Berbagi Suami

Berbagi Suami
Masih peduli


__ADS_3

Inara yang masih dirumah merasa sangat gelisah, tak seperti biasanya Abian belum pulang, kalau pun mau lembur pasti akan bilang tapi ini sama sekali tak ada pemberitahuan. Bahkan dirinya sudah mencoba menghubunginya namun tak diangkat sama sekali.


"Apa aku susul aja kesana, tapi ini udah malem banget aku takut. Tapi kalau terjadi apa apa gimana lagi "


"Kok aku jadi binggung sendiri ya, kemana sih sebenernya Bian "


Inara yang sudah lelah mondar mandir segera duduk dan memijat kepalanya.


Tanpa Inara sadari dia teridur sengan posisi duduk menunggu Abian pulang.


Inara yang terbangun langsung melihat jam ding ding sudah jam 6 pagi belum pulang juga, Inara segera bergegas mandi, lalu membawa pakaian Bian. Setelah dirinya selesai langsung pergi kekantor.


Selama perjalan sangat macet namun Inara yang ingin mengetahui keadaan Bian segera berlari tak peduli nanti akan lelah atau apapun.


Saat sudah sampai kantor Inara langsung menerobos ruangan Abian


"Apakah kau tak punya sopan santun "


"Maaf aku hanya khawatir denganmu tuan, kau tak kembali kerumah dan aku ini membawakan mu pakaian ganti "


"Sejak kapan kau menghawatirkan ku, tidak usah Jon sudah membelikannya untuk, kau tak usah repot repot kau dan aku hanya asisten dan atasan tak lebih, sekarang cepatlah bekerja "


Inara hanya mengangguk angguk dan pergi sari ruanyan Abian. Abian yang melihatnya sedikit kecewa dirinya kira Inara akan memaksa dirinya. Seharusnya dirinya tak usah berfikiran terlalu jauh karena itu tidak akan mungkin.


"Syukurlah kalau dia tak apa apa, aku lega melihanya baik baik saja, tapi kenapa sikapnya begitu dingin padaku, apa yang terjadi "


"Sudahlah aku sekarang haus mending pergi sajalah ambil minum "


Inara segera melenggang pergi, namun fikirannya tak sama sekali tenang sikap Abian yang membuatnya tak tenang sama sekali.


Saat minim pun Inara hanya melamun saja, tak bergeming sedikit pun.


"Kenapa kau tak mengambil makanan pagi mu " ucap Bian yang tiba tiba saja ada dihadapannya.


"Aku belum lapar tuan "

__ADS_1


"Jika kau tak memakannya akan mubazir, jadi segeralah makan karena tak akan ada yang memakannya sudah dipaskan semuanya "


"Tidak tuan "


"Inara "


"Mau apa kau kesini Cio " ketus Bian.


"Aku ingin bertemu dengan Inara bukan denganmu Abi "


"Inara apakah kau ingin makan siang denganku, aku sungguh ingin minta maaf atas kejadian kemarin sungguh aku yak akan melakukannya lagi, jika kau setuju aku akan menungumu dilestoran dekat kantor ya "


Cio pergi tanpa mendengarkan jawaban dari Inara.


"Apakah kau akan pergi "


"Aku "


"Sudahlah aku tau jawabanmu, tak usah kau bicara "Bian pergi dan membuat Inara makin binggung saja ada apa sebenarnya ini.


**


"Ya tapi lain kali jangan lakukan, aku tak suka Cio, kau bukan seperti Cio yang aku kenal dulu, kembalilah seperti dulu, aku lebih suka Cio yang dulu "


"Akan aku pertimbangkan Inara, jadi apakah kita bisa mulai makannya, tapo sebelum itu ada yang ingin aku katakan "


"Apa "


"Maaf jika aku lancang aku mencintaimu apakah kau mau menjadi pacarku "


"Maaf aku ada kerjaan dengan tuan Abian permisi"


Inara segera bangkit belum juga Inara berjalan sudah ada pelayan yang memegang bunga besar dan memberikannya pada Cio.


