
Yang tertusuk adalah temannya Sandi sendiri, Adam tadi melawan dan membuat pisau itu berbelok pada temannya Sandi.
"Kau gila Adam " teriak Sandi.
"Kau yang gila Sandi, karena telah menusuk teman mu sendiri, sipir sipir kemari disini ada seseorang yang telah menusuk temamnya, ayo sipir kemarilah "teriak Adam dengan sengaja.
Dua sipir datang dan melihat ada orang yang sedang menahan sakit san juga Sandi yang berlumuran darah.
"Sandi kau membuat ulah terus ya "
"Tidak bukan saya, Adam yang melakukannya sipir bukan saya "
"Kenapa jadi aku, tidak aku hanyalah saksi, dia yang telah melakukannya, sipir percayalah dia selalu membuat ulah kan dengan siapa pun, dan ini orang orangnya mungkin saja orang ini melakukan kesalahan jadi ditusuk "
"Sudah ayo ikut Sandi, "
Sandi segera di borgol dan temannya yang tertusuk segera dibawa, untuk segera dibawa kerumah sakit terdekat.
"Awas kau Adam aku tak akan melepaskan mu, awas aku akan meminta bantuan pada orang orang ku, kalau kau tak akan hidup nyaman nanti saat sudah keluar " ancam Sandi sambil menunjuk Adam
"Sudah kau diam Sandi, jangan buat masalah lagi, aku pusing mendengarnya " tegur Sipir.
Adam yang merasa menang hari ini, langsung duduk ditempat Sandi, tempat nyaman Sandi. Enak sekali dia memakai kasur sedangkan yang lain hanya di karpet saja.
**
Livia yang masih terjaga mengeluarkan pisau, dari dalam bantalnya, memainkannya sebentar lalu keluar dari kamar mengendap endap.
Dia tau tadi ayahnya sudah tertidur Jadi mungkin ini adalah saatnya, lebih baik membunuh orang saat dia tidur agar dia tidak bisa melakukan, itu akan lebih baik dari pada melawan dia yang sedang sadar.
Kalah dong jadinya nanti . Livia segera membuka pintu kamar ayahnya dan menengok sang ayah yang sedang membelakanginya, dengan perlahan-lahan Livia masuk tanpa menutup pintu terlebih dahulu, karena dia tak mau menimbulkan suara sedikitpun.
Ditatapnya sang ayah dari arah depan yang sedang tertidur dengan nyenyak, Livia dengan perlahan membuat tubuh ayahnya menjadi terlentang. Itu pun dilakukan dengan susah payah, takut takut ayahnya nanti bangun.
Livia sudah siap siap, namun ayahnya tiba tiba saja bangun, "ada apa Livi, kenapa kau kekamar ayah " pandangannya beralih pada pisau yang dipengang oleh anaknya "untuk apa pisau itu "
Tanpa banyak bicara lagi Livia menusukan pisau itu kearah jantung ayahnya, lalu mencabutnya dengan tanpa perasa sedikit pun dan menusukkan kembali pada dada sebelahnya.
"Livi apa yang kau lakukan. Kenapa kau tega melakukan ini" ucap ayah Livia dengan terbata-bata, Livia hanya bisa tersenyum dan membiarkan pisau itu menancap di dada ayahnya.
"Kau sungguh tak adil, kau selalu mengurungku dan membuat aku menderita, lalu kamu memberikan semua harta ini pada Cio, aku tahu semuanya Ayah. Kenapa kau melakukan itu sebenarnya siapa anakmu aku atau Cio, kau juga sudah tega, kenapa aku tidak bisa tega denganmu, kau sudah mengurungku dan memasungku beberapa tahun dan sekarang kau mau mengurung ku kembali "
__ADS_1
Livia beralih duduk sambil memegang tangan ayahnya "kalau saja aku tidak bersandiwara, mungkin saja kau akan terus mengurungku dan tak melepasku dari ruangan itu, Cio bisa mendapatkan memang dia siapanya kau, kau tidak mau aku mendapatkan hartamu sedikitpun "
"Aku ini anakmu dan aku seharusnya yang lebih pantas menerima semua itu bukan Cio," setelah mengatakan semua unek uneknya Livia bangkit dan melepaskan tangan ayahnya dengan kasar.
Kenapa dia bisa tau, karena saat mencari semua berkasnya dia melihat, kalau pengacara ayahnya sudah membuatkan surat wasiat kalau semua harta yang dimiliki ayahnya dan semua aset yang ayahnya punya jatuh ketangan Cio.
