
Ana dan juga Zahir yang baru saja sampai di depan rumah Zahir diam sejenak. dan Zahir menatap ibunya yang sedang menyapu halaman dengan cepat Zahir segera memeluk ibunya.
Sedangkan Ana hanya bisa diam menatap kebahagiaan seorang anak yang bertemu dengan seorang ibu, rasanya ingin sekali dirinya bisa bertemu lagi dengan maminy, meskipun maminya bukan ibu terbaik tapi jika boleh memilih dirinya ingin mamihnya masih hidup dan ada di sampingnya. Meskipun tak ada kasih sayang sedikit pun.
"Mak Zahir dah balik, sekarang boleh berkumpul semula"
"Betul ke Zahir ni, mak tak bayangkan"
"Ini betul Zahir mak , Zahir bebas mak"
"Macam mana awak keluar Zahir ada orang tolong awak"
“Ya mak di sana "
Zahir segera melepaskan pelukannya dari ibunya dan berjalan kearah Ana, membawa Ana kehadapan sang ibu.
"Ibu ni yang tolong Zahir"
"Wanita cantik ini, ya Allah, terima kasih, terima kasih kerana menolong anakmu" sambil memeganf tangan An
"Zahir pun boleh keluar kerana pertolongan Allah,"
"Ya tapi awak juga tolong dia, terima kasih"
"Ya mak, bolehkah katakan mak "
"Tentu kenapa tidak Ana, mak akan gembira jika kamu berbuat demikian"
Ana hanya bisa tersenyum dan tiba-tiba saja air matanya menetes.
"Kenapa awak menangis, adakah mak menyakiti awak"
"Tidak, cuma Ana gembira"
"Alhamdulillah, jom masuk rumah"
Ana segera mengikuti ibunya zahir, begitupun sama dengan zahir masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya dengan rapat rapat.
"Mesti kamu penat, berehat dan biar ibu masak untuk kamu makan, kamu tidur dalam bilik Zahir boleh?"
"Zahir tak kisah kalau Ana tidur dalam bilik, Ana cuma tolong ma masak"
__ADS_1
"Tak Ana, saya tak kisah pun saya gembira" balas Zahir
"Kau patut berehat sekarang, Zahir, bawa Ana ke biliknya, boleh?"
"Ya mak "
Zahir segera membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Anauntuk segera masuk terlebih dahulu, disusul oleh Zahir. Zahir membuka pintunya agar tak ada fitnah nantinya.
"Terima kasih Zahir, awak sangat baik"
“Tak adalah terbalik, cepatlah tidur, mesti awak penat sangat. Saya akan kejutkan awak selepas makanan siap."
Ana mengangguk dan Zahir segera menutup pintunya dengan rapat. Setelah pintu itu tertutup Ana segera membuka ponselnya melihat fotonya dengan Inara.
"Ara Maafkan aku yang telah melibatkan kamu dalam masalah ini, Seharusnya Leo tidak tahu kamu. Seharusnya kamu nggak ada dalam masalah ini. Maafin aku ya kamu malah menjadi taruhan, kamu harus selalu doain aku Ara untuk bisa menyelesaikan semua ini dan aku tidak mau sampai kehilangan kamu Aku menyayangimu Ara."
"Semoga saja di sana Abian bisa dipercaya, Bian bisa menjaga kamu dengan baik Ara. Aku hanya bisa memandangmu dari jauh karena sangat sulit banyak anak buah Leo memantaumu juga. Seharusnya aku tak memberitahu siapa-siapa tentang Keberadaanmu"
"Nanti saat aku sudah pulang di sini dan menyelesaikan semua misi ini, aku akan menjemputmu dan kita akan pergi jauh dari sana, kita cari tempat yang aman untuk kita berdua Ara , aku tak mau sampai diganggu oleh siapa-siapa, kita akan hidup berdua selamanya takkan ada satupun yang bisa memisahkan kita"
Ana segera mematikan ponselnya dan mencoba berbaring lalu memejamkan kedua bola matanya. Mencoba untuk beristirahat karena misinya masih panjang dan akan sangat melelahkan untuknya nanti.
**
“Tak perlu Zahir, mak akan buat sendiri, awak pun mesti penat"
Tak mak, Zahir akan tolong mak, boleh?"
“Okey Zahir, oh ya, kenapa boleh tolong Ana? "
Zahir tiba-tiba saja menjadi pusing apa yang harus dirinya Jelaskan pada ibunya, tak mungkin kan kalau dirinya menceritakan Ana yang sebenarnya.
