Berbagi Suami

Berbagi Suami
Keseleo


__ADS_3

Jon pun pergi dari ruangan bosnya dan hanya tersisa Cio dan juga Livia mereka bertiga duduk dan Bian menatap Livia dan juga Cio dengan bergantian.


"Jadi apa jaminannya teman mu ini tak akan melakukan apa apa lagi pada mamihku dan juga Inara paa jaminannya yang bisa aku pegang agar jika itu terjadi kembali aku akan bergerak cepat "


"Aku tak akan kemari lagi Abi aku tak akan mengganggumu lagi Abi, aku berjanji, "


"Baiklah Livia awas saja kau macam macam "


Livia hanya mengangguk saja "sudahlah Bi jangan terlalu keras pada dia kasihan oh ya, Inara kenapa, kenapa dia bisa tertidur di pangkuan mamih mu "


"Dia tidak apa apa kok "


"Baiklah jika kau tak mau menceritakannya, aku permisi dulu, Livia katanya ingin mengobrol ngobrol dulu dengan mu"


"Baiklah "


Cio pergi dan sekarang tinggal berdua Livia dan juga Bian "Abi apakah kau bisa mengantarku "


"Tak bisa"


"Sekali ini saja tolong antar aku, aku hanya ingin membeli buku dan aku meminta bantuan padamu untuk memilihkannya yang cocok denganku "


"Baiklah ayo sebelum aku berubah fikiran "


Livia dengan senang segera bangkit da mengandeng tangan Abi. Namun Abi segera melepaskannya dan berjalan sendiri sendiri tanpa ada gandeng gandengan.


Inara yang ada dikamar tiba tiba terbagun " lho kok aku ada di kamar, di kamar siapa ya Perasaan tadi aku lagi di elus-elus mami dek kalau tiba-tiba ada di sini ya. Coba aku keluar dulu deh "


Inara berjalan keluar dan ternyata dia masih di kantor dengan tergesa-gesa Inara pergi ke ruangannya dan mengambil tas kerjanya, Inara berjalan dengan cepat, ingin segera pulang ke rumahnya sebelum nanti ada Abi yang pasti akan melarangnya untuk pulan, tapi dia baru ingat Ana menyuruhnya untuk tak pulang tapi harus pulang.


Inara berjalan tergesa-gesa saat sudah ada di Jalan Raya, inara tak melihat kiri dan kanan dan dia malah tersadung dan mobil di depannya melaju dengan cepat "Akhh" teriak Inara.


Namun untungnya mobil itu mengerem dengan cepat, dan orang yang ada didalam Mobil segera keluar " Inara kamu nggak apa-apa kan"


Inara yang mendengar suara itu segera mengangkat kepalanya ternyata itu Cio" Enggak kok aku nggak apa-Apa " sambil berdiri namun tiba-tiba saja Nara oleng dan Cio dengan cekatan langsung menangkap Inara.

__ADS_1


Bian dari kejauhan sudah melihat itu dan sepertinya dia mengenal orang itu dengan cepat dia melajukan mobilnya dan berhenti tepat di samping mobil Cio.


" Inara kok kamu ada di sini kamu nggak apa-apa kan ayo kesini sama aku ayo" Bian segera mengambil alih dan memeluk Inara.


"Aku nggak papa kok Tuan, tadi aku cuman bingung aja kok Aku ada di tempat tidur dan aku kayaknya mau pulang aja deh tuan"


"Ya udah yu sama aku ya pulangnya, biar sama aku aja ayo kita pulang"


"Terus kita gimana Bi, tadi kamu janji kan sama aku kita mau makan sama-sama kita mau pergi sama-sama terus kamu sekarang kenapa nganterin Inara kan kita udah janjian "protes Livia.


