
Nara sudah bersiap-siap akan pergi ke kantor, namun bosnya tiba-tiba saja keluar sambil membawa koper malah 2 koper langsung.
" Inara kenapa kau memakai pakaian kerja"
"Ya kan memang ini hari kerja tuan, memangnya aku harus memakai apa. Apakah aku harus memakai kaus dan celana training seperti itu tuan "
"Tidak untuk hari ini kau tidak kerja ikut aku liburan"
"Tidak tuan saya kerja saja, tuan saja sana yang liburan"
"Kau ingin membantah tuamu ayo cepat ikut"
" Baiklah tuan mari "
Bian segera berjalan, malahan mendahului Inara dan Inara yang masa bodoh hanya mengikutinya saja dari belakang, tanpa banyak bicara sama sekali.
Selama perjalanan pun sama tak ada yang mau memecahkan keheningan ini hanya diam sama-sama Dingin.
Akhirnya mereka sampai di tempat liburan mereka. Dan Bian segera membawa dua koper itu dan bertemu dengan seseorang yang memang sudah janjian. Awalnya Bian akan menolak orang itu tapi dia sudah berjanji akan memberi kesempatan.
Jadi mau tidak mau dia harus mengerhargainya dan jalan satu-satunya, ya jadi jalam satu satunya membawa Inara, agar dirinya tak berduan saja.
"Kenapa kau membawa Inara Abi " tanya Livia.
"Kenapa, kau juga membawa Cio kan, jadi aku pun ingin membawa Inara dia kan asistenku jadi dia yang akan mengurusku selama disini "
"Kenapa cuma aku kan bisa mengurus mau juga tak perlu Inara yang mengurus mu"
"Ya sudah kalau kamu tidak mau aku pulang lagi bersama Inara."
"Tidak-tidak ayolah kita masuk saja ke dalam villa aku tak masalah kalau ada dia"
Inara yang dari tadi diributkan hanya diam, mengecek ponselnya siapa tahu Ana menghubunginya tapi tak ada satupun pesan dari Ana.
" Hei kenapa kamu melamun saja ayo masuk "
"Tidak aku tidak apa-apa kok, aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang tidak penting Ayo kita masuk"
"Baiklah jika ada apa-apa bilang padaku ya Nara jangan memendam sendiri "
" Iya Cio, kamu tenang saja aku baik baik saja"
__ADS_1
Mereka berdua pun segera masuk ke dalam villa dan menyusul Bian dan juga Livia.
"Baiklah di sini aku sudah menyiapkan kamar. Tadinya sih 3 kamar, tapi karena ada Inara ya sudah jadi 4 kamar kau tidur paling ujung ya kamar paling ujung "
" Baiklah terima kasih atas kamarnya"Inara segera melenggang pergi dari sana diikuti oleh Bian.
"Abi kamu ke mana, kamar kamu disana paling tengah di sana bukan di dekat Inara "
"Tidak aku tak bisa jauh dari asistenku, jadi aku mau ngambil kamar yang dekat dengan Inara gantian sajalah"
Livia hanya bisa menghentak-hentakkan kakinya dan menatap Ciio dengan garang "kau lihat dia masih saja seperti itu dalam pikirannya cuma Inara Inara dan Inara apa tak ada yang lain gitu "
"Aku udah bilang kan kamu sabar kenapa sih nggak bisa sabar"
"Sabar itu ada waktunya Cio , orang tuh ada batas sabaenya "
"Iya aku tahu orang ada batas sabarnya tapi kamu tuh orangnya nggak sabaran, baru juga dekat lagi pengen aja instan, sabar itu nunggu 1 tahun 2 tahun 3 tahun baru itu sabar .Kamu tuh nggak sabaran"
Cio yang sudah tersulut emosinya akhirnya pergi meninggalkan Livia sendirian, selalu saja dirinya yang disahkan.
