Berbagi Suami

Berbagi Suami
Menyiapkan ulang taun


__ADS_3

Inara dan juga Bian sekarang baru saja selesai meeting diluar dan sekarang sedang makan siang bersama sama, tanpa ada yang memulai pembicaraan sama sekali, ponsel Bian tiba tiba berbunyi dan mengagetkan mereka berdua yang sedang fokus makan.


"Hallo pih, kenapa"


"Bi kamu gak inget kalau hari ini mamih kamu ulang tau, kamu gak akan kasih kejutan gitu sama mamih kamu "


"Ya ampun pih maafin Abi, Abi lupa beneran Abi gak inget sama sekali, "


"Kamu mah sana ulang tahun mamih mu sendiri gak inget, udah sana siapin pokoknya papih mau malem ini jam 12 teng harus ada tempat perayaan untuk mamih ya, papih disini akan merayu mamih untu datang nanti "


"Iya iya pih iya, papih tenang aja Bian akan menyiapkan semuanya "


Sambungan pun mati "Nara apakah kau mau membatuku "


"Membantu apa, apa yang bisa aku bantu pak "


"Begini mamih sekarang ulang taun, sebenarnya nanti jam 12 malem sih masih ada waktu apa kamu bisa membantuku "


"Tentu kalau untuk mamih aku pasti akan membantunya, jadi tempatnya akan dimana, maksud ku acaranya akan diselenggarakan dimana "


"Entahlah aku juga gak tau mau dimana, aku sampai lupa kalau hari ini adalah ulang tau mamih "


"Masa sih ulang taun mamih sendiri gak tau dasar anak durhaka "


"Heyyy kamu ini ya kalau bicara suka bener "


"Terus dimana dong acaranya, kalau misalnya diatap kantor gimana, kan ada lahan kosong tu kenapa kita gak gunain aja, terus nanti kita bilang sama mamih, kalau ada acara di kantor gimana mau gak "


"Boleh boleh tu bagus ide kamu, ayo sekarang kita lets go cari pernah perniknya untuk mamih "


"Jum tapi bapak telfon dulu asisten Jon untuk menyuruh orang lain membereskan tempat diatas biar nanti kita langsung mendekor, atau tidak suruh orang orang bapak saya untuk mendekor dan kita mencari kebutuhannya, biar cepat saja, karena kalau dikerjakan berdua akan lama pak "


"Iya iya aku setuju apapun yang kau katakan, akan aku telfon dulu Jo"


"Hallo Jon, kau bereskan atap kantor ya, kan itu kosong kau bereskan semuanya sapu sapu, pokoknya bersihkan semuanya jangan ada yang terlewatkan ya, atau tidak suruh orang lain, aku akan mengadakan ulang tahun mamih ya "


"Wahh ada pesta nih, siap siap bos saya akan menyuruh orang beres beres pokoknya bos datang beres, lalu apa lagi bos "


"Siapkan saja orang orang yang bisa mendekor ya, aku sekarang bersama Inara akan mencari perintilan perintilannya ya "


"Siap bos laksanakan "


"Gimana udah pak "


"Sudah Inara ayo kita pergi kesana, eh kemana dulu kita sekarang "


"Beli bungga dulu aja pak, nanti minta langsung dikirim kekantor, tapi sama pernak pernik lainnya pula kaya balon dan yang lain lainnya "


"Boleh ayo lets go kesana "


***


"Kau kata siapa Cio Inara tak pulang, kau tau dari siapa "


"Ya aku menyimpulkan begitu, karena ya saat aku menjemput adik mu, dia tak ada dirumah, aku pagi pagi lo kesana, tapi gak ada malah waktu aku telfon yang angkat itu Bian, mereka sama sama lagi "


"Terus kenapa kamu diem aja, bukannya kamu mau jagain adik saya, tapi akhirnya kenapa kaya gini "


"Iya aku kira Inara udah pulang kerjanya, ternyata malah pulang sama Abian dan tinggal bareng pula sama Abian, kamu harus tegas dong sama adik kamu, jangan di diemin aja kenapa sih kamu ini "


"Ya nanti aku akan bilang sama dia dan berbicara baik baik dengan dia, kau awasi saja adiku "


"Iya aku sedang mengawasi adik mu, dia sedang pergi bersama Abian mereka berdua sedang ada di toko bungga, apa mereka merencanakan menikah "


"Tidak, kau temui mereka sekarang juga Cio "


"Baiklah baiklah "


Cio segera turun dari mobil dan masuk kedalam toko bunga yang ada Inara dan juga Bian.


