
Awal Ana kenapa bisa terjebak oleh orang ini, karena ya dia mempunyai sebuah dendam pada Ana. Dia adalah seorang pengusaha yang dulu pernah anak permainkan.
Dan sekarang dia malah ditangkap oleh dia dan menyuruh dirinya untuk membunuh 3 orang sekaligus dan jaminannya katakan adiknya yang akan dibunuh dan sekarang adiknya sedang diintai.
Kenapa dirinya bisa tahu, kerena setiap hari Leo suka mengirim video Inara dimana pun Inara berada Leo tahu Jadi untuk itu Ana menuruti semuanya.
Target pertama adalah seorang pembuat senjata terkuat dan juga orang terkaya di Afrika namun dia sekarang sedang dipenjara, di penjara yang sangat jauh yaitu di Malaysia.
Dia dipenjara di sebuah pulau yang banyak hiu dan di sana penjarannya juga ketat sekali, lalu dirinya harus apa harus menggunakan apa kesana, apakah dirinya harus masuk penjara tapi itu memang jalan satu-satunya.
Ana sudah menyiapkan semua keperluannya seperti rokok yang diisi sebuah peledak kecil seperti jarum, dan permen karet pula untuk memudahkannya nanti.
Dan juga Ana membeli tato yang hanya beberapa bulan saja , karena ia tak mungkin harus mentato diri sendiri Ana juga mengumpulkan data-data orang incaran polisi dan buronan yang paling dicari Ana akan menyamar menjadi seorang laki-laki di sana semoga saja itu berhasil.
Sekarang Ana sudah ada di Malaysia makanya sudah menyamar, di wajahnya sudah penuh dengan tato buatannya saat Ada seorang preman Ana tiba-tiba saja memukulnya habis babisan dan disana ada seorang polisi
"Apa yang kamu lakukan membelasah orang-orang ini, mari kita masuk penjara sekarang dan jelaskan kemudian di sana" polisi itu segera memborgol tangan Ana dan memasukannya kedalam mobil, tanpa banyak bicara.
Setelah sampai dikantor polisi tiba tiba saja Ana di hadang oleh seorang polisi.
"Ini bukan mangsa yang kita cari, di manakah ia dijumpai?"
"Betul-betul kenapa aku tak kenal dia tadi dia pukul orang"
"Tetapi bagus, anda boleh menangkapnya dengan mudah, dia seorang peniaga dan juga seorang pembunuh"
"Sekarang kamu hantar dia ke penjara di tengah laut, dia sudah menjadi penjenayah yang dikehendaki"
"Baik tuan, saya akan laksanakan pesanan tuan"
Polisi itu kembali membawa Ana masuk ke dalam bis besar dan didudukkan dengan beberapa orang yang memang akan dikirim ke sana pula. Itu adalah sebuah kesempatan yang sangat Ana tunggu tunggu. Selama perjalanan hanya bisa diam dan menikmati perjalanannya
Namun tiba-tiba ada yang yang ingin berkenalan dengan Anna dan langsung menjabat tangan Ana.
"Kenalkan saya Zahir awak dari mana, awak perempuan "
Ana segera melepaskan tangannya dan menatap pria itu "Saya Anwar, orang di sini, ya orang di sini. Bukan awak tak nampak saya ni budak" jawab Ana dengan asal.
"Tapi dari perawakan awak macam perempuan"
"Saya kecik jadi macam perempuan."
"Oh saya faham, saya fikir awak seorang perempuan"
"ya macam tu"
"Anda tahu saya sebenarnya tidak melakukan apa-apa kesalahan, tetapi pelarian itu sangat serupa dengan saya, jadi saya ditangkap seperti ini"
"Kenapa tak cakap dan bangkang semua kata orang tu"
"Saya bukan orang kaya, macam mana saya nak lawan mereka, maklumlah penjenayah sendiri yang rancang nak tangkap saya, kalau saya tak buat apa kata orang tu, orang tua saya jamin."
