
Tangan Puja sudah di gips, dan dia sudah ada dirumah kembali, tatapan Puja kepada Ana sama sekali tak lepas, Ana yang sedang bermain dengan Sean segera mengalihkan pandangannya dan menatap pula Puja.
"Ana apakah kau tak merasa bersalah sudah membuat tanganku patah apakah kau akan diam saja seperti itu "
Ana masih tak bergeming, kembali fokus bermain bersama Sean "Ana aku berbicara dengan mu, kau jangan diam saja, kau punya mulutkan "
"Sean tunggu aku sebentar "
"Baik kak "
Ana berjalan dan duduk dihadapan Puja "ada apa dengan mu kenapa kau sangat berisik apa yany harus aku lakukan, apakah kau ingin salah satu tanganmu aku patahkan lagi atau bagaimana "
"Hei kau disini numpang jangan sok deh sama aku "
"Ku juga sama numpang jadi jangan sok sokan jadi nyonya runah kita sama sama numpang maka bersikap lah seperti orang yang menumpang kau dengar tidak "
"Aku sama sekali tidak menumpang sebentar lagi ini akan jadi miliku, jadi kau kalau bicara jangan sembarangan ya "
"Apakah sudah kau berbicaranya denganku, apakah tidak ada lagi yang perlu aku dengar dari mulut kotor mu "
"ANA "
"Apa sayang, apa kau sekalu memanggil namaky tapi tak pernah benar akan berbicara apa "
Ana yang sudah nuak segera pergi dan menghampiri Sean lagi, kalu bermain kembali, ya mereka berdua harus bermain diluar kamar ini perintah dari Roger.
Katanya mereka terlalu banyak diam dikamar, padahal ada alasankan kenapa selalu dikamar, alasannya karena nenek sihir itu yang selalu berisik dan tak mau diam.
"Roger, akhirnya kau datang juga kenapa kau sangat lama ,aku disini takut sendirian "
"Takut kenapa takut, disini ada Ana dan ada juga Sean "
"Tapi mereka mendiamkan ku, lihat mereka hanya sibuk main berdua "
"Ya tidak apa apa, yang pentingkan kau ada teman sayang, "
"Tetap saja aku ingin diajak ngobrol, nanti aku tidak mau ditinggalkan ah, aku mau ikut saja bersama mu "
"Kau sedang sakit sayang, sedang sakit "
"Hemm ini juga gara gara Ana, dia yang sudah membuat aku seperti ini, kalau saja Ana tak melakukan ini mungkin semua ini tak akan terjadi "
Ana yang kesal tiba tiba saja pergi keluar rumah "Kakak mau kemana kakak mau kemana "
"Kamu diam dirumah ya kakak ingin menghirup udara segera dulu, tak akan lama "
"Tapi kak "
"Sebentar sayanag, kau tidurlah nanti aku akan ada disamping mu "
Roger yang melihat segera mengejar Ana juga dan mencekal tangannya namun Ana melepaskannya dengan kasar.
"Mau kemana kau Ana, mau kemana "
"Mencari udara segera, aku ingin menenangkan fikiranku terlebih dahulu, kalau aku terus disini aku tak tau akan melakukan apa pada pacar mu itu, mungkin saja aku akan membunuhnya, aku sudah muak dengan dia yang berceloteh terus "
"Maafkan dia, ayo masuk kembali kerumah aku akan berbicara padanya "
"Bukan kau yang salah Ana segera melenggang pergi, tanpa mau mendengarkan teriakan dari Roger.