"Bunga yang mana Nara, apakah bunga lili bagus "


"Ya tentu bagus, beli saja bunga lili, yang banyak ya pak"


"Apa boleh aku borong bungannya Inara "


"Tentu boleh borong saja pak "

__ADS_1


Inara sedang sibuk mengambil bunga bunga lili dan untung saja di sebelahnya ada balon dan pernak pernik ulang taun yang lainnya.


Jadi itu memudahkan Inara untuk membeli semuanya sekarang. Inara yang ingin mengambil hiasan paling atas segera mencari bangku dan naik untuk mengambilnya.


Dan entah kenapa tiba tiba saja kursi itu goyang dan membuat Inara terjatuh dan hap ada yang menangkapnya.


Inara yang memejamkan kedua matanya tak berani membukanya dan" Ara bukalah kedua matamu, kau tak jatuh aku menangkapmu "


Inara dengan cepat membuka kedua bola matanya "Cio kau ada disini kenapa tiba tiba ada disini "


"Ya aku disini untuk menyelamatkan mu, kenapa kau begitu kaget Ara"


"Turunkan Inara sekarang Cio " perintah Bian yang langsung menarik Inara agar segera turun.


Bian menarik tangan Inara dan menyuruh Inara untuk dibelakangnya saja "ada apa denganmu Bian, kenapa kau menarik Ara dari ku, aku baik menolongnya dia akan jatuh "


"Ya aku tau, tapi kau tak menurunkannya ada apa kau kesini"


"Ini adalah tempat umum, lalu kenapa aku tak boleh kemari, aku kesini ingin membeli bunga untuk pujaan hatiku, jadi apa masalahmu kenapa kau marah seperti itu "


"Ayo Nara sekarang kita pergi, nanti bunga dan yang lainnya akan diambil oleh anak buah ku, "


Bian dengan cepat segera menarik Inara keluar dari tempat itu dan pergi melajukan kembali mobilnya entah kemana.


***


"Yah ibu sangat ingin membeli pizza ayo kita pergi yah " ucap ibunya Adam


"Uang dari mana bu, dari mana ayah belum mendapatkan pekerjaan, yang sekarang harus kita kita fikirkan adalah membeli beras, jangan aneh aneh deh bu "


"Tuhkan ayah, kemarin aja gak ngebolehin ibu minta hak kita dari Inara, sekarang kita ga punya uangkan, gak punya sepeser pun lalu sekarang kita harus bagaimana "


"Sabar bu sabar, ayah akan mencari uang dulu, ibu diam dirumah ya jangan kemana mana, jangan gegabah seperti kemarin, ayah gak mau itu sampai terjadi lagi, kita boleh miskin tapi tidak untuk mengemis mengemis seperti kemarin kepada Inara itu gak baik bu "


"Kalau gak gitu kapan kita punya uang, ibu gak mau miskin, kalau ayah mau miskin, miskin aja sendiri jangan ajak ajak ibu, ibu gak sudi ya, ibu akan terus berusaha untuk mendapatkan uang dari Inara, uang anak kita Adam, pokoknya harus dapat, Inara harus membayar semuanya, membayar hidup kita dan juga membayar karena Adam dipenjara, ibu gak terima kalau Adam dipenjara gitu aja yah,"


