Berbagi Suami

Berbagi Suami
Kalau nikah hancur muka ku


__ADS_3

Sedangkan Adam sekarang mengumpulkan semua karyawan Livia, dia berdiri di podium dengan angkuh dan menatap bawahannya dengan senyum meremehkan.


"Karena sekarang Livia adalah seorang buronan maka aku yang akan menggantikannya menjadi atasan di sini. Jadi kalian semua harus patuh padaku dan tak ada yang boleh membantahku sama sekali. Jika ada apa-apa laporkan padaku jangan diam saja dan gegabah melakukan sesuatu "


"Karena sekarang kantor ini milikku Livia sudah memberikannya padaku. Jadi kalian jangan bertanya-tanya lagi. Apakah kalian semua mengerti dengan apa yang aku katakan"


"Mengerti pak "


Namun tiba tiba ada yang mengacungkan tangan "ya kau akan berbicara apa silahkan kau bertanya, aku akan membiarkan kan mu bertanya "


"Kenapa kantor ini bisa menjadi milik Pak Adam bukannya pak Adam hanya asistennya saja. Apakah Pak Adam selama ini menikah dengan Bu Livia makanya Pak Adam yang memegang semua perusahaan dan juga saham-saham di perusahaan ini ataukah sebenarnya pak Adam dan ibu Livia adalah saudara"


Lalu Adam tersenyum. pertanyaan yang membuatnya makin untung saja ini " pertanyaan yang sangat bagus. Iya sebenarnya aku dan Livia sudah menikah tapi kami menikah secara diam-diam makanya tak ada yang mengetahui pernikahan kami dan kenapa Livia sampai memberikannya ya karena aku suaminya, sudah kau hanya ingin menanyakan itu saja kan, jadi aku sama sekali tidak mencurinya ini punya istriku jadi aku berhak mengelolanya karena dia sedang tidak ada di sini"


"Sudah pak jelas "


"Baiklah kalain segeralah bekerja kembali ya "


"Baik pak "


Mereka semua segera bubar dan Adam pula langsung masuk kerungannya dengan senang, kenapa tak dari awal sajaa dirinya mempunyai ide itu, kan lebih enak kan dirinya tak akan dituduh tuduh, tapi sudahlah kan dirinya juga sudah melaksanakan apa yang keluar dari kepalanya.


**


"Nana "


"Yah pak Cio, apakah kau akan memberitahuku tentang obat itu"


"Tentu saja tidak ayo ikut aku "


"Kemana pak, saya tidak mau ikut bapak lagi nanti bapak malah melecehkan saya lagi, bapak mau saya patahin tulangnya "


"Gak akan semua itu gak akan pernah terjadi udah ikut saya ke rumah sakit, kita ketemu sama Bian sama Inara. Tenang saja saya gak akan mungkin lakuin itu lagi sama kamu , saya gak suka bibir kamu hambar "


"Oh yah, masa sih emang bibir ada rasannya, emang biasannya bapak kalau ciuman sama perempuan lain rasanya apa "


"Rasa strawberry alpukat rasa pisang banyak lagi udah cepetan siap-siap kita pergi sekarang kamu gak usah banyak tanya"


"Hemm iya"


Nana langsung mengambil tasnya sambil memikirkan apa kata-kata bosnya itu, emang ada ya bibir rasa strawberry alpukat rasa pisang terus rasa coklat ada gak ya, nanti deh coba tanya aja sama pak Cio siapa tahu ada kan, enak kali ya kalau ada bibir rasa coklat diemutin terus..


"Nana "


"Iya sebentar cerewet banget sih "


Nana langsung berlari dan masuk kedalam mobil, "pak sara coklat ada gak, ada gak sih orang yang bibirnya rasa coklat"


Cio langsung menepuk jidat Nana "kayaknya kamu jangan polos polos banget deh Na "


"Apaan sih pak aku gak polos ya, aku sama sekali gak polos enak aja kalau bicara itu yah, udah pak jalan jangan diem aja kayak gini ah "


Cio langsung menjalankan mobilnya dan menghiraukan pertanyaan dari asistenya itu.