"Maaf Livia kayaknya enggak hari ini deh, Tapi aku janji Nanti kalau aku ada waktu lagi kita makan sama-sama ya, aku beneran aku nggak akan ingkar aku hari ini nggak bisa , kamu sekarang pulang sama Cio ya aku mau nganterin Inara pulang "


" Ya udah Tuan kamu anterin Livia aja, eh maksud aku kamu makan aja sama Livia aku nggak papa kok pulang sendiri aku mampu pulang sendiri tanpa tuan anterin "


" Ya udah Bi, kamu pergi aja sama Livia biarin Ara sama aku aja tenang aku nggak kan apa-apa dia bro," ucap Cio


"Enggak nggak, biar aku aja yang nganterin , kamu antar Livia pulang aja yah, Inara biar pulang sama aku " Bian segera memeluk kembali Inara dan memapah Inara untuk masuk ke mobil.


"Akhhh Kenapa Cio kenapa , kenapa kaya gini terus aku sampai kapan mengalah kayak gini, diem aja gak ngelakuin apa-apa aku tuh udah kesel banget lihat Abi yang perhatian banget sama Inara, aku udah kurang apa aku udah baik aku udah jaga emosi aku, aku udah berubah, Tapi apa lihat-lihat dia masih peduli sama Inara, kata kamu aku harus gini tapi apa buktinya. Nggak ada kan apa aku harus balik lagi kaya dulu apa aku harus teriak-teriak aja sama Abi, apa aku harus jahat lagi sama Inara lagi apa harus gitu aja ya Cio "


" oke aku akan coba buat sabar dan tahan emosi aku yang udah pengen meledak ini sama Inara, dia tuh apa sih apa nggak cukup satu cowok kalian berdua kan dekat terus dia juga mau deketin Abi juga gitu, dia nggak tahu malu ya, kamu tahukah siapa dulu suaminya Inara"


" Ya udah kamu tahan emosi kamu, sebelum aku mengenal Inara Abian udah lebih duluan kenal sama dia Jadi kamu jangan asal bicara ya Livia. Ya aku tahu suami dia Siapa mantan suami dia maksud aku, dia Adam Putra kenapa kamu lakuin apa, apa kamu mau kerja sama sama dia"


" Ya udah biasa aja kali bicaranya, enggak kok gue nggak akan kerjasama sama suami Nara, ngapain gue kerja sama dia nggak ada gunanya juga, kalau bicara tuh ya dijaga ya udah ayo pulang, anterin gue pulang pulang gue mau istirahat gue udah capek gue udah nggak tahan buat nahan emosi, gue pengen luapkan semua emosi yang gue rasain sekarang udah nggak kuat gue nggak bisa nahan lagi "


Livia segera masuk meninggalkan Cio yang masih ada di luar, tak lama kemudian Ia pun masuk karena diklakson oleh Livia yang sudah tak sabaran ini segera pulang.


**


Sekarang Inara dan juga Bian sudah ada di lobby apartemen, Bian dengan Setia masih memegang Inara untuk masuk kedalam lift, di dalam lift sama sekali tak ada pembicaraan hanya diam bungkam, dan tak ada satupun yang mau berbicara.


Saat sudah sampai di depan Apartemen Bian. Bian segera membuka pintu dan membawa Inara masuk mendudukkannya di kursi dan tanpa berbicara pada Inara , Bian langsung pergi dan kembali lagi membawa minyak.


"Tuan mau ngapain bawa minyak, apa tuan mau pijat kaki saya tapi tapi jangan deh saya enggak mau, ini sakit banget ini itu keseleo, tuan saya nggak percaya tuan bisa ngelakuin itu "

__ADS_1


"Iya saya mau pijit kaki kamu kamu tenang aja jangan ragu "


"Tapi saya nggak mau tuan saya nggak percaya sama tuan saya mending udah gini aja Jangan jangan jangan dipijit ataupun dibenerin kaki saya, nanti juga bener sendiri kok "


Namun namanya Bian dia tak mempedulikan kata-kata dari Inara dia langsung memijat kaki Inara dan truk terdengar suara tulang yang seperti tergeser" Tuan kaki saya "


" Udah jangan berisik coba kamu gerakin kaki kamu"


"Loh loh loh kok kaki saya jadi nggak sakit si tuan, ini beneran kan tuan yang pijit kaki saya "


