
Inara yang sudah siap dengan pakaian kerjanya segera keluar dan disana ada Adam dan Iva yang sedang makan. Dia sekarang tak peduli Adam akan tau dirinya bekerja, toh itu bukan masalah besar yang tak akan sulit untuk dirinya hadapi. Sudah banyak masalah-masalah besar yang dia hadapi.
"Sarapan dulu Nara sebelum berangkat, agar tak masuk angin nanti "
"Iya Va, aku makan sekarang"
Inara segera menghampiri meja makan, dan Adam menatapnya dengan tidak suka.
"Sejak kapan kau kerja, kenapa tak izin padaku"
"Lumayan sudah lama, kenapa aku izin padamu sedangkan kamu saja selingkuh tak izin padaku benarkan begitu "
"Tetap saja kau masih istriku dan harus selalu izin padaku bagaimana pun keadaannya "
"Egois sekali ya dirimu ini, ingin menang sendiri, aku tak mau izin terlebih dahulu denganmu, kau saja acuh padaku"
"Wajar aku seorang suami, seharusnya kau selalu bilang, jika sudah dapat izin dariku baru kau bekerja, bukannya asal asalan langsung bekerja "
"Sudah sudah, ini aku bekalkan sarapan untuk mu Nara, makanlah nanti dikantor kalau kau meladeni dia terus yang ada kau tak akan bekerja "ucap Iva menegahi
"Baiklah Iva, terimakasih atas pengertian mu aku pergi ya jaga dirimu baik-baik jika nanti ada bahaya kau langsung telfon pilisi ya "
"Ya sama-sama hati hati dijalannya, iya siap Nara aku pasti akan langsung menghubungi polisi"
"Sungguh kau bermuka dua Iva, aku tak menyangka kau pada akhirnya akan berpihak pada Nara, aku pastikan hidupmu akan hancur, bahkan lebih dari sekarang. Berani sekali kau mau menghinatiku dengan perpindah kubu. Seharusnya kau selalu mendukungku yang jelas-jelas suamimu Inara hanya istri pertamaku yang tak perlu kau hiraukan sama sekali, dulu saja kau sangat benci pada Inara namun kenapa sekarang sebaliknya dan malah membantu dia untuk bercerai denganku dan melaporkan ku "
"Coba saja aku tak takut dengan ancaman busukmu itu, aku sadar aku salah kubu dan salah orang untuk dibela, kalau aku terus ada dikubumu aku akan masuk neraka bersamamu dan juga ibumu sungguh tak sudi aku. Lebih baik aku menbantu Inara untuk lepas dari buaya sepertimu, buaya ganas yang haus akan perempuan dan ***, kau itu laki-laki tak berguna aku sangat menyesal telah menjadi istrimu "
"Ya sudah kau pergi dari rumahku "
"Ya aky ?akan pergi setelah Inara pergi dan aku akan memberi sebuah pelajaran pada perempuan yang telah melukai Inara untuk kedua kalinya. Lihat nanti yang akan aku lakukan pada pacar baru mu itu pasti kau akan kaget dan ini sebuah kejutan yang sangat menyenangkan untuk mu nanti, ditunggu saja ya kejutannya "
__ADS_1
Iva segera pergi meninggalkan Adam sendirian dengan kemarahannya yang sudah tersulut.
**
Inara segera masuk kedalam mobil lalu memberikan senyum terbaiknya pada Bian.
