Berbagi Suami

Berbagi Suami
Lembur


__ADS_3

"Ayo Nara kita keluar disini ada singa yang mengamuk bisa bisa kamu nanti dimakan lagi " sindiri Cio sambil menarik tangan Inara yang satunya.


Sedangkan Bian hanya bisa menatapnya saja tanpa banyak bicara sedikit pun. Membiarkan mereka pergi tanpa menahan Inara untuk diam bersamanya.


Inara dan Cio sekarang ada dikantin, duduk berdua dan Inara binggung harus melakukan apa namun Cio sudah memesankan makanan untuk mereka berdua.


"Kamu harus hati ya dengan Livia "


"Memangnya dia kenapa "


"Pokoknya kamu jauhi dia, dia orangnya nekat, kalau sesuatu yang belum dia dapatkan dan ada penghalangnya dia akan menyingkitkan orang itu sampai tak menganggu apa yang ingin dia dapatkan "


"Memangnya aku menghalanginya. Apa urusannya dengaku, aku disini hanya bekerja tak ada maksud lain sama sekali "


"Iya aku tau. Tapi sekarang dia sedang mengejar Abian dan dia belum mendapatkannya sedangkan kau adalah asistennya dan sekaligus orang yang di cintai Bian jadi kau disebut sebagai ancamannya oleh dirinya "


"Tapi semua sudah gak ada Bian udah berubah, jadi kenapa harus aku yang kena, aku pengen hidup tenang bahagia itu aja aku gak mau buat masalah "


"Iya iya aku tau, pokoknya kamu jaga jarak aja ya sama Livia, pokoknya kalau ada dia pergi atau dia lagi pegang benda tajam atau benda benda lain yang membahayakan kamu harus menjauh darinya "


"Baiklah aku akan mengigatnya "


"Nah makanan sudah datang, sekarang kita makan yu "


Inara segera mengambil punyanya dan akan menyuapkan pada mulutnya namun Cio menahannya dan mengambil sendoknya.


"Biar aku suapi pasti tanganmu masih sangat sakit dan perih"


"Gak kok Cio, aku gak apa apa aku masih bisa makan sendiri"


"Engga engga gak bisa, harus makan disuapi kali ini aja ya "


Inara akhirnya mau dan menerima setiap suapan yang diberikan oleh Cio. Tanpa mereka sadari ada orang yang mengintip dan sekarang malah melengos pergi meninggalkan kantin.


"Bos bos ayolah makan, jangan gitu ayo "


"Gak gue gak lapar sama sekali, gue mau lanjut kerja aja "


"Yaelah gak biasanya bos. Apa karena Inara sekarang sama pak Cio ya jadi, bos marah terus cemburu deh "


"Gak gue gak cemburu , lagi gak pengen aja "


"Lagi gak pengen kok tadi semangat banget sih bos buat pergi kekantinya, tapi pas liat Inara lagi berdua duan sama yang lain langsung deh pengen pulang lagi "


"Gak kok emang lagi banyak kerjaan lupa tadi "


"Ahhh bicara aja cemburu panas hatinya, makannya bos jangan gaya gayaan pengen jauhin pujaan hati jadinya ginikan ditikung sana temen sendiri, baru tau rasakan. Inara udah ada digengaman dilepasin gitu aja "


"Berisik Jo, sana sana makan sendiri "


"Siap bos, salamin jangan sama Inaranya "


"Gak usah sana pergi ah berisik "


"Yaudin hati hati ya bos "


"Kenapa harus hati hati ruangan saja deket kok "


"Bukan itu bos hati hati galau, kabur aahhh "


"Jonathannn awas ya kamu "


Namun orangnya sudah tak ada pergi jauh meninggalkan Abian sendirian.


***


Livia yang sudah rapih dengab pakian barunya serta membawa kue, untuk mamihnya Bian segera mengetuk pintu rumah Bian, sekarang harus sopan karena menyangkut masa depannya kelak.


Tok tok tok "permisi tante om apa ada dirumah " teriak Livia.


Tak lama mamihnya Bian datang dan menatap Livia dengan tidak suka.


"Ada apa kamu datang lagi kesini, saya tak mengundang kamu untuk kesini jadi ada aapa "


"Tante belum maafin saya, saya kan udah minta maaf sama tante, masuk dulu yu tante, aku kepanasin nih diluar nanti kalau kulit aku rusak gimana, terus Bian nanti gak mau lagi sama aku dong "


Tanpa menjawab Mamihnya Bian masuk di ikuti oleh Livia yang senang.


Livia belum juga dipersilahkan duduk sudah duduk terlebih dahulu, mendahului sang tuan rumah.


