
Segera ibu mertuanya ingin merebut ponsel Inara, "gak semudah itu bu " ucap Nara sambil menjaukan ponselnya dari hadapam ibu mertunya.
"Sudah yah aku leleh, aku lelah menghadapi manusia-manusia seperti kalian mending aku istirahat saja dari pada berbicara dengan ibu mertua dan suamiku yang hanya diam saja. Aku harus mempersiapkan dahulu untuk penceraianku dan juga melaporkan kalian berdua . Jadi selamat menderita untuk kalian berdua bersenang-senanglah nanti di penjara ya "
Inara segera pergi meninggalkan ibunya yang sudah memerah wajahnya, jadi ada yang memfidio kegiatannya saat ingin membunuh Nara, siapa itu. Segera dirinya beralih menatap Iva.
"Apakah kau yang melakukannya Iva"
"Iya itu aku yang lakukan, sorry aku tadinya cuman untuk senang senang aja, tapi teryata sekarang berguna "
"Kenapa sekarang kau berubah haluan"
"Sekarang aku sudah sadar bu, jadi lebih baik memihak Inara bukan pada Adam yang hanya ingat tentang selingkuh-selingkuh saja, aku lelah tau gak bu, aku tuh gak nafkahi "
"Kamu kan bisa bilang dulu sama ibu, kalau Adam gak nafkahi kamu, kenapa kamu gegabah langsung pindah haluan pada Inara. Kamu ini jadi musuh ibu sekarang hah "
"Percuma aku bilang sama ibu, karena ibu dan anak sama aja, jadi lebih baik aku bertobat dan membantu Inara untuk menjebloskan kalian "
"Kamu ini dasar tak berguna, kamu penghianat Iva "
"Gapapa bu ini demi kebaikan, aku berkhianat karena untuk kebaikan ku sendiri "
"Bu Adamnya jangan di anggurin kasih minum kasih makan, aku pergi dulu ya " lanjut Iva sambil berdiri meninggalkan mereka berdua.
"Lihat Adam, lihat istrimu keduanya berani pada ibu, kamu benar benar mendidik mereka tidak "
"Sudahlah bu Adam tuh pengen istirahat bukannya bertengkar kaya gini "
"Ya tapi lihat dulu sekarang kondisinya gimana, kamu taukan Inara sekarang mau laporin kita. Kita harus merebut semua bukti itu, jadi kamu harus membuat rencana yang sangat bagus untuk menghaguskan semua data-data yang dimiliki Inara"
"Iya bener juga bu, tenang aja aku akan menyelinap masuk kedalam kamar Inara untuk mengambil semuanya dan menghaguskan semuanya juga, jadi ibu tenang aja ya jangan khawatir"
"Baiklah ibu percakan semuanya padamu, sekarang kau lebih baik tidur di sebelah kamar Inara agar lebih memudahkan ya "
"Iya bu "
**
__ADS_1
Inara yang memang takut nanti Adam merebut poselnya ini segera membuka ponsel barunya, yang dirinya beli saat gajihan. Inara segera mengirim semua data data penting dan bukti bukti yang sudah dirinya punya selama ini.
Jangan sampai dirinya kecolongan oleh kedua orang licik itu. Setelah semuanya terkirim Inara segera menghabus begas kirimannya, lalu mematikan ponsel barunya dan menyimpannya kembali ditempat aman.
"Ya allah tolong permudah semuanya "
Tiba-tiba ponsel Nara berdering dan itu panggilan telfon dari Rani.
