
Livia yang mau keluar rumah dirinya masih melihat ayahnya terbaring tak berdaya, dengan tidak sopanya digoyangkannya tubuh ayahnya mengunakan kakinya.
"Baguslah kalau sampai gak bangun lagi yah, aku seneng gak ada yang larang larang aku lagi, aku bebas dan ayah tenang dialam sana "
"Ya allah gustu bapak kenapa, non bantuin bapak, kepala bapak berdarah non ayo kita kerumah sakit "
"Shuttt bibi diem aja ya, jangan banyak bicara biarin ayah mati dengan perlahan bibi gak usah bantu ayah, awas aja kalau bibi bantu ayah, aku gak akan lepasin bibi "
Livia pergi dan mendorong pembantunya sampai tersungkur "ya allah non kenapa jahat banget sama bapak "
"Apa ya yang harus bibi lakukan, bibi gak mungkin biarin bapak gini aja, oh ya den Cio, iya den Cio pasti bisa bantu bibi "
Bi San segera menghubungi Cio dan untungnya pada deringan pertama diangkat.
"Hallo bi ada apaa "
"Ya allah den Cio bisa tolong bibi "
"Iya bi boleh ada apaa "
"Bapak den bapak "
"Kenapa sama om bi "
"Bapak kepalanya berdarah dan nona Livia melarang saya membawa bapak kerumah sakit, mungkin jika den Cio yang membawanya, nona Livia tak akan marah "
"Baik bi tunggu saya, saya akann kesana sekarang "
"Baik den"
Setelah sambungan terputus, segera bi San menghampiri majikannya lagi, mencoba untuk memberhentikan darah yang mengalir mengunakan pakainya yang dirinya sobek.
Dan tak lama dari itu Cio datang dan melihat kekacauan itu, tanpa banyak bicara Cio membawa ayah Livia kedalam mobil, sedangkan bi San tak ikut. Nanti bisa marah Livia lagi .
**
Tok tok tok pintu dibuka dan menampakan ibu Adam yang berantakan "Siapa "
"Tak perlu tau siapa aku, kau apakah ingin membantuku untuk meyikirkan Inara dari dunia ini untuk selamanya "
"Tentu aku ingin, tapi aku tak punya uang dan tak punya kekuatan untuk melawannya "
"Uang yah, nih uang "
Ibu Adam langsung tersenyum dan mengambilnya dengan senang, "wah beneran nih "
"Iya aku pun sedang melepaskan anak mu Adam dari kantor polisi, agar kita sama sama balas dendam pada Inara "
"Kenapa kau melakukan itu, kenapa kau juga ingin balas dendam pada Inara ada masalah apa kau dengan dia, "
"Dia sudah berani mengambil pacarku, dan dia harus tau akibatnya dan konsekuensinya karena sudah bermain api dengan ku "
"Hemm dasar wanita itu, apakah kau benar akan melepaskan Adam dari pernjara "
"Tentu kau lihat saja nanti, saat Adam keluar dari jeruji besi itu dan pulang kerumah reyot ini, aku pulang "
Ibu Adam segera masuk dan segera bersiap siap akan pergi belanja, karena dirinya sudah mendapatkan uang serta anaknya akan keluar dari dalam penjara.
