
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu terjadi, Abian sedang ada di dalam kamar memasang dasinya dan memakai jasnya pula, lalu memasangkan jam tangannya dia menatap kaca dan tersenyum senang "akhirnya aku menikah juga dengan Inara semuanya akan tiba pada waktunya juga kan "
Pintu terbuka dan ternyata itu mamihnya " ayo Bi kita harus segera pergi ke sana, kamu ini dandan lama banget ya kayak perempuan. Cepetan lama banget sih ini juga kenapa pecinya belum dipakai"
"Hehehe maaf mih grogi nih Abian kan mau nikah jadi serba lupa"
"Ahh emang kamu dasarnya pelupa ah, yaudah ayo turun "
"Ayo mih "
Dengan hati yang senang Abian mengandeng tangan mamihnya, hari ini adalah hari dimana dirinya dan juga Inara akan bersama dan bersatu untuk selamanya.
**
Sedangkan di tempat kediaman Inara, Inara juga sudah selesai didandani dengan pakaian adat sunda, Inara melihat dirinya yang ada dikaca.
"Semoga saja pernikahanku kali ini bertahan dengan lama, sampai hanya kaulah yang bisa memisahkannya Tuhan, aku tidak mau Rumah tanggaku hancur kembali seperti dulu. Aku ingin Rumah tanggaku yang sekarang baik-baik saja tidak ada orang ketiga lagi "
Tiba tiba ada yang membuka pintu ternyata itu adalah Ana sang kakak "bagaimana apakah kau sudah siap "
Inara mengangguk dan tersenyum pada kakaknya " Aku ingin bertanya sekali lagi padamu Ana. Apakah kau tidak apa-apa aku mendahuluimu terlebih dahulu"
"Aku sudah bilang aku baik-baik saja, aku tidak masalah kau menikah terlebih dahulu pun aku tidak masalah, kenapa kau bertanya itu lagi kita kan sudah membicarakannya aku baik-baik saja saat ada waktunya aku pun akan menikah sepertimu"
"Aku hanya ingin memastikan kembali saja dan aku juga senang akhirnya kau akan menikah dan kata-katamu waktu itu yang mengatakan kalau dirimu tak akan menikah akhirnya hilang juga kan, aku senang sekali Ana, sangat senang "
"Yah aku berubah pikiran mungkin aku harus mencoba untuk menikah. Siapa tahu Rumah tanggaku tidak akan seperti Dad dan mom kan"
"Iya aku selalu berdoa kau akan mendapatkan laki-laki yang sangat baik"
" Terima kasih sekarang sudah waktunya kau turun. Abian sudah datang beserta keluarganya ayo cepat"
Inara menganggukan kepalanya dan segera berjalan keluar dari kamar bersama Ana jantungnya sudah tak bisa diam, bahkan saat mereka turun dari tangga semua mata melihat kearah mereka.
Ana segera mengatarkan Inara kesambing Abian, dan acara pun segera dimulai, ijab kabul segera dilaksanakan, Abian pun bisa mengucapkannya dengan satu kali tarikan saja.
Waktu berdoa pun segera dimulai, setelah itu pemasangan cincin, Abian memasangkan cincinya pada jari Inara dan sebaliknya juga Inara memasangkan cincin pada Abian.
Lalu Abian memcium kening Inara dengan sangat lama dan melepaskannya dengan perlahan. Acara pun segera dilaksanaman dengan sangat meriah, para tamu pun senang dan apa lagi yang menikah lebih senang lagi kan.
__ADS_1
Acara berjalan dengan lacar tak ada hambatan sama sekali, bahkan tak ada penganggu sama sekali semuanya aman terkendali, karena anak buah Ana yang berjaga dimana mana.
Abian yang melihat Inara meringis segera mendudukan Inara, mereka dari tadi belum duduk karena tamu berdatangan, banyak sekali tamunya.