**

__ADS_1


"Sayangg "


"Iya Abi "


"Lihat deh " Abian memberikan figurannya pada Inara.


"Kamu beneran kasih figura gambar aku "


"Iya dong aku kan udah janji sama sayang"


"Bagus banget Bi aku suka, "


Inara terus saja menatap foto itu bahkan Inara langsung memeluknya dengan erat dan menatap Abian lagi.


"Kamu gak mau peluk dia Bi "


"Mau, sekalian aja pelu kamu ah "


Abian langsung memeluk Inara dan juga foto anak kecil itu, nak kau selalu mendatangi ibumu, namun kenapa kau tak pernah mendatangi ayah mu, tapi sekarang ayah sudah tau kalau wajah mu begitu mirip dengan ku, aku tau kau adalah anak pertamu ku, anak laki laki ku.


"Inget ini dirumah sakit loh bukan di rumah inget inget "


Abian langsung melepaskan pelukannya dan menatap Cio dan sang asisten.


"Kenapa lo cemburu ya, makannya punya pacar "


"Pacar gue banyak gak usah cemburu sama lo "


Nana langsung saja maju dan memberikan buah buahan yang dia bawa pada Inara "ini nona untuk anda "


"Emmm baiklah "


"Nana kau diam disini temani Inara aku dan Abian akan berbicara dulu 4 mata "


"Baiklah pak "


Abian dan juga Cio segera keluar, sedangkan Nana langsung duduk dan menemani Inara.


"Bagaimana keadannya apakah sudah baik baik saja "


"Sudah mendingan Nana aku sudah baik baik saja tinggal memulihkan saja "


"Emm baiklah syukur ya, apakah aku boleh menanykan sesuatu "


"Tentu boleh, apa yang kau ingin tanyakan "


"Aku masih penasaran dengan kata-kata Pak Cio katanya bibir itu memiliki berbagai rasa, ada rasa alpukat pisang strawberry dan yang lainnya, terus aku bertanya padanya. Apakah ada rasa coklat dia malah menepuk jidatku kenapa sih aku bingung makanya aku ingin bertanya padamu. Soalnya kalau bertanya sama Pak Cio dia tak akan jawab dia malah kayak gitu main-main sama aku"


Inara langsung tersenyum dengan kepolosan yang Nana punya "kamu itu terlalu polos kamu mau aja sih dibohongin sama dia. Bibir itu gak ada rasanya kalau kamu pakai Lip Gloss rasa strawberry baru iya ada rasanya rasa strawberry, "


"Yah bener kan aku dibohongi sama Pak Cio, awas aja nanti kalau ketemu aku tonjok lagi dia gak pernah kapok tuh ya orang, aku kan padahal nanya bener-bener ya kan, tapi dia jawab malah kayak gitu seenaknya aja awas aja ya"


"Kamu tonjok Cio emangnya dia gak marah sampai kamu tonjok kayak gitu"


"Ya enggaklah enggak akan marah karena dia yang salah udahlah biarin aja kalau gak salah aku pun gak akan lakuin itu, dia tuh emang kadang-kadang nyebelin dan kadang-kadang orangnya itu gimana ya susah dijelasin deh pokoknya "

__ADS_1


"Awas nanti jatuh cinta loh, Cio kan lumayan ganteng ya, standar lah "


"Tuh kan bener aku juga bilang kayak gitu kalau dia itu standar tapi dia marah dan tenang aja Nara aku gak akan mungkin jatuh cinta sama dia laki-laki buaya, aku gak mau ah nanti aku malah dimainin lagi"


"Jangan gitu dong orang yang baik belum tentu dia bisa setia loh dan orang orang Playboy bisa berubah karena dia tuh udah capek udah main-main terus, bisa aja kan nanti ke depannya dia bakal setia malahan lebih setia dari orang baik, kita gak akan pernah tahu loh orang gimana, ya pokoknya mau laki laki itu baik, playboy yang terpenting dianya emang sayang dan emang mau berjuang sama kamu "