"Mau kemana kamu bu " tanya suaminya
"Mau belanja lah, "
__ADS_1
"Kita kan gak punya uang bu, mau belanja dimana gak akan ada yang mau kasih kita utang lagi "
"Tenang itu aku akan lunasi semuanya, sekarang ibu mau belanja, ayah tak perlu tau ibu punya uang dari mana yang terpenting kita punya uang untuk makan, ayah kan sudah 3 hari tak kerja dan sakit sakitan, kita tak ada pemasukan sedikit pun untung saja ada orang yang memberi uang lihat banyak kan yah"
"Uang sebanyak ini diberi oleh orang dengan cuma cuma bu "
"Ya begitulah, kenapa memangnya ayah, harusnya bersyukur malah nanya kaya gitu, ini bisa untuk 1 bulan kita makan yah, sebenarnya sih ibu pengen habisin sekarang tapi gak deh nanti kedepannya gimana lagi "
"Pasti ada sesuatu, apa itu bu, tak akan mungkin ada orang yang percuma memberikan uang sebanyak ini. Pasti ibu melakukan kerja sama kan atau ibu menyetujui sesuatu iya kan jujur dengan ayah "
"Sudah aku pergi ayah jangan bawel, ini demi menyambung hidup kita, jadi nikmati saja dan jangan banyak bicara sedikit pun yah, ibu pusing mendengarkanya "
"Bu ibu tunggu, ibu jangan pergi " namun ibunya Adam sama sekali tak peduli dengan hal itu
**
"Akhirnya om sadar juga "
"Cio, ini om ada dimana apakah ada dirumah sakit "
"Iya om, tadi bi San menelfon Cio, dan meminta bantuan pada Cio untuk membawa om kerumah sakit, sebenarnya apa yang terjadi dengan om sampai terkapar dilantai dengan darah yang bercucuran "
"Ini ulah Livia Cio, dia makin tak terkendali "
"Maksudnya, tak terkendali bagaimana om, apa Livia memukul om "
"Ya dia melempar om dengan vas bunga, dan membuat om seperti ini. Dia sudah sangat keterlaluan sekali seharusnya om tak membawanya pulang dari rumah sakit jiwa kalau pada akhinya akan seperti ini "
"Karena masalah apa om Livia sampai memukul om, "
"Dia akan menghancurkan hidup Inara, Livia mencari tentang masa lalu Inara dan mengeluarkan Adam mantan suami Inara dari dalam penjara, entah apa lagi rencana yang akan dia buat, om tidak mau kalau dia semakin nekad dan malah berakhir dirinya yang masuk kedalam pernjara "
"Apa, Livia benar benar keterlaluan dia sudah sangat terobsesi ingin memeliki Inara seutuhnya, harus segera bertindak cepat ini om, jangan sampai ada yang celaka "
"Baik om, Cio akan melakukan itu, tenang saja om, sekarang kita pulang ya om, dokter sudah membolehkan om untuk pulang dan beristirahat di rumah "
"Baiklah ayo Cio, terimakasih ya "
"Iya om sama sama, om gak usah sungkan ya, Cio pasti akan selalu bantu om terus ya"
**
"Dimana ayah, kenapa ayah gak ada "
"Bi San kemari " teriak Livia dengan deru nafas tak beratur
"Iya non ada apa "
"Mana ayah saya, kenapa tak ada disini, apa bibi menolongnya hah, saya sudah bilangkan sama bibi jangan bawa ayah saya kemana mana, lalu kenapa sekarang tak ada, kemana dia kemana bi " teriak Livia sambil menarik pakain bi San
Bi San yang takut menundukan kepalanya, mata nonannya ini seperti akan keluar saja, sangat menakutkan " tidak saya tak mengobati bapak, saya tak melakukan apa apa non "
"Lalu kemana ayah saya, kenapa tidak ada disini kemana dia bi, kalau bukan bibi siapa yang menolong ayah saya " masih dengan merik pakaian bi San.
"Aku yang menolong ayahmu kenapa kau marah marah pada bi San "
"Cio untuk apa kau kemari dan untuk apa aku menolong ayah ku, pergi aku dari sini Cio "
"Ya aku akan pergi setelah mengantar om kekamarnya dan aku sudah menyewa dua orang pengawal untuk ayahmu, agar kau tak berani kembali menyakit ayahmu sendiri, inu ayahmu Livia bukan orang lain apakah kau gila melukai ayahmu "
"Masa bodo, aku tak peduli dia mau siapa pun, dia sudah menghalangiku maka itu akibatnya."
