
Cio segera membuka pintunya, saat dia melihat kearah kursi Cio hanya tersenyum dan duduk dihapan orang itu.
"Ada perlu apa kau kerumahku Livia "
"Apakah aku tidak boleh berkunjung ke rumah temanku sendiri. Apakah aku harus izin dulu padamu Jika ingin main ke rumahmu. Dulu tak pernah ada larangan itu aku masuk keluar rumahmu kau tidak bertanya atau tidak mempermasalahkan itu . Lalu sekarang kamu bertanya ada perlu apa aku ke rumahmu "
"Aku sudah bilang aku tidak mau berteman denganmu lagi . Jadi kau sekarang tidak boleh keluar masuk rumahku . Aku sudah lelah berteman denganmu yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan apa kata-kataku "
"Begitu ya, semua berubah karena Inara ya. Dia sungguh perusak dan sudah merebut Abi dariku, lalu sekarang merusak persahabatan kita lalu bagaimana perjalanannya saat melihat pujaan hatimu terus menempel pada laki-laki lain bagaimana hatimu apakah baik-baik saja "ledek Livia
"Dia bukan perusak Livia, kau yang perusak. Tenang Aku tidak akan kebakaran jenggot sepertimu. Aku Bukan Dirimu yang gegabah dan aku bukan dirimu yang ceroboh. Jadi kau tak usah merisaukan aku, urus saja dirimu yang masih seperti ini kau tahu bahkan Abian sudah tahu tentang masa lalumu yang pernah tinggal Rumah Sakit Jiwa"
Wajah Livia langsung pucat lalu berdiri dan menerjang Cio " kau gila kenapa kau memberitahu Abi, kau sudah berjanji padaku kan tak akan memberitahu siapa siapa apalagi Abi "
Cio segera melepaskam cengkraman Livia, lalu membersihkan jasnya " Kau yang gila livia, karena kau sudah berani mau mencelakai Inara maka itu balasan ya. Aku sudah bilang kan kalau kau ingin mendapatkan Abian , jangan sentuh Inara tapi kenapa kau masih saja ingin mencelakai Ara, kalau saja waktu itu Inara tak berteriak dan kami telat menyelatkannya, aku tak segan segan membunuh mu "
Livia yang sudah terpojok akhirnya pergi dari rumah Cio sudah cukup semua ini, dirinya harus segera menyusun rencaannya, membuat drama dan lainnya supaya Abian bisa berada disampingnya.
**
Sekarang Inara dan yang lainnya sudah bekerja seperti biasa. Sekarang Bian sedang melamun memikirkan bagaimana cara untuk mengungkapkan perasaannya pada Inara tapi tidak ditolak lagi.
Biasanya orang mengambil satu daun"ungkapkan tidak yah. Tapi kalau diungkapkan bagaimana kalau aku ditolak lagi. Perjanjian kemarin saja belum Inara tandatangani, kalau saja bisa mungkin aku bisa membual atau berkata bahwa dia yang memintanya gitu karena dia mabuk"
Kembali Abian memetik satu daun"jangan diungkapkan. Tapi kalau tidak diungkapkan nanti malah diambil Cio lagi dia kan lagi deketin Inara "
Untuk ketiga kalinya Abian memetik kembali daun itu" ungkapkan. Tapi aku masih ragu apakah dia sudah mencintaiku, dengan tingkahnya yang selalu ya kelihatannya cemburu sih tapi kan belum tentu juga dia cemburu, kenapa sih susah sekali menebak hati perempuan"
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu "masuk " Inara segera masuk dan melihat bosnya yang sedang memetik daun kembali.
