
Inara sudah selesai didandani dia keluar dengan senyum manisnya dan menatap Abian.
Abian langsung berdiri dan menatap sang kekasih, dirinya tadi suda berganti pakaian.
"Sudah dong pak jangan diliatin mulu, yaudah silahkan kalian besenang senang "
"Terimakasih "
Abian langsung mengandeng Inara dan masuk lagi kedalam taksi, selama perjalan Abian tak henti hentinya menatap Inara "Bi jangan tatap aku seperti itu aku malu "
"Tapi aku suka menatap mu mengemaskan sekali "
"Aku malu Bi "
"Jangan malu dong sayang "
Abian melepaskan tangan Inara yang menutupi wajahnya, lalu memegang tangan itu dan kembali menatap Inara dengan intens.
**
Sedangkan Nana baru bangun, dia segera bangkit dan melihat jam "untung aja aku gak diganggu sama arwahnya ayahnya pak Cio, kalau gak aku bisa mati berdiri "
Tok tok tok , Nana segera beranjak dan membuka kunci pintu kamarnya ternyata itu pak Cio "iya pak "
"Kenapa di kunci ayo sarapan "
"Emm hanya ingin saja pak, saya kekamar mandi dulu pak "
Nana kembali menutup pintu dan pergi kekamar mandi, sambil mengusap dadanya.
__ADS_1
"Cio "
"Puja kamu ngapain disini pagi pagi "
"Aku aku mau lihat keadaan mu, maafkan aku tak menemanimu saat kemarin malam, maafkan aku tak bisa bermalam disini "
"Iya tak masalah sudah ada yang menemaniku "
"Siapa itu yang menemani mu Cio, siapa "
Nana yang sudah selesai keluar dari kamar dan langsung bertatapan dengan Puja.
"Oh jadi kamu ditemenin perempuan ini, kamu kenapa gak minta aku aja, kenapa harus dia sih Cio, kenapa apa kamu udah gak mau lagi sama aku "
"Bukan gitu kamu kan sama Roger masa iya aku minta kamu nginep disini saat kamu datang kemari dengan pacar mu, apakah kau gila, yang ada dia akan berpikiran yang tidak-tidak jangan membuat masalah di pagi hari seperti ini aku sedang tidak mood untuk bertengkar denganmu. Apalagi aku sedang merasa kehilangan"
Cio langsung pergi di ikuti Nana manun tangan Nana langsung dicekal " baru juga jadi asisten udah bisa tidur sama bos jadi ini ya tujuan kerja sama Cio, buat bisa tidur sama dia gitu Kamu ini perempuan apaan sih kamu ini bukannya masih perawan, apa gak malu tidur sama laki-laki harusnya kamu tahu diri dong Cio itu bukan laki-laki baik dia itu buaya tapi kamu malah mau sama dia"
"Sialan kau, kau berani memberikan ku nasehat. Aku tak suka diberikan nasehat seperti ini, itu urusanku aku mau bertahan dengan Cio, akku mau berselingkuh dengan Cio itu bukan urusanmu yang terpenting kau jauhi dia, jangan kau dekati dia lagi aku tidak suka dan sampai kapanpun aku tidak akan suka"
Nana langsung menghentakan tangan Puja " Tenanglah aku sudah diberitahu olehmu kalau pak Cio buaya, jadi aku tidak akan mungkin mendekati buaya itu. Jadi kau nikmati saja buaya itu oke"
Nana langsung pergi meninggalkan Puja untuk segera makan, perutnya sudah minta di isi, dari pada meladeni Puja lebih baik makan saja kan tak ada gunanya meladeni orang seperti Puja.
"Awas saja Nana aku tak akan melepaskan mu, sampai kapan pun aku tak akan melepaskan mu, aku tak akan membiarkan Cio lebih dekat lagi dengan mu, tidak tidak akan sampai kapan pun "
Puja langsung pergi dari tempat itu dan akan menghampiri Cio dan Nana yang sepertinya akan makan.
**
__ADS_1
Abian membantu Inara untuk turun, pemandangan yang Inara lihat adalah payung warna warni yang dipajang serta dilantainya terdapat batu yang diwarna.
"Ini kita dimana Bi "
"Apakah kau suka sayang, apakah kau menyukainnya "
"Iya Bi aku suka, aku sangat menyukainya sungguh ini sangat indah sekali, sampai sampai aku tak bisa berkata apa apa lagi, kenapa kau bisa tau tempat seindah ini, kenapa kau baru membawa ku kemari "
"Karena aku pun baru menemukannya sayang, ayo berdansa dengan ku "
Tiba tiba saja ada suara musik, Abian segera menuntun tangan Inara untuk berdansa dengannya, tiba tiba lampu menyala dan itu makin membuat Inara takjub saking tempat ini bagus.
"Apakah nanti kau mau rumah kita disini "
"Memangnya bisa memangnya tak apa ada sebuah rumah di sini. apakah tak akan menganggu apakah tak apa apa "
"Tentu tak apa kita pindahkan saja semua ini nanti kerumah kita bagaimana "
"Kau ini ada ada saja Bi, masa iya tempat ini dipindahkan kerumah "
Abian menyatukan kening mereka berdua dan sesekali Abian mengusap pipi Inara "entah harus bagaimana aku sungguh sangat mencintai mu, sangat bahkan tak bisa di ukur oleh apa pun, cintaku sangat besar padamu Nara besar sekali "
"Aku pun mencintai mu Bi, sangat aku berharap kau adalah laki laki terakhir dalam hidup ku, "
Tanpa mereka sadari di pojok sana ada yang mengusap air matanya " Apakah aku akan selalu menjadi penonton seperti ini. Apakah kau tidak bisa memberikan kesempatan Bi untuk ku, agar bisa menjalani sebuah hubungan denganku. Apakah tidak ada kesempatan untukku sama sekali"
"Aku benar-benar mencintaimu di awal kita bertemu, aku sudah tertarik denganmu dan aku hanya mematokkan kalau dirimu akan menjadi milikku, cuma milikku seutuhnya tidak untuk milik orang lain, tapi nyatanya kau malah seperti ini mencintai perempuan lain. Apakah tidak ada kesempatan apakah dunia tidak bisa berpihak padaku. Kenapa dunia selalu berpihak pada Inara , Inara selalu bahagia sedangkan aku hanya seperti ini mencintaimu tapi kau tak bisa membalasnya sama sekali "
"Jika aku diberi kesempatan untuk bisa hidup bersamamu Bi, aku akan merubah semua apa yang aku punya sekarang aku akan berubah menjadi seperti apa yang kau mau, bahkan aku bisa berubah menjadi seperti Inara agar kau bisa mencintaiku agar kau bisa menganggapku dan bisa merasakan kalau aku memang mencintaimu, apakah dunia tidak bisa sedikit saja memutar waktu dan membuat aku serta Abian menjadi sepasang kekasih"
__ADS_1
Saat melihat Abian dan Inara berciuman Livia langsung pergi dari sana dengan lunglai, melihat itu malah makin membuat hatinya sakit, sakit sekali sampai sampai tak bisa dijabarkan sakitnya seperti apa, ini adalah luka yang paling menyakitkan dihidupnya.