
Inara segera keluar dari dalam kamarnya. Sebenarnya dirinya malu untuk keluar karena kemarin Bian menciumnya didepan banyak orang. Tapi kan dirinya disini kerja. Harus biasa saja berarti jangan hiraukan yang kemarin.
Dan Kebetulan sekali Inara malah bertabrakan dengan Bian dan mereka berjalan berbarengan untuk menemui Cio yang menunggu mereka untuk segera meeting. Di sana sudah ada Jon juga.
"Ayo semuanya duduk" ucap Cio
"Jadi meeting hari ini kita akan membahas apa dulu "ucap Liam
"Pertama kita harus minta maaf dulu pada koki, Manager dan Ria dan Liliana pula kita telah membuat mereka marah."
"Untuk apa Cio kita meminta maaf pada mereka yang salah mereka yang tidak menghargai kita di sini, ini resort punya kita bukan punya mereka "
" Iya aku tahu Bian ini Resort punya kita tapi mereka yang telah mengurus ini, saat kita tidak mengembangkannya kembali mereka yang mengurus semuanya kita harus menghargai mereka juga"
"Iya tapi mereka sudah kurang ajar dan tak menghargai aku sebagai atasan mereka, kenapa aku yang harus minta maaf harusnya mereka yang minta maaf"
"Turunkan sedikit egomu jangan seperti ini. Ayolah, mereka yang bisa membantu kita untuk membangun resort ini lagi "
"Baiklah kita akan bicara dengan mereka, aku dan Inara akan bertemu dengan koki itu kau dan Jon bertemu dengan manajer serta Ria "
"Bi, koki itu sangat tidak menyukaimu biarkan aku dan Inara yang akan menemui koki itu. Dan kau bersama Jon menemui Ria bagaimana"
"Tidak Inara adalah asisten ku dan calon istriku, jadi dia harus ada selalu disampingku. Kalau gitu bertukar saja aku dan Inara yang akan bertemu Ria kau dan Jon yang akan bertemu koki itu"
"Tidak bisa Bi, koki itu sudah akrab dengan Inara pasti akan lebih baik dan akan lebih enak aja gitu bicaranya jadi enggak akan ada pertengkaran lagi mengertilah. Aku tidak akan merebut Inara darimu tenang saja"
"Baiklak ayo Jon " Bian sudah pergi duluan meninggalkan Inara dan Cio berdua
"Ayo kita selesaikan semuanya dengan cepat Inara, "
"Baiklah "
" Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu Inara "
"Tentu kau ingin menanyakan apa"
"Apakah kau dan Bian benar-benar sudah sepakat akan menikah dan kalian tidak melakukan kebohongan di hadapanku. Atau hanya untuk membuat Livia mundur saja "
"Aku dan Bian akan menikah tapi mungkin entah kapan, sekarang kami hanya ingin mengenal kembali satu sama lain, karena kami kan pernah ada sedikit cekcok dan kami ingin mengenal lagi karakter kami masing-masing "
" Oh baiklah berarti aku masih bisa dong "
"Masih bisa apa Cio"
"Ya berarti masih ada peluang untukku untuk mendekatimu, karena kalian kan belum ingin menikah jadi apakah aku bisa dekatimu lagi"
"Bian adalah temanmu apakah kau ingin menikung dia tidak mungkin kan" Inara segera pergi mendahului Cio.
"Jika kau dan dia belum menikah kenapa tidak, aku bisa merebutmu dari dia, kami memang teman tapi aku tak bisa Melepaskanmu. Memang aku berbicara aku sudah siap kehilanganmu jika kau memilih dia tapi ternyata itu sangat sulit Inara, sulit aku tidak bisa melepaskanmu dengan Mudah "gumam Cio
Cio tiba-tiba saja melihat bunga kecil. Di petiknya bunga itu dan dengan cepat ia berlari kecil ke arah Inara dan tanpa Inara sadari Cio memasangkan Bunga itu di sela rambutnya.