"Ngapain tuan ikut ke kamar saya"
"Tuan niat banget ya masukin pakaian saya ke sini dan pilih pilih sendiri"
"Saya nggak niat awalnya, tapi karena saya nggak mau tunggu kamu lama packing lagi ya udah saya aja. Kenapa kamu ini cerewet banget ya. Harusnya kamu tuh terima kasih sama saya karena saya udah mau masukin baju kamu ke dalam koper dan dari tadi saya cuman dorong dorong koper kamu, 2 berat tahu nggak sih ini kamu nggak ada niatan tadi bantu saya "
"Kenapa saya harus berterima kasih sama tuan, saya enggak pernah nyuruh tuan untuk packing barang saya, dan dorong dorong koper saya. Kalau tuan tadi biarin , saya akan ambil sendiri kok kopernya."
"Kamu ya Nara" baru juga pianakan menjewer Inara tiba-tiba datang Livia dan memegang tangan itu.
"Abi ayo kita cari makan yuk, aku lapar banget nih udahlah biarin aja Inara kayaknya mau istirahat deh kita berdua ya aku mau ngobrol-ngobrol sama kamu"
" Ya udah ayo "
Inara hanya mengangkat bahunya saja dan membuka koper nya ternyata bosnya ini menatanya dengan rapi. Oh tidak berarti bosnya tahu dong ukuran dalemannya Ih malu banget.
Meskipun dia dulu dekat dengan Bian , tapi kan seharusnya ia tidak tahu tentang ukuran ********** juga, Inara segera mengambil pakaian santainya dan mengantinya.
"Kemana ya aku harus jalan jalan, aku jenuh banget , mendingan kerja dari pada kayak gini "
Inara segera melongok keluar jendela di melihat sebuah kolam renang besar dan sepertinya sangat sejuk karena banyak pohon-pohon nya juga tanpa pikir panjang Inara langsung pergi ke sana
__ADS_1
Inara yang sudah sampai di depan kolam renang dia duduk dan memasukkan kakinya ke dalam air.
"Apakah aku boleh bergabung di sini Ara " ucap Cio
"Tentulah duduk ini tempat umum "
Cio segera duduk dan memegang tangan Inara namun Inara segera melepaskannya.
"Maaf aku tiba-tiba megang tangan kamu. Aku mau tanya kamu makin hari Kenapa sih makin jutek aja sama aku Ara "
"Juutek, nggak kok aku biasa aja, aku Inara yang biasanya, kamu aja kali yang lihat aku makin kesini makin jutek padahal aku kan biasa aja."
"Iya bener mungkin,kamu kok sekarang ke mana-mana barang sama Bian kalian satu rumah"
"Ya gitu deh kata Bian sih Anna yang suruh aku tinggal dulu sama dia,Ana bilang sama Bian kalau dia bakal pulang nggak akan minggu-minggu sekarang"
"Ana yang bilang sama Bian, sejak kapan Ana percaya sama Bian .Bukannya dia nggak suka ya sama Bian "
"Yaa gak tahu, mungkin sekarang Ana mulai menerima keberadaan Bian sebagai Bos aku, jadi kenapa nggak kan setiap manusia bisa berubah Cio ya gak akan gitu terus "
" Iya juga sih kamu benar "
" Oh Jadi kalian di sini ya, kita cari kemana-mana loh kalian berdua ini, malah pacaran di sini "celetuk Livia
Bian yang melihat Inara berduaan dengan Chio segera melepaskan gandengan tangan Livia, langsung membawa Inara untuk segera berdiri .
Saat Nara sudah berdiri dan ada di samping Bian, Inara malah melihat seekor kucing yang akan mendekatinya dengan cepat, Inara langsung meloncat dan Bian yang refleks langsung memegang kaki Nara dan akhirnya mereka malah jadi seperti kanguru yang sedang membawa anaknya..
"Kenapa ada kucing tolong singkirkan tolong " teriak Inara.
"Kau kenapa Inara " tanya Bian.
"Aku alergi bulu kucing tuan "
Cio segera mengambil kucing itu dan membawanya, tiba tiba saja Livia tersenyum senang dirinya mempunyai ide, lihat saja apa yang akan terjadi dengan Inara nanti.
"Kau turunlah " sambil memegang tangan Inara dan memaksannya dengan paksa.
Akhirnya Inara turun, karena Livia memegang tangannya dengan erat, saat Livia menyenggol Inara untuk tak dekat dekat dengan Bian, Bian malah terjatuh kedalam kolam.
"Tuann " teriak Inara.
__ADS_1