
Happy reading
"Mas berangkat dulu ya sayang."
"Iya Mas. Kalian hati hati dijalan ya, oh ya Mas Ai mau makan martabak nanti tolong beliin ya," ucap Aisyah memeluk tubuh suaminya yang sangat membuat ia tenang.
"Iya seperti biasakan?" tanya Abi dan dianggukkan oleh Aisyah.
"Hati hati mbak."
"Iya Ai."
Abi dan Zahra akan ke rumah sakit hati ini. Hanya untuk memastikan jika benar Zahra itu hamil. Bahkan Aisyah juga diajak tadi tapi malah menolak.
Kini hanya tinggal Aisyah di rumah, ia kembali dengan tugas tugasnya sebagai seorang guru apalagi ini sudah mulai pembagian rapor dan semua nilai sudah harus di rekap.
Tapi sebelum ia ke kamarnya, Aisyah lebih dahulu membuat minuman air lemon yang entah kenapa akhir akhir ini selalu menjadi minuman favoritnya entah dimana pun itu berada. Aisyah bahkan sering membawanya ke sekolah.
Setelah selesai membuat minuman, Aisyah berlalu menuju kamarnya dan menyelesaikan tugasnya.
****
Sedangkan kini di dalam mobil, Abi dan Zahra masih sama sama diam. Bedanya Zahra sedang diam dengan senyum seraya mengelus perutnya dan Abi sedang memikirkan Aisyah yang tampaknya berbeda.
"Mas gimana kalau aku beneran hamil?" tanya Zahra.
"Ya itu karena usaha kita berhasil. Anak yang ada dikandungan kamu itu rezeki buat kita dan keluarga," jawab Abi dengan jujur.
"Aku bahagia karena gak lama aku akan menjadi seorang ibu."
"Hmm aku juga."
Mereka kembali diam, walaupun Abi sudah memiliki rasa pada Zahra tapi ia tak tahu harus bagaimana lagi berinteraksi dengan Zahra. Karena jika bersama Aisyah pasti selalu saja ada yang menjadi bahan topik mereka.
__ADS_1
"Mas aku mau makan itu boleh."
Zahra menujuk orang berjualan tahu bulat, dan dianggukkan oleh Abi. Abi membelikan tahu bulat untuk Zahra kemudian kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Enak, mas mau?" tawar Zahra pada Abi.
"Buat kamu aja, Zahra," jawab Abi pada Zahra.
Ia paling tak suka dengan yang namanya tahu, karena dulu ia tahu bagaimana proses pembuatan tahu di desa saat ia sedang memantau lokasi untuk membangun pabrik.
Abi tersenyum melihat Zahra yang dengan lahap memakan tahu bulat itu.
Hingga sampailah mereka di rumah sakit, mereka sudah membuat janji dengan dokter Anne yang notabene adalah dokter kandungan di rumah sakit itu.
"Ayo masuk."
Mereka masuk ke dalam rumah sakit kemudian berjalan menuju ruang tunggu. Ternyata banyak orang yang sedang memeriksakan keadaan ibu dan bayi disana.
"Banyak juga ya mas."
Tak lama nama mereka yang dipanggil, Zahra dan Abi langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"Halo Tuan Abi. Kita bertemu lagi," ucap dokter Anne
"Hmm."
"Jadi bagaimana?" tanya Dokter Anne melihat wanita yang ada di samping Abi.
"Kenapa bukan Aisyah, bukannya Aisyah itu istrinya Abi kenapa malah wanita ini yang dibawa kesini?" tanya Anne dalam hati.
"Aku mau memeriksakan istri gue, tadi dia pakai testpack dan ternyata gadis dua. Bukannya itu positif?" tanya Abi dan dianggukkan oleh Dokter Anne.
"Baiklah mari nyonya, silahkan berbaring dulu."
__ADS_1
"Iya dok."
Zahra berbaring di brangkar itu dan Anne mengerjakan tugasnya sebagai seorang dokter kandungan. Anne adalah teman Aisyah saat kuliah dulu, bahkan Anne bisa dibilang bestie dengan Beby dan Aisyah. Walau mereka beda jurusan.
"Lihat yang ada di depan sana. Usia kandungan Nyonya sudah masuk usia 2 mingguan. Masih sangat kecil sekali bukan."
"Jadi benar jika Zahra hamil?" tanya Abi yang tak bisa menahan air mata bahagianya. Akhirnya ia bisa merasakan bagaimana menjadi seorang ayah.
"Mohon dijaga istrinya ya Tuan Alex, jangan buat dia stress apalagi tertekan. Karena kandungannya ini masih sangat rentan dengan yang namanya keguguran jadi tolong dijaga dengan baik."
"Iya dokter."
Mereka mengangguk dan memuaskan diri untuk menatap layar monitor itu dengan senyum manisnya.
"Sus, copy hasilnya ya."
"Siap dok," jawab suster dengan patuh.
Anne membersihkan gel yang ada di perut Zahra dan membantu Zahra untuk duduk.
"Apa ada keluhan lain Nyonya?"
"Saya sering muntah di pagi hari. Jadi bagaimana itu dokter? Apa bahaya?"
"Mual dan muntah di pagi dan malam hari itu sudah biasa untuk seorang ibu hamil. Bahkan ada yang sampai 9 bulan baru selesai masa morning sicknessnya."
"9 bulan harus muntah muntah?" tanya Abi dengan kasihan dengan Zahra.
"Bisa jadi, tapi ada juga ada yang 2 bulan bahkan 1 bulan langsung sembuh. Tapi semua itu pasti akan terbayar saat kalian melihat anak kalian nanti," ucap Anne dengan senyum manisnya.
"Iya dok."
Mereka dengan patuh mendengarkan nasihat nasihat Anne. Hingga Anne memberikan resep obat dan vitamin untuk Abi tebus ke apotik.
__ADS_1
Setelah selesai, keduanya pamit dan Abi langsung menebus obat dan vitamin untuk Zahra.
Bersambung