"Tante jahat. selalu saja membawa bawa nama kakak, lihat kakak pergikan "
"Baguslah kalau perempuan itu pergi, kau ini aku yang akan menjadi ibumu bukan dia, kau seharusnya lebih menurut padaku, bukan pada wanita asing itu, apakah kau tau siapa dia, apakah kau tau siapa sebenarnya dia, bagaimana kalau dia adalah seorang pembunuh bagaimana "
"Aku tidak peduli, dia mau seorang pembunuh pemabuk atau apapun yang terpenting kasih sayangnya padaku memang benar benar nyata tak seperti dirimu, yang hanya suka pada ayahku, kau perempuan jahat telah mengusir kakak, jahat jahat jahat "
__ADS_1
"Kau ini yang sangat berisik, masuk kekamar mu anak kecil turuti aku, aku ini adalah calon ibumu, ayo cepat masuk atau alu akan menyeret mu masuk dan menguncimu dikamar mandi "
Roger yang mendengar pertengkaran didalam rumah kembali masuk lagi, dan melihat Puja yang sedang bertengkar dengan sang anak, ada apa lagi ini kenapa jadi seperti ini.
"Stop jangan bertengkar kenapa sih kalian tak pernah bisa damai "
"Dia yang memulai Roger lihatlah anak mu ini, membela perempuan jahat itu, dia memarahiku dan dia tidak mau aku menjadi ibunya dan dia_"
"Kakak tidak jahat kau yang jahat pada kakak dan diriku, kau dasar penyihir jelek sifatmu sama seperti penyihir yang ada didogeng, dasar kau menyebalkan, aku tak suka denganmu " sela Sean.
Sean langsung berlari meninggalkan ayahnya dan juga Puja, "Puja apakah kau tidak bisa mengalah, dia adalah anak kecil jangan samakan dengan Ana, seharusnya kau tak meladeni ucapan Sean, dia masih kecil, dia belum mengerti apa apa, kalau kau memang benar benar ingin menjadi istriku maka kau harus menerima Sean juga, menyayangi Sean juga sama seperti kau menyayangiku "
"Coba kau fikirkan kembali, apakah kau siap dengan apa yang aku katakan, karena aku sama sekali tak mau salah nantinya memilih calon istri dan ibu untuk anak ku, "
Roger segera melengos untuk pergi kekamar anaknya dan saat pintu dibuka, Sean sedang menangis sambil tiduran diatas tempat tidur.
Lihat baru begini saja Ana tinggalkan anaknya sudah menangis, bagaimana kalau Ana pulang nantinya apakah akan lebih histeris dari sekarang, atau malahan akan ikut pada Ana.
"Sean sayang, jangan menangis disini ada ayah "
Sean segera duduk dan menghapus air matanya "aku tak suka tante puja, lihat gara gara tante puja kakak pergi, kenapa semua ini harus terjadi kenapa ayah, kenapa aku tidak suka dengan tante Puja, aku ingin dia saja yang pergi jangan kakak, dia jahat membentak ku ayah "
"Dengar kakak hanya ingin menenangkan dahulu fikirannya nanti juga sebentar lagi kakak akan kembali kau tenang saja ya"
"Iya ini gara gara tante Puja yang selalu menyalahkan kakak, jadi kakak marah dan dia pergi, kakak pergi meninggalkan aku ayah, aku tidak bisa tanpa kakak, aku seharusnya ikut kakak saja bukan diam seperti ini, seharusnya aku ikut ayah ikut "
"Hey hey hey, sebenarnya kau anak siapa, kau anak ayah kenap harus ikut dengan kakak Ana ,ayah ada disini "
"Karena kakak bisa meluangkan waktu bermain denganku, bisa meluangkan waktu mengantar aku sekolah, menyuapiku dan mengajariku saat aku belajar, aku seperti mempunyai ibu ayah, seperti yang lainnya, mempunyai ibu "
Roget tiba tiba saja merasa bersalah, berarti selama ini memang dirinya tak punya waktu untuk sang anak, waktunya dirinya habiskan bersama Puja dan juga pekerjaannya,.
Roger lebih mendekatkan dirinya pada sang anak lalu memeluknya dengan sangat eratt sekali, mencurahkan kasih sayangnya dan rasa bersalahnya.
Ana yang sudah sampai di club sudah memesan beberapa minuman beralkohol, ingin menengkan diri kalau tidak seperti ini akan mati S Puja ditangannya kan.