"Adakah tiada sesiapa untuk membantu anda"
"Tidak mereka takut dengan penjenayah itu"
"Adakah anda pasti anda akan pergi ke penjara, di mana terdapat begitu banyak penjenayah sadis"
"Ya tidak boleh dielakkan, mungkin sudah nasib saya pergi ke sana,"
Ana hanya mengangguk angguk saja, dia sedang mencoba membaca gerak gerik Zahir, tapi memang dari perkataannya dan dari penglihatan Ana, tak ada sama sekali kebohongan.
"Awak tahu, ini kali pertama seseorang mahu bercakap dengan saya"
"Maksud awak, orang di dalam bas ini"
"Ya mereka, sama sekali tidak mahu bercakap dengan saya"
"Kenapa, ada masalah dengan awak"
"Mereka takut pada saya, maksud saya penjenayah, saya juga masih memikirkan bagaimana saya akan tinggal di sana. Adakah anda mahu menjadi kawan saya semasa di sana?"
"Pasti mengapa tidak"
"Terima kasih, saya sangat bersyukur dapat bertemu dengan anda"
Tiba tiba saja datang seorang polisi dan menyuruh mereka untuk turun.
"Mari kita semua turun dengan tertib, masuk kapal dengan kemas"
"Ayuh Anwar, kita turun bersama"
__ADS_1
Ana mengangguk, diam dibelakang Zahir dan mengikutinya, dirinya sedang berfikir apakah dirinya perlu nanti menyelamatkan Zahir, tapi kalau tidak ditolong kasihan.
Ana dan juga Zahir duduk, menunggu kapal ini melaju dan tak lama jalan juga kapal ini.
"Saya takut sangat Anwar, awak cuba pegang tangan saya panas dan sejuk"
"Bertenang saya di sana, kenapa awak takut"
"Baiklah baiklah "
Tak ada lagi pembicaraan hanya keheningan saja, tak butuh waktu lama mereka sampai, dan dimasukan kedalam, memeriksa semua bawaan yang dibawa oleh tahanan, sekarang giliran Ana yang di periksa.
Ana mengeluarkan semua yang dia bawa.
"Awak bawa rokok, gula-gula getah dan juga pemetik api."
"Ya, jadi apa yang perlu saya bawa, adakah saya perlu membawa bom?"
"Berani awak cakap macam tu, bawa barang tak guna ni"
Ana segera mengambilnya melengos dan mendekati Zahir.
Kenapa awak bergaduh dengan polis?" tanya Zahir dengan khawatir
"Bukan sembang santai, jom masuk, kita tengok apa yang ada di sini"
Zahir mengangguk memegang tangan Ana, dan Ana sama sekali tak menolaknya, entah kenapa dekat dengan Zahir rasanya sangat tenang. Apakah dirinya perlu berterus terang dengan Zahir agar dia tak kaget, tapi apakah dia akan menerimannya.
Mereka berdua duduk dengan seorang kakek, kakek yang sedang menatap seorang laki laki yang diaping oleh banyak orang berbadan besar dan Ana mengetahui orang itu. Itu adalah targetnya ternyata banyak juga penjaganya.
Tuan, siapa dia?"
"Dialah orang yang paling ditakuti dalam penjara ini, dia seorang ketua, lihatlah di sana lelaki berambut kerinting itu, dia pernah menjadi orang bawahan, tetapi dia berdendam dengan bosnya, kerana bosnya membunuh adiknya"
Tiba tiha saja Zahir menoelnya Ana segera membalikan badannya dan melihat kearah Zahir.
"Kenapa awak nak tahu pasal orang tu?"
"Mestilah, sebab kita orang baru di sini dan mesti kenal siapa dia. Supaya kita selamat di sini "
"Oh ya awak betul, saya tak fikir pun"
Dia adalah Adofo targetnya, seperti akan sulit tapi tak masalah untuknya, yang jadi masalah adalah Zahir, dia akan menjelaskan sedikit pada Zahir, dirinya langsung membawa Zahir dari tempat itu.