Bisa-bisa ibunya akan syok dan tak akan bisa menerimanya. tidak dirinya tidak mau membuat Ana jelek di depan ibunya, dia tidak mungkin membuat orang yang sudah menolongnya dan baik padanya menjadi jelek di hadapan ibunya.
Lebih baik berbohong dari pada Ana dibenci oleh ibunya, itu lebih baik, akan dia lakukan itu agar semuanya menjadi baik-baik saja dan tak ada masalah sedikitpun.
"Zahir "
"Ya mak "
"Kenapa awak mengelamun?"
__ADS_1
"Tak mak, Zahir cuma teringat apa yang berlaku"
"Jadi mak, kenapa Zahir berjumpa dengan Ana, kerana Ana adalah seorang mata-mata yang ditugaskan untuk mengawasi penjenayah paling kejam di sana .Dan secara tidak sengaja, Zahir berjumpa dengan Ana dan menceritakan semua kisah Zahir."
“Maknanya Ana seorang yang hebat, ya?
Ya mak, mari sambung memasak mak"
"Baik"
Zahir pun bernapas lega akhirnya ibunya tak banyak bicara lagi, dirinya memang segaja menghentikan pembicaraan ini karena dirinya tak mau terus-menerus membohongi sang ibu.
***
Ana yang tak bisa tidur akhirnya terbangun kembali, namun tiba-tiba saja ponselnya berdering dengan kesal Ana menjawabnya, telepon dari laki-laki yang paling menyebalkan di seluruh dunia ini.
" Halo ada apa kamu menelfonku Leo "
"Santai dong jangan marah-marah kayak gitu, cepetan kamu beresin misi yang kedua ,Aku nggak mau kamu tunda-tunda lagi, kalau tidak taruhnya di kamu Inara"
"Kamu ini ya aku ini manusia Leo. aku ini bukan robot, aku perlu istirahat, kau berikan aku waktu sehari saja untuk istirahat. Aku lelah kau tahu itu dasar kau laki-laki tak berperasaan, kau ini tak merasakan bagaimana lelahnya, aku ini bukan laki-laki aku perempuan dan aku butuh istirahat kau tahu itu Leo "
"Baiklah Baiklah aku akan menjelaskan sedikit tentang target kedua kamu jadi kamu dengarkan baik-baik"
" Baiklah cepat kau Jelaskan, Jangan banyak bicara dan jelaskan secara terperinci"
"Target kita yang kedua adalah seorang pengusaha hebat dan memiliki berbagai usaha di mana pun bahkan asetnya sangat banyak, Ia juga di pasar gelap sebagai penjual organ tubuh manusia. Aku mau kau membunuh dia dengan cara menjatuhkan dia dari kolam renang ke bawah, pecahkan kolam renangnya lubangi, karena kelemahan dia adalah berenang dia suka sekali dengan berenang "
An yang mendengar perkataan Leo sampai mengernyitkan keningnya nih orang kok nggak jelas banget ya bicaranya pikir Ana.
"Kalau bicara yang benar aku udah bilang kan kamu jelasin secara terperinci, gimana bunuh orang yang lagi renang hancurin kacanya jatuhin ke bawah, gimana sih kamu ini bodoh atau gimana sih. Apa aku harus menjatuhkan dia sampai ke dasar bumi apa perlu aku juga masuk ke dasar bumi dan mati dengan dia, kolam renang itu di bawah di atas tanah yang jelas kalau bicara jangan membuatku pusing"
"Kau yang bodoh An, maksudku itu dia mempunyai apartemen di lantai 20 dan mempunyai kolam renang khusus untuk dia yang ada di sebelah kamarnya, dan memakai kaca kau tahu kolam renang yang kaca semua itu dan otomatis kan di bawahnya itu Jalan Raya, kau bolongi itu kau naik Alquran dari bawah kacanya Apakah kamu mengerti"
"Dari tadi kek bicaranya kayak gitu. Kamu bukannya bertele-tele kesana kemari kesana kemari yang bener kalau jelasin"
"Aku udah jelasin ya dari tadi dengan benar. Kamunya aja yang enggak fokus Makanya fokus dong jangan pikiran laki-laki yang tadi aja kamu suka kan sama dia"
"Bacot "
Ana segera mematikan sambungan nya dan kembali menarik selimutnya, jadinya sekarang Ana kembali tidur moodnya sudah tidak baik gara-gara Leo.
__ADS_1