" Apa yang kau lakukan Cio "
"Tidak aku hanya ingin memberikanmu bunga, bunga itu sangat cantik bila ada bersamamu.
Inara segera mengedikam bahunya, dan menemui koki Rohman yang sedang menyajikan makanan.
"Nah kebutulan sekali kalian datang, ayo sini makan, ayo makan "
Inara segera duduk di susul oleh Cio "Pak Rohman apa kita bisa bicara "
__ADS_1
"Tentu tuan "
"Apakah kau ingin risort ini berkembang lagi seperti dulu. Apakah kau tidak rindu memasak untuk orang banyak "
"Benar aku sangat ingin Resort ini berkembang seperti dulu banyak pembeli tapi aku rasa sekarang akan sulit. Kau lihat bangunan ini sangat tua dan jauh dari pemukiman. Mana Mungkin ada orang yang mau ke sini sangat sulit sekali"
"Kau benar tapi makanan mu ini sangat enak dan Sayang jika tidak dijual"
"Ya Inara benar tapi mau bagaimana lagi sangat sulit. Kalian makalah aku akan masuk dulu Aku ingin beristirahat "
Cio dan Inara hanya menganguk saja, dan memakan makanan itu.
"Inara " ucap Cio sambil memegang tangan Inara.
"Maaf " Inara segera bangkit dan pergi meninggalkan Cio sendirian
"Akhh " teriak Cio sambil mengebrak meja
**
Sedangkan Bian sekarang sudah duduk berhadapan dengan Ria yang sedang membuat minuman.
" Aku ingin bertanya sesuatu tentang Resort ini padamu apa aku boleh, dan aku juga ingin minta maaf tentang kejadian kemarin malam mungkin kita bisa saling minta maaf ya kan"
"Boleh tapi ada syaratnya "
"Setiap kau menegak bir ini, kau boleh bertanya padaku "
"Waw sudah disiapkan "
"Tentu saja "
"Aku ingin bertanya kenapa kalian ini sangat tidak menyambut kedatanganku dan teman-temanku yang lain apa ada masalah "
"Ya karena tuan akan memecat kami semua "
Bian segera menegak kembali birnya "lalu menurut kau dan teman-temanmu seberharga apa Resort ini untuk kalian"
"Sangat berharga tuan kami disini sangat nyaman aku kalau tidak disini tidak akan bisa membuat minuman dan tidak akan tinggal senyaman ini . Sedangkan untuk manager tempat ini sudah bagaikan hidupnya ,dan untuk Oki ini seperti dapurnya karena kami di sini bisa hidup dengan bebas. Dan untuk Liliana dia kan suka tidur sambil berjalan Jadi dia lebih bebas aja begitu sih. jadi Resort ini sangat berarti untuk kami semua "
Saat Bian akan mengambil kembali bir itu, Ria mengambilnya dan mengaknya " sekarang adalah giliran ku bertanya padamu seberharga apa Resort ini untukmu"
"Sangat berharga karena aku membangun resort ini dengan tabunganku sendiri dan ini adalah bisnis pertama ku dan aku akan mempertahankan ini sampai kapanpun, aku tidak mau sampai bangunan ini diubah. Aku sangat suka dengan desain kunonya dan jarang kan ada tempat yang seperti ini "
"Ya kau benar, ku kira kau akan menghancurkan tempat ini "
"Tentu tidak "
"Sebentar akan aku buatkan minuman spesial untuk mu "
Ria segera meracik minuman yang akan dirinya berbutar butar, dan melengak lengok lalu minuman pun sudah jadi ada dua.
"Kau pilih salah satu "
"Cap ci cup kembang kucup mana yang harus aku pilih, ini yang aku pilih " sambil menunjuk air yang berwarna biru.
"Hemm ini adalah minuman takdir sejati, seperti takdir untukmu sudah muncul, biasanya orang yang memilih bir ini akan bertemu dengan wanita seperti iblis"
"Hah iblis "
"Dimana "
__ADS_1
"Mari-mari kau dekat denganku dekati aku" Bian dengan cepat segera mendekatkan telinganya pada bibirnya Ria.
