
Abian baru sampai di kantor dan Jonathan yang dari tadi mencari Abian sangat lega bosnya sudah kembali. Jonathan segera menghampirinya dan menatap bosnya yang kotor dengan tanah merah.
"Bos apa bos baik-baik saja tidak ada yang terjadi kan semuanya baik-baik saja kan tuan bos"
"Ya semuanya baik-baik saja Kapan Rani akan masuk lagi ke sini, kapan dia "
"Besok Rani akan masuk bos, pakaianmu sangat kotor apakah ingin aku membelikan yang baru, atau mengambilkan pakaiannga di apartemen "
"Baiklah, tidak usah kau tidak usah membelikan atau mengambil pakaian baru untukku, kau tolong kosongkan jadwalku hari ini jika ada meeting kau saja dulu yang pergi ke sana. Aku ingin menenangkan dulu pikiranku ya tolong aku"
"Baik bos tapi kalau ada apa-apa kau selalu hubungi aku ya, jangan diam seperti ini rasanya sangat berbeda bos yang selalu ceria tapi sekarang Bos selalu diam saja, aku khawatir bos "
Abian tak menjawab dia langsung pergi namun tiba-tiba ada yang merangkulnya ternyata itu adalah Cio sahabatnya.
"Udah jangan sedih yuk kita makan dulu aja, lu juga belum makan kan juga beresin pakaian lo yang kotor ini yuk "
"Gue gak mau makan gue mau di kantor aja gue mau di ruangan gue aja, gue pengen istirahat ya lu jangan ganggu gue dulu deh, gue beneran mau istirahat dulu"
"Beneran nih loh gak mau makan gue telepon Inara nih sekarang juga, udah ayo makan ah ngapain sih gak makan. Jangan sedih berlalu-larut kayak gitu ya, nanti kalau lo sakit Inara siapa yang jaga jangan ikut-ikutan sakit juga kali "
"Apaan sih lo ngancem ngancem mau telepon Inara janganlah. Dia lagi sakit jangan ganggu istirahat dia, lo jangan macem macem ah "
"Ya udah lo makan sama gue jangan kayak gini, gue juga sendiri dan gue juga coba iklasin ayah gue, yaudahlah gue iklasin aja karena dia gak akan mungkin kembali, udah jangan terus sedih, gue tahu lo lagi kehilangan anak lo dan gue juga tahu lo lagi sedih karena Inara di rumah sakit dan gak boleh ke sana terus sama Anna nanti gue bilang deh sama Ana buat gak terlalu bikin lo sulit kayak gini buat ketemu sama Inara .Yah nanti gue bilang sama Ana "
"Beneran loh mau bujuk Ana, biar gue bisa selalu datang kesana, lo gak bohong kan Cio, ini beneran gak bohong kan Cio"
" Iya gue janji gue akan bilang sama Ana agar dia gak terus-menerus kayak gitu, gue bakal bilang sama dia gue bakal negosiasi deh sama dia. Udahlah tenang aja yuk makan sekarang mah lapar "
"Ya udah beneran ya awas aja kalau bohong mau bilang sama Ana buat gue bisa ketemu terus sama Inara, gue gak bisa kalau kayak gini terus udah mah gue kehilangan anak sekarang gak boleh ketemu sama Inara kenapa sih hidup gue kayak gini amat"
"Gue aja gak punya siapa-siapa tapi gue happy-happy aja udahlah yuk makan sekarang kasian nih perut gue belum makan, belum di isi "
"Lo bukannya masih punya Nana ya asisten yang selalu ikut kemanapun lo pergi ayo ngaku lo, sekarang lo pasti punya hubungan sama dia kan, ngaku aja deh sama gue "
"Gak kok gue sama dia gak ada hubungan apa apa, biasa aja sebagai atasan sama bawahan dan gue juga gak mungkin lah sama dia, Nana itu anak alim nanti yang ada gimana kalau gue ngerusak dia lagi, ngeri nanti urusannya sama Ana, dia itu anak buahnya Ana jadi gue gak akan mungkin bisa deketin dia gue bisa-bisa mati kalau sampai nyakitin hatinya Nana"
"Baru tahu gue kalau itu anak buahnya Ana pantesan dari tampang-tampangnya tuh dari jutek-juteknya kayak Ana. Ternyata satu spesies ya "
"Iya satu spesies tapi agak gak terlalu menyeramkan sih ini versi agak baiknya, Ana itu serem banget dia cewek tapi tatapannya serem, terus perawakannya tuh macho gitu banyak ototnya kan di tangan perut pokoknya beda banget ya sama perempuan-perempuan yang lain l, meskipun wajahnya sama kayak Inara tapi dari postur tubuh tuh beda banget "
"Iya tapi kalau yang baru kenal pasti akan mengira itu Inara karena tubuh mereka tuh sama banget gak terlalu jauh, pokoknya sama hanya Ana sedikit berisi karena ada ototnya kan kalau Inara ya perempuan-perempuan biasa aja lah ya Pacar gue gak terlalu kayak gitu"
"Yah Inara masih normal untung aja Inara sifat dan sikapnya gak sama kayak Ana, kalau ada yang kayak Ana 2 udah deh hancur dunia ini kalau mereka sama hancur"
__ADS_1
"Iya dan untungnya beda kan "
"Gue pesan makanan dulu ya lo mau sama kayak gue atau mau pesan apa "
"Ya udah disamain aja kayak lo"
Setelah kepergian Cio Abian kembali melamun, melamunkan tentang hidupnya yang kenapa harus kehilangan Anaknya, kenapa Inara harus tertusuk kenapa dan kenapa yang ada dalam kepalanya.