"Sebentar Inara kau belum menjawabnya, jika kau menyukai ku juga terima bunga ini ya "

__ADS_1


Inara binggung harus mengatakan apa namun tiba tiba ada yang mengambil bunga itu dan melemparkannya begitu saja.


"Kau sudah taukan Inara adalah calon istrimu lalu kenapa aku sangat berani menberikannya bunga dan menyatakan perasan mu "


"Kalian baru calonkan belum menikah jadi masih bebas dong, aku mau merebut Inara kapan pun tak masalah "


"Coba saja aku tak akan melepaskan Inara sampai kapan pun itu, dia hanya mencintaiku bukan kau "


Bian segera membawa Inara keluar dan selama perjalan Inara mencoba melepaskam cengkraman tangan Abian namun snagat sukit sekali.


"Bian lepaskan "


"Tidak akan, kau diam saja jangan berisik, bisa kan kau diam "


Inara dengan sekuat tenaga segera menghentakan tangan itu dan berhadapan langsung dengan Abian.


"Aku ini memang bawahan mu, tapi kau tak sepatutnya melakan hal seperti tadi "


"Kenapa kau masih menjadi calon istriku ya meskipun bohong tapi setidaknya kau harus hargai itu ,jangan membuat harga diriku jatuh dihadapan Cio atau pun yang lainnya, Sudah jangam berdebat denganku, ayo pulang "


"Tidak aku bisa pulang sendiri, kau sana pulang sendiri pula tuan, aku mampu mengurus diriku sendiri "


Inara pergi meninggalkan Bian "kenapa dia yang jadi marah padaku, ada ada saja tu anak "


**


Cio segera mengambil bunga itu "kenapa sih dia selalu saja menggagalkannya, dari dulu apa yang aku mau pasti Abi terlebih dahulu yang mendatkannya dunia tak adil sungguh tak adil, selalu saja abi yany menang "


"Bagimana rasanya ditolak, Apakah enak sekarang kau merasakannya kan apa yang aku rasakan selama ini bagaimana Apakah sekarang kau berubah pikiran untuk bekerjasama dengan kembali Cio "


Cio segera mendongakan kepalanya dan menatap orang itu ternyata Livia. Dengan angkul Cio segera bangkit dan berhadapan langsung bersama Livia.


"Aku tak butuh bantuanmu, kau urus saja urusanmu dan aku akan melakukan apa yang terbaik untuk diriku, jadi aku tak perlu bekerjasama dengan mu. karena aku sudah tahu rasanya bekerja sama dengan orang licik sepertimu, yang hanya mengandalkan orang tuamu dan juga mengandalkan orang lain, aku akan lebih senang bila bekerja sendiri tanpa ada gangguan dari mu. Jadi kau tak usah menggangguku lagi dan tak usah mengajak untuk bekerja sama karena sampai kapanpun aku takkan mau bekerjasama lagi dengan mu"


"Baiklah mungkin kali ini kau menolakku, tapi aku akan memastikan, kau akan mengemis-ngemis padaku meminta bantuan agar kau mendapatkan Inara dengan cepat, kau ini sangat munafik Cio, dulu saja kau menerima hubungin Abian dan juga Inara Tapi sekarang kau malah mengejar-ngejarnya lagi. Bukannya katamu kau akan senang jika melihat orang yang kau cintai senang juga. Apa kata-kata itu hanya ucapan saja. Berarti Kau Dan Aku Sama saja Tak ada bedanya kan kau munafik laki-laki munafik"

__ADS_1


"Lebih baik munafik daripada sepertimu dan tak tahu diri kau melakukan segala cara untuk mendapatkan abian, wanita Malang selalu ditolak oleh 1 laki-laki itu cobalah kamu ngajak Apakah kau sudah cocok untuk Abian"


"Sialan kau, awas saja aku akan membalas kata katamu, suatu saat kau akan kehilangan Inara dan Abian pun sama akan kehilangan Inara selamanya."


__ADS_2