
Inara yang bosan karena terus saja diam di rumah akhirnya dia berjalan keluar rumah dan ingin ke taman untuk menenangkan hatinya.
Ana sudah melarangnya untuk tidak bekerja jadi apa lagi yang harus dirinya lakukan selain diam di rumah, tidur makan hanya itu kegiatan, jadi lebih baik berjalan-jalan saja sambil memulihkan tubuhnya yang sedang sakit ini.
Tamannya cukup dekat dari rumah dan tak ada yang mengikutinya satu orang pun, karena Sandi pun sedang ditugaskan oleh Ana.
Entah untuk melakukan apa jadi dirinya hanya sendiri ke taman ini dan duduk menikmati angin sepoi-sepoi, sambil melihat anak kecil yang sedang bermain.
Tiba-tiba saja ada yang duduk di samping Inara namun Inara sama sekali tak menghiraukannya, ya mungkin orang yang ingin duduk juga "bagaimana setelah kau mengetahui semuanya"
Inara segera mengalihkan pandangannya dan melihat Adam ada di sampingnya, dirinya sama sekali tidak takut dengan Adam untuk apa takut dengan orang itu.
"Ya aku sudah tahu lalu apa yang kau mau setelah aku tahu, apakah kau ingin melihat aku yang terpuruk menangis menyalahkan semua keluargaku , itu yang kau mau dan kau salah besar"
"Sekarang kau begitu hebat ya bisa menahan semua rasa sakit itu saat bersamaku kau menangis lemah dan tak berdaya, sekarang kau kuat juga ya dan tak takut padaku"
"Ya karena sudah berpengalaman saat hidup bersama mu aku selalu disakiti dan dulu aku terlalu polos dan bodoh mau saja diinjak-injak harga diri oleh mu, dan sekarang Livia kau injak-injak juga kan , kau menikahi dia dan kau ambil hartanya kurasa kau menikah dengan Livia karena ingin hartanya saja ya bukan karena benar-benar mencintainya, lalu kau akan menduakan Livia atau bagaimana"
__ADS_1
"Jaga ya ucapan mu Inara, kau tak tau apa apa, aku mencintai Livia makanya aku menikahinya kau tak usah tahu dan ikut campur tentang hubunganku dengannya"
"Dulu kau juga pernah mengatakan itu padaku tapi nyatanya apa, kau selingkuh menduakan ku dan menikah lagi dengan Iva namun aku bersyukur Iva telah menipumu. Baguslah kau dapat karma langsung kan dari selingkuhan mu sendiri tanpa aku harus membalas perbuatan mu "
Inara akan pergi namun tiba-tiba Adam memegang tangannya, saat akan melepaskannya sangat sulit Adam memegangnya sangat keras sekali sampai-sampai tangannya kesakitan.
"Dengarkan, aku bukan Adam yang dulu dan kau tidak boleh menginjak-injak harga diriku, dari dulu kau harus patuh padaku maka sekarang pun harus, mentang-mentang kau bukan lagi istriku menjadi seperti ini, aku tidak pernah menyangka kau bisa menjadi orang kaya . Tadinya aku sangat ingin menghancurkanmu tapi karena tiba-tiba ada pahlawan itu Abian kau bisa melawanku, kau juga sama selingkuhkan dengan Abian jadi kita sama-sama selingkuh kau tidak boleh menyalahkan aku saja "
Inara masih berusaha melepaskan genggaman Adam namun masih sulit sakit sekali.
"Lepaskan , aku tak peduli kau mau mencintai Livia benar-benar atau mempermainkan saja aku tidak peduli lepaskan tanganku, aku bukan siapa siapa mu, jadi jangan ganggu aku, kita tak punya hubungan apa apa lagi "
"Kenapa kalau kakak ku ikut. Apakah kau takut dengan kakakku pengecut kau"
Inara langsung pergi dari taman itu dengan kesal niat mau menenangkan hati malah makin runyam saja, dasar Adam ngapain coba datang-datang ke daerah rumahnya pasti dia memang sengaja ingin menemuinya dan mengancam-ngancam dirinya.
Sedangkan Adam masih diam di sana menatap Inara yang pergi masuk ke dalam rumahnya, dia memang tak berani kalau sampai harus mengikuti Nara ke rumahnya bisa-bisa dia malah masuk rumah harimau dan habis di dalam sana oleh kakaknya yang pembunuh itu.
__ADS_1
**
"Bi kenapa kamu baru pulang"
"Tadi nganter dulu Inara dan Inara juga udah tahu mih semuanya tentang anak kita yang udah gak ada ,ada yang kasih tahu dia tapi dia udah baik-baik aja mih, oh ya mih Ana juga tanya kapan kita ke rumahnya untuk menentukan pernikahan aku dan Inara, lebih baik di percepat aja mih, Abian udah pengen nikah nih "
"Tahu dari mana siapa yang kasih tahu pasti ini orang dalam deh"
"Gak tahu mih Bian juga gak. Jadi gimana nih kita mau kapan ke rumah Inara biar cepet-cepet aja Abian juga gak mau nanti Ana gak percaya lagi sama Abian. Abian juga udah lakuin sesuatu yang seharusnya Bian gak lakuin sama Inara. Abian harus cepat-cepat nikahin Nara supaya kita punya status yang resmi dan sah maksudnya gak pacaran terus gitu mih "
"Besok kita akan ke rumah Inara, besok malam kita akan ke sana biar Mami nanti yang telepon dulu Ana, Mami akan memberitahu Ana mami dan Papi juga sudah ada rencana sih besok akan ke sana, tapi melihat kondisi Inara masih sakit kami menjadi ragu tapi setelah mendengar Ana yang bertanya seperti itu ya besok kita akan ke sana ya Bi. Mami juga sama pengen cepet-cepat kamu menikah dan bersatu sama Inara, agar Inara ada yang lebih menjaga lagi. Mami tahu dia banyak yang mengincar apa lagi mantan suaminya kan masih tidak terima dengan dirinya yang dipenjara itu"
"Beneran nih mami gak bohong kan ini beneran kan besok kita ke rumah Inara dan omongin tentang pernikahan Abi beneran mih"
"Iya mami beneran masa sih mami bohongan Mami kan udah ngerestuin kalian dari semenjak kalian belum pacaran, bahkan sebelum Inara cerai sama suaminya Mami itu udah restuin tahu dan Mami udah feeling kalau kalian tuh bakal jodoh, jadi apa lagi yang harus ditunggu dan dipikirkan Mami juga udah suka sama Inara, anaknya baik gampang diatur dan sopan juga, mamih udah suka sama dia dari awal kita ketemu jadi mami gak usah ragu lagi apa lagi kan kita udah tahu keluarganya udah kenal, kamu juga kan udah lumayan lama pacaran "
Abian langsung jingkrak-jingkrak dan tersenyum senang ke arah maminya lalu memeluknya dengan erat "akhirnya Abian nikah sama Inara. Ya ampun Abi gak sabar banget deh Abi pengen ketemu sama Inara dan bicarain semua ini "
__ADS_1
"Jangan sayang biar Mami bicara dulu sama Ana biar menjadi surprise buat Inara ya, Mami akan bicara dulu sama Ana "
"Iya mihh " sambil mencium pipi sang mamih saking senangnya akhirnya dirinya bisa melangsungkan pernikahan dengan Inara