"Dia jauh di langit namun dekat ada di Pandangan"
Bian yang mendengarnya bingung, tiba tiba "tuan "teriak Inara.
"Ibliss" teriak Bian kearah Inara.
"Aku iblis kalau kau apa tuan, kau mengatakan aku iblis"
" Sudah sudah diam Ada apa kau menemuiku jauh jauh jauh jauh"
"Ada yang perlu aku bicarakan dengan mu tuan "
"Apa itu apakah begitu penting, sudahlah aku mau pergi aku mau istirahat kau jangan ganggu aku ok"
Bian segera berlari terbirit-birit, Inara yang bingung akhirnya duduk di tempat Bian tadi, meminum salah satu minuman berwarna hijau yang tadi dibuat oleh Ria.
"Aku sangat iri dengan mu"
"Kenapa kau sangat iri dengan ku Ria, aku hanya perempuan biasa yang terpelu sampai membuat orang iri "
"Kau itu cantik dan kau beruntung bisa mendapatkan tuan Abi yang tampan dan ternyata dia baik tidak jahat seperti penilaianku saat awal kita bertemu, oh ya kau tahu nama minuman yang kau minun "
" Memangnya apa, apa nama minuman ini"
"Yang kau minum adalah roda takdir melihat dari ekspresimu yang tidak senang sepertinya pengurus roda takdir sudah berhenti di tempat yang kau tidak sukai. Kau hanya bisa mundur atau mencobanya "
"Aku bingung maaf aku pergi ke kamar dulu ya dadah Ria sampai ketemu lagi "
Inara segera berlari terbirit-birit dan lalu setelah jauh dari Ria dia memikirkan kata-kata Ria yang berkata mencobanya apa yang harus di coba tiba-tiba "awww "
Inara mengambil bantal yang baru saja terjatuh menimpa kepalanya, lalu Inara mendongakkan kepalanya disana ada Bian yang tiba-tiba saja langsung mengumpat ketahuan.
"Kenapa aku harus mengumpat dari Inara aku bosnya, harus jangan takut, ini gara-gara kata iblis itu aku jadi takut, aku adalah bosnya berarti aku harus berani"
Bian segera berdiri dan menundukan kepalanya dan menatap Inara yang sedang mendongak pula menatap dirinya.
"Tuan apa yang kau lakukan, kau melemparku dengan bantal"
"Ya mau saja kenapa kau protes padaku "
"Akan ku buang saja bantalmu ini"
"Jangan aku akan ke sana Tunggu aku "
Biar segera turun dan Inara juga segera masuk ke sana biar nanti dia ketemu di tengah-tengah aja. saat mereka sudah bertemu dan akan bertengkar Lagi.
Tiba-tiba saja Liliana lewat , dia berjalan sambil tertidur Inara dan juga Bian yang takut terjadi apa-apa dengan Liliana segera mengikuti dia.
Dengan perlahan Liliana berjalan dan tiba-tiba saja dia mau naik ke atas penghalang tangga, Inara segera membantu Liliana turun, lalu kepalanya akam terhantuk tembok, Inara segera menghalanginya dengan bantal yang dia bawa.
Tidak disangka-sangka Liliana malah masuk ke dalam gudang dan mengambil sapu, lalu pergi begitu saja. Inara dan juga Bian yang melihatnya malah tertawa karena tingkah Liliana yang sungguh diluar ekspektasi mereka berdua.
"Ada ada saja ya Liliana itu " ucap Bian sambil menepuk nepuk bahu Inara.
"Apaan sih tuan, nih bantalnya nyebelin banget "
Setelah memberikan bantal itu, Inara segera pergi meninggalkan Bian sendirian di gudang.
"Tunggu aku Inara "teriak Bian sambil berlari terbirit birit
__ADS_1