"Bu itu kesalahan Adam sendiri. kita seharusnya jangan melakukan hal seperti itu pada Inara, itu Inara sudah hak Inara dari Adam karena dia istrinya, jadi berhak Adam memberikan uangnya, ayah tanya sama ibu. kalau ibu ada diposisi Inara dan dicinta lagi uang nafkah dari ayah, ibu mau tidak "


"Ya tidak lah masa iya uang nafkah diambil lagi "


"Nah itu ibu tau, lalu sekarang kenapa ibu memintanya pada Inara, ibu pun sama tak mau, lalu bagaimana dengan Inara dia pun sama tak mau, jadi ibu jangan mau menang sendiri kalau apa apa tuh. Fikirkan dulu apa yang akan ibu lakukan jangan gegabah yang bisa terlihat bahwa ibu bodoh "


"Ayah Akan membela orang yang benar meskipun itu orang lain, dan ayah akan selalu mengigatkan ibu jika ibu salah, ayah gak mau ibu terjerumus kembali, ibu sudah tua harusnya lebih mengerti dan memahami semuanya, bukannya malah menjadi jadi seperti ini, sadar bu sadar hidup hanya sementara perbanyaklah beramal dan sholat "


"Ayah egois ibu gak suka pokoknya ibu akan lakukan apa yang ibu anggap benar, ayah jangan ikut campur atau pun melarang ibu, ibu akan melakukan apa pun demi harta "


"Gimana ibu saja lah, ayah rasanya sia sia memberikan ibu nasihat, jika ibu tak betah dengan ayah silahkan pergi dan cari kebahagian ibu sendiri, maaf bila ayah tak bisa mengikuti apa yang ibu mau, ayah ingin hidup tenang jadi ibu jangan bawa bawa ayah lagi "


"Baiklah jika itu yang ayah mau, lihat saja saat ibu sudah mendapatkan uangnya ibu akan pergi meninggalkan ayah sendirian membusuk disini bersama kemiskinan, ibu tak akan menegok kebelakang dan menolong ayah "


**


Malam sudah tiba dan Bian serta Inara masih berkeliling mencari lampu pernak pernik yang cantik namun tak ada.


"Pak itu ditaman banyak lampu bagaimana kalau kita pinjam saja lampu lampu itu, kan banyak banget tu pak, nanti kita balikin lagi "


"Hah kita mencuri gitu, masa sih nyuri Nara "


"Engga kita gak nyuri pak tapi minjem dulu sebentar besok kita kembalikan lagi ketaman, dari tadi sudah berkeliling tapi gak ada kan pak lampu lampunya, dari pada kita keliling keliling lagi mending yang ini aja yang ada pak. Ayolah sekali kali aja kita lakuin ini kan gak setiap hari pak "


"Yaudah ayo kita kesana Nara, mumpung lagi sepini, ayo ayo cepat Nara "


Bian yang tak punya lagi solusi akhirnya menuruti perkataan Inara yang menurutnya cukup gila tapi tak masalah lah, dari pada gak ada sama sekali kan .


Bian segera mencopoti satu persatu lampunya dan memberikannya pada Inara bahkan tubuh Bian pun sama sudah penuh dengan lampu.


"Ayo Nara segini sudah cukup kan "


"Belum pak belum cukup ayo cepat cari lagi pak yang banyak. ayo pak semangat "


"Nara tapo ini sudah banyak sekali. kita butuh berapa lagi "


"2 pohon lagi pak. Ayo pak jangan mengeluh "


Tiba tiba,"siapa disana"


"Tuh ada orang Nara ayo, "

__ADS_1


Mereka berdua langsung masuk kedalam mobil dan melajukannya dengan cepat.


Inara yang merasakan kakinya sakit segera melepaskan hilsnya ternyata kakinya lecet, Bian yang melihatnya segera mengambil sapu tangannya dan memberikannya pada Inara.


"Untuk apa pak ini "


"Ini untuk mengobati kaki mu, bersihkanlah dahulu kakimu "


Inara segera mengambilnya dan melakukan apa yang diperintahkan Bian padannya.


