
Ana dan juga Sandi sudah ada dirumah Adam "apakah kau yakin ini rumahnya "
"Iya saya yakin nona, ini adalah rumah Adam "
Mereka berdua segera mengendap endap masuk, Ana membuka jepitnya dan mencoba membuka pintu rumah berhasil, mereka berdua segera masuk dan mencari kamar Adam, saat pintu pertama itu kamar kosong.
Pintu kedua kamar ibunya Adam, Ana langsung menutupnya kembali dengan perlahan, sedangkan Sandi membuka pintu yang lainnya, ternyata itu adalah kamarnya Adam, ya benar itu kamar Adam.
Mereka berdua segera masuk Ana duduk disamping Adam dan juga Sandi menutup pintu dengan perlahan, saat Ana membuka pisan pisau koleksinya dia mengambil yang paling kecil dan mengoreskannya kepipi Adam.
Adam yang merasa terganggu tidurnya dia bangun dan memegang pipinya yang perih saat dia lihat itu darah dengan cepat Adam bangkit dan melihat Ana dan juga Sandi ada dihadapannya.
"Mau apa kalian pergi dari sini, aku sama sekali tidak mempunyai urusan dengan kalian berdua. ada apa ini tiba-tiba saja kalian mengendap endap masuk ke rumah ku. Apakah kalian tidak punya sopan santun keluar dari rumah aku atau kalian akan aku laporkan pada polisi sekarang juga, aku tidak akan pernah main-main ya dengan kata-kata"
Ana hanya mengedikan bahunya saja Adam langsung mengambil ponselnya namun Sandi langsung mengambilnya dan melemparnya begitu saja.
"Sandi kau gila itu ponsel mahal "
Ana langsung menyuruh Sandi untuk memegang Adam dengan kode lirikan matanya, Sandi yang mengerti segera menghampiri Adam membekap mulutnya dengan kain dan memegang tangannya.
Ana lalu mengepalkan tangannya dan menonjok perut Adam "ini untu kau yang sudah berani membuat adiku celaka, sudah kubilangkan jangan macam macam dengan keluargaku "
Ana kembali mengeluarkan pisau dan menyayat leher Adam, bahkan beberapa kali, setelah puas dengan leher Ana berpindah pada tangan kaki dan sekarang jempol kakinya, Ana mengulit jempol kaki itu dan melemparkannya pada wajah Adam.
"Bagaimana apakah kau masih ingin main main denganku, apakah kau masih ingin mencelakai anggota keluargaku,mungkin sekarang aku tak akan membunuh mu, namun sekali lagi kau membuat ulah, aku tak segan segan untuk melakukannya "
Ana yang masih kesal sekali lagi menonjok pipi Adam sampai pingsan tak sadarkan diri "ayo kita pulang biarkan saja dia berbaring seperti itu "
"Baik nona "
Mereka berdua segera pergi lewat pintu depan, lalu masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah Adam.
Ibu Adam yang mendengar ada yang membuka pintu rumah depanya segera bangun dan membuka pintu ternyata tidak dikunci "kurasa aku menguncinya, kenapa bisa tak terkunci, apakah aku lupa, tapi tidak tidak aku sama sekali tak lupa aku benar benar menguncinya. "
Ibu Adam yang penasaran dengan anaknya, takutnya sang anak yang keluar dari dalam rumah dan tak menguncinya lagi, segera membuka pintu kamar itu dan alangkah kagetnya saat melihat keadaan sang anak yang mengenaskan dengan darah yang bercucuran dimana mana.
"Adam sayang anak ibu, kenapa bisa terjadi seperti ini, apa tang terjadi Adam bangun "
Saat akan mengambil ponselnya Adan malah posel itu sudah hancur, ibu Ada berlari kembali kekamarnya dan mengambil ponselnya lalu menghubungi ambulans.