"Hey cantik kenapa kau sendiri saja, boleh ya ditemani minum dan yang lainnya gitu " sambil merangkul Ana.
Ana melihat tangan yang menyampir pada bahunya lalu menggenggamnya dan menyimpannya di samping kaki laki-laki itu "kau bisa diam atau mulutmu aku robek, kau bisa pergi Kalau tidak kakimu aku patahkan bagaimana mau tetap di sini atau kau pergi sekarang juga, aku tidak butuh siapapun dan aku tidak butuh teman apapun jadi lebih baik kau pergi saja dari hadapanku, jangan mengganggu aku disini aku tidak ingin diganggu oleh siapapun itu"
"Galak banget sih cantik aku kan cuman mau temenin kamu aja cuma duduk-duduk, minum-minum senang senang doang jangan marah-marah lagi kenapa sih cerita dong, lagi ada masalah apa cerita sama aku nanti siapa tahu aku bisa bantu kamu jangan galak cantik sama aku, ceritain dulu apa masalah kamu ya"
Ana mendelik dan menghadap pada laki laki itu " masalahku ada pada dirimu, kau telah mengganggu ku dan kau tidak mau pergi dari hadapanku itu masalahnya"
"Hahaha marah marah saja terus sayang, kau ini banyak bicara sekali tau "
Ana yang kesal memegang kedua sisi mulut laki laki itu lalu mengambil pisau dan merobeknya.
"Kau berisik, aku suruh diam ya diam "
"Akhh " histeris orang orang yang ada disana.
Bahkan laki laki itu yang mulutnya sudah dirobek terkapar dilantai menahan sakit dibibirnya, Ana yang belum puas menuangkan alkohol pada wajah laki laki itu lalu pergi, tanpa ada yang mau menahan Ana , namun beberapa sudah ada menelfon polisi.
Ana segera berlari secepatnya "sialam gara gara laki laki gila itu "
Saat melihat toko baju Ana masuk dan megambil beberapa pakaiannya dan juga sepatu, mengantinya di tempat ganti, dan menyumpatkan pakainnya disela sela tempat itu.
Ana pergi tanpa membayar sama sekali, untung saja penjaga toko tak melihatnya, saat Ana sudah diluar dan berjalan sedikir jauh tiba tiba saja ada polisi yang menghadangnya
"Ada apa pak " tanya Ana dengan santai.
"Apakah kau melihat seorang wanita memakai gaun cantik dan berambut hitam seperti mu berlari kearah sini "
"Tidak pak, memangnya dia kenapa pak, apakah orang hilang "
__ADS_1
"Bukan dia telah merobek bibir salah satu pengunjung dan kabur begitu saja, kau jangan berkeliara siapa tau dia akan mencari korban kembali "
"Siap pak tenang saja rumah saya dekat kok, sebentar lagi saya sampai dirumah saya, sebaiknya bapak segera cari lagi takut takut dia malah semakin berbahaya "
"Baik saya permisi "
"Silahkan pak hati hati "
Ana yang melihat polisi bisa terkecoh olehnya hanya tersenyum bangga dan kembali melanjutkan jalan jalannya.
"Mudah sekali disini melakukan kejahatan sepertinya aku harus pindah rumah kemari, agar lebih leluasa kan kalau ingin membunuh orang orang yang naif dan yang selalu menggangguku "
Ana terus saja berjalan tanpa tentu arah sama sekali, namun perutnya sangat lapar sekali, saat melihat ada tukang mie ayam Ana segera duduk dan memesan satu porsi.
Namun dari kejauhan Ana melihat ada anak kecil diam dipojokan melihat kearahnya, Ana dengan perlahan melambaikan tangannya pada anak kecil itu.