"Ayo cepat kan perlu apa aku sedang sibuk"
"Sibuk apa tuan, apakah kau sibuk memetik daun itu"
Bian segera mendongakan kepalannya ternyata itu Inara " ya aku sibuk, sibuk memetik daun ini ada perlu apa kau "
"Biasa aja kali tuan bicaranya, Saya cuman mau kasih berkas kok, ada yang mau ajak kerja sama jadi saya sudah periksa dan tuan tinggal setuju atau enggak, coba tuan cek lagi takutnya saya ada yang salah atau gimana gitu "
"Ya nanti akan saya baca dokumen ini, sekarang kamu keluar dari ruangan saya. Saya lagi sibuk , akan sibuk sampai kapan pun"
Inara segera membalikkan badannya dan menggerutu "sibuk kok ngitung daun sih "
"Apa katakan sekali lagi Inara "
"Tidak apa-apa cuman di sini kok banyak nyamuk ya, Ya udah saya permisi ya tuan "
Inara segera berlari dengan cepat, takut nanti malah dimarahi lagi bisa gawat kan kalau gitu.
**
Livia sekarang yang sedang ada di rumah Abian tepatnya di rumah orangtuanya. Maminya Bian hanya diam saja tak bertanya ataupun mengatakan apa-apa.
"Tante dimakan dong kuenya, Livia tadi beli di langganan Livia pasti enak deh "
"Gak ada angin nggak ada hujan kamu ngapain tiba-tiba datang ke rumah saya"
__ADS_1
"Saya mau minta maaf sama tante, saya dulu waktu kenalan sama tante udah gak sopan. Saya minta maaf banget tante Saya menyesal banget tante mau kan maafin saya"
"Yah tante akan maafkan kamu tapi kamu tolong jangan ganggu anak tante lagi ya. Abian dia udah mau nikah sama Inara Jadi kamu jangan ganggu anak tante lagi ya udah sampai sini aja kamu ganggu Abi "
"Jadi beneran ya rumor yang beredar kalau Abian dan Inara itu sepasang kekasih yang akan menikah tante"
Mamih Bian bingung padahal kan dia tadi cuman pura-pura aja agar perempuan ini tak mendekati anaknya. Jadi yang dikatakannya itu benar adanya pokoknya nanti harus ditelepon Abinya menanyakan kebenaran ini semoga saja benar.
"Ya iyalah bener mana mungkin Abian sama Inara settingan, mereka itu udah deket dari lama banget malahan udah beberapa tahun mereka dekat. Jadi gak sulit buat mereka menjalin sebuah hubungan. Dari pada kamu sakit hati nantinya lebih baik sekarang, bukannya tante melarangmu tapi kan Abian sudah mempunyai pasangan tidak baik mendekati seseorang yang sudah mempunyai pasangan kamu jangan jadi orang ketiga sakit loh"
" Iya tante Livia ngerti kok, Ya udah Livia mau pulang dulu ya tante, semoga tante suka sama kuenya"
" Iya hati-hati Livia di jalannya"
Livia bergegas pergi dan masuk ke dalam mobilnya , saat di dalam mobil dia mengacak-acak rambutnya dan memukul-mukul setirnya.
"Kenapa seperti ini seharusnya mamih Abian mendukungku untuk mendapatkan Abi, tapi kenapa dia juga mendukung Inara, apa yang harus aku lakukan supaya mamih Abian bisa mendukung aku, aku harus melakukan sesuatu, aku tak bisa diam saja seperti ini"
Livia segera pergi saat dirinya sudah sedikit tenang, dengan apa yang terjadi hari ini.
Mamih Abian yang memang sangat ingin menanyakan kebenaran ini sangat antusias, bahkan sekarang sedang mencoba menghubungi sang anak.
"Ada apa mih "
"Hallo Abi mamih ingin menanyakan sesuatu "
"Apa itu mih "
"Apakah kau benar menjalin hubungan dengan Inara "
"Tentang itu ya, nanti Abi akan jelaskan kalau waktunya sudah pas, dadah mamih Abi kerja dulu "
**
Inara yang akan pulang segera membawa kopi untuk Abian, ya kasian kan katanya akan lembur jadi beri saja kopi agar kuat, namun Saat Inara akan masuk keluar Jo.
