Berbagi Suami

Berbagi Suami
Kecurigaan


__ADS_3

Sekarang mereka semua sekarang sedang ada dipemakaman, Livia menangis dengan histeris di tenangkan oleh Cio.


Sedangkan Abian dengan setia disisi sang kekasih yang ikut menangis, "sudah jangan menangis sayang "


"Iya Bi aku sedih sekali melihat ayah Livia tak ada, aku seperti ada di posisinya"


"Shuttt tenang ya sayangg "


"Ayah kenapa kau meninggalkan ku, kenapa kau tak bisa hidup lebih lama lagi, kenapa bisa begitu padahal aku belum menikah, seharusnya ayah ada dihari spesial ku, seharusnya ayah ada disana "


"Tenang tenang lah " minta Cio sambil menepuk nepukan bahu Livia.


"Ayah aku tak akan melupakan mu, sampai kapan pun aku tak akan melupakan mu, tenang tenang ya disana, aku pun disini akan tenang "


Livia bangkit dan bola matanya langsung bertabrakan dengan Inara, namun Livia langsung memutar bola matanya dan melihat kearah lain.


"Ayo Nara kita pulang "


Inara hanya mengangguk dan mengikuti Abian untuk segera masuk kedalam mobil, karena memang sudah, Abian sudah tak mau lama lama melihatkan dirinya dengan Livia kembali.


**


Inara yang melihat pacarnya tertidur di kursi segera menghampirinya dan sebelum itu menyimpan makanan yang sudah dirinya sediakan.


Menatap dengan seksama, lalu terfikir sesuatu Inara mengeluarkan ponselnya dan memfoto Abian dari kanan dari kiri dari depan dari belakang, pokoknya semua arah.


Inara membuka tangan Abian dan mengalihkannua kearah lain, lalu lebih dekat akan memfotonya, namun karena Abian yang berbalik membuat Inara oleh dan mencium bibir Abian.


Cekrek , Abian yang kaget membuka bola matanya dan Inara langsung terduduk dibawah.


"Sayang apakah kau baik bak saja "


"Ya ya aku baik baik saja Bi, maaf aku tadi tak sengaja tadinya aku ingin menyelimutimu tapi malah menciumu maafkan aku "


"Tidak apa, aku tidak masalah sayang "


Inara segera bangkit dan memberikan makanannya "ini aku sudah memasakan makanan untuk mu, aku akan kekamar "


"Apakah kau tak akan makan "


"Em tidak aku kekamar "


Inara yang sudah masuk kedalam kamar mengusap dadanya dan melihat foto dirinya yang mencium Abian.


"Ist kau sungguh memalukan kenapa bisa seperti ini, dasar bodoh Nara bodoh, aku harus bagaimana sekarang apa yang harus aku lakukan. "


**

__ADS_1


Livia yang sedang menonton tv merasa senang, akhirnya tak ada lagi yang memarihinya tak ada lagi yang melarangnya itu ini, hidupnya tenang setenang dilaut.


"Bi San ambilin minum, bi San " teriak Livia yang tak kunjung datangnya bi San.


"Iya non " dengan langkah cepatnya "


"Ambilkan aku minum, aku dari tadi berteriak teriak memanggilmu tapi tak kunjung datang "


"Maaf saya tadi sedang cuci piring "


"Ya sudah tunggu apa lagi ambil minum dan oh ya beberapa cemilan lagi "


Bi San hanya mengangguk pergi meninggalkan Livia, mengambil apa yang Livia mau, dan tak lama kemudian bi San datang membawa semua apa yang Livia mau


"Apa ada lagi non "


"Gak ada nanti kalau ada saya panggil lagi "


Tiba tiba saja ada yang duduk disebelah Livia, dengan refleks Livia menatapnya.


