
Inara yang sudah siap dengan semua persiapannya segera berjalan kearah Bian yang sudah menunggunya dengan sangat sabar. Dengan senyum manisnya Nara menghampiri Bian.
Bian yang melihat Inara sampai melongo, penampilannya begitu cantik dan membuat hati Bian semakin bergetar tak karuan, rasanya ingin memeluknya dan tak jadi pergi kesana menghabiskan waktu berdua di apartemen. Dan jangan sampai ada satu orang pun yang menganggangu.
Inara segera melambai lambaikan tanganya di depan wajah Bian "Bi apakah kau tak apa, Bian sadarlah jangan melongo seperti itu, aku takut melihat mu, takut kamu kesurupan aku Bi, Bian sadarlah sadar"
Bian langsung mengalihkan pandangannya "maafkan aku sayang maaf, mari kita pergi, tapi matanya harus ditutup dulu sama kain ini ya, agar menjadi kejutan yang romantis"
"Kenapa di tutup Bian, nanti aku gak bisa lihat dong, kalau kesandung gimana "
"Kan ada aku yang akan menjadi mata kamu "
"Ist kamu ini ada ada aja ya Bian, bisa aja ya kamu jawabnya"
"Serius sayang, sini berbalik akan aku pakaian kain ini"
Dengan patuh Nara membalikan badannya dan membelakangin Bian. Dengan samar samar Nara Tersenyum, baru pertama kali dirinya diperlakukan seperti orang spesial oleh seorang laki laki, bahkan Adam mantan suaminya tak pernah melakukan hal ini.
"Yu udah sekarang kamu pegang tangan aku ya, aku akan menjadi pengarahmu sayang"
"Mana tangan kamunya Bi "
"Ini sayang " Bian segera mengandeng Nara dan memapahnya untuk berjalan agar berhati hati.
"Awas ya nanti aku nabrak Bi "
"Gak akan sayang "
Namun Bian sekarang malah mengendong Nara untuk segera masuk kedalam mobil..
"Akhh hahaha kamu ini Bian, aku sampai kaget lo kirain aku, aku terbang "
"Beneran terbang kok sayang, kan kamu gak jalan sekarang,"
"Tau ah kamu "
Bian segera memasukan Inara kedalam mobil, memasangkan pengaman dan sekarang dirinya yang akan masuk dan pergi untuk ketempat yany sudah Bian sediakan.
"Bi tempatnya apa sangat jauh, atau dekat dari apartemen mu "
"Tidak sayang sebentar lagi juga sampai, tenang ya sayang aku tak akan membawamu ketempat yang aneh aneh kok"
"Baiklah aku akan diam dan nenurut padamu"
Tiba tiba mobil berhenti dan hening sekali, Inara hanya bisa mengerutkan keningnya saja
"Bian, Bi kamu dimana, kok kamu gak jawab sih, Bi kamu dimana jangan tinggalin aku" namun tak ada sahutan sama sekali.
"Bian "
"Apa sayang, aku disini, mari turun , biar aku bantu ya"
Baru juga Inara akan melangkahkan kakinya Bian sudah mengangkatnya dan membawa Nara ketempat itu, ketempat yang sudah siap untuk makan malam mereka berdua.
Dengan hatu hati Bian melangkahkan kakinya dan menaiki satu persatu tangga. Lalu mendudukan Inara dan membuka ikat tutup matanya.
Pertama saat Inara membuka bola matanya pemandangan yang dia lihat adalah lampu yang berkelap kelip. Lalu Inara mendongakan kepalanya.
"Bian apa kita sudah naik ke menara eiffel " tanya Nara dengan senang dan melihat kebawah.
"Iya apa kau senang "
"Seneng banget makasih, kamu tau aja yang aku mau "
Dengan refleks Nara memeluk Bian dan saat sudah sadar dirinya dengan cepat melepaskannya. Dengan malu Inara mundur dan tersenyum kikuk
"Maafkan aku Bian, aku tak sengaja "
"Gak apa apa, malahan aku seneng dipeluk sama kamu Nara"
Nara yang malu hanya bisa tersenyum saja dan menundukan kepalanya..