"Tante aku ini bawa kue buat tante sama om, semoga kalian berdua suka ya, tapi harus suka dong kan yang bawa Livia calon istrinya Abi "


"Apakah kamu yakin, kamu akan menjadi menantu saya, dengarkan ya saya sudah melihat bagaimana etika kamu yang sangat kurang, apakah ini yang diajarkan oleh orang tua kamu saat bertamu "


"Saya yakin tante, kalau saya akan menjadi nyonya berikutnya disini, memangnya bertamu harus bagaimana saya sudah memberikan salam saya sudah sopan dengan tante lalu harus bagaimana lagi, sudahlah tante jangan di besar besarkan masalah sepele seperti ini "


"Sungguh saya tak habis fikir, ayo cepat katakan apa lagi yang kamu inginkan dari rumah saya ini "

__ADS_1


"Tenang tante saya tak ingin rumah ini, rumah saya lebih besar jadi tante jangan takut ya saat saya menikah dengan Abi, saya gak akan rebut rumah ini kok tante, tante bisa damai disini bersama om nantinya "


"Dengarkan saya, sampai kapan pun saya gak akan merestui pernikahan mu dengan anak ku, perlu kau ketahui aku sudah mempunyai calon untuk anakku, dia baik, sopan, lemah lembut dan tidak seperti mu yang tak mempunyai etika sama sekali pada orang yang baru kau kenal "


"Itu tak akan bisa terjadi tante, aku aku akan menjadi istri Abian seorang tak ada yang lain, tanpa restu om tante pun saya tak apa asal Abi ada di sisi saya selamanya. "


"Terserah kamu saja "


Mamihnya Bian yang kesal segera pergi naik kelantai atas dan masuk kedalam kamarnya. Segera mengambil ponselnya dan menghubungi anaknya Bian.


"Hallo mih ada apa, apa ada yang terjadi dirumah "


"Ada ini perempuan yang tempo hari mengikutimu datang lagi kerumah, mamih sungguh pusing dan muak dengan dia "


"Siapa sih mih. Perempuan yang mana Bian gak faham nih"


"Itu loh yang anggap mamih sama papih pelayan rumah, dia ada disini lagi dirumah kita Abi, dia disini sambil membawa kue "


"Hah Livia, kenapa dia bisa ada dirumah "


"Ya gak tau mamih juga gak tau kenapa tu anak ada disini, apa kamu yang suruh dia itu disini kaya orang gila tau gak, kekeh bilang akan menjadi istri kamu nyonya dirumah ini lah, pokoknya persis orang setres, kamu kenapa sih bisa punya temen kaya gitu dan bisa ketemu lagi "


"Engga kok, Bian ga suruh dia kerumah sama sekali engga, malahan di kantor juga dia sering jadi pengacau, pusing mah aku disini setiap karyawan yang ngobrol sama aku terutama perempuan pasti dia usir "


"Terus gimana sama menantu mamih Inara "


"Ya dia tadi di siram pake air panas mah sama perempuan itu "


"Apa terus sekarang gimana keadaan Inara, terus udah dibawa kerumah sakit belum Inaranya, mamih khawatir banget nih "


"Udah mamih tenang aja, Inara udah di obati sama Abi, dan dia baik baik aja, mamih tenang ya tenang "


"Bagus deh, mamih mau usir dulu tuh perempuan ya, kamu dikantor yang fokus kerjanya ya, jangan terganggu sama perempuan itu "


"Iya mih, mamih hati hati ya sama Livia, malahan sekarang Bian yang khawatir takut terjadi apa apa sama mamih karena ulah Livia"


"Engga sayang mamah kuat kan, jadi kamu tenang aja ya dadah syaang "


"Dadah mamih "


Mamih Abi segera keluar dari kamarnya dan pergi kebawah untuk menemui Livia kembali.


***


"Cio apa kamu gak kerja, selalu temenin aku kerja, apa bos kamu gak marah gitu "


"Apa Livia sakit, apa kamu tau sesuatu tentang Livia, maafkan aku, bukannya aku lancang hanya saja aku melihat dari gerak gerik Livia ya seperti orang sakit "


"Hemm begitu ya, tidak tidak dia tak sakit, dia sehat kok Nara. Memang seperti itu saja sikapnya dan sifatnya kau tau dia dulu saat sekolah adalah perempuan pendiam dan pemalu, tapi entah kenapa tiba tiba menjadi seperti ini "


"Berubahnya sangat cepat ya, apa dia mempunyai kepribadian ganda, seperti film glass "


"Hahaha itu terlalu berlebihan Nara, tidak tidak seperti itu juga "


"Baiklah sekarang aku mulai binggung "


"Tak usah binggung, kau hanya perlu diam saja dan waspada saat ada Livia ya "


"Baiklah baiklah akan ku coba "


Tiba tiba datang Bian dengan membawa banyak berkas dan menyimpan dimeja Inara. Inara segera bangkit dan menundukan kepalanya.


"Apa sekarang kau punya penjaga baru "


Inara melihat kearah Cio dan berkata, "tidak pak, dia hanya teman saya sekaligus teman bapak juga "


"Hemm, kerjakan semua berkas ini besok pagi saya mau berkas ini ada diruangan saja sudah lengkap tak ada kesalahan sedikit pun "


"Abi lo gila, ini udah waktunya pulang loh, dan lo kasih dia kerjaan numpuk kaya gitu, apa lo sadar apa lo gila "


"Engga gue sadar Cio, lo gak usah ikut campur Inara adalah karyawan gue, jadi gue berhak buat kasih tugas apa pun sama dia, mau sebanyak apa pun dia harus kerjain semuanya, "


"Udah udah, baik pak saya akan mengejakannya "


"Tuh liat Cio orangnya saja gak marahkan gak nolak, jadi apa berhak lo buat ngatur ngatur gue buat beri dia tugas tambahan " setelah mengatakan itu Bian pergi meninggalkan mereka berdua kembali.


