Berbagi Suami

Berbagi Suami
Ini salah faham, lepaskan aku


__ADS_3

Ana dan juga Cio sudah sampai dirumah, mereka langsung turun dan kebetulan sekali Sandi pun sudah datang dan membawa Livia turun, kepala Livia ditutupi oleh sebuah keresek hitam, agar dia tidak bisa melihat apa apa.


"Bawa dia cepat, sebelum ada yang melihatnya dan ada yang melarkannya" ucap Ana


"Siap nona "


Mereka segera membawa Livia masuk kedalam rumah di ikuti oleh Ana dan juga Cio dan tanpa mereka sadari ada yang mengintip mereka dari tadi.


"Ayah apa yang dibawa kakak apakah itu ka Livia buronan yang sedang dicari itu,kok mukanya dipakaiin kresek kayak gitu sih dan juga om Sandi sama temen temenna itu udah pulang dari hutan apa kita harus kesana ayah "


"Ya gak tahu itu apa ya mungkin aja Livia seperi apa yang kamu ucapkan tapi kenapa ya gak dimasukin ke kantor polisi malah dibawa ke rumah, aneh kan padahal kan polisi juga ikut nyari tapi kenapa gak ketemu sam polisi "


"Apa perlu kita melaporkannya ayah ke kantor polisi agar nanti polisi ke sini menjemput Livia itu, masa iya dibawa ke rumah sih mau apa coba. Emangnya kakak mau mengurusnya gitu sampai-sampai dibawa ke dalam rumah, kan dia itu penjahat seharusnya dibawa ke kantor polisi bukan dibawa ke rumah, atau mugkin kakak jadiin asisten rumah tangga ya "


"Udah udah kita jangan ikut campur nanti kita malah salah lagi lebih baik biarkan saja dulu, nanti juga pasti ada polisi yang ke sini kakakmu Ana pasti akan berbicara pada polisi, mungkin di bawah dulu ke rumah ingin diintrogasi dulu. Sudahlah biarkan ayo kita masuk ke rumah dari pada nanti kita ketahuan melihat seperti ini kan gak enak "


"Ya udah ayo ayo kita masuk yuk Ayo ayo ayah kita masuk, jangan disini terus ayah nanti kita ketahuan"


Sebelum mereka masuk tiba-tiba saja ponsel Roger berbunyi, Roger langsung mengangkat ponselnya agar tidak membuat bising nantinya malah ketahuan kan "Halo ini dengan siapa"


" Halo saya dari kepolisian saya menemukan barang-barang yang Nona Puja pakai seperti apa yang Bapak beritahu, apa bapak bisa ke ke kantor Polisi untuk melihat apakah ini benar barang-barang dari nona Puja"


"Baiklah pak saya akan ke sana sekarang juga "


"Baik Pak terima kasih"


"Sean kita harus ke kantor polisi dulu kita harus mengecek apakah itu benar barang-barang dari Tante Puja atau bukan yuk kita pergi sekarang "


"Baiklah ayo sekarang kita pergi ayah "


Mereka berdua langsung pergi lagi meninggalkan rumah, semoga saja itu memang benar benar barang Puja, tapi bagaimana dengan mayatnya apakah dia masih hidup atau sudah mati, soalnya gak akan mungkin kan kalau dia masih hidup.


Dirinya ingin menata hidupnya kembali, dirinya ingin mencari pasangan yang anaknya sukai, bukan hanya dirinya saja yang menyukainnya begitu.


**


"Kalian semua boleh keluar biar ini menjadi urusanku dan juga Livia, "


"Terus gue gimana Ana, gue di sini kan gak papa ya gue sama lo aja, gue juga pengen bicara sama Livia "


"Gak lo di luar aja biar gue aja yang di sini, lo kasih tahu Abian buat jagain Inara buat hari ini gue kasih kelonggaran cepetan gak lama "


"Siap bos laksanakan"


Cio akhirnya keluar dan akan mengabari sabahatnya kalau misinya berhasil, iya berhasil tapi cuman hari ini aja sih, tapi gak apa apa kan bisa negosiasi lagi, bener gak, ya bener sekali.