Saat itulah, Livia bertekat akan mewujudkan kata katanya kalau dirinya akan membunuh sang ayah yang sudah tega dan tenang saja, dirinya sudah merubah surat wasiat itu menjadi atas namanya, dan untuk pengacara ayahnya sudah sepakat kalau dia akan memiliki salah satu aset ayahnya.
Sekarang tinggal butuh cap tangan ayahnya saja, Livia mengeluarkan surat itu dan tak lupa membawa capnya juga, ditekannya jempol ayahnya dan di torehkan dikertas itu. Livia sudah sangat senang sekali, akhirnya hartanya menjadi miliknya.
"Terimakasih ayah, karena kau sudah baik, memberikan semua hartamu padaku, bagaimana aku lrbih pintarkan dibandingkan dengan kau, aku sudah membuat surat wasiat palsu dan bodohnya orang kepercayaan mu, mau melakukannya, "
Livia membenarkan rambutnya dan kembali mengantongi surat itu, saat Livia akan membalikkan badannya dan alangkah kagetnya saat melihat disana dihadapannya ada bi San
Bi San pun mematung melihat tuannya mati ditangan anaknya sendiri, bi San yang sadar karena sudah ketauan, dia langsung berlari meninggalkan Livia dan juga tuannya, yang mungkin saja sudah tewas.
Livia yang marah segera mencabut pisau itu dari ayahnya dan mengejar bi San, dengan pisau yang mengacung, lalu tiba tiba saja sesuatu, Livia mematikan semua lampu dan mencari bi San dalam kegelapan, dia kan sudah tua pasti akan lebih mudah kalau ditikam.
"Kau jangan membuat ku mencarimu terlama Bi, ayo keluar aku akan menghabisi mu seperti ayah, kau sudah berani melihatku yang sedang menghabisi Ayahku dan sesuai janjiku aku akan membuat dirimu pula mati bersama Ayahku, dan akan dikubur satu liang lahat. Ayo kemarilah jangan kau lari dariku. Aku tidak menggigit kok. Aku hanya ingin membunuhmu saja"
Livia dengan perlahan-lahan mencari setiap sudut yang dilihatnya, namun di sana tidak ada sama sekali bi San, beralih mencari ke kamar Bi San "Bi San dimana kau berada, jangan membuatku lebih marah lagi " namun sama tidak ada
Livia yang ketakutan segera berlari ke arah luar dan mencari keberadaan bi San, ternyata memang benar dia berlari keluar dengan tergesa-gesa Livia segera mengejar bi San yang sedang berlari tergopoh-gopoh karena usianya pun yang sudah tua.
Tanpa banyak waktu dirinya sudah menangkap bi Sa, menyimpan pisaunya di belakang pakaiannya, memegang kedua bahu bi San dengan sangat erat "mau ke mana kau, sudah jangan bermain-main denganku, kembali ke rumah dan ayo kita selesaikan permainan ini"
"Tidak nona tidak apakah kau tidak kasihan dengan tuan, kenapa kau lakukan itu pada ayahmu sendiri Nona "
Bi Saan dengan sekuat tenaga mencoba untuk melepaskan pegangan dari anak majikannya ini, namun sangat sulit sekali pegangan itu, bi San segera berjongkok dan membuat Livia berjongkok pula, tangannya perlahan mengambil batu-batu kecil dan melemparkannya ke arah mata Livia dengan cepat bi San segera berlari, selagi ada kesempatan.
Livia mengucek ngucek matanya yang terkena debu "" sialan kau ke sini Bi " saat Livia yang sudah kembali bisa melihat dengan jernih ia kembali berlari untuk mengejar bi San sampai-sampai bi San menubruk seseorang dan Livia hanya bisa menatapnya dengan senyum kecil.
**
Inara yang masih lembur di kantor tiba-tiba saja lampu ruangannya padam. Bahkan bukan ruangannya saja semua lampu padam.
Inara yang was-was segera menyalakan senter hp-nya melihat-lihat ke arah ruangannya dan dengan memberanikan diri dia keluar dari ruangannya, dengan perlahan di sini sangat sepi sekali
Tadi dirinya menyuruh Abian untuk pulang lebih dulu, karena memang kerjaannya banyak sekali, tadinya Bian tidak mau tapi untungnya dia mau juga kan karena paksaan nya.
Tanpa sadar Inara menubruk sebuah kardus dan mengeluarkan barang-barang yang ada didalamnya, Inara segera berjongkok tapi kenapa tengkorak manasia dan tulang tulangnya pula.
__ADS_1
Inara melemparkan kepala tengkorak itu dan berlari kearah lift, memencet-mencet nya dengan perasaan was-was di tangannya sudah memegang sapu lidi yang tadi sempat ia bawa dari dalam ruangannya.