"Hemm iya iya bener banget, aku kok jadi pusing ya, jadi aku harus gimana ya, jadi aku harus cari pacar yang kayak gimana dong susah ya ternyata cari pacar, gak segampang mainin perasaannya"


"Gini aja deh kamu cari pacar yang emang sayang cinta dan emang hanya kamu aja yang dia suka, dan gak ada yang lain, terus hati kamu juga setuju dan kamu harus nyaman sama dia ya, jangan sampai kamu cari pacar yang suka ngekang ngatur ini itulah. Nah itu baru kamu gak akan pernah nyaman dan kemana-mana akan sulit"


"Iya bener juga, nantilah aku cari pacar "


"Kan udah ada Cio "


"Enggak aku gak mau sama pak Cio kata Nona Ana juga aku jangan sampai tergoda dengan bujuk rayunya dia, yang ada aku bisa dimainin sama dia aku masih ingat kok apa kata-kata dari nona Ana, jangan sampai aku bisa tergoda sama pak Cio. Nanti kalau aku sampai Iya sama Pak Cio Nona Ana bisa marah sama aku .Kamu tahu sendiri kan nona Ana gimana marahnya, jadi aku gak mau deh pancing-pancing kemarahan dia"


"Tapi kan kamu gak pernah tahu siapa jodoh kamu, bisa aja kalian berdua jodoh. Gimana kamu akan tetap pilih Cio atau dengerin Ana dan pergi gitu aja dari Cio"


"Aku kok makin pusing ya Nara jadi aku harus pilih siapa sebenernya, kalau emang aku jodoh sama pak Cio yang nyebelin itu, tapi aku beneran yakin kalau aku gak akan mungkin jodoh sama pak Cio "


Tiba tiba saja Nana melihat pigura yang ada gambar Inara, gambar anak kecil "wahh tampan ya, anak siapa ini Nara "


"Itu anak yang selalu muncul dalam mimpi aku, udah beberapa hari ini aku selalu mimpiin anak kecil itu dan aku juga gambar anak itu deh biar aku bisa kasih lihat sama Abian kalau wajah mereka itu sama"


"Hemm tapi agak beda loh "


"Iya karena gak mirip yang sekarang mirip waktu Abian masih kecil mukanya"


"Hemm gitu ya, bagus deh aku suka gambarnya "


Nana terus saja mengusap wajah anak kecil itu "kayak yang hidup ya gambarnya Nara "


Dan Inara hanya diam saja sambil tersenyum kecil , memang anak itu seperti hidup dan sangat tanpan juga.


**


"Kenapa Cio malah bawa kesini, kenapa bawa kekantin "


"Ayolah kali-kali lo ngopi di sini diem dulu aja ngobrol ngobrol sama gue, tenang aja ada Nana di sana dia bisa beladiri kayak Ana kalau ada apa-apa dia bisa kok lawan , gue aja ya hidung gue sampai ditonjok sama perempuan tuh"


"Hah kenapa lo lakuin apa sama tuh cewe "


"Yaelah gimanalah laki-laki lihat perempuan basah terus pakaiannya ngecetak badan ya gue gak khilaf gimana dong, gue cium bibirnya eh tiba-tiba ditampar, ditonjok pokoknya parah banget tuh anak"


"Bagus dong akhirnya ada juga tuh yang gak kegoda sama lo bagus juga tuh cewek"


"Ya tetep aja gue kesel ah "


"Lo gak ada niat tuh mau deketin"


" Ogah gue lebih baik cari perempuan lain dari pada harus dia emang dia perempuan baik lugu, tapi sekali nonjok hidung gue patah Bi, gue gak mau ah nanti kalau misalnya kita berumah tangga bisa-bisa gue habis sama dia gue selingkuh sedikit nyeleweng sedikit muka gue ancur kali ya gak berbentuk sama sekali"


"Lo lucu yah "


"Bukannya lucu bambang kasian gue nanti, muka gue bisa ancur , muka yang gue rawat busa ancur cuman gara gara perempuan itu, udah ah ngopi ngopi aja ngopi "

__ADS_1


Abian hanya mengelengkam kepalanya dan segera menyeruput kopinya.


__ADS_2