"Kenapa sepertinya kamu senang sekali cantik "
"Hehehe engga kok, gak papa boleh aku bicara dengan mu Bian, ini sangat penting"
"Silahkan aku tak pernah melarangmu untuk tak berbicara "
"Aku berniat pula untuk melaporkan ibu mertua ku atas tindakan kekeras padaku waktu itu dan percobaan melenyapkan ku, menurut mu bagaimana "
"Itu bagus sayang, lebih baik dihabiskan sampai-sampai ke akar akarnya agar tak berkembang kembali"
"Tapi aku hanya punya satu bukti saja, sebuah fidio "
"Kamu tenang saja, untuk urusan ibu mertuamu biar aku yang urus kau fokuslah untuk menjalani perceraian mu dengan Adam "
"Tidak sama sekali sayang, aku sama sekali tak terbebani malah aku senang dilibatkan dalam masalah ini, aku bisa membantumu lepas dari orang orang tak punya hati itu, masalah uang kamu gak usah fikirin "
"Aku akan ganti nanti uangmu, lalu untuk Shinta bagaimana "
"Yang itu pun biar aku yang urus kamu hanya fokus pada satu tujuanmu yaitu membuat Adam merasakan apa yang kau rasakan, tak usah kau ganti "
"Baiklah, terimakasih atas semua bantuan mu, tidak aku akan tetap menganti uangmu , namun permintaan ku padamu ada satu lagi apa boleh "
"Apa itu sayang "
"Aku mau, kamu jangan jemput aku antar aku atau pun berhubungan dahulu denganku, kita seperti yang lain saja seperti bos dan karyawan, jangan memperlihatkan kalau aku dan kamu dekat "
__ADS_1
"Kenapa begitu aku gak bisa "
"Aku hanya ingin kamu tak terlalu terlibat lebih jauh, dan aku takut Adam nanti membuat bukti kalau kita selalu bersama-sama dan malah membalikan fakta bahwa aku yang selingkuh untuk ini apakah kau bisa bekerja sama denganku "
"Sebenarnya untuk yang satu itu agak berat tapi demi kebaikan mu dan kesuksesan kasusmu aku akan terima, dan aku akan selalu membantu kamu dibelang mu, namun aku akan tetap mengirimkan supir untuk antar jemput kamu "
"Jangan dong nanti malah makin masalahkan, aku gapapa pulang sendiri , aku bisa kok Bian"
"Gak bisa, aku gak bisa biarin kamu sendirian, bilang aja kamu dapet pasilitas dari kantor jadi apa salahnya , mau atau aku akan selalu menjeputmu dan mengantarmu pulang "
"Baiklah-baiklah aku akan menurut untuk yang satu itu "
"Anak pintar. Ayo turun kita sudah sampai dikantor " tak terasa obrolan mereka sudah berakhir juga.
Segera mereka berdua keluar, yang keluar terlebih dahulu Bian, atas permintaan Nara dan setelah cukup lama Nara segera keluar tak lupa mengunci pintu mobil Bian.
Tak sengaja Nara dan Shinta berpapasan, Shinta langsung memegang tangan Nara.
"Benarkan firasatku ternyata kau yang selalu datang bersama bos, aku sekarang menjadi punya bukti, kalau kau sama seperti Adam tukang selingkuh tak ada bedanya "
"Jangan kau sama kan aku dengan Adam karena kami berbeda, tau dari mana kau aku selingkuh, bukti saja tidak punya jangan sok berani dan sok tau, dekat belum tentu pacaran, seperti kau dulu dengan Adam"
"Ya mungkin sekarang aku tak punya buktinya namun lihat saja aku akan membongkar semuanya, tapi sekarang aku berhasilkan menjadi selingkuhan Adam "
"Silahkan aku tak takut dengan ancaman mu yang sungguh tak menakutkan. Aku seperti di ancam oleh anak kecil saja, ya tapi bekas orang lain menjijijan sekali "
"Baiklah ku kibarkan bendera perang padamu "
"Silakan orang munafik, perebut, tak tau malu, tak tau diri sepertimu sungguh mudah untuk dikalahkan teman lama"
Dengan angkuh Inara segera melepaskan cekalan Shinta lalu berjalan dengan santai untuk masuk kedalam lift. Sedangkan Bian masih menatap pertengkaran Shinta dan Inara.
__ADS_1
"Ternyata kau ingin main-main denganku Shinta, sampai kau berani mengancam wanitaku, lihat saja apa yang akan lakukan padamu"
Bian segera menyusul Inara yang sudah pergi terlebih dahulu meninggalkannya.