**


"Bade kamana atuh pih ges peuting ieu teh (mau kemana pih ini udah malem )"


"Ayo mamih ikut aja, pake pakain terbaik mamih dan kita akan pergi kesana, ayolah mih. cepetan bersiap ya "


"Gak ah udah malem mamih mah mau tidur aja udah gantuk pih "


"Ya ampun mih nanti lagi aja tidurnya. Kan tidur mah bisa kapan aja atuh mih, jangan sekarang tidurnya "


"Ih s papih mamih tuh ngantuknya sekarang bukan nanti kenapa sih maksa banget "


"Disana ada Inara sama Abian juga loh mih. Apa mamih mau lewati itu, mau gitu mamih teh ngecewain Inara sama Abi "


"Kenapa atuh gak bilang dari tadi papih tuh, kalau tau ada Nara mamih semangat banget ke antosan Sakedapnya (nanti tungguin sebentar ya )"


Mamihnya Bian langsung gercep masuk kekamar untuk segera besiap siapa, tanpa menghiraukan kembali suaminya yang hanya bisa mengeleng gelengkan kepalanya, sebegitu pentingnya Inara dalam hidup sang istri.


**


Bian dan juga Inara sudah sampai ditempat dan langsung memberikan lampunya kepada Jon dan kuenya pula tak lupa.


"Bagus ni lampunya menang dari mana bos " tanya Jon


"nyolong itu, "


"Hah seorang bos besar nyolong, beneran kni nyolong Nara "


"Engga kok, itu kita minjem ditaman udah cepet pasang aja Jon jangan banyak tanya terus nantu nyalain ya, aku pengen liat semuanya, ini untuk dekatnya udah bagus dan aku suka, sekarang coba ditambah lampu ya "


"Ya sama aja nyolong yaudah sekarang aku pasang dulu ya "


Jon segera pergi memasang semuanya dibantu dengan yang lain, sedangkan Bian pergi ketempat minuman dan mengambil dua serta beberapa cemilan untuk Inara.


"Makan dulu, kita tak sempat makan kan tadi "


"Hem Iya makasih "


Bian tiba tiba mendapatkan pesan dari papihnya, dengan cepat dirinya membuka pesan itu.


Papih.


Papih sudah ada dibawah, siapkan semuanya papih sudah menutup kedua mata mamih mu jadi tak bisa melihat, siap siap ya semuanya, kerjakan dengan rapih.


"Semuanya ayo siap siap mamih sudah ada disini ayo siap siap semuanya, matikan dulu semua lampunya, "


Bian segera menarik Inara dan diam di pojokan bersama yang lainnya, Bian yang tak mau berdesak desakan, menarik Inara ketempat lain dan memegang pinggang Inara dengan posesif.


Mamihnya Bian dan juga papihnya sudah masuk "mau kemana ini teh papih, kenapa ditutup segera mata Mamih"


"Sebentar lagi nih, sini ayah buka ya penutup matanya "


Jon yang sudah siap langsung menyalakan lampunya, dan saat penutup itu dibuka lampu lampu pun menyala dengan cantiknya


"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun selamat ulang tahun mamih selamat ulang tahun " teriak mereka serentak, Bian maju dengan masih mengandeng Inara.


"Wah ini kejutan untuk mamih, mamih suka sekali, terimakasih semuanya "


"Iya dong mih ini dari kita semua, sekarang kita tiup lilin ya mih " Bian menyalakan lilinya dan langsung terjadilah perayaan ulang tahun untuk meminta Bian bahkan terjadi dengan lancar tanpa hambatan sedikit pun.


"Sekarang potong kue, mamih mau kasih kesiapa dulu "tanya Jon.


"Mamih mau kasih ke papih, makan pih, yang kedua Inara dan yang ketiga buat anak mamih tersayang "


"Mamih Kok Bian terakhir sih " sambil cemberut "


"Udah ah jangan berisik ini ulang taun mamih "

__ADS_1


Karyawan yang lain malah tertawa melihat ibu dan anak yang bertengkar.


__ADS_2