"Tak usah malu sayang, nanti juga akan terbiasa. Ayo sekarang kita mulai makan malam romantisnya "
"Baiklah Bian "
Mereka berdua segera menyantap hidangannya berbarengan dengan musik klasik yang mengalun indah dan membuat suasana semakin romantis saja.
__ADS_1
**
Sedangkan Ana dirumah sedang melampiaskan kemarahanya pada anak buahnya yang tak becus mencari adiknya, dia membawa cambuk dan mencambuk setiap orang yang sudah ikut mencari adiknya namun tak ketemu.
Orang orang sudah sangat kesakitan namun Ana tak memperdulikan itu, dia hanya terus mencambuk dan menyakit anak buahnya.
"Aku bayar kalian mahal mahal tapi kenapa kalian begitu tak becus mencari satu orang saja, apalagi kalau aku menyuruh kalain mencari 1000 orang" sambil mencambukan pada salah seorang yang ada dihapannya..
"Nona sudah hentikan jika anda terus menerus menyiksa mereka yang ada mereka akan masuk kerumah sakit dan tak akan bisa membantu anda untuk mencari nona Ara, hentikan sebelum mereka mati nona" ucap Jack menenangkan.
"Kalian semua pergi dan cari kembali keberadaan adiku sekarang juga, besok pagi kalian harus sudah menemukannya, aku tidak mau tau cepat pergi kalian semua" teriak Ana dengan marah
Mereka semua terbirit birit bangkit sambil sesekali meringis merasakan sakit yang amat sangat sakit ditubuh mereka.
Ana segera pergi di ikuti Oleh Jack dari belakang "kenapa kau mengikuti ku Jack, aku tak memerintahkan mu untuk ikut denganku, pergilah"
"Maaf nona, saya hanya tak ingin nona melakukan sesuatu yang mengerikan lagi dan menyakiti diri nona sendiri"
Ana tak menjawab terus saja berjalan dan masuk kedalam kamarnya, menutup pintunya dengan keras dan Jack yang kaget memundurkan tubuhnya.
"Hampir saja hidungku patah kembali " gumam Jack sambil mengusap ngusap hidungnya. Lalu beralih ke pinggir dan diam disana seperti patung.
Ana yang didalam kamar mengacak ngacak kamarnya, semua yang ada dihadapannya dia lempar, bahkan vas bunga pecah tak berbentuk kembali.
"Akhhh sial sial sial kenapa aku bisa kehilangan kembali adikuu, dasar kau bodoh Ana, tak becus dan tak berguna"sambil memukul mukul kepalanya.
Jack yang mendengar teriakan nonanya segera membuka pintunya dan melihat sang nona yang akan melukai dirinya kembali, dengan cepat Jack mengambil kater itu dan membuangnya.
"Apa yang nona lakukan itu tak baik nona, jangan seperti ini pasti nona Ara akan kembali lagi. Tenang ya aku akan mencarinya lagi tenang, jangan gegabah seperti ini nona"
"Tapi kau lihat, mana sekarang dia tak pulang bahkan nomoronya tak aktif, aku aku tak mau sendiri lagi Jack aku kesepian, aku tak mau itu sampai terjadi" tangis Ana pun pecah dan Jack dengan keberaniaannya memeluk Ana dengan erat menenangkannya.
**
Saat hidangan sudah habis, Bian berdiri dan diam dihadapan Inara sambil mengambil tangan kanan Inara dan membantu untuk berdiri
"Kita mau apa Bi "
"Aku mau dansa sama kamu"
Bian membimbing tangan Inara dengan benar dan akhirnya mereka berdansa dengan senyum yang merekah.
Bian dengan perlahan lahan mendekati wajah Nara dan menyatukan bibir mereka cukup lama, namun tiba tiba Naara mendorong dada Bian dan melepaskan pegangangganya, berjalan kearaah pagar menara.