"Cio "


"Sepertinya kau sangat menikmati ya ayahmu tiada sudah bisa makan dan nonton film "


"Tidak aku begini karena ingin menenangkan fikiranku serta sedikit melupakan ayah, apa aku slaah bila makan "


"Tidak aku tidak tersinggung sedikit pun "


"Livi kau tau aku merasa ayahmu tidak ditusuk oleh bi San, kareena kau tau bi San tidak akan mungkin melakukan itu, bi San itu sangat lembut bagaimana bisa membunuh orang aneh kan, apakah kau melihatnya sampai kau menuduhnya "


"Terus maksud mu siapa yang membunuh ayahku, apa aku ? masa iya aku, aku ini anaknya tak mungkin aku membunuh ayahku sendiri "


"Aku tak mengatakan itu ya, aku tak menganggapmu yang membunuh ayahmu, tapi kau sendiri yang berbicara "


"Ya aku tau aku yang berbicara tapi kau speerti sedang membuktikan bahwa akulah pembunuhnya, aku s pelaku sebenarnya "


"Tidak juga, aku tadinya ingin meminta pendapat dari mu, tapi jawaban mu diluar apa yang aku duga ya, tenang tenang kau tak usah tegang Livi, aku tau kau anak baik mana mungkin membunuh ayahmu begitu saja tenang tenang "


"Aku dari tadi tenang tak tegang ada apa sebenarnya dengan mu ini Cio "


"Tidak ada santai santai, rileks oke "


Cio mengambil cemilan yang ada dipangkuan Livia, memakannya sambil sesekali tersenyum melihat respon Livia yang seperti itu, berarti benarkan dugaannya kalau Bi San tidak membunuh ayahnya Livia.


Dari awal dirinya sudah curiga karena memang tidak akan mungkin bi San membunuh majikannya sendiri, majikan yanh baik padannya itu sangat mustahil sekali.


**

__ADS_1


Inara yang terbangun malah melihat Abian yang ada disampingnya sedang tertidur "sejak kapan Abi kemari, aku kenapa bisa sampai ketiduran ya perasaan tadi lagi ngelamun deh "


Inara yang ingin menatap wajah Abian merubah tidurnya dan menghadap Abian, sesekali memegang wajah Abian mengusapnya dan meraba rabanya.


Namun saat akan menyentuh bibirnya tangannya ditangkap "Bian apakah kau tak tidur "


"Tidak aku tidak tidur karena tatapan mu yang sangat tajam mampu membuatku bangun dari tidur lelapku dan juga tangan nakal mu itu "


"Masa sih aku liatin kamu biasa kok gak aneh aneh, basa seperti yang lain "


"Iya tetep aja natepnya tajam banget setajam silet "


"Kamu ini suka aneh aneh aja ah, emangnya didalam mata aku ada siletnya apa gak ada tau "


Bian segera menindih Inara, "aw aw rambutku sakit, ini Bi rambutku terjepit "


"Rambut mu ini selalu saja membuat rusuh, ayo berdiri sebentar, ayo ayo"


"Mau apa Abian aku sudah nyaman seperti ini aku tidak mau bangun "


"Sebentar saja syaang, ayo cepat sebentar tak akan lama, aku janji "


Dengan malas malasan Inara bangkit dan membelangi Abian. Seperti apa yang diperintahkan Abian untuk membelakanginya.


"Apa yang akan kau lakukan Abi "


"Akan mengikat rambutmu sayang, agar kau tak menyerit jerit terus "


"Bisa kau melakukannya "


"Tidak tapi akan ku coba ya, doakan saja semoga aku bisa melakukannya "


Abian mengulung rambut Inara dengan asal, lalu memegangnya dengan erat "tolong aku, pegang dulu rambut mu ini Nara jangan sampai lepas "


"Baiklah aku akan memegangnya "


Abian sudah kembali lagi dan selesai sudah, rambut Inara sudah rapih


"Kau memakai apa ini Bi "


"Pakai sendok bagaimana apakah bagus, inovasi baru ini "


"Hah sendok, kenapa bisa sepeerti ini "


"Sudah sudah biar yang penting rambut mu tak terurai, ayo sini peluk kau tadi sudah kabur dan tak menemani aku makan "


"Hehe maaf aku lelah dan ingin istirahat "

__ADS_1


Inara masuk kedalam pelukam Abian, saling memberikan kasih sayang dan kehangatan.


__ADS_2