Berbagi Suami

Berbagi Suami
Di interogasi


__ADS_3

Shita segera menghubungi pak Bian namun sama sekali tak diangkat dirinya ingin meminta pertangung jawaban itu, Shinta tanpa pantang menyerah terus saja menelfon Bian.


Bian yang memang sedang menemani Inara yang sedang tidur segera keluar dari kamar pengambilan darah tadi, sepertinya Inara lelah sampai tertidur pulas seperti itu.


"Ada apa, kamu menelfon saya "


"Saya mau uangnya ditambah lagi pak., karena saya sudah dipermalukan, apalagi wajah saya sudah merah merah iritasi karena terkena saos dan sambal, dan saya juga di cap sebagai pelakor bagaimana ini pak "


"Kamu gak usah khawatir tentang semua itu saya biyayain wajah kamu biar kembali seperti semula, dan untuk uang kamu gak usah khawatir dan untuk kamu yang dicap pelakor saya gak tanggung jawab, saya kan sudah bilang kalau dikantor kamu sewajarnya saja atau saat dipesta kalian berpisah gak usah selalu berdu, apa mungkin kamu memang menyukai Adam "


"Ya lalu bagaimana pak dengan harga diri saya kalau seperti ini, saya malu di bilang pelakor, saya tak menyukai Adam bapak asal bicara"


"Sayakan membayar kamu, kenapa kamu komplain sedangkan awal persetujuan tak ada yang seperti ini, kamu mau mau saja membantu saja lalu sekarang kenapa malah menjadi seperti ini, kamu meminta pertangung jawaban pada saya "


"Ya saya kira gak akan jadi serumit ini, bahkan saya dimarahi oleh orang tua saya, gara gara masalah ini pak "


"Saya tak menangungnya, kalau begitu kembalikan saja uang saya kalau kamu masih komplain pada saya tentang kamu yang malah dicaci maki seperti itu, kamu saja menikmati kebersamaan dengan Adam, ya terima sekarang konsekuensinya, sayakan hanya menyuruh kamu untuk merayunya dan memerasnya saja tak sampai menyuruh kalian berpacaran"

__ADS_1


Bian segera mematikan ponselnya dan saat dirinya berbalik disana sudah ada Inara yang mematung sambil menatapnya.


"Nara, aku bisa jelasin "


Tanpa mengiraukan Bian, Nara segera pergi meninggakan Bian yang masih mematung menatap kepergian Inara, setelah sadar Bian segera mengejar Inara yang sudah jauh pergi meninggalkannya.


**


"Tolong lepaskan saya, saya tak bersalah mana buktinya mana "


Sekarang ibunya Adam sedang diintrogasi dengan sorang polisi yang wajahnya sangat menyeramkan.


"Tidak ini pasti tidak benar, ini editan, apa bapak percaya begitu saja dengan editan ini"


"Saya tidak bodoh bu, ibu jangan mengelak ibu hampir saja melenyapkan nyawa saudari Inara, saya bisa membedakan mana yang asli dan yang palsu dan disini juga ada saksi mata bu, jadi ibu tak bisa mengelak lagi "


"Mana saksi matanya, mata saya ingin ketemu "

__ADS_1


"Baik saya akan panggilkan awas saja kalau ibu masih mengelak "


Segera pak polisi memanggil Iva yang sudah menunggu diluar dari tadi, Iva tersenyum dengan manis pada ibunya Adam.


"Ini saksi mata sekaligus yang merekamnya jadi perlu bukti apa lagi bu " sambil mengebrak mejanya.


Ibu Adam yang ketakutan dengan sekuat tenaga mencoba untuk membela dirinya kembali "bapak percaya dengan penipu ini, dia sudah menipu anak saya "


"Ibu jangan mengalihkan pembicaraan saya, kenapa ibu malah mengelak "


"Pak memang ibu ini sangat jahat sama menantunya, itu bukan yang pertama kali lo pak dia kasar sama Inara, bahkan saya melihat langsung. Dia itu perempuan licik pak, bahkan mengiginkan Inara mati, berarti itu sudah direncanakan pak " ucap Iva sambil tersenyum.


"Bohong pak jangan percaya dengan dia, dia pembohong, dia juga sama dulu benci pada Nara "


"Diam bu sekarang mengakulah, kalau ibu telah berbuat kasar pada menantu ibu dan ingin melenyapkannya juga serta sudah direncanakan tentang pembunuhan ini " ucap pak polisi


Ibu Adam hanya bisa melirik Iva dengan sengit penuh dengan permusuhan.

__ADS_1


"Jawab " tegas pak polisi.


__ADS_2