"Hallo Rani "
"Hallo Nara, aku sudah membuat janji temu dengan temanku yang seorang pengacara itu, besok kita akan bertemu dengan dia. Untuk foto-fotonya sudah aku siapkan dan untuk bukti lainnya kamu bawa ya. Nanti saat makan siang kita berangkat kesana ok "
"Baiklah Rani, terimakasih atas semua bantuan yang kamu berikan sama aku, kamu undah membuka peluang buat aku lepas dari laki-laki itu "
"Sama sama Nara, aku akan selalu membantu kamu, jadi kamu jangan merasa sendirian ya "
"Iya Rani, iya, Rani aku juga akan mempidakan Adam dan juga ibunya "
"Apakah kau yakin, akan melakukan semua itu "
"Tapi nama baik mereka berdua akan hancur apakah kamu mau "
"Ya aku akan lakukan itu, semua demi kebaikan aku dan orang -orang yang nantinya terjebak lagi oleh keluarga mereka agar tak merasakan apa yang aku rasakan "
"Baiklah jika itu kemauan mu, lalu dengan Shinta "
"Aku juga sama ingin melaporkan dia,, tapi menurut mu bagaimana "
"Emm kita lebih baik fokus saja dahulu dengan kasusmu dengan Adam bagaimana agar tak bercabang-cabang "
"Baiklah jika menurut mu itu lebih baik dan cepat, aku sudah pergi dari rumah ini"
"Baiklah Nara sampai jumpa "
"Ya sampai jumpa "
Inara segera membaringkan dirinya. Maunya sih semuanya dilaporkan tapi bagaimana sudah lah. Inara segera bangkit dan pergi keluar kamarnya lupa dirinya kan tadi belum makan, kebetulan mamih membekalinya makanan.
__ADS_1
Inara segera memakan makanannya, namun baru juga suapan pertama ibu mertuanya datang dan duduk dihadapan Inara. Menatap Inara yang sedang makan.
"Kenapa kau tak siapkan makanan untuk aku dan Adam "
"Kenapa harus aku "
"Kamu lupa kalau kamu adalah istri Adam "
"Aku gak pernah lupa, yang ada anak ibu yang lupa "
"Wajarlah, kamu kan gak penting "
"Yaudah kalau saya gak penting kenapa ibu sama Adam minta makan sama saya "
"Kamu ini makin kesini pinter banget jawabnya "
"Jelas semua saya pelajari dari ibu, ibukan guru terbaik dirumah tanggaku, ibu yang awalnya menghancurkan rumah tanggaku, ibu selalu ikut mengatur urusan rumah tanggaku, apa ibu tak punya urusan lain selain mengacaukan dan ikut campur tentang rumah tanggaku "
"Kau ini, aku ibunya Adam, jadi berhak untuk ikut campur dengan rumah tangganya "
"Ternyata benar apa kata ibuku, jika rumah tangga yang ada campur tangan orangtuanya tuh akan sulit dilalu dan akan hancur seperti rumah tanggaku ini "
"Saran ya bu, nanti kalau Adam menikah lagi kelak, itu pun mungkin, ibu jangan ikut campur lagi, bisa saja nanti Adam mendapatkan perempuan yang gak lemah dan bisa mencelakai ibu jadi hati hati, atau mungkin lebih jahat gitu dari ibu, karena karma gak akan pernah menghianati "
"Apa sekarang kamu berani menasehati orang yang lebih tua dari kamu "
"Tentu aku berani, karena ibu salah, makannya aku berani menasehati ibu, umur bukan patokan bu, jika ibu berbuat salah meski ibu sudah tua tetap saja yang muda harus mengigatkan bukan begi toh bu "
"Pusing saya dengar ocehan kamu yang gak ada gunanya "
"Ya kalau ibu pusing kenapa ibu tanya-tanya saya terus. Kalau pusing tuh minum obat bukannya ajak ngobrol orang makin pusing. Ibu harus banyak banyakin energi untuk di penjara nanti. Kita kan gak tau dipenjara orangnya gimana bu "
"Sialan kamu Nara, saya gak akan pernah maafin semua yang kamu lakukan pada saya dan juga anak saya "
"Ya itu terserah ibu saja, toh saya juga gak perlu dapet maaf dari ibu, seharusnya yang minta maaf itu ibu karena sudah menghancurkan rumah tangga saya. Memang bukan semua kesalah ibu namun awal kehancuran rumah tangga saya adalah ibu sendiri "
Tanpa mengatakan apa-apa ibu mertuanya pergi dan meninggalkan Inara kembali sendiri.
__ADS_1