Ana langsung membuka kantong plastik itu dan mata mereka Langsung bertatapan Livia langsung menggelengkan kepalanya


"Kenapa " tanya Ana singkat padat dan jelas

__ADS_1


"Ana ini bukan salah aku, aku cuman disuruh orang aku kalau gak disuruh orang aku gak akan pernah lakuin ini. Please jangan kayak gini lepasin aku jangan apa-apain aku, aku lebih baik masuk penjara aja, ini bukan kesalahan aku sepenuhnya ada orang lain di balik semua ini "


"Oh ya ada orang di balik semua ini, terus lo kenapa lakuin kalau tahu lo cuma dimanfaatin dan disuruh, lo ini pakai otak lo dong. Lo itu cuma dimanfaatin tapi lo iya-iya aja gue gak peduli lo disuruh sama siapa, yang penting gue udah tangkap lo yang udah lakuin semua ini dan lo yang udah melakukan penusukan kan bukan dia, dia cuman kasih lo rencana aja tapi lo yang lakuin. Seharusnya lo lebih bisa dong memilih antara melakukan atau tidak, keputusan ada ditangan lo "


"Iya aku tahu aku tahu banget, ini gara-gara aku cemburu lihat Inara dan Abian yang akan menikah dia manas-manasin aku. Please jangan apa-apain aku Ana, aku janji gak akan pernah ganggu lagi Nara dan juga Abian, please lepasin aku, aku mau bebas aku masih punya usaha yang harus aku jalanin "


"Lo sudah melakukan itu berarti lo tahu konsekuensinya apa, inilah konsekuensinya kalau udah bikin keluarga gue masuk rumah sakit, kalau aja Inara telat dibawa ke rumah sakit mungkin dia udah gak ada sekarang. Oh iya enak ya bicara kayak gitu lo gak mikirin kesakitan adik gue, lo cuman mikirin kesenengan lo aja, ego lo aja tau gak sih Liv "


Ana langsung mendekati Livia sambil membawa pisau kecilnya " mau apa Ana jangan mendekat. Tolong jangan apa-apa kan aku. Aku tidak mau Please jangan apa-apa kan aku Ana jangan Ana "


Namun Ana terus saja maju dan menusukkan pisau itu ke perut Olivia "gimana rasanya sakit gak, pasti sakit kan ,iya sakit kan "


Livia hanya diam saja tidak bisa menjawab apa-apa "ini yang di rasain oleh adik gue, sakit kan makanya jangan tusuk-tusuk orang sebelum lo lakuin hal-hal kayak gitu lo mikir dulu ke depannya bakal gimana, pikirin juga bakal ada keluarga yang tersakiti, jangan main tusuk-tusuk aja dan pada akhirnya lo enggak mau tanggung jawab sama sekali kan, malah nyalahin orang "


Ana langsung mencabut kembali pisau itu lalu pergi dari ruangan itu meninggalkan livia sendirian. Biarkan dia kehabisan darah.


Livia langsung terduduk dan tak bisa mengatakan apa-apa dia memegang perutnya yang terus saja mengeluarkan darah, dengan cepat Livia menyobekan pakaiannya dan melilit kan ke dalam lukanya, memang tidak terlalu dalam tapi sakit sekali. Untung saja yang digunakan Ana adalah pisau kecil jadi tidak terlalu masuk ke dalam dan melukai yang lain.