Kalau dirinya tidak meninggalkan Inara sendirian di ruangannya pasti ini gak akan terjadi, kalau saja dia membawa Inara dan memaksanya pergi, kalau dia tidak pergi saat Inara tidak mau mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.
Livia tidak akan melakukan penusukan itu, Livia tidak akan datang dan Livia tidak akan berani melakukan apa-apa pada Inara.
"Heh kenapa jadi ngelamun nih udah jangan ngelamun , udah gue bawain pesananmu. Ayo kita makan sekarang "
"Yaudah yu makan sekarang yuk "
Abian hanya menatap makanan itu dan mengaduk ngaduknya saja, sedangkan Cio dia sudah sangat lahap memakan, makanannya, bahkan sebentar lagi makanan itu akan ada di perut Cio seutuhnya.
"Kenapa malah diaduk-aduk aja, ayo makan gue beli itu buat dimakan bukan diaduk-aduk aja, ayo cepetan nanti gue bakal ketemu Ana beneran gue gak bohong kok setelah kita makan ini gue ketemu sama Ana, udah cepat makan nanti gue bilang sama Ana kalau ditelepon itu gak enak lebih baik datengin aja orangnya"
"Iya ini gue makan kok sekarang"
Dengan terpaksa Bian segera memakannya. Sebenarnya dia tidak ingin makan tapi bagaimana lagi perutnya harus segera diisi dirinya masih kepikiran tentang semua hal yang terjadi padanya dari kemarin sampai sekarang.
Ana sudah sampai di tempat penjemputan Sean sudah ada di hadapannya namun saat dia melihat ke arah pinggir di sana ada Roger juga "kenapa kau ada di sini Roger"
"Aku menjemput anakku memangnya kenapa dan kau kenapa ada di sini"
"Aku menjemput Sean dia mau aku menjemputnya makanya aku ke sini dan kau kenapa ke sini pula"
"Sean yang menelponku dan untuk menjemputnya juga anak ini pasti lagi ngerjain kita nih"
Sean langsung menghampiri ayahnya dan juga Ana, dia tersenyum Ana segera mengacak ngacak rambut Sean.
"Kamu mulai nakal ya telepon Kakak dan telepon Ayah kamu buat jemput, masa kita jemput dua mobil terus kamu mau ikut sama siapa antara Kakak dan ayah kamu"
"Maaf aku pengen kayak dulu lagi Ayah sama kakak baik-baik aja, gak berantem berantem lagi , tapi sekarang makan dulu yuk kak Ayah kita makan dulu di tempat es krim langganan aku, yang ada di dekat sekolah ayo rasanya enak banget Kakak bisa kan sebentar aja, gak lama kok sambil aku pengen cerita sama kakak sama ayah juga"
"Ya udah deh ayo kita makan es krim dulu sebentar ya, soalnya Kakak kan harus tunggu kak Ara di rumah sakit dia masih belum bisa pulang dan belum pulih. Jadi kakak harus selalu ada di sampingnya gak apa-apa ya nanti juga kita kapan-kapan bisa ke sini lagi "
"Iya gak apa-apa kok Kak ayo kita ke sana Kak, ke toko es krimnya dekat kok ayo kita jalan"
Sean segera berjalan sambil memegang tangan Ana dan Roger mereka seperti keluarga kecil, tapi sebenarnya tidak orang yang melihatnya pasti akan menganggapnya memang mereka adalah sebuah keluarga.
__ADS_1
Mereka sudah sampai di sana mereka langsung duduk dan Roger yang memesankan es krim untuk mereka.
