
Inara yang sudah ada dikantor dan sedang fokus mengerjakan tugas tugasnya yang menumpuk dikagetkan dengan ketukan pintu, Inara segera menyuruh orang itu masuk, ternyata itu Cio.
Inara hanya bisa tersenyum canggung pada Cio, karena memang sudah lama tak saling berbicara, semenjak dirinya berbicara memilih Abian, itu adalah terakhir kalinya mereka saling bicara.
"Hai Cio ada apa, apa ada sesuatu yang perlu aku bantu, atau kau mencari Abian"
"Maaf tadi aku ke ruangan Abian, tapi dia tidak ada. ke mana ya dia pas sedang meeting di luar ya, atau sedang ada pekerjaan diluar Ara"
"Tidak Dia sedang meeting di sini dan mungkin sekarang mereka sedang makan siang, ya mungkin sih itu juga, karena aku juga belum melihat Abian kembali keruangannya "
"Makan siang, apakah kamu mau menemaniku makan siang, hanya makan siang saja nanti kalau terjadi apa-apa aku akan menjelaskan pada Abian, makan siangnya pun di sini di kantin agar kita bertemu dengan Abian, bagaimana apakah kau mau, hanya sebentar dan aku tak akan berbicara yang aneh aneh, atau minta apa apa, bagaimana"
Inara yang tak mau membuat Ci9 sedih akhirnya mengangguk saja, hanya makan saja kan, tak melakukan apa apa, jadi tak masalah dan Abian juga pasti tak akan marah, Abian tak akan mungkin salah faham nanti juga ketemu kan.
"Baiklah ayo kita makan di sana. Aku juga rasanya lapar sekali dari tadi belum makan nih, karena terlalu fokus sama kerjaan yang lagi numpuk banget"
Nara langsung berjalan dan mendekati Cio, mereka segera masuk ke dalam lift dan hanya saling diam saja tanpa berbicara satu sama lain.
Saat keluar pun mereka sama seperti itu berjalan ke arah kantin kantor dan saat ini Inara menengok ada Abian yang sedang menatapnya sambil memicingkan kedua bola matanya.
Inara hanya bisa tersenyum dan langsung mundur di belakang Cio, menyembunyikan tubuhnya ingin melihat apakah pacarnya akan menghampirinya atau akan diam saja di sana berbicara dengan rekan kerjanya.
Mereka berdua segera duduk dan memesan makanan yang mereka mau, lalu memakannya dengan diam dan Abian masih saja memicingkan kedua bola matanya menatap Inara dan Cio.
__ADS_1
"Apa kenapa kau tersenyum seperti itu, apa ada sesuatu yang lucu Ara , atau ada noda diwajahku, ada apa "
"Lihatlah di belakangmu ada seseorang yang sedang melihat kita dengan dengan serius. Apakah kau tidak panas punggungnya dilihat terus-menerus oleh dia, sungguh itu sangat lucu coba kau putar balik "
Cio segera mengalihkan pandangannya dan melihatnya ternyata Abian yang melihatnya seperti itu, Cio hanya terkekeh saja dan kembali beralih menetap Inara.
"Sudahlah biarkan saja dia memang seperti itu, ada-ada saja padahal kan hanya makan biasa saja, sudahlah aku akan menjelaskannya nanti kalau terjadi apa-apa, kau tenang saja semuanya beres. Aku hanya ingin ada teman makan saja tadinya kan aku ke sini ingin mengajak Abian makan, tapi ternyata dia sedang meeting "
"Ya sekarang dia agak sibuk karena beberapa hari tidak masuk kerja, jadi akan banyak kerjaan yang menumpuk, maklum lah diakan bos ya bebas mau kapan aja libur tapi sekalinya masuk lagi kerjaannya banyak banget"
Tiba-tiba saja Abian datang dan duduk di sebelah Inara dan menatap mereka berdua.
"Cio kau ada disini sejak kapan, kenapa kau tiba tiba ada disini, kenapa kau tak menghubungiku , tak biasannya apa kau hanya ingin menemui pacar ku saja, calon istriku saja "
"Yayaya gue tahu lo tidak akan macam-macam hanya saja gue ya begitulah, tapi ah susah buat dijelasin, lo juga pasti ngerti deh males ah kalau dijelasin "
"Iya Iya gur tahu lo cemburu kan melihat gue sama Ara pergi berdua ke sini, tenang aja kita gak akan berselingkuh kok, tenang aja gak akan mungkin Ara mau di ajak selingkuh, pacar lo kan setia banget, dan sayang banget sama lo onyet jadi gak usah khawatir gue juga udah gak berharap untuk bisa bersama sama Ara lagi tenang ok "
"Iya iya gue tahu, tapi kan kalau mau nikah itu banyak banget rintangannya, makannya gue khawatir banget bukannya gue gak percaya sama bebeb gue ini, gue cuman takut kehilangan aja "
"Iya juga sih, tapi kalau hatinya udah yakin pasti gak akan tergoda, "
Saat makanan Abian datang tiba-tiba saja Inara merasa mual, Inara segera menahan mulutnya untuk tak muntah disini, Inara langsung berlari meninggalkan 2 laki-laki ini.
__ADS_1
Abian menatap kearah Cio lalu beralih menatap Inara yang berlari menjauh dari pandangannya, dirinya masih binggung dan belum bisa mencerna tentang situasi yang terjadi.
"Cio kenapa dengan Inara kenapa dia berlari. Memangnya makanan gue bau ya, sampai dia lari kayak gitu"
"Entahlah coba kau kejar dia, sepertinya dia mengandung atau masuk angin. Apakah kalian sudah melakukan begituan, bukannya aku tak sopan aku hanya menanyakannya saja "
Abian yang panik segera mengejar Inara, tanpa menjawab Cio terlebih dahulu, apa mungkin yang dibicarakan Cio benar, Abian langsung menunggu Inara diluar kamar mandi dan tak lama kemudian Inara keluar dengan wajah yang pucat.
Abian segera mengandeng Inara untuk segera pergi keruangannya, tak ada pembicaraan diantara mereka, hanya wajah tegang Abian saja yang terlihat.
Saat sudah ada didalam ruangan Abian, Abian langsung mengunci pintunya dan membantu Inara duduk.
"Kamu kenapa, kenapa kamu muntah-muntah apa kamu baik-baik saja "
"Aku tadi baik-baik aja kok Bi, tapi setelah makanan kamu dateng tiba-tiba aku mual, tapi aku gak muntah apa-apa cuman cairan putih aja"
"Kita periksa ke dokter ya, aku takutnya kamu isi atau kamu sakit sayang ya"
"Apa aku isi, masa sih engga deh Bi, kita kan cuman lakuin sekali aja "
"Ya kita gak tahu kan, kita gak pernah tahu meskipun kita ngelakuin sekali, kalau misalnya bayinya mau jadi ya gimana dong. Udah ya kita cek aja ya sayang ya dari pada kita kayak gini kamu udah haid belum sih, "
"Bwlum sih bulan ini aku belum haid sama sekali Bi, aku sampai lupa dan kayaknya sudah telat 2 minggu deh Bi "
__ADS_1