***


"Abian gue udah berhasil nih bujuk Ana, tapi untuk hari ini aja sih dia kasih loh buat jaga Inara, soalnya dia lagi ada urusan di sini kau jagain Inara baik-baik ya, jangan sampai nanti Ana marah"


"Ya udah yang penting dia udah izinin gue, gue udah ada di dalam ruangannya kok, lo lama banget sih sampai hampir setengah 1 jam lebih Loh gue nunggu di rumah sakit, tapi lo gak ada hubungin gue"


"Ya mau gimana lagi gue harus bujuk Ana lah gak sembarangan gitu bujuknya itu harus dengan pelan-pelan dan perasaan yang tenang, kalau kita buru-buru kayak gitu yang ada dia akan marah dan maki maki gue, kita ini lagi hadapin seorang perempuan yang susah untuk ditaklukan, jadi udahlah tinggal terima hasilnya aja kan udah beres "


"Siapa yang susah ditaklukin "


"Lo mau gak ketemu sama Livia, gue kasih satu kesempatan buat lo ketemu sama Livia nanti juga gue akan bilang sama Abian buat dia ketemu sama Livia sekali dan setelah itu gue gak akan izinin lo semua buat ketemu sama Livia, jadi gimana mau atau engga sama sekali "


"Boleh gue pengen ketemu sama dia, iya gue pengen ketemu sama dia "


"Yaudha cepetan "


Cio segera membuka pintunya dan langsung menutupnya kembali " Livia perut kamu berdarah"


"Tolong bantu lepasin aku Cio tolong lepasin aku, bawa aku ke rumah sakit perut aku sakit banget, ini ditusuk sama Ana. Tolong bawa aku ke rumah sakit tolong"


"Aku gak bisa lakuin itu yang ada Ana akan marah-marah sama aku, aku gak bisa paling aku obatin aja ya gimana kamu mau kan "


Livia hanya mengangguk saja segera Cio mencari alat seadanya maksudnya obat P3K di ruangan ini dan ketemu Livia segera berbaring dan Cio segera membantunya membalut luka itu dan tak lama kemudian dia berhasil mengobatinya meski tak sempurna.


"Kenapa sih Livi kenapa harus lo lakuin ini, kenapa lo tiba-tiba aja nusuk Inara apa sih sebenarnya yang lo mau, kenapa hanya demi cinta lo bisa kayak gini bunuh orang, laki-laki masih banyak di dunia ini loh bukan Abian aja "


"Ada orang yang mempengaruhi gue, gue juga gak tahu tiba-tiba aja gue datang ke kantor Abian dengan bawa pisau dan juga membuat mereka semua karyawan Abian dan orang-orang yang ada di kantor itu pingsan. Gue gak tahu tiba-tiba aja gue masuk ruangan Abian dan melihat Inara sendirian, gua langsung tusuk dia, sebenarnya gue tuh pura-pura aja mau takutin dia aja tapi saat dia berteriak gue gak sengaja langsung nusuk perutnya, beneran gue gak sengaja Cio. Tolong bantu gue bilang sama Ana kalau itu tuh salah faham"


"Salah paham gimana kan udah di tusuk, itu bukan salah paham itulah sebuah kejahatan meskipun lo gak sengaja tetep aja ini tuh sebuah kejahatan, Ana itu bukan orang baik-baik dia pasti akan lakuin sesuatu yang lebih dari apa yang lo lakuin sama adiknya, lo kenapa sih harus berurusan sama keluarga ini, gue udah bilang kan lo jangan berurusan dengan Ara ataupun Ana, udah ridhoin aja Abian jadi milik Inara toh mereka juga udah pacaran lama bahkan lo cuman pendatang baru di kehidupan mereka"


"Terus gua harus gimana sekarang Cio, gue harus minta maaf sama Inara, ayo anterin gue kesana ya, ayo gue bakal minta maaf, tapi lo bujuk dia, bujuk Ana supaya dia mau mengeluarkan gue buat minta maaf sama Inara "

__ADS_1


"Gak bisa lo udah terlambat kalau lu udah melakukan kesalahan kayak gini, pasti ujung-ujungnya lo akan berurusan sama Ana lo gak akan pernah bisa lolos dari dia, siapa sih yang suruh lo siapa sih yang mempengaruhi lo sebenarnya sampai-sampai lo nekat kayak gini siapa"