Dengan takut takut dia menghampiri Ana dan tersenyum pada Ana "Apakah kau sudah makan "
"Belum kak, aku sangat lapar sekali, aku belum makan sama sekali "
"Ya sudah kau duduk dan aku akan memesankan satu untukmu ya, kita makan bersama sama disini "
Anak kecil yang senang itu mengangguk dan duduk disebelah Ana "satu lagi ya pak, jangan pakai pedes "
"Siap neng "
"Rumah kamu dimana, kenapa malam malam kamu ada diluar seperti ini "
" Rumahku dekat cuman aku keluar rumah karena sangat lapar sekali ingin mencari makanan, aku belum makan dari kemarin, karena ku belum bisa mendapatkan uang sedikitpun "
"Lalu ayah dan ibumu kemana "
"Ayah dan ibuku sudah tidak ada, aku tinggal bersama Bibiku jadi aku harus mencari uang dulu sebelum bisa makan, kalau tidak mendapatkan uang aku tidak akan makan lihat sekarang aku belum makan karena aku belum memberikan uang pada bibiku sepeserpun"
" Ya sudah aku akan menemui bibimu dan akan berbicara pada dia seharusnya kau itu sekolah bukan mencari uang, seharusnya bibimu yang menanggung semua kebutuhan mu bukan kau menanggung kebutuhan bibimu"
"Tida tidak Kakak jangan temui Bibi, nanti malah aku yang akan dimarahi habis-habisan, nanti dia akan marah karena aku berbicara pada orang lain cukup kak jangan sampai kakak bicara dengan bibiku, aku tidak mau kakak celaka dan aku tidak mau dimarahi oleh Bibi terus menerus apakah kau bersedia"
" Baiklah aku bersedia tapi jika bibimu sudah sangat keterlaluan pergilah ke kantor polisi mengadulah kepada mereka pasti mereka akan membantumu jangan diam saja, jangan mau kau terus dimarah-marahi dan disuruh-suruh untuk bekerja kan ini belum waktunya kau bekerja, seharusnya Ini waktunya kau bermain dan belajar jangan menyia-nyiakan masa mudamu ya"
"Baik kak terimakasih atas nasihat kakak yang sangat berharga untuk ku, "
Makanan tiba anak kecil itu melahapnya dengan sangat bersemangat, Ana yang melihatnya menjadi kasian sekali.
"Kakak kenapa diam saja ayo makan "
Ana hanya mengangguk dan memakan makannya, dulu dirinya serba enak namun tidak dengan kasih sayang, namun anak ini tak mempunyai keduanya, lalu tiba tiba saja dia ingat Sean pasti dia sangat sedih ditinggal oleh dirinya.
"Apakah kau ingin memesan kembali "
"Tidak Kakak ini sudah cukup terima kasih karena kakak sudah baik memberikan aku makanan. Semoga Kakak selalu hidup bahagia dan selalu baik pada orang orang sepertiku ya Kak Aku pergi dulu ya"
"Sebentar ambilah ini "
"Benarkah ini untuk ku kak "
"Benar pakailah uang ini untuk kau makan, jika nanti bibimu tak memberi kau makan kembali jangan membiarkan perutmu kosong itu tidak baik kau makanlah dengan baik dan menjadi anak yang baik pula ya, jangan sampai kamu melakukan kekerasan pada bibimu meskipun dia jahat tapi kau tetap ingat dia adalah orang tua yang harus selalu harus kau hormati "
"Baiklah terima kasih aku akan selalu mengingat apa kata-kata dari kakak, sejahat jahatnya orang padaku tapi aku tidak boleh membalasnya tapi balaslah dengan kebaikan nanti juga mereka akan sadar dan Allah akan membalasnya dengan yang lebih lagi apakah begitu kak"
"Ya begitu kau pintar sekarang kau pulang Ini sudah malam tak baik kau di luar semalam ini, simpan uangmu dengan baik-baik jangan sampai bibimu menemukan uang ini ya"
"Baik kak "
Anak kecil itu pergi dan Ana segera membayar lalu pergi berjalan kembali, tiba tiba saja dirinya menjadi khawatir dengan Sean, apa sebenarnya yang terjadi.
__ADS_1