Berbagi Suami

Berbagi Suami
mengambarnya


__ADS_3

Adam sudah sampai dirumah Livia , dia langsung masuk dan Bi San yang kaget ada orang masuk langsung memberhentikannya, "ada apa ini, kenapa tuan Adam ada disini "


"Bu bawa ayah kekamar ya, udah cepet "


Setelah mereka pergi Adam menatap bi San " bi San dengar ya sekarang kan Livia gak ada .Sedangkan perusahaan gak ada yang pegang. Ya udah aku aja yang pegang tenang aja Bibi aku gak akan pernah korupsi ini juga amanat dari Livia, dia yang mau aku memegang semua perusahaannya dan aku tinggal di sini. Jadi bagaimana bibi ingin bertanya lagi ada apa aku kemari "


"Mana buktinya kalau memang Nona Livia yang menyuruh kalian untuk tinggal di sini. Saya ingin buktinya tuan "


"Begini ya saya saja tidak tahu dia berada di mana. Masa saya harus mencarinya dulu untuk bisa tinggal di sini ini sudah wasiat dari Livia loh, kamu mau membantah nona kamu, mau tiba-tiba saja perusahaannya hancur dan tidak punya uang lagi mau kamu seperti itu dia sedang jadi buronan, maka akan membutuhkan banyak uang "


"Baiklah jika suatu saat nona Livia kembali lagi kau harus mengembalikan semuanya, aku tidak mau tahu karena ini bukan hartamu aku membiarkanmu tinggal di sini karena aku tidak punya berhak apa-apa "


"Baguslah kalau begitu aku akan tinggal di sini, jadi kau harus melayaniku seperti kau melayani dulu Livia dan ayahnya kau sekarang adalah pembantuku dan aku adalah majikanmu"


Adam langsung pergi meninggalkan bi San sendirian di sana, sedangkan bi San bingung harus melakukan apa kalau misalnya dirinya menolak dan memang benar ini adalah mau nonanya bisa-bisa dirinya yang malah dimarahi dan dipukul oleh nonanya nanti


"Bi kok tuan Adam ada di sini sih kenapa dia bawa keluarganya juga, kenapa dia pindahan ke sini ya Bi, emang nona gak akan marah ada tuan Adam disini, gimana kalau nona pulang " tanya supir Livia


"Saya juga gak tau ini, gimana ya, kalau saya usir masa iya saya usir saya gak punya berhak sama sekali untuk mengusir mereka, sedangkan nona Livia sekarang jadi buronan dan dicari-cari sama polisi juga kan. Jadi saya gak bisa lakuin apa-apa saya gak berani kalau usir-usir mereka "


"Ya udah telepon aja tuan Cio telepon aja Bi kan dia teman dekatnya Nona Livia pasti dia bisa bantu deh. Coba telepon pasti semuanya akan beres "


"Oh iya ya aku lupa, aku mau telfon dulu ya "


Bi San langsung menelfon Cio " Kenapa Bi San ada apa, kenapa Bi "


"Tuan ini bagaimana ya tuan , tuan Adma membawa keluarganya kemari ke rumah Nona Livia. Bagaimana ini memangnya benar ya nona Livia sendiri yang menyuruhnya untuk datang ke sini, saya sudah minta mana buktinya kalau memang Nona Livia memberikan surat atau wewenang untuk mereka tinggal di rumah ini tapi mereka tidak memberikannya, katanya kan nona Livia lagi jadi buronan lagi dicari-cari mana mungkin bisa memberikan buktinya"

__ADS_1


"Kenapa mereka bisa di situ mereka sudah masuk kamar atau bagaimana"


"Sudah mereka sudah masuk kamar masing-masing dan saya juga tidak tahu mereka masuk kamar mana saja, karena saya bingung harus melakukan apa Tuan. Bisakah Tuan ke sini dan berbicara dengan mereka semua. Saya takut terjadi sesuatu saya takutnya Nona Livia marah-marah rumahnya ditempati seperti ini"


"Baiklah saya akan kesana tunggu sebentar ya Bi "


"Baik tuan saya akan menunggu tuan Cio kemari terimakasih tuan "


Sambungan pun terputus bi San langsung mengacungkan jempolnya dan pak supir mengusap dadanya, akhirnya ada juga orang yang akan menolong mereka.