"Kamu kenapa sayang kaki kamu sakit ya "
"Iya bi sakit banget pake sepatu tinggi kayak gini, "
Abian langsung berjongkok dan mengusap ngusap kaki Inara "kata aku juga jangan pake sepatu kayak gitu, kenapa sih harus pake sepatu tinggi, pake aja yang biasa aja ya "
"Gak mau Bi, masa sih pake yang biasa nanti gimana kata orang orang "
"Kenapa jadi mikirin orang orang, gak akan ada yang peduli sayang, kau jangan memikirkan tentang orang lain "
"Hemm tetap saja aku tak mau Bi, sudah itu ada tamu lagi "
Inara segera bangkit dan Abian malah memeluk pinggang Inara, dasar Abian ini suka ada ada saja.
**
Abian membawa Inara kedalam kamar dengan masih menciun bibir Inara, bahkan Abian sampai menendang pintunya dengan kakinya saking sudah tak sabarnya ingin mempunyai dede bayi.
Inara pun sama membalas ciuman Abian dengan sama semangatnya, Abian memangku Inara dan membaringkannya ditempat tidur, lalu kembali menciumi Inara.
"Bi apakah kau tak lelah "
"Kenapa aku harus lelah sayang aku malah sangat bersemangat ingin cepat-cepat membuat perutmu kembali isi, aku sudah sangat ingin menyentuh mu "
Abian segera membuka pakaian Inara dengan perlahan "kau sudah siap kan sayang "
Inara mengangguk dan pasrah saja dengan apa yang Abian lakukan toh sudah suami istri ini, jadi bebaskan.
Sebelum Abian membuka semua pakainnya Inara memegang tangan suaminya "kenapa sayang "
"Kau bisa matikan dahulu lampunya, aku sedikit tak percaya diri "
"Kenapa syaang, kenapa kau tak percaya diri, memangnya ada apa aku tak akan menjulidi mu, ada apa "
"Ya aku malu saja, bisakan kau matikan saja lampunya "
__ADS_1
"Baiklah sayangku, aku akan menuruti kemauan mu itu "
Abian bangkit dari tubuh sang istri dan mematikan lampunya, lalu kembali lagi kearah sang istri "bagaimana sekarang apakah kau senang "
"Ya aku sudah sedang Bi "
Abian langsung menindih kembali badan sang istri dan kembali membuka pakain sang istri yang cukup susah dibuka, karena kancingnya cukup banyak.
Setelah berhasil membuka pakaian Inara Abian kembali menciumi Inara, dan melakukan malam pertamanya.
**
Sedangkan Ana yang masih mengunakan kebaya masuk kedalam ruangan Livia, Ana melemparkan foto kearah Livia.
"Bagaimana apakah kau menyukai nya aku sudah menepati janjiku kan, akan mengirimkan foto pernikahan adikku beserta laki-laki yang kau cintai, bagaimana kau ikut senang kan dengan pernikahan adikku pasti aku sangat senang sekali"
Livia mengambil foto itu dan melihatnya satu persatu " aku tidak mau melihat foto itu lagi, kau bawa saja foto itu aku tidak mau, bawa semuanya aku tidak mau melihat foto itu lagi, bawa Ana aku tak pernah memintanya " Livia mencoba untuk tak menangis namun tetap saja air matanya mengalir.
