
Inara sedang mempersiapkan sebuah pernikahan entah kenapa harus dia yang mempersiapkan, para pengantin sedang didandani oleh perias. Inara melakukannya dengan lesu dan hati yang sakit, tega teganya mereka melakukan ini pada dirinya.
Tega sekali mereka berdua sungguh tak menyangka akan seperti ini pada akhirnya, semuanya sia sia, kalau pada akhirnya akan seperti ini tak usah ada hubungan diantara dirinya dengan dirinya.
"Bagaimana Inara apakah kau sudah merapihkan semua bunga itu "
"Tentu Ana aku sudah membereskannya, aku sangat sakit Ana, hatiku sakit apakah harus seperti ini jalan hidupku Ana"
"Kau yang sabar, mungkin dia bukan jodohmu, aku akan selalu mendoakan mu, semoga kau mendapatkan jodoh lebih dari dia. Aku yakin tuhan punya rencana lain untukmu, jadi semangat. Kau jangan terlihat sakit hati, tapi perlihatkan kalau kau baik baik saja "
"Tetap saja Ana, rasanya sakit sekali aku yang menjalin hubungan mereka yang menikah "
"Sudah sudah, sekarang kau temui calon pengantin perempuannya dan kau cek apa dia sudah siap, karena acara sebentar lagi "
"Baik Ana "
Dengan lesu Inara pergi memasuki ruangan pengantin perempuan.
"Nona ini sudah sepatu kesepuluh, semuanya cantik "
"Tidak aku tak suka carikan yang lain secepatnya "
"Baik Nona "
"Eh ada Inara, aku ingin sepatumu, ayo cepat lepaskan sebagai kado pernikahan untuk ku dan juga Abian, ayo lepaskan "
Inara menarik nafasnya lalu membuka sepatunya dan memberikannya pada Livia.
"Nah ini bagus "
"Apakah kau yakin nona "
"Tentu "
"Oh ya Nara kau boleh memakai sepatuku yang mana saja, ayo pakai "
Tanpa banyak bicara Inara memakainya "apakah kau sudah siap, acara akan dimulai "
"Sebentar lagi, aku sedang memperbaiki riasanku, kau pergilah dulu "
__ADS_1
"Baiklah " Inara segera pergi dengan langkah lebarnya..
"Inara "
"Ya "
"Tolong tutup pintunya ya "
"Baiklah "
Inara segera pergi dan menghampiri Ana, "bagaimana Ara "
"Sudah siap Ana, "
"Baiklah aku akan bicara pada pembawa acaranya "
Inara hanya mengangguk dan pergi kearah Abian yang sedang berdiri menunggu pengantin perempuannya.
"Hai Inara, kau sungguh hebat bisa mendekor tempat ini sangat cantik, sungguh aku tak menyangka kau sehebat itu "
"Terimakasih sudah tugas ku, apakah kau bahagia Abi "
"Baguslah jika kau bahagia Abian, aku pun ikut bahagia akhirnya penatian Livia selama ini tak sia sia, kau lebih memilih dia dan mencampakan ku, sungguh aku tak menyang ini akan terjadi kembali padaku, terimakasih atas semua kebahagian yang telah kau berikan padaku Abian "
"Maaf Inara aku tak bermaksud menyakitimu, ternyata Livia yang lebih pantas menjadi istriku dan menjadi pendamping seumur hidupku, aku baru sadar. Maaf telah membuat mu sakit"
"Tidak apa, itu sudah biasa dan aku menerima semuanya dengan lapang dada, semoga kalian bahagia "
"Baiklah pengantin pria mari naik keatas panggung "
Abian segera tersenyum pada Inara dan menepuk nepuk bahu Inara lalu langsung melangkah pergi keatas panggung, duduk disana bersama papihnya.
"Baiklah mari kita panggilkan pengantin wanita yang paling cantik dan ayahnya "
Livia di gandeng oleh ayahnya maju kearah Abian senyum mereka berdua tak pernah luntur, mereka berdua sangat senang dan bahagia. Inara yang tak kuat mundur dan diam dibelakang sendirian.