"Mau kemana nih Nara "
"Mau keruangannya tuan Abian kenapa, aku mau memberikan ini "
"Dia sedang sibuk dan akan lembur "
"Ya aku tau, aku hanya ingin memberikannya ini, apakah kau bisa membantuku bila aku tak boleh masuk "
"Tentu "
"Berikan kopi ini pada tuan Abian, bilang padanya jangan terlalu lelah aku pulang "
"Siap Nara laksanakan "
Inara mengangguk dan segera pergi pulang sedangkan Jo masuk kembali.
"Ada apa lagi sih Jo "
"Ini ada titipan dari Inara, dia membuatkan bos kopi, katanya jangan terlalu lelah bekerjanya. Padahal bos hanya memetik dau saja "
__ADS_1
"Heyy berisik kau Jo, sudah aku masih sibuk dengan daun ku"
Jon segera keluar dan meninggalkan Abian sendirian. Bian mengambil kopi buatan Inara dan meminumnya,"manis seperti orang yang membuatnya "
Kembali Bian fokus memetik daun, tanpa menghiraukan pekerjaannya yang menumpuk.
***
Inara sekarang sudah pulang kerumah dan membuka kulkas, Inara mengambil satu susu dan meminumnya, namun saat melihat tiba tiba saja diluar hujan, Inara segera pergi lagi kekantor membawa dua payung sekaligus.
Abian yang akan pulang langsung lesu saat melihat hujan yang sangat deras sekali. "Yah memang seharusnya aku lembur, pasti akan seru kalau mempunyai pasangan dan akan dipayungi atau ya bersama sama satu payung berdua "
Tiba tiba saja terwujud ada yang memayungi dirinya "ini tuan untuk mu " ucap Inara sambil memberikan payungnya kepada Bian.
" Kenapa kau kembali lagi. Bukannya kau sudah pulang"
"Ya tadinya aku sudah pulang tapi melihat hujan yang sangat besar ini aku jadi teringat padamu tuan, ayo pulang "
Bian segera mengambil payung itu dan membukanya, lalu beriringan berjalan dengan Inara, namun ditengah-tengah perjalanan Bian menutup payungnya dan masuk ke dalam payung Inara, jadi mereka berdua.
"Sini biar aku yang pegang payungnya, agar terlihat romantis"
"Tiidak tuan biar aku saja, aku kan bawahan tuan mana mungkin seorang bos memayungi bawahannya"
"Kau tahu tadi menurutku jika satu payuny berdua itu akan lebih menyenangkan tapi kau menyebalkan"
Bian segera pergi tanpa mengunakan payung, dibuangnya payung yang Inara bawa.
"Tuan jas mu mahal, nanti kalau kehujanan sayang "
"Biarlah kau tak usah memikirkan ku, pualng saja sana, aku baik baik saja "
Bian pergi begitu saja, meninggalkan Inara yang masih berdiri melihat kepergian Bian yang entah pergi kemana.
**
Sudah berganti hari lagi, sekarang Inara sedang ada didalam ruangannya tiba tiba saja Cio menelfonya "Ada apa Cio "
"Bisa kita ketemu, aku ada diatas balkon Inara "
"Ini masih jam kerja, nanti saja ya "
"Ini tentang Ana "
"Baiklah "
Inara segera pergi keluar dari dalam ruangannya, dan tak sengaja menabrak Abian, namun Inara menghiraukannya saja, pergi untuk menemui Cio yang akan memberi tahu informasi tentang sodarannya Ana.
Bian yang khawatir dengan Inara segera mengikuti Inara, tanpa Inara sadari, Inara menaiki tangga dengan semangat dan langsung menemui Cio.
"Jadi apa yang kau tau Cio "
"Jadi begini "
Cio langsung memeluk Inara, lalu menatap Abian yang sedang mengintipnya, "Kenapa kau memeluku Cio lepaskan "
__ADS_1
"Sebentar saja Inara sebentar, aku ingin seperti ini, sungguh sangat sulit sekarang ingin bertemu dengan mu, "
Abian masih disana mengepalkan tangannya lalu pergi begitu saja, Dari pada nanti bertengkar mending pergi saja.