Diam disana dengan keadaan kaget, Bian mendekati Inara membuka jasnya dan menyampirkannya kebahu Nara.
"Ah kau pakai saja Bian, aku tak apa, pasti kau kedingan pakailah Bi"
"Tidak aku tau kau kedinginan " sambil memeluk Inara dari belakang.
Tubuh Inara sudah sangat tegang, dirinya takut hatinya akan jatuh pada Bian, karena memang dia belum siap untuk menjalin sebuah hubungan, karean trauma dengan kejadian rumah tangganya dulu.
"Releks sayang releks, aku tak akan melakukan apa pun padamu, tenang ya, jangan tegang seperti ini"
Inara dengan patuh melakukannya bahkan sekarang kepalanya sudah menyender ke bahu Bian, yang pada akhirnya mereka menghabiskan waktu berdua di menara eiffel.
**
Ana sudah mulai tenang, Jack melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Ana.
"Kenapa kau menjadi cengeng nona, kau adalah perempuan kuat dan tangguh, jangan kau tangisi kita cari bersama sama nona Ara, dulu nona tak pernah menyerah untuk mencari nona Ara nah sekarang nona harus semangat lagi untuk mencarinya"
"Aku hanya sedih saja kenapa aku harus kembali sendirian kenapa, padahal aku tak melakukan kesalah apa apa, tapi Ara begitu saja pergi tanpa kabar apa pun, atau pun berpamitan denganku, aku sangat khawatir dengan dia, takut terjadi sesuatu dengab dia."
"Nona yakin saja, kalau nona Ara akan baik baik saja, dia sudah dewasa dan akan lebih memikirkan bagaimana keadaanya, jadi nona tidak usah khawatir ya, semuanya akan baik baik saja "
"Makasih Jack untuk semangatnya, aku akan kembali mencarinya seperti dulu dan tak putus Asa. "
"Baiklah apa perlu saya menemani nona untuk tidur, maksud saya berdiri disini menunggu nona sampai tidur "
"Tidak usah Jack, aku tak akan melakukan apa apa, jadi kau tenang saja ya "
"Baiklah nona saya permisi "
Ana hanya menganguk, naik keatas tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya, yang sudah lelah dan sangat perlu diistiratkan.
**
__ADS_1
Adam yang sedang ada didalam sel, hanya diam di pojokan diam tak melakukan apa apa hanya fikirannya tertuju pada Iriana yang katanya kakaknya Inara, dia akan melakukan balas dendam padanya, sungguh dirinya tak mau itu sampai terjadi.
Disini saja dirinya sudah diperlakukan tak baik oleh tahanan tahanan lain apa lagi kalau Iriana melakukan penyerangannya padanya bisa habis dirinya disini.
"Heh kau Adam kemarilah, kau pijat kaki ku , jangan diam seperti patung, bergerak lah " perintah Sandi tahanan paling kuat.
Dengan patuh Adam menghampiri Sandi dan memijatnya dengan perlahan lahan.
"Yang benar kau, kalau memijat Adam bukannya seperti itu, kau ini seperti perempuan saja, sangat loyo"
Adam memijat kaki itu dengan keras namun tanpa di duga duga, Sandi menendang wajah Adam dan membuat Adam tersungkur kebawah.
"Kau sungguh tak becus dasar kau pecundang , tak berguna"
Adam yang marah berdiri dan memegang pakaian Sandi dan membuat sandi harus berdiri.
"Apa kau berani denganku Adam s pecundang"
"Kau jangan suruh suruh aku, aku bukan pembantumu dan kau tak berhak memukulku "
"Wah akhirnya kau bisa bicara juga ya, kukira kau bisu"
"Tentu aku tak bisu dan tak akan sudi di injak injak harga diriku oleh mu, dasar kau penjahat "
"Kau menyebutku penjahat lalu apa kabar denganmu, kau juga sama penjahat, penjahat teriak penjahat, bagunlah Adam jangan bermimpi terus" sambil mendorong dada Adam.
