
Happy reading
"Aku mau benci sama kamu, tapi kalau lihat kamu kayak gini aku jadi mikir 2 kali untuk membenci kamu. Apalagi anak kita selalu mengingkan ayahnya selalu berada saat dekatnya," ucap Airin mengompres kening suaminya dengan air hangat.
Tak terasa air mata Airin terjatuh, sejak hamil ia memang gampang sekali menangis. Anaknya ini sangat cengeng, entah yang mana.
"Kalian ini kalau mau nangis, bilang bilang sama Mama. Biar Mama gak nangis di depan Papa kamu. Walaupun papa kamu sudah jahat sama kita tapi dia tetaplah Papa kalian, Nak."
Airin menghapus air matanya seraya mengelus perutnya dihadapan Daniel. Laki laki yang demam karena kehujanan itu belum juga bisa membuka matanya sekarang.
Airin kembali mengompres kening Daniel, agar suhu panas tubuh Daniel cepat turun. Airin tak bisa melihat Daniel seperti ini terus.
Hingga tak lama Daniel terbangun, ia membuka matanya dan melihat Airin sedang memakan jeruk. Daniel menatap rindu wanita yang sudah lebih dari 4 bulan tak lagi memeluknya itu.
"Sayang."
Airin yang sedang memakan jeruk itu langsung menghentikan aktivitasnya kemudian menatap Daniel yang juga menatapnya.
__ADS_1
"Mas."
Daniel menarik tangan Airin dengan pelan hingga membuat wanita itu langsung terjatuh dalam dekapan suaminya.
"Maafin Mas, maaf maaf atas semua apa yang sudah mas lakukan selama ini."
"Mas salah sayang, maaf Mas salah."
"Maafin Mas."
Daniel menangis saat ia kembali merasakan harum wangi Airin yang selama ini ia rindukan.
"Maafin Mas. Selama ini mas salah, Mas gak bisa jaga kamu dari orangtua Mas. Mas gak berdaya sayang, Mas dijebak."
"Maksudnya apa Mas? Bukannya selama ini Mas selalu mengirim teror untuk aku dan orangtuaku?" tanya Airin pada suaminya.
Daniel menatap bingung Airin, ia tak tahu apa maksud istrinya yang saat ini mengandung anaknya itu.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih sayang? Aku baru aja sembuh setelah pulang dari Vietnam saat itu. Dan saat aku ingin ke rumah aku malah kecelakaan dan tiba tiba aja aku ada di rumah. Ibu dan ayah bilang kamu pergi dengan laki laki lain gara gara aku gak pulang pulang tapi kemarin aku mendengar jika Ibu sedang berbicara lewat telepon jika kamu sedang dalam bahaya," ucap Daniel yang membuat Airin menatap suaminya.
Daniel mendudukkan dirinya di kasur itu, kemudian menarik Airin yang sedang terlentang di atas kasur itu untuk bangkit.
"Mas, bukannya setiap hari kamu mengirim teror kesini. Bahkan aku sampai frustasi karena teror dari kamu. Kamu selalu datang dan meletakkan hal yang aneh aneh di depan rumah. Aku takut Mas, aku bahkan sempat ingin melaporkan ini semua ke polisi tapi Ibu mencegahnya."
Daniel yang mendengar itu langsung memeluk Airin. Seberapa sakit luka yang diterima Airin dari orangtua dan saudaranya.
"Maaf sayang, mungkin yang kamu lihat itu adalah kembaran aku namanya Edward. Dia baru saja pulang dari Amerika berberapa bulan lalu. Sifat kami jauh berbeda bahkan aku sampai tak kenal dia saat kembali pulang kesini."
"Aku kok gak tahu kamu punya kembaran?"
"Saat kita nikah, dia gak datang entah karena apa. Hingga saat aku tahu kamu hamil itu, entah bagaimana caranya dia berada di dekat aku dan menolong aku. Ternyata semua itu sudah di rencanakan oleh orangtua dan Edward."
Akhirnya di malam itu mereka tahu jika, selama ini mereka sama sama tersiksa. Airin di teror Edwar sedangkan Daniel dipaksa untuk bunuh diri dan juga menuruti apa yang orangtuanya mau.
"Setelah Ibu dan Bapak kamu pulang, aku akan ajak kamu ke desa. Aku mau hidup kita tentram," ujar Daniel yang langsung dianggukkan oleh Airin.
__ADS_1
Mereka berpelukan dengan erat, semua masalah yang terjadi dalam hubungan mereka sudah hilang begitu saja.
Bersambung