Dengan hati yang masih takut, dia terus saja memencet mencet angga yang ada dilift, tapi tidak terbuka sangat lama sekali "ada apa ini kenapa tidak bisa dibuka "
Tiba-tiba ada yang memegang bahunya dengan refleksi Nara segera membanting sapu itu, dan orang itu malah menangkapnya , saat Inara menyentuh wajahnya ternyata itu adalah pacarnya Abian.
"Kenapa kau menakuti ku kenapa kau melakukan ini, kenapa coba lampu kantor mati semua, utung saha jantungku tak loncat dan masih ada ditempatnya."
Apa kau tega akan memukul ku dengan sapu-sapu ini, ini aku kesini untuk menjemput mu dan saat aku masuk ke ruangan mu kau sudah tidak ada ternyata ada di depan lift ini "
"Itu di sana ada itu aku takut sekali "
"Ada apa di sana apa ada pencuri, apa ada hantu atau ada genderuwo atau ada kupu-kupu yang bagus atau ada hewan berkaki banyak"
"Ih kau ini ya, kenapa jadi main-main kaya gini sih itu aku tadi nggak sengaja nabrak kartus dan membuat isinya jatuh, terus terus isinya keluar tulang tulang. Itu apa tulang manusia, apa di sini terjadi pembunuhan dan menguliti orang itu dan membuat tulangnya dikirim ke sini, kenapa kau menerimanya"
"kau ini kalau bicara ke mana saja, itu adalah kiriman dari castamer ku, ingin mengirim alat-alat medisnya ke Jawa dan memakai ekspedisi kita, aku tadi sengaja menyimpannya disana karena mau di packing terlebih dahulu, kau tahu sendiri kan gudang sedang penuh jadi aku menyimpannya di sini takut nanti tertumpuk tumpuk dan akan merusak barang-barang temanku ini, itu bukan hantu itu bukan tulang manusia ya "
"Ya aku kira itu tulang manusia kenapa lampu itu tiba-tiba saja mati dan membuat aku Jadi parno kan"
"Sudah Sudah makannya apa kataku jangan lembur0 memang tidak ada waktu besok untuk mengerjakan semuanya aku sudah bilang kan masih ada waktu untuk mengerjakan semuanya, kenapa kau terus bekerja, kau seharusnya bekerja dengan tenang aku pemiliknya dan aku tak akan marah sama sekali kau lelet"
"Bian meski aku pacarmu , aku tidak mungkin bisa berleha-leha di kantormu ini, aku disini digaji olehmu dan aku disini bekerja, memang kita sepasang kekasih dan akan menikah tapi aku ini bawahanmu maka aku tidak boleh memanfaatkan semua ini karena aku adalah pasanganmu. Aku sama seperti yang lain karyawanmu dan aku sedang banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan "
"Iya aku tahu kau memang profesional, apakah kau ingin aku carikan kembali asisten agar bisa lebih membantumu, agar pekerjaan mu lebih ringan bagaimana"
"Tidak perlu Rani pun akan kembali lagi ke sini, dia kan sudah lahiran dan anaknya juga sudah beberapa bulan kan jadi dia pun akan masuk kembali, aku tidak mau mencari teman lain biar Rami aja nanti yang masuk kembali kesini, menjadi asisten mu, aku kan di sini cuman pengganti aja"
"Baiklah baiklah sekarang kita pulang ya jangan di sini terus. Apa kau ingin menginap di sini aku sih tidak mau "
"Ya tidak lah, terus tas ku bagaimana "
"Ya sudah ayo kita bawa tasmu itu, lalu kita pulang ya jangan menyudahkan diri sendiri oke, dan jangan memikirkan pekerjaan apapun lagi "
Biar segera menggandeng tangan pacarnya untuk segera masuk ke dalam ruangannya, saat Inara melihat tengkorak itu lagi dia mendekatkan dirinya lebih dekat ke arah Abian.
Abian yang mempunyai kesempatan malah memeluknya dengan sangat erat mengambil tasnya dan kembali lagi masuk ke dalam lift untuk segera pulang, dan mengakhiri drama tentang tengkorak yang dikuliti oleh psychopath.
Atau kalau Inara mau ketemu psychopath dia bisa mencarinya, tapi untuk apa coba mencari psychopath tak ada yang perlu dibunuh dan untuk apa pula ya kan.
Nanti yang ada nyawanya yang melayang karena itu, lebih baik normal normal saja seperti ini, itu akan lebih baik kan. Tak usah mencari masalah dengan seorang pembunuh.
__ADS_1