Setelah itu ibu Adam kembali kekamar Anaknya dan mencoba menghentikan darah yang mengucur itu dengan cara mengikatnya dengan kain kain yang ada disampinynya.
"Kamu harus bertahan nak ,jangan tinggalkan ibu sebenarnya siapa yang melakukan ini siapa nak ,kenapa ibu tak menyadari ada yang masuk kedalam rumah bangun nak bangun jangan seperti ini, jangan tinggalkan ibu "
Tak lama kemudian ambulans datang, dengan panik ibu Adam berlari kembali dan menyuruh mereka untuk segera masuk dan membawa anaknya ke dalam Ambulans "ayo cepat bawa anak ku ke rumah sakit pelan-pelan jangan sampai anak ku kenapa napa"
__ADS_1
Ibu Adam langsung masuk dan ikut kedalamnya membiarkan rumah begitu saja terbuka yang terpenting adalah anaknya selamat tak ada yang lebih penting dari itu.
**
"Nana aku mohon kau jangan pulang ya temani aku sebentar di sini, untuk hari ini saja kau temani aku, nanti kalau ibu mu bertanya aku yang akan menjelaskan semuanya. Tolong temani aku dulu jangan kemana-mana ya, aku sangat minta tolong padamu, aku ingin kau ada disini ya"
"Tapi pak apakah tak akan ada gosip nanti diantara kita, tidak baikan seorang perempuan menginap di rumah laki-laki seperti ini, aku takut nanti ada yang salah faham dan mengira kita telah melakukan sesuatu sungguh aku tak mau sampai itu terjadi pak aku tak mau "
"Tidak akan kau di sini kan menemaniku karena aku sedang berduka Nana, aku butuh teman, aku tak mau sedirian jadi tolong temani aku sebentar saja ya jangan menolak aku, aku sudah tak mempunyai siapa siapa lagi Nana, kedu orang tua ku tak ada disini tolong ya "
Nana akhirnya setuju dia menganggukan kepalanya dan menatap bosnya "kau nanti tidur diruang tamu tenang saja kita tak akan tidur satu kamar jadi kau bisa aman "
"Baiklah pak terimakasih, apakah bapak mau istirahat sekarang atau nanti saja "
"Aku masih ingin berbincang bincang dulu saja dengan mu, aku ingin tahu kenapa kau bisa mengenal Ana "
"Aku mengenal Nona saat dia sedang mencari adiknya dan tak sengaja kami bertemu dan dia menolong aku yang akan dirampok, tiba-tiba saja kami menjadi dekat dan dia menganggap ku sebagai adiknya, lama-kelamaan dia membantuku untuk sekolah, berkuliah dan semuanya aku dibantu olehnya l, sampai pada akhirnya aku bekerja dengannya dan direkomendasikan untuk bekerja bersamamu Pak, begitulah cerita singkat ku bertemu dengan Nona Ana, sungguh itu pertemuan yang sangat membahagiakan, aku bisa bertemu dengan orang baik seperti nona Ana "
"Jadi kau cukup dekat ya dengan Anaz kalian seperti kakak adik berarti ya, hemm hebat juga kau bisa berteman dengan Ana dan di fasilitasi begitu "
"Ya seperti itulah Pak , kami dekat karena nona Ana ingin mencari adiknya Inara dan akhirnya aku sangat bersyukur akhirnya mereka bisa bertemu dan bisa bersama-sama, nona Ana tidak sedih lagi, karena sudah ada adiknya, aku sangat senang sekali saat ditemukan, namun aku belum bertemu baru saja tadi bertemu dan mereka sama sekali, namun aku belum bertegur sapa dengannya rasanya aku malu "