**


Sekarang hanya tinggal Abian dan juga Inara ibunya sudah pulang tad dijemput oleh papihnya. Abian dari tadi terus aja menatap Inara yang sedang menggambar di sebuah buku.


"Sayang kamu lagi gambar apa sih dari tadi serius banget sampai-sampai aku dianggurin kayak gini "


"Terus ini siapa "


"Anak kecil yang selalu ada dalam mimpi aku. itu wajahnya mirip kan sama kamu. Aku sengaja gambar itu buat kamu bisa lihat kalau anak kecil yang selalu panggil aku ibu itu dia anak kecil itu"


Abian langsung memeluk gambar itu dan menindukan kepalanya , Inara yang melihatnya bingung kenapa dengan Abian. Kenapa dengan kekasihnya kenapa malah menunduk memeluk foto itu ada apa dengan foto itu.


"Kenapa Bi ada apa, apa aku menyakiti kamu apakah aku mengingatkan kamu tentang sesuatu"


"Enggak kok aku cuma suka aja sama gambarnya. Sama persis dengan wajah aku waktu masih baby apakah aku boleh menyimpannya, menyimpan foto ini gambar kamu ini untuk aku simpan nantinya"


"Boleh tapi kamu gak papa kan. Kayaknya kamu mau nangis deh udah deh biar aku aja yang simpen gambar itu, aku tadi cuman ya lagi pengen aja kalau emang itu buat kamu sedih ya udah jangan kamu simpan biar aku aja yang simpan ya"

__ADS_1


"Jangan sayang udah biar aku aja yang simpen ya, aku pengen kasih dia pigura "


"Yaudah tapi kamu jangan sedih ya, aku gak mau ah kalau kamu jadi sedih jangan sedih ya sayang, aku gak suka "


"Engga kok syaang, aku gak sedih liat aku senyum kayak gini"


Inara memegang tangan Abian, dan mengusapnya "Bi kalau misalnya kita punya anak bakal kayak dia gak sih tampan banget gitu "


"Yah aku yakin anak kita akan tampan seperti dia, jika perempuan pasti akan cantik sepertimu jika laki-laki akan tampak sepertiku bagaimana adil kan"


"Hemm cukup adil, boleh lah cukup adil "


Abian mencium tangan Inara dan memeluknya, tak henti hentinya dia mencium tangan Inara dan inara mendiamkannya saja sama sekali tak melarangnya.


**


Sedangkan Livia dia masih kesakitan dengan luka yang di buat oleh Ana, tiba tiba saja ada yang masuk, Livia sampai takut, takut kalau itu Ana, namun ternyata bukan, itu seorang laki laki yang selalu mengikuti Ana kemana mana.


"Kau mau apa "


Namun Jack tak menjawab dia pelepaskan ikatan itu, dan Livia yang merasa dirinya akan bebas segera berlari namun langsung terjatih dan membuat perutny sakit, dia lupa kalau kakinya di ikat mengunakan rante.


"Kau tak akan pernah bisa lari, kau lebih baik duduk manis jangan membuat ulah nanti yang ada kau akan malah disiksa oleh nona Ana, aku kemarin hanya ingin melepaskan ikatanmu , itu pun disuruh oleh nona Ana, karena dia muak melihat wajahmu jadi kembalilah ayo berjalan lagi dan duduk di pojok sana dengan tenang. Jangan membuat rusuh"


Dengan patuh Livia segera berjalan ke arah pojok dengan kaki yang sakit dan memegang perutnya yang masih perih terjatuh tadi sangat perih sekali.


"Jangan tolong jangan apa-apa kan aku, aku minta tolong jangan apa-apa kan aku. Tolong berikan aku keringanan jangan menyiksa aku lagi aku capek aku sakit"

__ADS_1


Namun Jack acuh dan langsung pergi dari ruanga itu dan mengunci pintunya, sedangkan Livia bernafas lega, akhirnya tak ada lagi gangguan atau penyiksaan lagi.


__ADS_2