"Diam awak jangan banyak cakap, saya nak tanya kalau saya bunuh orang awak takut"
"Tentu, kenapa awak nak bunuh orang"
"Panjang cerita, awak diam tak kalau saya bunuh orang lepas tu kita pergi dari sini"
"Tetapi kamu akan berdosa jika kamu membunuh orang"
"Ya, tak boleh tolong, nanti saya ceritakan semuanya kenapa saya boleh bunuh orang"
"Tetapi"
"Anda hanya perlu menurut, ayuh, nampaknya sudah waktunya untuk makan tengah hari"
Ana kembali membawa Zahir, ikut mengantri dengan yang lain, dan Ana melihat ada seseorang yang membawa pisau kecil denagn sengaja Ana menyenggol orang didepannya dan mengambil pisau dari orang itu.
"Saya minta maaf saya tidak sengaja"ucap Ana sambil menundukan kepalanya, orang itu sama sekali tak berbica dan fokus kembali kedepan.
Ana dan juga Zahir makan dengan tenang, setelah selesai makan Ana mengamati Adofo yang sedang melakukan olahraga tiba tiba saja orang yang tadinya anak buah Adofo itu maju dan akan membunuh Adofo namun kalah cepat, Ana sudah melemparkan pisau itu dan mengenai jantungnya.
Orang itu langsung terkapar, dan Adofo segera menghampiri Ana dan menepuk bahu Ana beberapa kali "hebat hebat sekali kau, apakah kau mau makan dengan saya ditempat saya, dengan anak anak buah saya pula "
"Saya hanya ingin berdua dengan anda bisa ? "
"Baiklah ayo ayo kita kesana mari "
Ana pun mengikuti Adofo, dan Zahir hanya bisa diam menatap kepergian teman barunya.
Ana segera membalikan badannya dan tersenyum pada Zahir lalu mengumamkan sesuatu padanya, kalau dia harus menunggu didekat tembok itu.
Zahir dengan patuh mengikuti apa kata kata Ana, sekarang Ana dan juga Adofo sudah ada didalam rumah Adofo yang di kususkan hanya untuknya.
"Kamu sangat hebat bisa melumpuhkan orang itu. Kamu tau di perjara ini setiap harinya pasti ada saja yang mati dalam sebulan pasti ada 50 orang meninggal, kebanyakan mengincar diriku, namun aku selalu selamat, apakah kau mau menjadi anak buah ku, aku nanti akan menguasai seluruh afrika, dan kau akan menjadi orang kepercayaanku "
Adofo sama sekali tak curiga, malahan membelakangi Ana dan meminum sebuah ramuan entah apa itu.
"Benarkah " Ana dengan perlahan mengambil kayu dan langsung menyerang Adofo, mencekikan kayu itu kearah Adofo dan membekap mulutnya pula.
__ADS_1
Setelah Adofo lemah, Ana segera mengeluarkan racunnya dan meminumkannya pada Adofo.
Badan Adofo sudah kejang kejang namun Ana segut tenanga memegangnya.
Anak buah Adofo datang dan Ana langsung keluar "biarkan dia istirahat dia kelelahan " Ana segera berlari dengan cepat menemui Zahir yany sudah menunggunya.
Mengeluarkan permen karet dan juga mengeluarkan jarum kecil maksudnya bom dari dalam rokoknya dan menempelkannya di tembok dan duarr ledakan pun mengema, dan para polisi langsung keluar mengejar Ana.
Dengan cepat Ana menarik Zahir dan langsung loncat kedalam Air, diatas polisi mendembakinya.
Tidak jauh sudah ada kapal yang menunggunya, yang memang sudah diasiapkan oleh Leo untuknya kabur.
Ana dengan susah payah naik dengan Zahir namun tiba anak buah Leo menahan mereka berdua "kenapa kamu membawa orang asing "
"Kenapa aku sudah melakukan misiku, aku sudah membunuh Adofo, lalu apa lagi, apa aku tak boleh menyelamatkan orang lain, awas kau jangan menghalangi jalanku " Ana segera menarik Zahir dan Zahir melongo melihat Ana yang memang seorang perempuan.