Sampai sampai Adam terdorong dan cengkramannya terlepas begitu saja dari Sandi.
"Ayo sini kau berani padaku, ayo pukul aku pecundang ayo,cepat pukul aku "
Adam yang sudah tersulut emosi berlari keadah Sandi dan melayangkan tinjuannya namun belum juga sampai kearah muka Sandi, Sandi sudah memegang tangan itu dengan erat dan memelintir tangan Adam.
"Akhh lepaskan lepas, " teriak Adam yang kesakitan
Namun bukannya Sandi melepaskannya , dia malah makin memelintir tangan itu dan membuat Adam makin kesakitan.
"Bagaimana apakah kau masih berani denganku bajingan, jawab jawab bajingan gila jangan hanya berteriak saja kau"
Namun Adam yang keras kepala sama sekali tak menjawab, hanya bisa kesakitan dengan mata yang menatap benci kearah laki laki itu kepada Sandi.
Dengan tangan yang satu laginya Sandi meninju perut Adam dan mendorong Adam, lalu menduduki tubuh Adam, meninjunya dengan membabi buta, Adam hanya bisa mengangkat tanganya melindungi wajahnya, yang terkena pukulan oleh Sandi.
Namun prit prit datang sipir yang masuk kedalam sel dan memisahkan mereka berdua.
"Jangan jadi jagoan di penjara ini, cepat kau Sandi berdiri, jangan menindas terus"
Dengan bengis sandi berdiri dan menatap kepala sipir dan melengos pergi ketempatnya semula sedangkan Adam dibawa untuk segera di obati.
Adam sekarang sedang di obati dia hanya melamun tak menjerit atau pun kesakitan saat di obati pandangannya kosong kedepan. Dia sudah tak memikirkan kembali lukannya.
Setelah selesai Adam dibawa kembali kedalam selnya, pandanganya masih sama, kosong dan tak banyak bicara sama sekali.
Sandi yang melihat Adam sudah di obati hanya tersenyum mengejek "katanya kuat, tapi udah di pukul gitu aja lemah, dasar laki laki gak berguna kamu ya "
Namun Adam hanya diam tak membalas ucapan itu, membiarkan Sandi bebas mengejeknya, sudah lelah kalau harus dipukuli kembali, jadi lebih baik diam dari pada bertindak dan pada akhirnya dirinya habis.
Adam segera membaringkan dirinya, Sandi dengan jahil melemparkan sebuah kertas ke arah Adam.
"Hey apa kau sudah menyerah untuk melawanku, kenapa kau hanya diam saja pecundang "
Namun sama saja tak menjawab, Adam menahan emosinya agar tak meledak dan kembali berkelahi.
"Gak percaya deh gue lo udah tidur, bangun pecundang "
"Diam lo berisik, tolong jangan ganggu gue, jangan buat masalah terus gue gak punya urusan sama lo ya Sandi, gue disini gak kenal sama lo pada awalnya, jadi kita gak ada urusan " akhirnya Adam menjawab juga dan duduk berhadapan langsung dengan Sandi.
"Lo udah datang ke sini, berarti lo punya urusan sama gue, jangan macem macem disini, lo cuman orang baru dan gak berguna, seharusnya lo mati aja, lo dipenjara karna kdrt kan dasar laki laki penuh dosa "
"Jangan hina gue, lo juga sama aja penuh dosa dan gak berguna Sandi "
"Yang penting gue gak nyakitin perempuan gak kasar sama perempuan kaya lo. Lo dasar pecundang beraninya sama perempuan "
Adam yang kembali tersulut emosinya kembali berdiri dan menantang Sandi, saat Sandi akan bangkit datang kembali sipir.
"Jangan ada kegaduhan lagi, atau kalian akan aku hukum "
Dengan kesal mereka berdua mundur namun tidak dengan tatapan mereka berdua yang tak pernah lepas saling pandang dengan bengis.
__ADS_1
.