" Ya iyalah lah aku yang pijit emang ini siapa yang ada dihadapan kamu, apa ini hantu gitu, aku lakuin ini gara gara tadi aku sudah menyuruh kamu naik tangga "


" Oh jadi ini tuh maksud nya bukan karena rasa bersalah ya tapi cuman karena udah nyuruh aku naik ke lantai 21 lewat tanggal gitu jadi cuman karena itu aja ya"


"Ya itu nggak lebih kok, aku itu bantuin kamu pijitin kaki kamu karena aku nggak mau dimarahin sama mami lagi"


"Oke aku pulang aja kalau gitu, biar aku nanti yang bilang sama Ana kalau aku mau pulang ke rumah. aku nggak mau sama kamu di sini" Inara segera bangkit namun tiba-tiba kakinya kembali terlebelit dan tubuhnya malah menimpa tubuh Bian.


Dan Bian hanya bisa menatap Inara saja tiba tiba cup " Hei tuan kenapa kamu ini ya cari kesempatan aja ih " Inara segera bangkit dan mendorong bahu Bian.


"Apa sih kamu yang duluan jatuh ke saya ya udah saya manfaatin aja lumayan kan dapet ciuman geratis, udah sana kamu kerjain tugas kamu ya, udah kamu kerjain semua kerjaan kamu saya tahu kamu dari tadi enggak kerjakan"


"Dasar ya tuhan kamu ini laki-laki paling menyebalkan paling mesum, seharusnya enggak memanfaatkan sesuatu yang seharusnya kamu nggak manfaatin itu, Iya saya tadi nggak kerja gara-gara siapa gara-gara tuan kan biang keroknya, saya tuh disuruh sama tuhan bikin kopi bikin teh bikin kopi bikin teh kayak gitu aja terus, terus suruh jalan ke lantai 21 naik tangga "


"Ya udah sih yang udah udah jangan diperpanjang lagi, udah aku mau ke kamar mau tidur capek tau nggak sih pokoknya nanti pagi saya nggak mau tahu semua pekerjaan kamu harus beres yah,saya nggak mau ada alasan apapun itu "


Bia langsung pergi meninggalkan Inara dan Inara yang kesel memukul-mukul meja itu dengan keras "makin ke sini ya dia tuh makin nyebelin banget "


Inara segera mengambil kertas dan mengambil pulpen lalu menuliskan "Aku nggak suka sama kamu Bian aku kesel sama kamu, kamu berubah kamu itu bos yang nyebelin, kurang ajar ,mesum , nggak tahu diri , nggak tahu terima kasih , Ih pokoknya kamu itu bos ternyebelin sedunia ini aku pokoknya gak akan maafin kamu aku kesel kesel kesel kesel sama kamu Bi. Awas aja kalau nanti kamu minta maaf sama aku aku nggak akan maafin kamu "Inara yang kesal lalu mencoret-coret kertas itu dan membuangnya begitu saja tanpa tahu nanti apa yang akan terjadi.


Malam sudah tiba Bian yang dari tadi tak bisa diam karena selalu mengingat Inara segera keluar, dan mengecek keadaan Inara dan apa yang dia lihat Inara sedang tidur dengan nyenyak, dengan lampu yang sudah dimatikan.


Dan tanpa dia sadari dia menendang sebuah kertas dengan cepat Bian mengambilnya dan membuka kertas itu membaca semua umpatan yang Inara tulis tadi, dengan kesal Bian mengarahkan senter itu ke wajah Inara terus-menerus.


Namun sama sekali tak bangun dia malah membalikkan badannya dan tertidur kembali seperti tak terjadi apa-apa saja " Awas ya kamu telah membuat kata-kata kayak gini buat aku, awas aja lihatin aku gak akan tinggal diam"

__ADS_1


Bian yang sudah terlanjur kesal langsung masuk lagi ke kamar dan meninggalkan Inara kembali sendirian. Awas aja nanti dia akan balas apa yang Inara katakan dalam tulisannya itu bukannya dia marah tapi kesal saja ngapain coba tulis tulis kata begitu.


__ADS_2