"Lalu apakah kau cemburu setelah Ana menemukan adiknya dan mereka selalu kemana mana berdua"
"Aku sama sekali tidak cemburu yang ada aku sangat senang, akhirnya nona Ana bisa bahagia dan bertemu dengan adik sesungguhnya, aku tidak merasa disisihkan atau merasa dibuang olehnya, aku masih sama seperti dulu dan dia masih sama baik padaku. Buktinya dia masih peduli padaku dan masih memperhatikan ku, lalu apa yang aku cemburukan dan apa yang harus aku takutkan tak ada sama sekali "
"Yq banyak hal yang dia pedulikan untukku, jadi aku tidak akan merasa cemburu atau merasa sudah tergantikan karena itu memang adik nona Ana yang sesungguhnya, aku hanya orang lain yang kebetulan saja ditolong olehnya namun aku sangat bersyukur bisa bertemu dengannya, bisa mengenalnya dan bisa berada dalam lingkup hidupnya juga "
"Baiklah kita akhiri dulu ceritanya. Rasanya aku sudah mengantuk kau juga segera tidur ya ini sudah sangat larut malam, tak baik seorang perawan tidur terlalu malam nanti malah ada yang memangsa mu, ayo cepat masuk kedalam kamar mu "
"Baiklah mari kita tidur pak, tapi maksudnya apa nantibada yang memangsaku memangnya disini banyak hewan buas tuan sampai sampai tuan berkata seperti itu "
"Tidak tidak ada aku hanya bercanda saja, ayo aku akan mengantarmu kekamar mu, ayo cepat cepat sudah malam "
Nana segera diantarkan oleh Cio ke kamarnyak, setelah ada didalam kamar Nana langsung membating tubuhnya sungguh sangat melelahkan sekali, rasanya ingin sekali tidur.
Karena dirinya sudah didorong , di peluk dan segalanya, pokoknya menyebalkan sekali hari ini, apa lagi sekarang harus menginap, makin menyebalkan lagi, ingin rasanya kabur, soalnya takut berdua dirumah ini.
Nana yang baru ingat segera mengunci pintu dan bernafas lega, dirinya sangat takut sekali, takutnya nanti hantu ayahnya pak Cio gentayangan lagi, bisa mati dirinya.
Apa lagi meninggalnya karena bunuh diri itu sangat menakutkan, meninggalnya bukan karena Allah yang mencabutnya namun kehendaknya sendiri.
**
Ibu Adam yang sangat khawatir dengan keadaan anaknya segera dirinya menelpon Livia pasti ini ada sangkut pautnya dengan Livia, mereka berdua kan kerja sama pasti ada sesuatu yang mereka lakukan.
__ADS_1
Sampai Adam seperti ini, ya mending hubungi Livia apakah dia sama seperti anaknya mengalami kekejihan seperti ini, pasti sama tak mungkin tidak karena mereka bekerja samakan terluka satu yang satunya juga harus terluka.
"Hallo Livia Adam kenapa bisa dilukai oleh seseorang. Apakah kau tahu sesuatu. Kenapa ini bisa terjadi pada Adam kalian kan selalu bersama tolong jelaskan pada ibu apa yang terjadi, ibu sungguh takut terjadi sesuatu pada Adam, tolong jelaskan pada ibu nak apa yang sebenarnya terjadi "
Livia yang baru bangun segera melihat siapa yang menelfon dan bertanya sangat banyak padanya, ternyata ibu Adam, mengganggu saja tidurnya saat melihat Jam menunjukkan jam 12.00 malam, gak salah nelfon jam segini sungguh terlalu.