"Ini telfon dari tuan " ucap anak buah Leo.
Ana segera mengambilnya "halo bagaimana aku sudah kan membunuh Adofo "
"Yahh Ana kau hebat telah membunuhnya tapi kenapa membawa seseorang denganmu "
"Kenapa aku tak boleh menyelamatkan orang lain. Aku minta kau jangan melakukan apa-apa pada Zahir dia orang baik, Aku ingin menolongnya Jadi kau jangan banyak bicara aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan bahkan kau tak mem bayar sepeser pun dan jadi ini bayarannya aku Ingin Zahir bersamaku"
" Baiklah Baiklah akan aku beri kelonggaran Kau boleh menyelamatkan Zahir, tapi kau harus menyelesaikan misimu ada 2 lagi yang perlu kau selesaikan sekarang ada dua nyawa yang akan aku ancam Jika kau tak melakukan dua misi itu, Inara adikmu dan Zahir laki-laki yang ko tolong itu"
"Baik aku akan membunuh 2 orang itu , tapi beri aku kesempatan untuk mengantarkan Zahir pulang, aku tidak mau dia ikut denganku, engkau jangan macam-macam dengan dia"
" Ya silakan silakan asalkan berhasil saja misi mu itu.
Sepertinya kau tertarik dengan laki-laki itu Ana"
"Terserah kau saja pokoknya kau jangan melakukan apa-apa pada adikku. Aku Disini yang bertanggung jawab, kau jangan selalu mengawasi Adiku terus"
Setelah percakapan panjang akhirnya terpurus juga. Ana dan juga Zahir diberikan pakaian ganti dan setelah mereka berganti pakaian , Zahir dan Ana bertemu kembali.
"Betul ke apa yang saya cakap, awak ni perempuan"
"Ya, saya perempuan, saya minta maaf Zahir telah menipu awak"
"Kenapa awak perlu buat begitu, kemudian siapa mereka ini?"
"Tapi jangan jauh dari saya okay, Zahir janji"
"Ya saya janji, saya akan sentiasa bersama awak"
"Saya di sini sebagai hamba, dan perlu membunuh orang, anda tahu adik saya dipertaruhkan, jadi saya perlu melakukannya "
"Jadi mereka adalah orang jahat"
"Ya Zahir dan saya perlu menyelesaikan dua misi ini, untuk menyelamatkan nyawa adik saya"
"Adik awak sangat bertuah kerana mempunyai kakak seperti awak,"
"Terima kasih Zahir, oh ya saya akan bawa awak pulang dan saya akan selesaikan misi saya"
"Saya sepatutnya berterima kasih kepada awak, nama awak Anakan, saya baru dengar. Boleh saya bantu awak dengan misi awak?"
"Ya, nama saya Iriana, jangan bahaya begini"
"Tapi saya nak tolong awak"
"Tak perlu, nanti kalau saya perlukan bantuan saya akan minta"
"Betul Ana"
"Ya Zahir"
Zahir yang senang memegang tangan Ana dan menatap langit malam yang indah, banyak dengan bintang pula.
Ana tersenyum menatap wajah Zahir, entah mengapa dirinya menjadi senang menatap wajah Zahir, saat bersama Leo dirinya sama sekali tak seperti ini, bahkan menatap Leo pun kadang enggan, namun Zahir berbeda
"Kenapa awak pandang saya macam tu, ada apa-apa ke muka saya Ana"
"Tak apa, cuma saya suka tengok muka awak"
"Kenapa awak suka, muka saya mungkin tiada yang istimewa"
"Saya tak tahu awak suka, muka awak buat saya tenang"
"Alhamdulillah, saya gembira Ana,"
__ADS_1
"Kalau begitu saya juga gembira."
Zahir mengangguk dan kembali melihat kearah langit, Ana pun melakukan hal yang sama, melakukan apa yang Zahir lakukan, entahlah apa maksudnya ini, tapi senang juga melihat bintang bersama Zahir ini.