bermimpi Nara "


"Tentu tidak aku memang menerima mu untuk menjadi pasanganku, aku sadar kalau aku tak bisa memikirkan terus menerus traumaku dimasa lalu, aku ingin kembali bisa menjalin hubungan dengan laki laki yang tepat. Dan kau jawabannya, kau selalu ada untuk ku "


"Ya aku akan selalu menjadi laki laki mu dan menjadi pelindungmu, terimakasih kau sudah memberikan ku kesempatan untuk mencintaimu sampai tua nanti "


Bian mendekatkan wajahnya dan Inara juga sama namun tiba tiba ada yang menelfonya dengan kesal Bian mengambil ponselnya dan menjawab panggilan yang ternyata dari mamihnya.


"Hallo mamih ada apa "


"Hah apa baiklah aku sekarang kerumah sakit "


"Ada apa Bian " tanya Inara dengan panik


"Papih terkena serangan jantung, "


"Yasudah ayo kita kerumah sakit "


Mereka berdua segera bergegas pergi kerumah sakit, semoga saja papih Abian baik baik saja.


***


"Mamih "

__ADS_1


"Abi, papih kamu papih kamu dia tiba tiba saja pingsan " sambil menangis


"Kenapa bisa, sejak kapan papih punya penyakit jantung "


"Sudah lama Bi "


"Kenapa mamih tak bilang sama Abi kenapa diam saja "


"Papih mu tak mau membuatmu khawatir, jadi dia tak membolehkan mamih memberitahunya padamu "


"Kenapa begitu mih " teriak Abian.


Inara segera memegang tangan Abian " jangan seperti itu Bian "


Inara beralih pada mamihnya Bian, lalu memeluknya erat, sedangkan Abi memijat kepalanya, dia sudah gagal menjaga orang tuanya.


Tiba tiba dokter keluar, mereka semua segera menghampiri dokter.


"Untung saja pasien dibawa tepat waktu, kalau tidak entahlah, saya minta jangan membuat pasien banyak fikiran dan kecapean ya, pasian akan pulih sebentar lagi, namun dia harus di oprasi "


"Oprasi dok "


"Iya tapi di Amerika, disana peralatannya lebih lengkap lag, coba kalian sebagai keluarganya bujuk dia ya, saya permisi dulu nanti kalau keadaannya sudah lebih baik akan di pindahkan keruang inapnya "


"Abi gimana "


"Mamih tenang ya, mamih lebih baik pulang dan bersitirahat"


Inara segera membawa duduk mamihnya Abian dan Abian menyusulnya duduk disamping Inara.


"Kau yang tenang Bian ya, aku akan selalu ada untuk mu "


Bian hanya bisa tersenyum dan mengenggam tangan Inara.


Tanpa mereka sadari ada orang yang sedang marah dibalik tembok.


"Sepertinya aku harus memanfaatkan situasi ini, ya harus "


Orang itu segera pergi dan akan ada rencana yang dirinya siapkan untuk mendekati ibunya Abian.


**


"Mamih udah pulang aja ya sama mang ujang biar Bian disini "


"Tapi Abi "


"Tenang kalau ada apa apa, Bian akan kasih tau mamih "


"Baiklah ".

__ADS_1


Mamih Abian segera pergi setelah tadi berpamitan pada anaknya dan juga Inara, mang ujang dengan setia mengekor pada majikannya itu.


"Kau pulang juga ya Nara, biar aku disini sendirian aku tau kau lelah lebih baik kau istirahat "


"Tidak Bian, aku mau disini bersama mu, bisakan aku ingin menemanimu, aku tidak lelah kok"


"Baiklah, aku sampai tak tau kalau papih sakit, aku sudah menjadi anak durhaka, tak mengurus mereka dengan benar "


"Hey kau jangan begitu, masih ada waktu maka sekarang pergunakan kesempatan itu untuk lebih memperhatikan papihmu dan juga mamihmu "


"Ya kau benar, aku tak boleh menyerah seperti ini aku harus bangkit dan bisa membuat mereka bahagia "


"Ya kau bagusss Bian semangat jangan pantang menyerah "


**


Livia segera turun dan masuk kedalam rumah Abian, disana sudah ada mamih Abian yang sedang duduk melamun.


Livia langsung saja duduk dan memegang tangan mamih Abian "Livia kapan kamu kesini "


"Baru saja tante, aku tadi mengetuk pintu namun tak ada yang menyambutku, jadi aku langsung masuk saja maafkan aku ya tante"


"Baiklah tak apa "


"Tante kenapa sepettinya banyak fikiran apa sedang ada yang tante fikirkan "


"Tidak ada Livia, tante baik baik saja tak ada hal yang serius "


"Tante jangan berbohong padaku, bicaralah siapa tau aku bisa membantu tante nantinya "


"Papihnya Abian masuk rumah sakit Livia, dan tante binggung sekarang harus apa, tante takut kehilangan papihnya Bian bagaimana ini tante sungguh binggung harus berbuat apa "


"Ya ampun tante, terus sekarang keadaannya bagaimana, tante jangan sedih ya disini ada Livia, Livia akan temenin tante ya "


"Sekarang kondisi nya sudah lumayan baik Livia, tidak tidak perlu, tante disini sudah banyak yang menemani, kamu temani ayahmu saja ya, tante baik baik saja "


"Tak apa tante, sekali ini saja Livia temani tante ya, boleh ya tante "


"Baiklah Livia kalau itu inginmu, tante akan mengizinkannya "


"Terimakasih tante "


**


Livia sekarang sedang mengendap endap keluar dari kamarnya mamih Bian, lalu menutup pintunya dengan perlahan.


"Untung aja tu nenek nenek udah tidur, jadi leluasakan buat ngamatin rumah ini, yang terpentiny sekarang aku harus cari kamar Abian."


Livia membuka satu persatu pintu, tinggal satu ruangan lagi pintu berwarna hitam dengan cepat Livia berlari kesana dan membuka pintunya ternyata tak dikunci, saat dinyalakan lampunya, Livia tersenyum

__ADS_1


"Aku tak salah, ini kamar Abian, wah kamarnya sangat nyaman "


Livia segera tiduran dan mencium bantal Abian "wangimu Abi masih ada disini aku sangat cinta padamu, nanti akan ada saatnya kita tidur bersama disini, aku sangat senang sekali, aku sungguh tak menyangka bisa masuk kesini dan mengamati setiap barang yang kau punya aku senang Abi "


__ADS_2