Segera Livia duduk disamping Abian, mereka berdua saling melempar senyum dan Abian segera menjabat tangan penghulu. Ijab kabul pun terjadi.
Inara yang tak kuat menutup telingannya dan "sahh " teriak semua orang dengan senang.
__ADS_1
Lalu sekarang pemasangan cincin yang dilakukan oleh kedua penganti. Abian mengecup kening Livia dan Livia langsung menyalimi Abian.
Sekarang tak ada lagi Inara dan Abian, sekarang yang ada hanya Livia dan Abian, mereka yang diatas panggung terlihat bahagia sedangkan Inara malah menangis dalam diam.
Lalu tiba tiba saja ada yang menepuk bahunya "beruntung ya Abian, di sana dia bahagia dengan perempuan lain, dan sedangan dibawah tangga ada yang menangisinya, apakah sesakit itu Nara "
"Tentu itu sangat sakit Cio, kau coba ada di posisi ku dan rasakan apa yang aku rasakan "
"Aku dari dulu kan sudah bilang Ara, kalau Abian itu bukan laki-laki baik.Tapi kamu kekeh sama dia. Sekarang kamu tahu kan kalau Abian itu Playboy dia enggak akan pernah sanggup hanya punya satu wanita saja. Mungkin sekarang dia bahagia menikah dengan Livia tapi mungkin saja satu bulan atau mungkin satu tahun kemudian dia akan mencari perempuan lain"
"Entahlah, aku pun bingung kenapa tiba-tiba Abian melepaskan aku dan memilih Livia, dia melamar Livia dihadapanku dan itu sakit sekali. Apakah ini memang permainan mereka berdua untuk menghancurkan aku. Apakah selama ini aku menjadi taruhan mereka berdua kenapa harus seperti ini Cio. Memangnya aku salah apa, apa kesalahanku sampai-sampai aku diperlakukan seperti ini oleh Abian, dulu oleh suamiku sekarang oleh Abian Aku harus bagaimana"
"Sekarang yang kau harus lakukan adalah melupakannya "
"Aku tak bisa, aku tak akan bisa melupakan Abian, aku tak bisa "
"Aku yakin kau bisa jangan menyerah sepeti ini dong Inara, semangat mana Inara yang dulu, mana Inara yang selalu semangat "
"Tak ada lagi "
Tanpa disangka sangka Inara berlari dan melompat dari atas gedung, ya mereka melakukan pernikahan diatas gedung, tempat ulang tahun mamihnya Abian
"Inaraa " teriak Cio
Sontak semua orang menoleh dan berlomba lomba melihat Inara yang jatuh, sedangkan Ana yang panik segera menuruni tangga.
Dan bruk Inara terjatuh kebawah, kepalanya berdarah mengucur deras dan mulutnya pula, Ana yang baru sampai dibawah berteriak..
"Araaa " lalu memangku kepala Inara
"Apa yang kau lakukan Ara kenapa kau meninggakan aku seperti ini kenapa, Inara bangun jangan tinggalkan aku, aku tak sanggup hidup tampamu "
Hujan tiba tiba saja turun membasahi mereka berdua, tamu yang lain pun sudah ada dibawah bahkan pengantin pun sudah ada disana. Menyaksikan Inara yang sekarat dipangkuan sang kakak.
"A_na se_lalu jaga dirumu, aku sudah lelah dan aku tak bisa menghadapi derita ini kembali, aku ingin kau selalu bahagia ja_ngan menagis, aku menyayangimu " kedua bola mata Inara tertutup dan sudah tak bergerak lagi.
"Tidakkk jangan tinggalkan aku Ara tidakkk aku tak mau kau pergi "
Ana yang masih menangis segera membaringkan kepala adiknya lalu mengambil botol dan memecahkannya dan tanpa di duga duga dia berlari kearah Abian dan menusuknya.
__ADS_1
"Ini untuk rasa sakit yang telah kau berikan pada adiku, nyawa dibayar nyawa kau yang sudah membuat adiku mati aku tak akan terima dan aku ingin kau mati juga"