"Kau bertemu dengan om Sandi di sana"
"Iya Kakak aku bertemu dengan om Sandi, dia membawa banyak orang tapi badannya pada besar ya dan aku memberitahu dia kalau semalam ada yang datang ke perkemahanku wajahnya mirip sekali dengan Kak Livia yang sedang Kakak cari, mamun wajahnya agak sedikit hitam tapi aku yakin kok itu Kak Livia l, dari gestur tubuhnya dari suaranya bahkan dari gerak-geriknya aku tahu, dia kan pernah datang ke rumah kakak dan Kakak juga pernah memperlihatkan fotonya dan video-videonya dia itu kan padaku, makanya aku tahu meskipun aku hanya melihatnya beberapa kali sih ya kak ya"
"Iya kakak tahu kamu hebat bisa mengenal orang dengan cepat seperti itu"
"Iya Kak tapi bu guru gak percaya kalau itu buronan yang lagi dicari katanya bukan beda, jadi aku cuman liatin aja buat mastiin tapi aku yakin kok itu kak Livia yang lagi kakak cari yang lagi polisi cari juga, dari pada aku malah dimarahin sama guru ya udah deh aku diem aja dan saat aku mau bilang sama Kakak atau Ayah ponsel aku di dalam bis dikumpulin gitu, jadi kita yak boleh pegang pohon ponsel deh "
"Ya udah gak apa-apa yang penting kamu udah bilang kan sama om Sandi nanti juga om Sandi bakal cari dia kok sampai ketemu. Gimana di sana kemahnya seru gak "
"Seru banget kak pokoknya seru deh kapan-kapan kita berkemah ya setelah kak Ara sembuh kita berkemah di pantai. Kayaknya enak deh kalau di hutan itu sedikit takut, aku saja kemarin agak takut kak dan kak Livia itu mengancam aku juga kalau aku katanya berbicara pada kakak maka dia akan datang terus ke rumahku dan ya seperti itulah ancamannya, tapi aku tidak takut aku pasti akan berbicara pada kakak apapun yang aku tahu aku akan berbicara pada kakak"
"Bagus kamu harus selalu berbicara apapun yang terjadi padamu, boleh kapan-kapan kita camping nanti kita sama-sama ya pergi ke sana kita camping sama-sama"
"Hore akhirnya kita bakal camping waktu di sana aku tuh cuma nyanyi-nyanyi, terus api unggun, cerita-cerita hantu itu aja sih kak, setelah itu tidur katanya ada jurit malam tapi gak jadi katanya kita terlalu kecil dan nanti takut hilang jadi kita tidur aja, ap unggunnya agak malam ya kak sampai-sampai aku ngantuk"
"Seperti itu dulu aja kakak berkemah kayak gitu di sana tuh bangun tenda, terus kita masak sendiri, bekal mie, bekal telur kompor bahkan gas kita bawa ke sana, pokoknya seru deh nanti juga setelah kamu dewasa pasti kamu akan ingat itu betapa serunya dan ya ampun seru banget pokoknya Kakak juga dulu bahagia banget kalau berkemah,karena kita bisa berkumpul dengan teman kita berbincang-bincang melakukan permainan memasak bareng main games pokoknya seru"
"Iya bener kak tadinya kita sih gak akan pulang hari ini tapi karena banyak polisi dan juga ada anak buah Kakak yang datang ke sana, malah banyak banget makanya kita disuruh pulang sama pak polisi takutnya buronannya memang ada di situ, jadi ya udah gak jadi main permainan katanya tadinya mau ada permainan tarik tambang, terus banyak lagi deh tapi gak jadi gara-gara itu kakak"
"Ya udah gak apa-apa yang terpenting kan udah seneng-senang ya kan, lebih baik begitu saja dari pada terjadi apa-apa kan kita tidak akan tahu kedepannya seperti apa nanti. Kalau misalnya Livia datang dia menerkam salah satu teman kamu takutkan jadi lebih baik pulang saja seperti apa yang dikatakan oleh pak polisi"
"Iya Kak bener"
"Lagi bicarain apa sih kok seneng banget kayaknya seru gitu bicaranya kok Ayah gak diajak-ajak sih"
"Enggak ini pembicaraan Sean sama kakak ini rahasia. Tadinya aku mau bicara sama Ayah tapi gak jadi aku bicara aja sama kakak langsung karena Kakak pun jemput aku jadi aku gaak usah bilang sama ayah"
"Sudah main rahasia-rahasiaan ya sekarang sama ayah oke"
"Ayah jangan marah nanti aku akan memberitahunya tapi nanti ya sekarang aku mau makan es krim dulu"
Sean segera memakan es krimnya dengan lahap sedangkan Ana hanya mencicipinya saja dan fokus ke arah ponselnya, mengecek apakah anak buahnya ada yang memberikan pesan atau ada telepon yang tidak terangkat.
Tapi tidak ada lalu Ana kembali memakan es krimnya, sampai dia tidak sadar kalau eskrimnya belepotan ke arah samping bibirnya, tiba-tiba saja ada yang mengusapnya Ana langsung mendoakan wajahnya ternyata Roger.
"Maaf tadi belepotan makanya tadi aku mengelapnya tak ada hal yang lain beneran karena belepotan saja"
Ana hanya mengangguk saja dan kembali melihat ke arah ponselnya sedangkan Roger dia masih saja menatap Ana, sulit ya mendapatkan hati seorang perempuan yang punya segalanya dan tak butuh untuk dilindungi seorang laki-laki.
Sulit sekali dia saja bisa melindungi dirinya sendiri untuk apa kan dia mempunyai pacar yang bisa melindunginya, sepertinya dirinya harus lebih ekstra lagi mengambil hati Ana dengan cara Anaknya.
__ADS_1
Ya anaknya karena anak akan luluh begigu saja dengan anaknya Sean.Sepertinya dia harus memutar otak sekarang.