"Kenapa kau tidak mau melihatnya, aku kau sudah berjanji padamu untuk memperlihatkan foto itu , kau juga harus tahu dong bagaimana bahagianya mereka berdua, oh iya satu lagi aku belum memberikan foto saat mereka bulan madu tenang saja nanti aku akan memberikannya padamu, kau hanya perlu melihatnya saja ya ampun rasanya aku senang sekali"
"Sudah Ana cukup sudah aku tidak mau melihat apa-apa lagi, sudah cukup dengan apa yang kau lakukan padaku, aku sama sekali tidak mau melihatnya kenapa kau begitu ingin melihat ku hancur kenapa Ana apakah kau belum juga puas dengan apa yang kau lakukan, lihat kau sudah menghilangkan tanganku, lalu apa lagi yang akan kau ambil dari diriku ini "
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah puas untuk menyiksamu dan membuatmu sengsara, karena kau juga sudah membuat adikku sengsara. Maka inilah akibatnya yang akan kau terima, aku sudah bilang kan jangan pernah macam-macam dengan keluargaku, tapi kau tetap saja tidak mau mendengarkan kata-kataku dan pada akhirnya ini kan, jadi kau hanya perlu terima saja semuanya jangan banyak bicara"
"Aku minta maaf aku minta maaf dengan apa yang aku lakukan, apakah aku perlu bersujud di kaki adikmu. Apakah perlu aku melakukan itu jika uya aku akan melakukannya agar semua kesalahanku dimaafkan olehnya, aku sungguh menyesal kau bisa lepaskan aku .Aku tidak akan mengganggu lagi adikmu. Aku janji tidak akan melakukan itu lagi. Aku ingin keluar dari sini aku ingin pulang aku ingin hidup normal lagi seperti dahulu"
"Aku tidak mau kau bersujud pada kaki adikku. Aku hanya ingin nyawamu saja itu baru cukup untuk membalas semuanya, kalau hanya dengan caramu bersujud saja pada adikku maka penjahat-penjahat di luar sana pasti juga akan melakukan itu, bersujud pada orang yang telah dia jahati dan semuanya beres itu tidak akan pernah adil, jadi kau nikmati saja masa-masa hidup ini, aku sudah bilang kan kau tidak akan pernah lepas dariku sampai kapanpun sebelum aku sendiri yang bosan"
Livia tak menjawab dan hanya bisa saja menangis saja, sedangkan Ana langsung saja pergi dari ruangan itu tak lupa mengunci dahulu kamarnya "sepertinya aku harus tidur dihotel karena pasti tidurku akan terganganggu, hem tidak deh aku akan menginap saja dirumah Cio "
Ana langsung pergi keluar dari dalam rumah, dirinya tak mau terganggu tidurnya oleh orang yang sedang melakukan malam pertamannya.
Kembali lagi pada Livia, dia mengambil satu foto Inara dan juga Abian, dirinya begitu ingin ada di posisi Inara, kenapa krbahagian tak berpihak pada dirinya.
"Kenapa kau Abi menikah dengan Inara padahal aku di di sini menunggu kamu, kenapa kau tak mencintaimu Bi, padahal aku benar-benar mencintaimu, tapi kau malam menikah dengan perempuan lain, kenapa itu bisa terjadi apakah aku tidak pantas bahagia, apakah aku tidak pantas menjadi pasanganmu Bi sampai-sampai kamu menikah dengan orang lain "
"Aku ingin merasakan apa yang Inara rasakan dicintai disayangi dan selalu dibutuhkan oleh mu, aku ingin ada di posisi itu tapi rasanya sulit sekali, bahkan saat aku akan mencelakai Inara kau sama sekali tidak memperdulikan aku terus saja kau memperdulikan Inara, kenapa begitu kenapa Bi"
Livia menyobekkan foto Inara dengan sangat kecil-kecil sekali namun tidak dengan foto Abian dia menyimpannya dan mau mengusap-nguasa foto itu dengan sayang lalu memeluknya sambil tertidur.
__ADS_1
semoga saja dengan seperti ini dirinya bisa tenang dan tidak menangis lagi dengan pernikahan Inara dan juga Bian semoga saja semuanya akan baik baik saja.
Dan semoga saja ini adalah tipu daya Ana untuk membuatnya terpuruk, padahal Abian dan Inara belum menikah ya semoga saja kan, dirinya akan mendapatkan Abian pada suatu saat nanti dan akan bahagia dengan Abian.