"Ibunya Adam dia yang udah pengaruhin gue yang suruh gue tusuk Inara dan gue mau mau aja kan , gila gak sih gue "


"Gila ya terus sekarang mereka enakan hidup gitu aja lepas bebas, Ana gak akan mengejar mereka tapi akan terus siksa lo karena lo yang udah salah nusuk Inara, meskipun dalang dari semua ini adalah ibunya dan tetep aja lo yang lakuin, ibunya Adam gak ngelakuin apa-apa dia cuman bikin rencana aja kan"


Tangis Livia makin deras sangat deras sampai-sampai dia tidak bisa berhenti menangis, hidupnya sekarang akan hancur oleh Ana bagaimana.


"Sudahlah aku akan keluar dulu aku tidak bisa menolongmu aku tidak akan pernah bisa menolong mu sampai kapan pun, karena Ana tak akan pernah bisa melepaskan mu, dia tak akan melepaskan mu, dia akan terus mengurungmu, aku pergi dulu"


Livia tak menjawab dia hanya bisa menangis tak bisa melakukan apa apa lagi, hidupnya sudah hancur dan tak akan pernah bisa lepas dari Ana sampai kapan pun, ya tak akan pernah bisa lepas seperti apa yang dikatakan oleh Cio, kalau dirinya tak akan bisa lepas dari Ana.


Livia membenahi tidurnya sambil menegang perutnya yang sudah di obati oleh Cio,


**


"Mamih kenapa ada disini "


"Kenapa mamih gak bileh ada disini sampai kamu bilang kayak gitu gak boleh emang "


"Ya gak apa apa aku kaget aja tadi mamih ada disini aku kira tadi bukan mami, t?api ternyata mami saat aku menepuk bahu mami, kapan mami ke sini kok Abian gak tahu sih"


"Dari tadi Mami ke sini udah 1 jam 2 jam ada di sini. Kenapa emang gak boleh gitu"


"Ya boleh dong mih kenapa sih mami kayak gitu terus sama Abi, boleh Abi gak masalah kok "


"Tuh ponsel kamu nyala ada yang telepon angkat dong abi"


"Iya mih "


"Halo Ana Iya kenapa"


"Datang ke rumah sekarang juga gue tunggu gak pakai lama"


"Ada apa emang ada masalah besar ya, sampai gue harus datang ke rumah lo ada apa Ana "


"Udahlah datang aja ke rumah kata gue, gue nyuruh lo datang kerumah gue ya dateng aja jangan banyak tanya cepetan, susah amat ya "


"Iya iya gue datang ke rumah. Kenapa sih lu marah-marah terus sama gue sensi banget"


Sambungan langsung terputus Abiannya kesal langsung menyimpan ponselnya kembali, menatap pada mamihnya "mih aku harus ke rumah Inara dulu ya. Tolong Mami jagain Inara dia lagi tidur Abi gak mau bangunin dia lagi kasihan kan dia butuh istirahat"


"Ya udah kamu pergi aja biar mami disini gak papa, kamu hati-hati ya di jalannya jangan sampai kenapa-napa"


"Iya Mih Abian pasti hati-hati , ya udah Abian pergi ya, Mami hati-hati di sini ya"


"Tenang aja di sini banyak orang di luar juga banyak orang kalau ada apa-apa mami bisa langsung teriak"


"Iya ya udah Abi pergi ya mih "

__ADS_1


Mami Abian hanya menganggukan kepalanya saja dan kembali fokus melihat Inara yang masih tertidur nyenyak, tanpa terganggu oleh suara calon suami yang berisik dari tadi tak bisa diam.


Memang tadi setelah Abian datang Inara tidak tidur tapi mungkin dia mengantuk dan tak sadar kalau dirinya sudah tertidur nyenyak karena pengaruh obat juga kali ya jadi dia langsung tertidur.


__ADS_2