__ADS_1
"Lepaskan bi San "
Dengan kasar Livia segera melepaskan cengkramannya itu dan Cio segera naik keatas dengan kedua penjaga ayah lIvia.
"Om istirahlah, saya akan pulang dulu ya, om tenang saja didepan sudah ada yang menjaga om "
"Baik Cio,, terimakasih atas semua bantuan yang kamy beri om berhutang budi padamu nak "
"Tak usah memikirkan itu om, saya pulang '
Cio segera keluar dari kamar dan turun kebawah,, saat dirinya akan masuk kedalam mobil tangannya dipegang oleh seseorang ternyata Livia.
"Ada apa Livia "
"Kau jangan ikut camput apa pub urusan mu, urus lah dirimu sendiri "
"Kau mengancamku, aku sama sekali tak takut dengan ancaman mu, " Cio menghempaskan tangan itu dan pergi meninggalkan rumah Livia.
***
Dikantor sedang sibuk karena sedang ada pengiriman yang sangat banyak sekali untuk kepulau jawa, setelah kekalahannya Abian mendapatkan pengirim yang lain. malahan lebih dari apa yang Cio dapatkan.
Semuanya tak ada yang diam, semuanya sibuk dengan pekerjaan masing masing.
"Apakah tuan akan lembur apakah aku harus membelikannya alat mandi ya " guman Inara
"Tapi sepertinya akan kembut aku akan pergi dulu kesupermarket depan dan membeli barang barang yang dibutuhkan tuan nantinya."
Inara segera keluar dari ruagan kerja dan pergi kebawah, saat sudah sampai di supermarket Inara mengambil barang barang yang diperlukan tuannya serta dirinya juga dong.
Selesai juga, sekarang tinggal pulang lagi ke kantor da masuk kembali kedalam sana.
Selama perjalan keruangannya banyak yang menyapanya dan Inara menjawabnnya dengan ramah.
"Dari mana Nara " tanya Bian yang sudah ada diruangan Inara
"Eh ada tuan, aku ini membeli kebutuhan mu, pasti aku akan lembur disini, makannya aku membelikan peralatan mandi untuk mu "
"Wahh aku sungguh perhatian tau saja apa yang aku butuhkan aku akan kekamar mandi dulu "
Inara mengangguk dan kembali mengerjakan tugasnya, sampai sampai dia tak tau waktu kalau ini sudah larut malam" ternyata sudah sangat malam sekali "
Inara segera keluar dari dalam ruangannya dan melihat Bian yang sedang menyelimuti karyawannya yang lembur , mereka sanpai tertidur begitu pulas, sudah pada kecapean.
Inara hanya bisa tersenyum ternyata, baik juga ya Abian, maksudnya baik pada semua orang bukan hanya pada dirinya saja.
"Ada apa kau mengintip disana Inara "
Inara yang sadar dari lamunannya menjadi salah tingkah dan akan pergi namun tangannya sudah terlanjur ditangkap oleh Abian.
"Mau kemana kau, aku kan sedang bertanya padamu, lalu kenapa kau tiba tiba saja pergi "
"Aku tidak mengintip tapi kebetulan saja lewat, jadi permisi aku mau kembali kedalam ruanganku "
"Apakah kau tak mau tidur, segelah masuk kedalam ruanganku dan tidur dikamarku, kau tau kan diruangaku ada sebuah kamarz jadi cepatlah "
"Tidak tuan aku saja, aku masih banyak kerjaaan "
"Sudah tinggalkan dulu, aku berencana besok akan mentraktir kalian yang lembur denganku, untuk menghargai kalian yang sudah mau melakukan lembur dengan ku "
"Baguslah tuan, lepaskan aku akan bekerja lagi, dan kau segeralah tidur "
__ADS_1
"Kau ya " Abian segera membopong Inara dan membawanya masuk kedalam ruangannya, Inara tadi sempat akan berteriak karena kaget namun dengan cepat Inara membekap mulutnya ini