"Dia hampir saja membunuh Inara dan Abian mungkin saja kakaknya Inara dia marah melihat adiknya kecelakai oleh Adam dan mungkin saja itu ulah Ana, aku tidak tahu pasti karena aku tidak terlibat dalam aksinya Adam, dia melakukannya sendiri jadi Ibu tanya saja pada anak ibu sendiri , apa yang dia lakukan, aku tidak pernah menyuruhnya untuk mencelakai Inara. Adam yang melakukannya sendiri. Aku sudah bilang tunggu aku jangan gegabah dia malah melakukannya sendiri, coba ibu tanya pada anak ibu sendiri jangan ganggu saya sedang tidur "
"Maafkan ibu bila menganggu, bukannya kamu kan yang menyuruh Adam melakukan hal itu, lalu saat Adam seperti ini kenapa kamu tidak ada tanggung jawabnya sekali, apa kamu gila, kalau begini ibu tak akan membiarkan Adam kerja sama dengan mu, ibu tak sudi melihat anak ibu seperti ini "
"Memang aku memperkerjakannya namun dia yang melakukan itu dengan gegabah bukan aku yang menyuruhnya jadi kau tanyakan saja pada anak mu, atau aku akan mengambil kembali apa yang pernah aku berikan pada kalian, agar kalian tak punya uang lagi dan kembali lagi pada kodrat kalian yang sesungguhnya "
"Ya sudah diam jangan menyalahkan saya, kenapa saya yang disalahkan, saya tak tau apa apa, kalau berbicara jaga ok, aku tak mau terbawa bawa ingat itu "
Livia langsung mematikan teleponnya dan bangun dari tidurnya, Kenapa sih malem-malam gini ganggu orang tidur, apa gak ada waktu besok nanyain anaknya.
Jadi tak bisa tidur lagi, gara gara ibu Adam yang menyebalkan, kalau Adam dilukai dirinya akan dilukai tidak ya. kok jadi takut sih, takutnya tiba Ana ada disini bagaimana kalau ada.
Tuh kan malah jadi takut gara gara Adam, dasar Adam yang gegabah dirinya jadi merasa takut kan, Ana bukan orang baik dan akan mengalah seperti Inara, dia adalah orang keras dan begis.
Apa yang harus dirinya lakukan sekarang, Livia segera keluar dari dalam kamar dan menengok kanan kiri takutnya ada Ana namun syukutlah tak ada siapa siapa.
Livia menu dapur dan mengambil minuman dirinya sangat haus sekali, nakun saat dirinya berbalik dihadapannya sudah ada Ana. Livia yang kaget sampai melepaskan gelasnya dan berteriak "akhh "
Namun Ana langsung membekap Livia. dia membawa Livia duduk dan seperti biasa Sandi memegang Livia.
Ana mengambil pecahan gelas lalu memainkannya diwajah Ana, "Tolong jangan apa apa kan aku, tolong jangan seperti ini, "
"Apa yang sudah kau lakukan bersama Adam ,kau sudah tau kau tak ada didalam mobil Adam saat menabrak adik ku, tapi aku tau kalian bekerja sama "
"Tolong awaskan dulu pecahan kaca itu aku takut "
"Jawab " Ana menekankan bekas serpihan kaca itu pada wajah Livia
"Sakit Ana sakit. aku sama sekali tak ada hubungannya dengan kecelakaan adik mu dan juga Abian, malahan aku tau dari Adam aku sama sekali tak terlibat tolong lepaskan aku Ana "
"Siapa itu " bi San datang tergopoh gopoh dan melihat nonanya sedang dilukai
"Tolong aku bi tolong aku "
"Tolong lepaskan nona Livia tolong jangan lukai dia, lukai saya saja, tolong jangan lakukan apa apa. apa yang aku mau, apa yang kau mau , beritahu aku. aku akan memberikannya "
Ana langsungvmenyimpan telunjuknya di bibir "shutt aku tak ada urusan dengan mu, aku hanya berurusan dengan nona mu saja, kau tak usah ikut campur ok, aku sama sekali tak ada hubungannya dengan mu, jadi diamlah "
Kembali Ana mengores pipi itu dengan sangat dalam setelah puas Ana keluar dari rumah Livia. Tadinya tak akan melakukan ini tapi entahlah dirinya juga ingin membuat Livia takut agar dia tak macam macam lagi pada adiknya.
__ADS_1
Kalau tak dikasih pelajaran anak ini akan melunjak jadi lebih baik di kasih faham