"Ra kenapa sih kamu ambil pekerjaan sebanyak ini, liat sebentar lagi jam pulang "


"Itu kan tugas dari atasan masa iya aku tolak gitu aja gimana sih kamu " "


"Iya aku tau, tapi seharusnya tadi pagi kek dia kasih tugasnya kekamu jangan waktu mau pulang gini mepetkan jadinya "


"Tenang tenang, aku yakin aku akan bisa mengerjakannya dengan cepat dan benar kamu slow ya "


"Yaudah aku tungguin yah "


"Gak usah Cio kamu pulang aja. Pasti aku lama deh "

__ADS_1


"Engga aku tunggu aja kamu sampai selesai "


Inara mengangguk dan segera mengerjakan satu persatu tugasnnya, yang banyak dan menumpuk ini.


**


Bian yang sudah ada diruanganya melihat cctv yang ada dikamar Inara, dirinya melihat gerak gerik Inara dan Cio.


"Jadi bos gimana "


"Apanya yang gimana sih Jon "


"Iya bos udah kaya gini mau gimana, Inara udah akrab bangetkan sama pak Cio Cio itu, liat dong pak Cio itu terus mepet Inara, kaya bos dulu sama kaya gitu "


"Tau gue jadi pusing sendiri nih, harus lakuin apa ya gue, apa gue harus diem aja apa harus bergerak dengan cepat atau harus gimana ya, tadinya gue kasih Inara tugas yang banyak tuh biar s Cio Cio itu pulang, eh malah diem baedia, lama lama dia bakal jadi ancamana Jon "


"Lah emang udah ancaman kali bos, bosnya aja yang gak bisa tahan emosinya kalau aja bos gak marah sama Inara pasti gak kaya gini, kalau aja bos gak club gak akan ketemu sama perempuan gila Livia "


"Udahlah ini takdir mungkin, biarin aja biar, kalau jodoh gak akan kemana kan, benerkan "


"Iya tau tapi tetep aja harus di cari dan dikejar gak bisa gitu aja ada kan. Emangnya jodoh kaya beli permen di beli langsung ada, engga kan bos "


"Iya iya cerewet banget sih Jon "


"Yaelah gak apa apa kali bos dari pada gak di jawab kan "


"Hemm udah diem kita liat aja gerak gerik mereka ya, pokoknya diem aja ya, "


"Siap siap siapa lah, saya bobo ya bos cape "


"Engga engga jangan tidur temenin saya "


"Eh si bos manja "


***


Inara yag sudah cukup pusing dengan dokumen ini memberhentikan fahulu kerjaannya, tanganya juga udah pegel banget.


Cio tiba tiba menghampiri Inara mengusur kursi dan duduk behadap hadapan dengan Inara.


"Sini tangannya "


"Mau diapain Cio "


"Sini " Cio yang geregetan mengambil tangan itu dan langsung memijatnya.


"Kamu alih profesi nih Cio "


"Engga dong, aku cuman mau bantu kamu aja Nara, aku liat kamu udah lelah banget udahlah besok lagi aja ya kerjanya, aku deh besok yang bilang sama Bian "


"Engga engga nanti malah di omelin lagi gara gara gak selesai udah gak apa apa lah "


"Gimana kamu lah, itu ponsel lamu berdering "


"Oh iya sebentar ya Ana nelfon. "


Inara segera mengangkat telfonya "hallo Ana kenapa "


"Maaf ya aku sekarang gak bisa jemput kamu, minta sama pak supir aja ya, soalnya aku ada kerjaan diluar dan belum selesai "


"Iya iya kamu tenang aja yang fokus aja kerjannya, aku juga ini lembur kok Ana, kerjaan aku lagi banyak banget, tapi tenang aku gak akan pulang malem kok "


"Ok awas jangan malem malem, kalau ada apa apa hubungin aku ya, jangan diem diem dan gak bilang sama aku "


"Iya Ana iya bawel, pasti aku bilang sama kamu kok jadi tenang aja ya "


"Hemm aku matiin "


"Iya "


Inara kembali lagi menyimpan ponselnya dan melepaskan tangan sebelahnya yang dipegang oleh Cio.


"Ehh maaf ya Nara "


"Gak apa apa, aku kerja lagi ya "


"Iya, aku cari makan dulu buat kita ya "


"Apa gam ngerepotin "


"Engga kamu tunggu ya "


"Makasih yah "


"Kan belum makannya ya juga, nanti aja ya makasihnya aku berangkat "


Akhirnya Inara sendirian didalam ruangannya, Inara kembali mulai fokus mengerjakan semuanya kembali. Ingin cepat beres dan ingin cepat pulang pula. Sudah lelah dirinya ini.

__ADS_1


__ADS_2