Berbagi Suami

Berbagi Suami
Meminta bantuan.


__ADS_3

"Nara kamu pokoknya harus berani ya, jangan kalah sama suami mu. Kalau memang kamu gak salah kamu harus selalu membela diri kamu ya " ucap Rani.


"Iya Rani, pasti makasih ya. Kamu hati-hati ya dijalannya jaga terus ya dede bayinya. Sebentar lagi kamu lahirankan Ran "


"Iya sama-sama, iya pasti. Iya nih sebentar lagi dan aku juga nanti mau cuti. Kamu nanti hati-hati ya kerjanya. Aku pulang yah "


"Iya dadah Rani "


"Dadah Nara "


Segera Rani masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan Inara sendirian. Saat Inara akan melangkah pergi muncul sebuah mobil dan keluar seorang bapak-bapak paruh baya.


"Sore nona, saya Darma diutus oleh tuan Abian untuk mengantar nona pulang. Ayo masuk Nona " ucap pak Darma sambil membuka pintu belakang.


"Sore pak, gapapa saya pulang sendiri aja " tolak Nara tidak enak.


"Tidak Nona saya harus mengantar nona dengan selamat sampai tujuan, kalau tidak saya akan di pecat. Tolong saya nona "


"Ya sudah pak " Nara segera masuk kedalam mobil. Tak mau membuat pak Darma dipecat karena hanya demi dirinya saja.


Berarti Bian masih marah pada dirinya. Nara segera mengalihkan pandangannya kearah jendela. Melihat pemandangan sore yang menyejukan.


***


"Sore bos, saya sudah mengirim fidio serta foto orang yang ada didalam foto tadi. Semuanya beres bos "


"Bagus, saya transfer upah kamu sekarang "


Segera Bian mematikan telfonya lalu menatap rekamannya. Hatinya sudah puas sekali. Akhirnya laki-laki itu bisa merasakan apa yang Inara rasakan.

__ADS_1


Awas saja, jika kembali terlihat Inara babak belur habis laki-laki itu ditangannya. Nanti akan dirinya langsung yang menghajar Adam.


Dirinya sungguh marah pada Inara kenapa tak bilang padanya. Kenapa, setakut itu kah Nara pada Adam. Segera Bian melajukan mobilnya kembali setelah tadi dirinya beres mengisi perutnya.


Sekarang ingin pulang kerumah dan menganti pakaiannya lalu pergi ke club untuk menenangkan hatinya serta fikirannya yang sudah runyam ini. Tak lupa tadi sudah mengirim tranferan pada anal buahnya.


**


"Terimakasih pak " ucap Nara saat pak Darma membukakan pintu untuknya keluar.


"Iya sama-sama non "


Segera Nara masuk dan hanya melihat Iva sendirian sedang menonton tv, dirinya akan menganti pakaiannya dulu lalu nanti berbicara kepada Iva tentang niatnya yang akan bercerai dengan Adam.


Inara segera membuka semua pakainnya mengantinya dengan yang lebih santai lalu menghampiri Iva "Iva " ucap Nara.


"Iya kenapa Nara "


"Membantu apa, asal jangan aneh-aneh aku mau membantumu " dengan ketus.


"Aku mau cerai dengan Adam, dan aku butuh bukti tentang kekerasannya dan perselingkuhannya "


"Nah gitu dong Nara, kamu ini bukannya dari dulu cerain tu laki. Dia itu udah seenaknya sama kamu. Sampai main fisik bagus-bagus keputusan mu" semangat Iva


"Kok kamu sening sih Va "


"Yaelah aku ini juga perempuan, meski aku juga ngerebut suami kamu sih, salah sih aku juga. Tapi aku kasian liat kamu diperlakuin kaya gitu "


"Baru sadar ya "

__ADS_1


"Udah mau dibantu gak "


"Iya mau dong, makannya aku temuin kamu "


"Ok kamu mau minta bantuan apa "


"Gini Va " belum juga Nara beres mengatakannya Adam sudah berteriak memangil mereka berdua.


"Nara, Iva tolong aku, kalian dimana " teriak Adam sambil berjalan dengan perlahan-lahan.


"Kenapa tuh laki-laki brengsek itu Nara "


"Entahlah aku pun tak tau, mending kita lihat saja ada apa dengan dia "


Segera mereka berdua menghampiri Adam yang wajahnya sudah babak belur, Nara segera berlari dan menghampiri Adam suaminya.


"Kamu kenapa mas " tanya Nara dengan khawar sedangkan Iva hanya diam saja.


"Tadi ada yang menghajarku entah siapa "


"Ya sudah ayo masuk dulu saja dulu "


Adam segera dipapah oleh Nara untuk segera masuk kedalam rumah. Iva pun segera mengambil air hangat dan handuknya lalu duduk di sebelah kiri.


Membersihkan luka Adam dengan menekan-mekannya "Iva bisa tidak pelan-pelan kau ini sangat kasar " marah Adam.


"Ya sudah kalau begitu, kau obati saja sendiri. Ayo Nara kita pergi biarkan laki-laki tukang selingkuh ini mengobatinya sendiri. Kalau perlu kau telfon selingkuhan mu itu agar mengobatimu " sambil melempar handuk itu kedada Adam.


Inara pun segera bangkit, lalu mengikuti Iva pergi "hey Nara kenapa kamu jadi ikut-ikutan wanita itu "

__ADS_1


Namun Nara sama sekali tak mengubrisnya masuk kedalam kamarnya. Lalu menguncinya saja. Benar kata Iva biarkan saja dia obati sendiri lukannya.


Bahkan lukannya saja tak Adam hiraukan jadi biarkanlah biar dia berfikir.


__ADS_2